Cerita Pendek, Fiksi, Parenting

Rumah Kami yang Berantakan

Dulu, aku tak pernah mengerti mengapa rumah tempatku dibesarkan selalu berantakan. Selalu ada mainan berserakan di sana-sini, karena dua adik kembarku bermain dimanapun mereka suka. Buku-buku bertebaran di mana-mana. Di meja tamu, di atas kursi duduk Ayah, bahkan di dapurpun ada buku masakan Ibu bertumpuk-tumpuk di salah satu sudut. Jangan tanya meja belajar atau di kamar kami, karena semuanya sudah dipenuhi sebagian besar oleh buku.

Aku tahu ada beberapa lemari buku yang dikhususkan untuk menyimpan buku-buku yang menjadi koleksi keluarga. Tapi tiap kali dibereskan, tak lama buku-buku sudah ‘berjalan’ ke mana-mana. Si pembacanya, entah itu Ayah, Kakak atau bahkan Ibu sendiri beralasan, mereka belum selesai membaca. Buku-buku nyaris keluar semua, ketika Ayah sedang menyusun sebuah karya tulis atau sedang melakukan penelitian. Tersandung buku-buku, sudah hal biasa yang terjadi olehku saat itu.

Tak hanya karena buku, ide yang muncul di tiap kepala anggota keluargaku juga turut andil menjadi penyebab rumah yang selalu berantakan itu. Ibuku sangat suka menjahit, membuat berbagai macam barang hiasan, pernak-pernik bahkan memanfaatkan barang-barang yang tidak terpakai. Hanya anehnya, sebanyak apapun barang-barang yang berhasil dibuat Ibu, secantik dan sesempurna apapun itu, karena terlalu banyak dan diletakkan sembarangan, justru makin membuat rumah kami terlihat penuh dengan barang. Untungnya, Ibu sangat royal memberikan hasil-hasil karyanya jika ada yang suka. Untungnya lagi, aku juga sering mendapat keuntungan dari hasil menjual karya-karya ibu diam-diam.

Kebiasaan Ibu ini kemudian menurun pada Kakakku, yang suka melukis, lalu menurun pada kakak keduaku yang juga suka membuat berbagai pernak-pernik dan akhirnya padaku. Aku suka menyulam dan memajang hasilnya di kamarku. Sedangkan kedua adikku… dari para pembuat berbagai mainan dari kertas, mereka akhirnya seperti Ayah, suka menulis. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kalau kami berlima semua melakukan hobi, kan? Rumah kami mirip kapal pecah!

Aku sering ke rumah teman-temanku. Rumah mereka rapi dan bersih. Semua barang terletak sesuai tempatnya. Beberapa di antaranya bahkan pantas kalau dijadikan rumah-rumah contoh seperti di majalah-majalah interior. Aku iri pada mereka karena punya rumah yang selalu rapi dan enak dilihat, tanpa perlu berlelah-lelah membersihkannya. Sementara aku…

Memang, rata-rata di rumah teman-temanku yang rapi dan bersih itu karena ada pembantu rumah tangga yang khusus melakukannya. Untuk yang satu ini, aku juga sudah tahu. Tapi, meski berulangkali meminta pada Ibu, ia tak bergeming. Jangan tanya Ayah, karena buat Ayah, Ibu selalu benar.

Kata Ibu, jika ingin rumah bersih, kami harus membersihkannya sendiri. Rumah kami memang tak selalu berantakan. Pagi hari, saat kami ke sekolah dan orangtua bekerja, rumah selalu bersih karena kami mengerjakan tugas masing-masing. Berantakan itu baru dimulai saat penghuni rumah pulang satu persatu.

Sesekali, kami tak melakukan apa-apa dan memilih membaca atau duduk-duduk di kamar masing-masing. Tapi saat Ibu pulang, ia akan mengacaukan ketenangan itu. Ia akan mengajak kami memasak bersama, membuat prakarya yang baru atau memainkan sebuah permainan. Karena sudah terjadi sejak aku dan saudara-saudari masih kecil, aku tak pernah menolak ajakan Ibu. Apapun yang Ibu tawarkan, itu pasti sesuatu yang seru!

Tahun-tahun berlalu dengan cepat. Aku sekolah, kuliah dan pada akhirnya bekerja. Begitupun semua saudara-saudariku. Saudara tertuaku menjadi dosen namun belum menemukan jodohnya. Kakak perempuanku sudah menikah dan bekerja di rumah sebagai seorang penulis lepas. Dua adik kembarku mengambil jalan yang berbeda. Adikku yang satu memilih menjadi seorang Manajer di salah satu perusahaan konstruksi, sementara yang satunya justru memilih membuka restoran sendiri. Adikku yang termuda ini sempat berjualan sebagai pedagang nasi goreng keliling, hingga akhirnya kami berempat memilih untuk ikut berinvestasi sekaligus membantunya memiliki tempat sendiri. Keduanya juga sudah menikah. Oh ya, aku sendiri memilih mengikuti Kakak tertuaku menjadi pengajar dan juga mengikut jejak Kakak keduaku, menikah setahun setelah selesai kuliah. Bedanya aku hanya mengajar di Taman Kanak-Kanak. Pilihan yang kuambil setelah menyingkirkan berbagai tawaran untuk bekerja sebagai tenaga psikolog sesuai keahlian saat aku kuliah.

Di tempatku bekerjalah, kemudian aku mengetahui alasan rumah kami selalu berantakan dulu. Itu karena rumah kami seperti sebuah sekolah yang sedang dipenuhi dengan berbagai pelajaran. Ibu tak hanya mengajari kami mengenal buku, mencintainya bahkan memastikan kami tak bisa hidup tanpa mereka. Ibu juga selalu mengajarkan banyak hal selain pelajaran di sekolah. Dapur yang berantakan berhasil membuat kami berlima semua pandai memasak. Kamar yang dipenuhi barang-barang buatan tangan membuat kami berlima terampil mempelajari sesuatu. Yang jelas, kami jadi mandiri karena terbiasa melakukan semuanya sendiri. Satu hal yang kemudian sangat kusyukuri adalah Ibu juga membiarkan kami mengeksplorasi secara maksimal apapun yang ingin kami lakukan. Ibu hanya akan tersenyum maklum dan satu-satunya yang ia minta paling-paling, “Bereskan kalau sudah selesai, ya!”

Di balik rumah berantakan, bukan karena ibuku pemalas, juga bukan karena kami malas. Ada hal lain. Itu karena kami sedang belajar, sedang mengeksplorasi, sedang mengembangkan imajinasi menembus dinding rumah kami. Ibuku, bukanlah perempuan biasa yang ingin melayani anak-anak dan suaminya di rumah yang bersih dan selalu rapi. Ibuku, seorang perempuan pendidik yang ingin menyiapkan keluarganya menjadi sosok-sosok yang tangguh dan berkemampuan.

Ah ya, rumah ibu masih sering berantakan. Kini yang melakukannya adalah cucu-cucu Ibu. Ibu tak lagi bisa terlalu menemani mereka bermain sejak terserang stroke tahun lalu. Tapi, kamilah yang justru menemani mereka sambil membiarkan Ibu melihat kelucuan cucu-cucunya. Anakku dan sepupu-sepupunya selalu menikmati saat-saat itu, seperti kami yang kini bergantian belajar juga bermain bersama mereka. Mengeksplorasi dunia sekaligus mengenang saat-saat berharga yang pernah kami alami juga.

Maka ketika rumahmu berantakan, pikir dua kali sebelum memarahi anak-anak ya…

2 thoughts on “Rumah Kami yang Berantakan

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.