Cerita Pendek, Fiksi

Keluarga Sesungguhnya (The Real Family)

The Real Family

Pemuda itu nyaris seperti hantu. Keberadaannya kadang hanya bisa dirasakan dengan perasaan. Lewat sekedarnya, tanpa menyapa, bahkan kadang tanpa melirik sama sekali.

Awalnya, kukira ia itu tak suka padaku. Sejak mengepalai tim kreatif di kantor dua tahun lalu, pemuda itu tak pernah bercanda atau tertawa seperti umumnya anggota yang lain. Dia berbeda. Dan kukira itu semua karena faktor diriku.

Tim ini terdiri dari anak-anak muda kreatif yang berjiwa bebas dan unik. Mereka bekerja dalam ruang-ruang yang tak bisa dikatakan normal dan layak untuk sebuah ruang kerja. Semuanya bekerja dengan gayanya dan hobinya masing-masing.

Aku sempat kaget, ketika untuk pertama kalinya dalam sepanjang karir, melihat seseorang bekerja dengan bercelana pendek biasa, sambil makan, minum, ngemil, merokok bahkan tidur dalam ruangan bau dan berasap. Bahkan pernah tertangkap basah olehku sedang buka baju dengan santainya. Besoknya, aku memasang gorden dibantu para OB di seluruh ruangannya yang berdinding kaca itu, membuat seisi kantor menertawai si empunya ruang yang hanya bisa menunduk karena terus menerus kuomeli selama berada di ruang kerjanya yang bau itu.

Yang lain, justru memilih membawa treadmil di samping mejanya. Namun, malah mengisi lemari file dengan jajaran snack-snack yang kuragukan tanggal kadaluarsanya. Tapi, aku sih senang-senang aja, yang satu ini membiarkan treadmill miliknya sekali-sekali kupinjam. Sekedar membuat tubuh cukup lapar untuk memasukkan kalori lagi.

Masih ada ruangan berukuran 2×2 m lagi yang dipenuhi dengan berbagai foto pemandangan dari berbagai negara dan kota yang pernah didatangi dan target berikutnya untuk didatangi. Pemuda yang menempati ruangan itu, berasal dari keluarga pengusaha yang kaya. Dia bisa dengan bebas membangun perusahaan sendiri atau memimpin salah satu milik ‘babe’nya. Entah mengapa, yang satu ini justru suka berjam-jam duduk memandangi foto-foto landscape, waterscape dan mountainscape. Pernah sekali aku bertanya, alasannya hanya satu. Because I want to escape…

Sementara di paling pojok, berturut-turut dua ruang yang ditempati dua gadis manis, yang satu manjanya setengah mati dan yang kedua lebih mirip cowok ketika ia terlambat bangun pagi dan memilih tidak mandi untuk ke kantor. Ketika tugas di luar, justru kedua gadis inilah yang paling harus kuingatkan bahkan sampai dibantu para anggota laki-laki. Jadi kalau ada yang bilang perempuan itu sudah pasti punya naluri buat ke dapur, atau bantu-bantu pekerjaan rumah tangga. Itu tak terjadi pada dua gadis ini, naluri perempuan mereka sepertinya lupa dimasukkan saat lahir.

Nah, pemuda seperti hantu adalah pemuda yang paling misterius. Aku hanya pernah dua kali  masuk ruangannya yang persis berada di sebelah kananku. Karena ruang berdinding kaca itu tak ditempeli apapun, juga tidak ada gorden, dan ruangan paling bersih dari pernak-pernik pribadi, maka aku tinggal mengetuk dinding saja untuk memanggilnya. Hanya saja, posisi pemuda itu selalu membelakangiku. Otomatis cukup dengan melirik ke samping, aku tahu apa yang ia kerjakan. Kalau tak lagi bekerja, paling-paling ia sibuk bermain Mobile Legend. Kadang-kadang, ketika aku merasa bosan, aku suka menontonnya bertarung di games itu melalui dinding kaca.

Untungnya hanya lima orang itu yang aneh, karena yang bekerja di bagian non-ruang, adalah tim yang ‘normal’. Bagian-bagian umum yang juga ada di kantor-kantor lain pada umumnya.

