Jangan Lari Bos!, Novel, Terjemahan

Bagian 1.2 Jodoh Pilihan

Saat wawancara di perusahaan sebelumnya, Nuo Nuo membuat persiapan penuh. Papanya yang lebih berpengalaman telah memberikan saran kalau dalam sebuah wawancara harus menunjukkan keseriusan bahwa ‘saya ingin bekerja di perusahaan ini selama delapan atau sepuluh tahun ke depan’ karena perusahaan atau Manajer Personalia lebih menyukai calon karyawan dengan situasi yang stabil, karena itu tidak hanya akan menjamin kestabilan tim kerja, namun juga memberi pandangan bagi pihak luar bahwa perusahaan itu adalah ‘sangat stabil, menguntungkan dan para karyawannya betah bekerja’.

Hal ini juga untuk mengurangi beban berlebihan untuk pelatihan tambahan bagi karyawan baru. Jika karyawan tidak betah, maka usai pelatihan maka ia akan mengundurkan diri.

Nuo Nuo mendengarkan saran itu, dan saran Papa memang sangat efektif.

Saat melewati prosedur resmi perusahaan, ia sempat merasa ragu sebelum mengisi kolom status dengan ‘menikah’. Tapi itu adalah saran papanya yang kedua.

Di perusahaan-perusahaan besar, persaingan cukup sengit dan jika ingin tetap berada pada posisi tertentu, maka identitas wanita yang sudah menikah tidak akan membuat rekan kerja dan atasan merasa kuatir. Karena sebagai seseorang yang sudah menikah, mereka akan beranggapan bahwa orang itu lebih fokus mengurus keluarga dan tidak akan menjadi masalah besar. Dibandingkan dengan gadis lajang, wanita yang sudah menikah juga lebih tenang dan lebih perhatian.

Benar saja, setelah menyerahkan formulir pada Manajer Personalia, ia langsung memandang Nuo Nuo dengan tatapan setuju ‘sebagai rekan kerja, kau telah diterima’. Hanya saja, Nuo Nuo sama sekali tidak menyangka kalau Dirut Shiao memiliki ingatan yang sangat bagus. Saat itu ia hanya melihat sekilas lembaran informasi tentang Nuo Nuo namun dapat mengingat dengan baik status pribadi gadis itu.

Tanpa sadar Nuo Nuo memutar gelas tehnya. Berbohong pada situasi seperti ini akan semakin memperburuk saja, jadi ia menekan bibirnya sedikit dan menjawab, “Karena sebagai wanita yang sudah menikah akan membuat para pimpinan berpikir kondisi saya cukup stabil, dewasa dan bisa lebih dipercaya.”

Alis mata Shiao Yi yang panjang terangkat sedikit, jelas sekali menunjukkan kalau ia sangat puas mendengar jawaban itu.

“Lalu soal kampung halaman? Seingat saya dalam resumemu katanya Anda dari kota ini, kartu identitasmu tidak palsu, bukan?”

Nuo Nuo mulai merasa dipermalukan. Satu kecelakaan kecil mengakibatkan penyesalan seumur hidup. Dirut Shiao mulai meragukan integrasinya.

Nuo Nuo menjelaskan dengan terburu-buru, “Saya benar-benar berasal dari kota ini. Informasi dari agen kencan buta yang bilang kalau saya dari kota C, itu karena ibu saya kuatir ada orang yang akan mengambil keuntungan dari kartu penduduk lokal yang saya punya. Bukankah sekarang sedang sangat populer? Ibu saya memang agak terlalu paranoid.”

=__=

Usai menjelaskannya, perasaan Nuo Nuo justru tertekan. Saat mamanya memberi keterangan palsu untuk kencan ini, ia sudah memintanya agar Mama tidak melakukannya. Namun Mama bilang, “Banyak orang berbahaya sekarang, mereka ingin memakai identitasmu untuk mendapatkan uang. Zaman sekarang banyak orang yang berharap mertuanya yang membelikan mereka rumah. Setelah menikah, kau hanya bisa menangisinya.” Dan akhirnya saran Nuo Nuo benar-benar dilupakan.

Sekarang, lihat, lihatlah hasil lembaran identitas kencan buta palsu itu!

Setelah selesai mengucapkannya, Nuo Nuo teringat kalau profil pribadi si Dirut Shiao juga palsu. Tapi mungkin itu karena dia juga takut orang lain lebih tertarik dengan uangnya. Dia dan ibunya juga benar-benar ‘licik seperti ular’.

Karena itu, Nuo Nuo mendongak sedikit dan menatap pada Dirut Shiao dengan penuh rasa ingin tahu. Mata Shiao Yi memancarkan sebuah ‘senyuman’. Gadis itu terkejut dan segera menundukkan kepalanya lagi, dengan jantung yang berdebar sangat kencang. Oh, tidak, tidak, laki-laki ini tidak tertarik padanya, bukan? Ah ah ah, apa yang harus Nuo Nuo lakukan sekarang? Walaupun Boss sangat tampan, tapi Nuo Nuo sendiri masih gadis polos, naif, sederhana, masih pemula di dunia kencan.

Saat Nuo Nuo tengah tenggelam dalam lamunan di dunia kecilnya sendiri. Shiao Yi mengucapkan kalimat yang langsung menghancurkan lamunannya itu.

“Dalam profil kencan butamu, di situ tertulis hobimu adalah membaca, tapi di lamaran kerjamu tidak… kau tidak akan mulai membaca novel fiksi saat bekerja, kan?”

Mendengar kata-katanya, Nuo Nuo benar-benar sangat mengagumi Shiao Yi. Apakah laki-laki ini benar-benar memiliki otak seorang manusia? Otaknya alat yang sangat teliti. Hanya dengan satu tatapan sekilas pada kedua profil Nuo Nuo, dan Shiao Yi bisa membandingkan kedua informasi itu serta menemukan kesalahan-kesalahannya. Shiao Yi, kau sungguh sungguh pantas disebut si Boss Besar yang Agung.

Setelah itu, Shiao Yi terus melemparkan beberapa pertanyaan secara acak dan Nuo Nuo menjawabnya dengan sangat hati-hati. Kencan buta selama setengah jam itu pun berubah menjadi wawancara langsung yang menguras seluruh tenaganya.

Airmata Nuo Nuo mulai berjatuhan. Ia pernah dengar kalau hanya para manajer perusahaan yang akan naik ke tingkat administrator saja yang bisa melakukan wawancara secara tatap muka dengan boss besar alias si Direktur Utama. Padahal dirinya hanyalah karyawan baru, yang ingin menikmati akhir pekan yang baik namun malah menerima penyiksaan psikologi tidak ada bandingnya.

Di akhir kencan buta itu, Shiao Yi juga tidak menawarkan diri untuk mengantar Nuo Nuo pulang dan pergi lebih dulu. Nuo Nuo duduk di kursi taman, menarik napas lega. Perasaan ini… lebih buruk dibandingkan saat ia mengikuti ujian masuk universitas!

Di saat yang sama, Mama Shu berpikir untuk menghubungi anak perempuannya untuk bertanya tentang kencan buta itu. Saat Nuo Nuo melihat identitas pemanggil di ponselnya, ia menjawab telepon itu dan menghela napas berat.

Setelah Mama Nuo Nuo mendengar kalau menurut putrinya kencan buta itu telah gagal, ia pun berkata, “Tak masalah, lain kali Mama akan menemukan orang yang lebih baik…”

Jiwa raganya sudah hanyut entah ke mana saat ia menunggu Mamanya selesai bicara.

“Ma, perjodohan itu bisa membunuh orang..”

****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.