Tulisan Terakhir

Let The World See!

Peluhku mulai membasahi punggung, bedak dan lipstick yang kupakai sebaik mungkin tadi pagi sudah tak lagi tersisa. Luntur karena AC mobil dimatikan sepanjang jalan, demi menghemat bahan bakar. Kami kuatir kehabisan, karena jarak tempuh yang kami perkirakan ternyata jauh lebih panjang dari rencana. Sepanjang jalan, kami tak melihat ada SPBU buka, bahkan kios mini penjual BBM tak lagi nampak. Dua dirigen minyak yang kami bawa, tadi terpaksa kami tinggal satu demi memenuhi kebutuhan para pengungsi. Sudahlah, tak penting terlihat cantik lagi sekarang. Yang penting bagaimana bisa membantu mengurangi tetesan airmata dan duka mereka.

Kami turunkan bantuan di beberapa tempat, dengan bantuan pengawalan seorang polisi. Polisi ini mantan teman sekelasku saat SMA yang kebetulan bertugas di daerah itu. Untungnya ia dan keluarganya selamat, karena tinggal di daerah pegunungan.

Di tempat pertama, aku melihat orang-orang itu. Mereka yang santai berfoto dan mengambil gambar tak peduli di tengah porak-poranda bangunan dan alam yang tak karuan lagi. Aku menegur beberapa kali dengan meminta mereka turut membantu. Tapi alih-alih membantu, setelah aku menoleh, mereka tiba-tiba menghilang dan menjauh. Rupanya mereka takut terlihat kusam dan kusut jika menyingsingkan lengan baju.

Di tempat kedua dan ketiga, aku tak melihat ada yang berfoto. Tapi banyak kulihat manusia yang berdiri, melipat tangan di dada dan memandang berkeliling. Temanku mendekat, bertanya apakah mereka sedang mencari saudara atau keluarga, mereka hanya menggeleng dan menjawab. Cuma lihat-lihat. Temanku yang lain menawari apakah mereka mau membantu mendirikan tenda terpal yang kami bawa untuk tambahan tidur bagi pengungsi, hanya satu dua yang mengiringi teman-temanku kemudian.

Di tempat keempat, sepatu flatku sudah berganti dengan boot kecil yang memang dibawa temanku. Sepatu kiriku tertanam di salah satu endapan lumpur sisa tsunami. Salahku membawa sepatu hadiah ulangtahun yang cantik itu di tengah-tengah sisa bencana begini. Harusnya kupakai saja sepatu boot yang biasa dipakai suamiku bekerja di tambang. Itu baru cocok. Sama seperti di tempat pertama, di sini banyak yang berfoto, terutama di areal yang paling jelas terlihat kacau. Malah ada yang sedang ber-snapgram. Iseng aku tanya, dan mereka santai menjawab. Untuk berita yang real.

Real? Aku ingin tertawa. Apa guna bejibun wartawan di tenda yang tengah mengumpulkan informasi susah payah berlari ke sana kemari mengejar sumber, bertanya, menulis dan mengetik laporan mereka dengan teliti? Bukannya foto atau video tanpa narasi sumber yang jelas bisa jadi masalah baru? Tapi siapa aku mengomentari sesuatu yang menurut mereka adalah hak? Apalagi saat kutanya mereka itu ternyata orang-orang yang tinggal tak jauh dari daerah bencana juga.

Aku tak biasa berjalan di tengah lumpur dan jalan atau jembatan darurat yang dibuat seadanya. Aku juga bertubuh gemuk, dan jalan kaki bukanlah olahraga yang kulakukan tiap hari. Tapi melihat keadaan orang-orang di sana, kekuatan itu muncul tanpa kuduga. Hawa berdebu yang menerpa wajahku sangat lengket dan tidak nyaman, sama sekali tak kupedulikan demi mengantar sekotak mie dan beberapa buah diapers pada satu keluarga. Kusebut keluarga karena mereka tinggal dalam satu tenda. Baru setelah aku duduk dan bertanya, ternyata mereka hanyalah orang-orang yang kebetulan tersisa dari beberapa keluarga yang tinggal dalam lingkungan yang sama. Tak berani aku bertanya, mereka yang berkisah. Begitu aku bilang, dulu ada ini dan itu karena daerah mereka itu tempatku dan anak-anak biasa bermain dan berlibur, curhat mereka keluar semua. Mereka menangis tanpa suara, aku sudah terisak-isak.