Shock, dan bingung. Takut juga ada. Itu kesan pertamaku saat pertama kali bekerja. Tapi kata atasanku, anak-anak itu perlu seorang bersosok seperti ibu atau kakak. Aku seorang ibu, dan bekerja sebagai ibu adalah pekerjaan yang menyenangkan. Menjadi kakak, juga sesuatu yang tak asing bagiku. Sebagai anak pertama dan istri dari anak sulung, aku tahu peran itu dengan baik.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Satu demi satu, anggota utama, penghuni ruang-ruang tidak normal menjadi anak-anak baruku. Dengan peran ibu dan kakak, aku berhasil membuat empat anggota lain perlahan-lahan berubah, kecuali satu… Pemuda itu, namanya Teguh. Mungkin karena caraku memimpin yang seperti ibu-ibu inilah yang justru tak disukai Teguh.

Berulang kali aku berusaha mengambil hatinya, berharap ia menganggapku teman, atau kakak, jika ia tak bisa menganggapku ibu. Tapi ia tak pernah berubah. Tetap diam, nyaris tanpa suara di setiap meeting, apalagi bersuara di grup WhatsApp kantor. Lebaran udah empat kali lewat, ia tak pernah mengirimkan ucapan atau membalas sapaanku. Obrolan kami di WhatsApp, hanyalah berisi sederet permintaan atau perintahku, yang sekali lagi hanya dijawab ‘ya’ atau ‘baik’

Semua orang nyaris melupakan keberadaannya, kecuali ketika kami mulai stagnan dengan ide-ide grafis yang kadang-kadang mulai membosankan. Pemuda itu memang diam, tapi otaknya brilian. Jika aku meminta tolong padanya, dalam sehari ia pasti menyelesaikannya.

Karena itu, aku tak terlalu lagi memikirkan sifatnya. Toh, putraku sendiri juga seperti itu. Biasa saja. Maka, ketika beberapa kali, Teguh menemaniku saat bertugas di luar kantor, aku sudah terbiasa diam sepanjang jalan, di dalam mobil bahkan ketika kami berdiskusi ‘satu arah’ di lapangan. Paling hanya satu dua kali ia menjawab ya atau tidak, dehem-dehem dan mengangguk-angguk. Bagiku, itu saja sudah cukup.

Sampai hari ini…

Hari ini semua ceria. Begitu ceria. Aku berniat mencuri waktu istirahat untuk berbelanja ke pusat perbelanjaan kain di pusatnya Jakarta. Menumpang mobil teman kantor yang hendak bertugas di luar, karena suamiku sudah tak mengizinkanku menyetir sejak beberapa bulan lalu. Ramai pagi itu, teman-teman di departemen lain mulai menggodaku. Yah… belakangan aku sibuk dengan bisnis baru, sehingga sering minta izin keluar kantor. Tapi aku tak peduli. Semua orang tahu, aku bukan pekerja kantoran bergaji tiap bulan. Aku hanya konsultan yang dibayar dengan insentif pekerjaan. Punya usaha, bukanlah sesuatu yang terlarang.

Baru 10 menit sejak aku turun dari mobil temanku, langsung menuju atm dan mengambil uang. Tiba-tiba, seseorang dari belakang mendorongku jatuh tepat setelah mengambil kartu. Karena kaget, aku terdiam, mengira gadis muda tinggi berambut pendek dengan topi dan masker yang berdiri di belakangku jatuh pingsan dan tak sengaja mendorongku.

Tapi bukan itu, justru di saat itu, uangku keluar dari mesin atm dan langsung dirampas gadis muda itu. Ia menghilang keluar gedung sebelum aku sempat berkata apa-apa. Aku terhenyak kaget. Bingung dan panik sekaligus. Tangan dan tubuhku gemetar sampai-sampai seorang Ibu memapahku untuk duduk di kursi. Seseorang memberiku minum, tapi aku menggeleng. Beberapa orang laki-laki bertanya, satpam-satpam mendekati dan juga menghujani pertanyaan, tapi otakku nge-blank.

