Diary, Gaya Hidup, Kesehatan

Kanker Menghancurkan Segalanya, Tapi…

Bulan Oktober adalah bulan peduli kanker payudara. Saya memang bukan penderita, tapi kanker sangat akrab dalam keluarga besar saya. Salah satunya kanker payudara. Beberapa diantara orang-orang terkasih yang dekat dengan saya pergi untuk selamanya karena kanker.

Perjuangan melawan penyakit ini yang dilalui orang-orang terkasih tidak hanya dirasakan para penderita, tapi keluarga. Itu artinya termasuk saya. Saya yang tadinya heran mengapa ada instalasi khusus keluarga penderita di salah satu rumah sakit rujukan kanker nasional, kini merasakan benar arti kehadiran instalasi itu sekarang.

Dalam satu kalimat, saat saya memulai kesaksian sebagai keluarga penderita, saya selalu mengatakan, “It destroyed everything in my life.” (Penyakit itu menghancurkan semua hal dalam hidup saya)

Tapi kemudian, saya meneruskannya dengan, “… but it made my life change so much. Much more better. Thousands time much better than before.” (… tapi penyakit itu sangat mengubah hidup saya. Jauh lebih baik. Ribuan kali lebih baik dari sebelumnya)

Seluruh kepercayaan saya terhadap banyak hal berubah drastis. Makna hubungan keluarga, makna uang dan harta, makna kebersamaan dan perasaan… berubah arah. Hancur dulu, karena saya baru tahu arti ditinggalkan, dibiarkan dan malah disakiti oleh anggota keluarga sendiri. Mereka, yang selama ini pernah begitu dekat, pernah menjadi bagian hubungan yang indah ternyata menjauh satu persatu saat kami sedang membutuhkan bantuan.

Tapi di sisi lain, waktu mengobati luka itu dengan menghadirkan orang-orang yang jauh lebih baik. Cara kami sekeluarga memandang hidup juga berubah. Pun cara kami menghadapi masalah. Tanpa sadar, kami memfilter kehidupan ke arah yang lebih baik, dengan orang-orang yang juga jauh lebih baik.

Kanker memang penyakit dengan ujian terberat karena kepastian kesembuhan sangat langka. Belum lagi akibat proses penyembuhannya yang justru mendatangkan penyakit lain. Seperti makan buah simalakama, dimakan salah, tak dimakan makin salah.

Saya melihat perjuangan orang-orang yang saya sayangi dengan airmata tanpa suara. Menangis diam-diam, menyembunyikan sakit di hati diam-diam. Belum perubahan emosi yang juga dialami penderita. Mereka berubah, mereka berganti menjadi sosok yang lain. Dan satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mengerti dan menahan diri.

Melalui semua itu seperti berjalan di atas seuntai rambut. Waktu menjadi sangat berharga meski singkat, ketika senyum sang penderita muncul sesaat. Tapi waktu menjadi begitu panjang, ketika rasa sakit dan masa-masa pengobatan yang sulit harus dilalui. Disitulah kami memahami bahwa menggunakan waktu sebaik-baiknya adalah hal terbaik dari semua hal yang kami lalui saat itu.

Tak ada seorang dokterpun yang mampu memberi jawaban pasti mengenai obatnya kanker. Tapi kesamaan mereka adalah menyebutkan satu kata yaitu ‘BAHAGIA’. Semakin dalam rasa sakit, depresi dan kesedihan, justru kanker makin sulit disembuhkan. Makin pasien bahagia, makin besar kemungkinan ia sembuh dengan ajaib. Sebuah keputusan sulitpun saya ambil, demi membuat orang terkasih kami bahagia, meski itu artinya kami harus menjauh darinya.

Sejujurnya melihat orang-orang terkasih dalam keadaan sakit dan penuh penderitaan, sakit yang lebih besar dirasakan oleh hati keluarganya. Bahkan orang terkuat sekalipun, akan terpuruk di periode awal saat proses pengobatan dimulai. Membayangkan itu semua, membuat saya kembali menitikkan airmata.

Semua jenis ujian mental dunia ada saat kita mendampingi para penderita kanker. Semua rasa ada di situ. Tapi di sisi yang menyenangkan, senyum kecil sang penderita terasa bagai bayaran yang sepadan untuk semua kesedihan yang kita rasakan. Selama masih ada kekuatan untuk melawan, menyerah bukanlah jawaban.