Di tempat terakhir ini, ada banyak tenda pengungsian. Bahkan banyak instansi yang membantu. Saat aku duduk sambil menyiapkan perlengkapan makan, ada wartawan mendekat. Wartawan berambut pirang. Kami pernah bertemu di sebuah acara keagamaan di Jakarta. Ia mengingatku, perempuan bermata sipit berjilbab yang bisa berbicara bahasanya dengan baik.

Saat itulah ia mulai bertanya, apa aku mau membantunya menjadi penerjemah dadakan. Kuiyakan. Karena kupikir, setelah makan tak ada lagi yang perlu kukerjakan. Aku juga tak suka mencuci piring dan kulihat rombonganku banyak yang foto-foto. Biar nanti mereka yang kusuruh. Buat apa kuajak jauh-jauh dari Jakarta ke sini?

Wartawan itu berhasil mewawancarai beberapa pengungsi, terutama ibu-ibu yang lebih banyak curhat. Wartawan itu sebenarnya mengerti bahasa cukup baik, jadi aku hanya membantu sesekali. Setelah selesai, kami berjalan beriringan dan ia mulai mengambil gambar. Saat itulah, ia melihat ada banyak orang berfoto. Ia bertanya padaku, bolehkah mereka seperti itu? Aku hanya mengangkat bahu sambil berjalan kembali ke tenda tempat rombongan kami beristirahat.

Saat kami duduk menyantap makan siang, mengisi perut seadanya. Aku membuka IG dan memperlihatkan padanya beberapa foto ‘menarik’ yang membuatnya tercengang. Kami tak bicara, hanya saling melemparkan tatapan saling mengerti. Foto-foto itu ia perhatikan sebelum dikembalikan padaku.

Let the world see what is actually happened here,” bisikku sebelum berdiri meninggalkannya.

Kuperbaharui status, dan mulai mengeluarkan isi hatiku. Singkat tapi padat. Sebuah ironi yang ingin kuberitahu pada orang-orang terdekatku, jangan sampai mereka kehilangan nuraninya karena terlalu sering menderita.

Aku juga mengambil foto, untuk melaporkan apa saja dan pada siapa saja kami berikan bantuan yang dititipkan orang-orang. Aku juga mengambil foto anggota rombongan yang ikut, agar terlihat siapa yang benar-benar membantu dan siapa yang sebenarnya hanya ingin berwisata bencana. Biar mereka anggap aku anti milenia, tak apa. Percuma update, kalau hati nurani tak punya. Sekalian saja mati. Itu sumpah serapah dalam hatiku untuk manusia-manusia itu.

Makanya biar dunia lihat. Biarkan semua orang tahu! It’s a fact around us… Biar para remaja milenia kita sadar, itu perbuatan salah. Itu sangat salah. Itu artinya kita kehilangan empati. Ini bukan sekedar melihat pensil yang jatuh dan kita cuek saja. Ini tentang nyawa manusia. Ini tentang kehidupan seseorang yang mungkin berubah 360 derajat dan luka hati yang mungkin tak pernah sembuh. Hanya karena kita tak kenal, bukan berarti nyawa mereka tak berharga.

Maafkan aku, siapapun kamu atas sumpah serapahku itu. Aku saja marah. Apalagi mereka yang jadi korban. Kuharap kamu tak mengulanginya lagi. Kuharap kamu tahu cara meminta maaf.

Biarkan dunia melihat. Agar semua paham, terkenal di medsos tak selalu baik.

Summary

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.