Seseorang berbisik, menanyai siapa yang bisa dihubungi. Tanpa kata, kusodorkan ponsel yang sempat kubuka dengan sidik jari. Lalu mereka menelpon satu demi satu nomor-nomor yang tertera di situ. Entah siapa saja. Aku tak peduli. Bahkan aku tak ingat kapan ponsel kembali ke tanganku.

Entah berapa menit berlalu, aku hanya duduk dalam diam. Tak berani berdiri, bahkan tak berani bicara. Orang-orang masih mengelilingiku. Tapi aku tak bisa bersuara. Hanya kemudian, kuberanikan tanganku mengirimkan beberapa pesan ke suami dan teman-temanku. Ketika mereka menelpon, aku tak berani menjawab apapun selain diam mendengarkan mereka bicara. Aku kuatir, emosiku pecah dan menjadi tangisan. Tapi sungguh, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ponselku lama-lama kehabisan tenaga, low battery. Bahkan ketika akhirnya salah satu kepala Satpam menggiringku ke dalam ruangan mereka, ponselku sudah mati total.

Tapi baru duduk sekitar dua menit memperhatikan cctv, tiba-tiba pintu ruang jaga Satpam terbuka. Teguh berdiri di situ. Mukanya merah padam, matanya melotot dan begitu melihatku, raut wajahnya berubah, ia juga menghembuskan napas panjang. Lega.

Aku juga. Aku ingin menangis saat melihatnya. Sungguh lega, melihat seseorang yang kukenal.

“Mbak, gak papa? Mbak luka?” tanyanya.

Aku menggeleng. Meski bagian bokong dan pahaku sebenarnya sakit karena terkena pinggiran tangga saat jatuh, tapi tak sebanding dengan trauma yang masih begitu jelas di ingatanku.

Entah apa yang ia bicarakan bersama para Satpam, lalu mengamati cctv sebentar dan membiarkanku duduk diam. Tapi akhirnya, aku digandeng Teguh keluar dari ruangan itu, menuju tempat parkir. Selama berjalan melalui eskalator, melewati orang-orang dan sampai ke tempat parkir, Teguh tidak melepaskan pegangan sama sekali. Meski ia kerepotan membawa plastik besar berisi kain-kain yang sudah telanjur kupesan. Entah kapan ia mengambilnya.

Sampai di mobil, setelah aku duduk, Teguh sibuk mencari ponselku, mengisi batere dan menyalakannya. Denting-denting pesan masuk berturut-turut terdengar. Lalu ia mulai menghubungi suamiku, putri-putraku, teman-teman kantor kami, bosku bahkan menjawab sms dan pesan masuk dari teman-temanku yang tidak ia kenal sama sekali, yang semua kebingungan menanyakan kepastian. Sementara di sampingnya, aku hanya bisa menangis seperti anak kecil, melepaskan semua ketakutanku. Sepanjang jalan, aku terisak-isak. Teguh hanya diam, tak bicara sama sekali.

Teguh mengantarku pulang, bertemu dengan suamiku yang juga baru sampai setelah berputar-putar mencariku di gedung yang sama. Rupanya kami berselisih jalan. Bukan hanya suamiku, tapi beberapa teman dan supir kantor juga mencariku. Teguh melaporkan beberapa hal sebelum pulang pada suamiku saat aku memilih mandi dan berganti baju. Ia tak mengatakan apapun padaku, seperti biasa. Hanya berpamitan pada suamiku setelah berpesan untuk menghubunginya kalau perlu bantuan.

Lebih dari satu jam kemudian, setelah aku lebih tenang. Suamiku bercerita,

“Setelah dapet kabar, Ayah langsung keluar kantor. Baru sampai tengah jalan, Teguh nelepon nanyain posisi Mama karena dia baca di grup kantor soal Mama. Ayah ditanyain jadi tadi ngasih alamat toko yang mau Mama datangi. Dia lagi di Sudirman, dan lagi presentasi loh tadi itu. Karena urgent, dia pamit,” kata suamiku menjelaskan.

Tentu saja aku tahu, aku yang membuat schedule-nya. Karena aku tahu semua orang sedang tidak ada di kantor, makanya aku tadi melarikan diri juga.

Lalu sambung suamiku lagi. “Dia bilang, Kakaknya sedang kena musibah. Dia harus pergi.”