Ketika akhirnya perjuangan itu harus berakhir, berat memang harus berpisah untuk selamanya. Tapi… setidaknya kita puas telah melakukan segalanya untuk memperjuangkan hidup lebih lama bagi sang penderita. Sehari lebih lama, sebulan lebih lama, dan mungkin saja bertahun-tahun lebih lama. Melepaskan orang terkasih pergi dengan ikhlas, setidaknya membebaskan mereka dari rasa sakit luar biasa itu.

Panjang pendeknya umur tak bisa ditentukan siapapun. Meski di drama-drama kita sering melihat dokter memprediksi usia pasien, terutama pasien kanker, hal itu tidak terjadi di dunia nyata. Mana ada dokter yang mau memprediksi sesuatu yang tak mungkin diketahui siapapun. Jadi jangan pernah menanyakannya. Dokter mungkin kekuatan ilmiah yang ada di dunia, tapi kemampuannya juga terbatas. Ada kekuatan jauh lebih besar dari itu, dan itu adalah kekuatan Allah SWT. Dalam sekejap, kekuatanNya bisa membolak-balikkan keadaan. Bukan tak mungkin, justru dokter yang merawat kita pergi lebih dahulu dari pasien itu sendiri.

Kanker memang menghancurkan hidup saya, hidup keluarga saya. Hidup kami yang dulunya memandang dunia dengan cara berbeda. Tapi penyakit ini mengubah hidup saya, juga keluarga saya. Saya hidup untuk bahagia, menikmati setiap detik agar lebih bermakna, membuat sebanyak-banyaknya kenangan dan kesempatan bersama keluarga, agar suatu ketika saat semua harus dikembalikan kepada Yang Kuasa, setidaknya tak ada penyesalan.

Jika ditanya apa itu bahagia?

Jawaban saya, bahagia itu adalah dengan cara kita hidup untuk hari ini, untuk selamanya dan untuk nanti.

Untuk hidup hari ini, lakukan segala hal yang bisa dilakukan, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Jika ada satu celah atau kesempatan untuk berbuat baik, sekecil apapun, langsung lakukan. Tak perlu berpikir terlalu panjang, apalagi memikirkan bayaran sepadan atau tidak, dibalas atau tidak. Lakukan saja selama itu untuk membantu dalam kebaikan. Toh melakukan kebaikan, juga membuat hati kita senang kok. Ya kan?

Tapi jalani juga hidup dengan berpikir bahwa hidup untuk selamanya. Jaga kesehatan, agar hidup lama itu dijalani dengan sehat. Jika punya potensi kanker, ubah gaya hidup dan jalanilah tes kesehatan lebih sering. Memang mahal, tapi itu investasi kehidupan.

Demi hidup lama sampai nanti itu pula, kumpulkanlah dan jagalah hubungan dengan teman-teman serta keluarga yang memang baik dan membawa kebaikan. Jika menjauh adalah hal terbaik, lakukan saja. Jangan memaksakan diri. Nikmati kebersamaan dengan siapapun, termasuk keluarga dan teman-teman dengan cara terbaik. Karena hubungan baik adalah kunci untuk menjaga kebahagiaan di hati.

Terakhir adalah, berpikir positif dan mendekatlah pada Sang Maha Penentu Nasib.

Satu hal ini yang menguatkan kami saat itu. Begitu banyak keluarga pasien yang kondisinya jauh lebih parah kami temui saat itu, dan mereka semua melakukan hal yang sama, menyemangati dan menguatkan hati kami dengan semua hal positif. Mengajari untuk makin dekat pada Allah SWT, mengajak menuju ketenangan. Ketakutan dan kekuatiran saat memasuki rumah sakit kanker nasional saat itu berubah menjadi rasa syukur karena bisa bertemu manusia-manusia berjiwa hebat di dalamnya. Sampai detik ini.

“Yes… Cancer destroys everything, but now we can see everything differently.”

 

Masa-masa penantian kami sekeluarga di sebuah rumah sakit kanker nasional di Jakarta tahun 2012

 

 

 

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.