Cerita Bersambung, Fiksi, Misi Manis Untuk Chang

Misi Manis Untuk Chang (2)

Cerita Sebelumnya

Sahabat yang Kembali

“Maaf, Mas. Maafkan kami. Teman saya terkena hiperglikemia. Diabetes. Mungkin karena kebanyakan makan kue, makanya kadar gulanya naik. Maaf kalau membuat Mas mengira kue buatan Mas beracun. Maafkan kami! Ini saya tambahkan uangnya. Kalau kurang, Mas tinggal bilang,” ujar gadis bernama Kirana yang tadi bersama si ’pencuri kue’ sambil menyodorkan beberapa lembaran uang seratus ribu. Bahu Luthfi merosot turun, menggeleng pelan sembari berusaha memaksakan bibirnya tersenyum. Samar.

Penjelasan gadis berambut pendek bernama Kirana itu telah menjawab pertanyaan Luthfi. Ia terdiam, memandangi gadis berwajah pucat yang kini terbaring di tempat tidur rumah sakit itu. Kirana menghela napas dan duduk di sisi tempat tidur itu.

“Kemarin ulang tahun Joan. Sepanjang hidupnya, selama delapan belas tahun, ia tak pernah makan kue ulangtahun yang biasa seperti yang lain. Dari kemarin, Joan memaksa untuk membeli kue tapi semua orang selalu melarang. Tadi malam ia memaksa saya untuk pergi diam-diam ke toko kue milik Mas dan saya terpaksa ngikut.”

Wajah gadis itu seputih krim, terlihat begitu halus tapi rapuh. Nafasnya naik turun dengan teratur mengikuti bunyi dari selang oksigen yang melingkar di wajahnya. Matanya yang bulat besar tertutup rapat dan memamerkan sepasang bulu mata lentik yang tebal. Meski tubuh kurus dan mungil itu tertutup selimut bergambar boneka besar, gadis ini bukanlah anak remaja SMP seperti yang ia duga sebelumnya.   

“Ia tahu toko kue Mas, karena tiap kali ke rumah sakit, selalu lewat dan ia selalu bilang kalau ingin makan kue yang dipajang di etalase toko Mas. Saya tahu, cara Joan salah, tapi saya pikir tak apa-apa kalau hanya sedikit. Saya tak tahu, kalau Joan makan terlalu banyak. Dia mungkin terlalu senang.”

Mata Kirana berkaca-kaca saat menggenggam salah satu tangan Joan. Gadis itu menoleh pada Luthfi lagi, membuat Luthfi merasa tak enak. Ia ingat tadi pagi sempat membentak Joan. Mungkin saat itu Joan sedang berjuang untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Mulut Luthfi terbuka, siap meminta maaf.

Draak! Pintu kamar itu terbuka. Seorang wanita dan pria setengah baya masuk. Wajah mereka terlihat panik. Mereka langsung melewati Luthfi dan mendekati tempat tidur Joan. Sekali tebak, Luthfi langsung tahu kalau mereka adalah orangtua Joan. Tak ingin mengganggu saat-saat pribadi itu, Luthfi berjalan mundur, hendak keluar. Namun tepat di depan pintu, seorang pria berdiri. Nyaris tubuh mereka bertabrakan. Sedetik kemudian keduanya bertatapan.

“Luthfi?” Pria yang baru menabraknya, termangu di hadapan Luthfi menyebut namanya. Tampak bingung sekaligus tak percaya.

Kening Luthfi berkerut, berusaha merestorasi kenangan wajah pemuda di hadapannya itu. “Alan?” ragu-ragu Luthfi menyebut sebuah nama yang dulu pernah sangat akrab dalam kehidupannya.

“Kenapa kamu ada di sini? Kau jenguk adikku?” tanya Alan meruntut.

Pertanyaan itu seketika membuat Luthfi terperangah. Lagi. Ia kembali menoleh ke tempat tidur tempat gadis bernama Joan, terbaring. Adik? Adik Alan?

Alan, sahabat baiknya. Lelaki yang menolongnya saat ia hampir dipukuli geng sekolah dan mereka mulai berteman sejak saat itu. Berbagi keisengan, bolos bersama, dan menggoda gadis-gadis. Alan yang selalu bercerita tentang adiknya, tentang kebencian Alan pada penyakit bernama Diabetes Mellitus. Penyakit yang merenggut Kakeknya dan membuat adiknya tak pernah merasakan sekolah apalagi kehidupan normal seorang gadis biasa. Adiknya yang selalu merengek meminta permen dan kue, tapi tak pernah bisa memakannya sebanyak yang ia inginkan. Adik yang setiap saat kambuh dan membuat Alan berhari-hari tak masuk sekolah. Setelah masuk, Alan pun hanya diam dengan wajah murung. Tepat setelah lulus sekolah menengah, Alan menghilang tanpa meninggalkan jejak.

“Apa kabar, Lan?” senyum Alan berkembang. Kini ia mengerti. Ini memang sahabatnya dan ia benar-benar beruntung bisa bertemu dengannya lagi. 

Dengan tulus Luthfi bergerak mendekati sahabatnya. Alan mengangguk dan menyodorkan tangan. Alih-alih membalas salamnya, Luthfi merangkulnya. Mereka saling menepuk punggung, seperti dulu. Ada rindu sekaligus tanda tanya memenuhi sanubari kedua sahabat lama itu.

Dari balik punggung sahabatnya, Luthfi kembali menatap gadis bernama Joan. Itukah gadis kecil yang dulu sering menyambutnya saat berkunjung ke rumah sahabatnya? Tipis, senyuman Luthfi kembali mengembang sekaligus terasa pahit. Gadis kecil, lucu dan menggemaskan itu kini sangat berubah.

Bersambung …

Cerita Selanjutnya : Misi Manis Untuk Chang (3) – Cincin Untuk Joan (Publish date : 25 Juli 2017)

2 thoughts on “Misi Manis Untuk Chang (2)

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.