Kakaknya?

Siapa?

Aku?

Pemuda seperti hantu, yang tak pernah bicara, hampir tak pernah bercanda atau tertawa seperti yang lain, selalu lewat ruanganku tanpa sapaan bahkan sekedar senyuman, yang selalu menggeleng tiap kali diajak berbincang santai di luar jam kerja, duduk selalu membelakangiku, tapi bisa menganggapku kakaknya?

“Trus tadi ini teman Mama yang dulu sering datang ke sini, tuh yang rambutnya pendek?”

“Sonya? Thessa?” tebakku bingung.

“Thessaaa… iya dia itu. Dia nelpon dan info sudah transfer ke rekening Mama. Katanya, itu uang yang dijambret adalah uang orang juga, harus diganti segera. Jadi dia bantuin. Katanya Mama gak usah pikirin soal ganti-gantiin uang orang. Yang penting Mamah jaga diri aja.”

Thessa hanya salah satu mantan teman kuliahku. Kuliah kami sudah berakhir sejak tiga tahun lalu. Dia pindah ke kota lain karena pekerjaan. Tapi kami masih sering bertemu jika ia ke Jakarta dan selalu kontak setiap kali sempat melalui WhatsApp. Siapa yang menyangka, teman sejauh itupun peduli padaku?

Airmataku mengalir lagi. Bukan karena kehilangan uang atau rasa takut yang kembali lagi. Tapi karena tahu, hari ini sebenarnya bukan musibah. Ini hari yang baik untukku. Hari aku tahu kalau aku punya adik-adik yang peduli, mereka bukan sekedar teman, tapi mereka juga keluargaku. Hari saat Allah menunjukkan bahwa ada orang-orang yang menyayangiku meski dalam keheningan.

“Teguh tadi cerita kalo dia sempat kesal sama teman-teman di kantor, kok gak ada yang nemenin. Sudah tau orangtua kayak Mama itu gampang kaget. Habis dia marahin semua cewek-cewek di kantor. Tadi aja mau anter Mama ke rumah sakit segala. Ayah bilang, Mama itu obat tenangnya ya Ayah. Eh baru deh anak itu anteng dan pulang.”

Ayah, Ayah… bukan hanya dirimu yang membuatku tenang. Teman-temanku, keluargaku yang lain, juga menenangkan hatiku. Aku tahu, di manapun, kapanpun, ada mereka selain dirimu yang mengkuatirkanku.

Suamiku menoleh padaku, “Yakin tahun depan mau berhenti? Adik-adikmu itu apa rela ditinggalin?”

Aku teringat hari-hari yang kulalui saat bersama teman-temanku, segelas teh yang sering kubuat sendiri untuk teman-temanku karena aku suka minum teh sambil mengobrol, makanan-makanan kecil yang sering kubagikan karena aku tak enak makan sendirian, ucapan dan hadiah tak seberapa yang lebih tepatnya hanya seperti sesuatu untuk menjahili mereka yang ulangtahun, naluriku yang tak bisa diam melihat ruang kerja tak rapi meski itu bukan ruanganku, dan entah berapa kali, aku yang suka mencoba hal-hal baru dengan senang hati membantu pekerjaan orang selama itu menyenangkan untuk dikerjakan. Jangan tanya caraku ‘bermain’ dengan teman-teman melalui WhatsApp, saling cerita, tertawa, becanda, bahkan meski sekedar mengomentari WA-Story mereka. Aku, ibu-ibu ini, masih sangat menikmati bermain-main kata dengan teman-teman.

Cuma itu, kebaikan yang kulakukan sebenarnya bertujuan untukku sendiri. Tapi siapa sangka, hal-hal kecil itulah yang menolongku di saat musibah besar datang. Hanya hal kecil, sangat kecil, bahkan terlalu kecil. Tapi… ternyata berbekas begitu dalam. Kulakukan itu tiap hari. Benar kata petuah bijak, bahkan batu saja bisa berubah bentuk karena tetesan air.

Hari ini, aku menemukan arti keluarga sesungguhnya. Dan keluarga yang sesungguhnya, akan selalu bersama, jauh atau dekat.

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.