Anak, Parenting, Sekolah

Penghargaan Untuk Guru

teachaway.com

Dulu karena selalu ngajak ngobrol teman tiap kali pak guru sedang jelasin pelajaran, akhirnya dilempar penghapus sama pak guru, dan malah saya (baca: Iin remaja) tangkap. Lalu diusir gak boleh ikut pelajarannya selama sisa tahun ajaran itu hingga lulus. Tapi gak pernah heboh sampe ribut ke orangtua karena tau pasti tambah dimarahin. Diam aja trus ya keluar dengan sedih … Masuk kelasnya hanya saat ujian dan ulangan. Papa akhirnya tau, tapi memilih untuk tidak ikut campur. Istilahnya ‘rasain deh lu’

Sebenarnya itu tidak terjadi begitu saja. Karena merasa pelajaran itu paling saya kuasai, saya mengkritik guru dengan sombong. Sok mengajari dan tentu saja menyinggung perasaannya. Maka ketika saya melakukan kesalahan kecil sekalipun, ia langsung memberi hukuman itu. Menghindari si ‘setan kecil yang kepala batu’.

Saat itu saya juga merasa sebal padanya. Malah sering mengompori teman-teman agar bolos dari kelasnya. Kami jadi seperti dua musuh bebuyutan. Perang dingin di masa-masa terakhir saat SMEA.

Tapi malah jadi motivasi diri sendiri. Harus bisa buktiin meski gak bisa ikut kelasnya, nilai tetap bagus.

institute-of-progressive-education-and-learning.org

Selama ulangan biasa, nilai-nilai saya tetap bagus. Saya semakin tidak mau meminta maaf padanya. Pak guru ini meski diamin saya, tapi tak pernah marah lagi. Malah sepertinya dia mencoba berbaikan. Dengan tenang, usai pelajarannya kalau minggu depan ada ulangan, ia yang menyampaikannya sendiri. Saya hanya mengangguk. Benar-benar bukan murid yang baik.

Ia juga begitu sering meminta teman-teman memberitahu materi yang diajarkan minggu ke saya.

Pak guru malah bisa mengobrol dengan papa seperti sahabat ketika papa datang ke sekolah. Masalah saya sama sekali tak diusik (entahlah… Tapi papa tak pernah ngebahas)

Perang dingin itu berlangsung hingga jelang ujian. Saat itu, tak disangka suatu hari pak guru masuk ke kelas dan memberikan catatan tulisan tangannya yang berisi rangkuman semua materi kelas 3. Tak bicara apapun. Saya juga… Anehnya, menerima tanpa ucapan apapun.

Namun saat Ebtanas, pak guru itu luar biasa panik melihat saya keluar hanya dalam 15 menit saat ujian pelajarannya. Ia malah seperti orang yang memohon agar saya masuk lagi, memeriksa jawaban sekali lagi. Wali kelas dan kepala sekolah juga ikut bicara. Bahkan pak guru setengah menyeret masuk, dua guru pengawas dari sekolah lain juga membolehkan karena menurut mereka tidak mungkin saya mengisinya dengan benar secepat itu.

Tapi sekali lagi kepala batu saya kumat dan malah menyerahkan lembaran kertas itu pada pak guru untuk memeriksa sendiri. Lalu saya berlari ke warung. Bodo amat.

Dan yak, saya berhasil. Apalagi nilai pelajaran itulah yang tertinggi, bahkan nomor dua terbaik di Indonesia. Nyaris sempurna. Tapi, saya justru merasa sangat tidak enak hati ketika pak guru itu mengucapkan selamat dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Saya justru merasa kalah telak, dan meminta maaf padanya.

Sebenarnya saya sadar banget kontribusi pak guru atas prestasi itu, kalo bukan karena dia ngusir saya gak mungkinlah saya mau belajar keras dengan ikhlas. Saya mungkin tetap bisa, tapi takkan berprestasi sebaik itu.

thehigherseducation.com

Beliau menjadi satu-satunya guru yang kalo saya pulang ke kota itu pasti disambangi hingga 9 tahun kemudian setelah lulus. Satu-satunya guru yang saya ingat dari belasan kali pindah sekolah.

Mungkin kalo beliau masih hidup, akan tertawa paling keras dan ngapokin karena justru 22 tahun kemudian saya merasakan berdiri di depan kelas memakai titel yang sama dengannya. Iya, beliau adalah guru bahasa Inggris saya.

Maka tiap mendengar ada guru disakiti, bahkan meninggal dunia karena muridnya, sedihnya luar biasa. Bukan hanya karena banyak adik dan teman-teman saya menjadi guru, tapi saya pun pernah tahu lelahnya jadi guru.

Kaki gempor, tangan capek, mulut lelah dan sudahlah jangan tanya rasa di hati. Belum kalau terima hasil di akhir bulan. Duh… Dengan besar gaji yang sama, saya bisa mendapatkan jumlah yang sama dengan hanya dari menulis dalam dua minggu bahkan kurang dari itu.

Ada kalimat yang selalu saya ingat ketika berlebaran ke rumah guru bahasa Inggris itu belasan tahun lalu,

“Penghargaan terbaik buat kami ni, Nur (panggilan saya saat itu) adalah dikenang sama murid dan ngeliat murid kami tu jadi orang macam kau ni. Cukup dah tu… ”

Saat itu ada rasa bersalah masuk ke hati, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Andai bisa waktu diputar kembali, saya akan menerima dengan pasrah dan sudah pasti meminta maaf.

Zaman saya itu televisi masih menyayangkan Drama-drama keluarga dan sosial yang penuh kehangatan serta mengandung nilai pendidikan yang kental, tapi masih ada murid-murid bandel seperti saya. Maka saya tak bisa membayangkan zaman yang kini dipenuhi tayangan televisi sarat keburukan akhlak.

Negara ini sudah sering mengabaikan penghargaan untuk para guru, maka kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghargai jasa para guru itu?

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.