Diary

Nulis dan Mengapa Emak Hanya Menulis?

SMP, itu pertama kali karya Emak dimuat. Senengnya… cerber lagi. Habis itu ditawari nulis tetap di kolom remaja, tapi Emak keburu pindah sekolah.
 
Selama kerja, cerita bejibun di kompi, tapi hanya jadi bacaan rekan-rekan kerja. Mereka ngakak, sedih dan bahkan marah-marah sendiri krn Emak gak selesaikan ceritanya, justru alasan Emak bertahan kerja.
 
2011, tiba-tiba puluhan notifikasi komentar muncul di email. Someone used my email, took my stories and made my first blog without permission. Seneng? Ya iyalah, tapi takut juga, kesel juga dikomen. Dipikir nulis itu enak apa, kadang nulis fiksi itu ngelibatin emosi juga loh. Setelah ditertawai someone ini, karena akhirnya Emak bersedia juga mengurus blog itu sendiri
 
Day after day, banyak yg berubah. Tapi yang pasti nulislah yang membuat Emak kuat ngadepin masalah dari mulai ngurusin anak2 sendiri, mamah sakit, keluarga, lalu kuliah lagi, akhirnya juga bekerja lagi dan berkenalan dengan banyak kegiatan. Istilah Ayah ‘Out of Cangkang
 
Tapi, menulis membuat Emak memilih. I am writing for myself. Yep.. myself. Buat nyenengin hati, ngelepas beban dan berbagi senyum. Itu yang bikin rohani seimbang. Gak melulu mikirin galau. Ngurangi stress. Sekarang sudah tujuh tahun sejak saat itu…
Ya, bulan ini adalah hari ulang tahun pertama kalinya Emak mulai ngeblog. Masih ada blog gratisan itu. Kadang masih menulis di sana. Tapi karena sekarang banyak request dari penerbit langsung, jadi agak keteter juga menulis untuk blog. Belum kegiatan baru dan mulai bulan ini ada lagi tambahan les di malam hari.
Saat-saat pertama kali kelabakan menerima notifikasi itu benar-benar tak terlupakan. Membayangkan wajah Emak yang polos dan bingung, tak tahu harus bagaimana saat fitur-fitur blog yang tak dipahami menghalangi niat berbagi tulisan selanjutnya, bahkan sekedar menjawab komentar saja pun bingung harus tekan yang mana. Sampai disangka sombong oleh blogger lain. Padahal… saat itu semata karena oon aja.

Ayah yang jadi saksi sepanjang tujuh tahun terakhir. Ada kalanya Emak menangis sendiri karena terlalu menjiwai tulisan. Ada kalanya anak-anak ikut jadi editor dan tertawa terbahak-bahak saat ikut membaca. Tapi… karena pernah Emak kerjain beberapa kali, anak pertama Emak sudah tak lagi mau membaca cerita fiksi karya emaknya sendiri, kecuali kalau ia sudah memastikan cerita fiksi itu bukan cerita sedih. Ia, yang sebenarnya periang dan jarang menangis, bisa menangis tersedu-sedu hanya karena tulisan. Dan kalau Emak tahu anaknya nangis hanya karena hal seperti itu, ya pasti ia akan diledek habis-habisan. Di rumah kami, yang cengeng itu hanya boleh Emak.

Emak pernah ngerasain, dari sekali nulis dibayar jutaan sampe kini berubah jadi puluhan ribu rupiah saja setelah banyaknya blogger yang bermunculan. Ya biasa aja. Karena dari dulu, Emak memang tak pernah terlalu serius menekuni dunia blogger. Santai saja. Dapat alhamdulillah, enggak ya biasa aja. Gak merasa perlu gontok-gontokan, apalagi ribut karena hal-hal sepele. Rezeki ada yang ngatur.

Ada faktor lain juga yang membuat Emak berpikir begitu, setelah merasakan pekerjaan blogger yang harus ke sana ke mari melakukan review, menghadiri acara dan sebagainya. Emak punya keterbatasan. Biasanya setelah acara, selalu sakit. Fisik Emak tak sanggup relay dari satu acara ke acara lain, sekalipun dengan teman, sekalipun dengan kendaraan senyaman apapun, sekalipun tempat-tempat yang didatangi itu nyaman. Tadinya, merasa mungkin kalau sudah terbiasa akhirnya bisa. Tapi general check-up dengan biaya luar biasa, justru menjawab semua pertanyaan Ayah dan Emak, mengapa Emak gampang sekali sakit… sampai akhirnya keputusan harus dibuat.

Emak masih menulis… tapi hanya di blog saja, lebih banyak atas nama orang lain, beberapa disimpan untuk anak-anak. Biarlah mereka yang memutuskan akan diapakan karya-karya emaknya nanti. Mungkin untuk kenangan, mungkin juga untuk mereka bagi dengan orang lain. Tapi Emak lebih sering menulis tentang hidup, tentang anak-anak, nasihat untuk orang lain.

Jika memang ada rezeki, mungkin datang dalam acara-acara itu. Tapi syarat Ayah hanya sebulan dua kali, acara yang tak lebih dari 6 jam dan hanya seputar Jakarta Pusat. Susah kan? Apalagi kesibukan lain terlalu menggoda untuk dilewatkan. Menulis blogpun makin lama makin jarang.

Hanya saja akhir-akhir ini malah hampir tak pernah berbagi lagi di blog. Ternyata memang sangat sulit membagi waktu kalau menulis berbagai tema sekaligus. Emak tak sanggup berubah dari satu tema ke tema lain dalam sekejap. Buat Emak semua tulisan adalah ‘bayi-bayi’ yang harus memiliki karakter dalam setiap tulisannya. Jika semata menuruti target, rasanya seperti ada yang hilang.

Emak menulis, atau sebagai penulis. Emak tak lagi terlalu peduli. Emak tak perlu pengakuan, cukup pembuktian. Sama tak pedulinya seperti menghadapi teman-teman Emak sendiri, saat wajah bengong mereka ketika melihat hasil lukisan Emak di dinding kamar Kakak, atau saat sorot tak percaya sahabat sendiri yang terpancar ketika melihat hasil karya flanel Emak dalam tiga kotak yang dimainkan adik, atau ketika ada yang berulang kali melihat judul buku hasil tulisan Emak. Tanya mereka sama… “Memangnya bisa apa emak-emak manja dan konyol kayak dia ini?”

Cukuplah, menulis sebagai cara Emak menikmati hidup. Yah. menikmati. Menulis itu seperti tempat Emak bermain, tempat Emak memandang segala sesuatu dan mencatatnya melalui kata-kata yang tertulis. Tak perlu pengakuan, tak perlu pujian. Gak papa disindir, gak papa juga dikomentari. Then… you will always talk to my hand.

7 tahun. Jika ia seorang anak, maka lagi bawel-bawelnya. Tapi karena sudah 7 tahun berkecimpung di negeri bernama dunia maya, Emak sudah belajar menapak dunia nyata. Ada yang hidup berkat tulisan, ada yang sembuh karena tulisan, ada yang tersakiti gara-gara tulisan… Hanya penulis yang memutuskan.

Tertanda,
Emak
(a.k.a Bunda Iin)

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.