Diary, Kampus, Sosial Politik

Kualitas Debat Menentukan Kualitas Pembicara

Dulu, saya sering heran ketika ada yang berkata, “ah, debatnya kayak ibu-ibu, jelas kita kalah. Udah gak usah diperpanjang.”

Itu sebelum saya kuliah lagi. 

Di kelas-kelas kuliah, saya mulai memahami arti kagum, terpana, terkejut bahkan dipaksa maklum melihat cara teman-teman saat memaparkan pendapat dan opini mereka. Ada yang berputar-putar, ada yang rajin sekali memberi contoh, tapi ada yang cukup singkat namun sarat pengetahuan. Tapi banyak juga opini yang terkesan tidak nyambung bahkan terlalu jauh dengan konteks, bahkan penuh gejolak emosi yang tak lagi netral.

Selama proses itu, pengawasan senior dan dosen yang terbiasa untuk mengatur diskusi menjadi sangat dibutuhkan. Mereka akan memberi warning apabila ada batasan etika sosial yang dilanggar oleh mahasiswa yang bicara, agar kualitas debat akan sesuai dengan harapan. Harapan itu bukanlah menentukan siapa yang kalah atau siapa yang menang, tapi memancing para mahasiswa untuk mampu berpikir dari segala sudut pandang lalu mengambil kesimpulan sesuai pemikiran masing-masing. Karakter mahasiswa yang menunjukkan pemikiran independen inilah yang sebenarnya ingin dibentuk melalui lembaga pendidikan teratas ini.

Disitulah saya belajar mengelola emosi saat beropini atau berdebat dalam diskusi-diskusi di kampus. Mahasiswa sekarang memiliki akses sangat mudah dalam mendapatkan informasi, dan itu mempengaruhi pula cara berpendapat mereka. Kesan nyelekit dan nyeleneh bukan hal aneh yang saya lihat tiap kali terjadi diskusi tajam. Keterbukaan informasi telah mempengaruhi para mahasiswa sekarang untuk lebih berani menyuarakan inspirasi mereka. Perubahan fisik dan mental menjadi remaja akhir bagi para mahasiswa baru, sekaligus pengaruh mahasiswa-mahasiswa berusia dewasa seperti saya, rupanya mampu membuat kelas-kelas diskusi yang panas namun kondusif.

Kalau tidak terbiasa, mungkin ada yang mengira setelah keluar kelas ada yang akan adu jotos. Selama ini, belum pernah ada yang seperti itu di dua kampus saya. Kalaupun ada yang ingin melanjutkan dengan versi lain, justru mahasiswa seperti itu dianggap masih belum dewasa dan dijauhi dengan sendirinya. Jangankan mahasiswa, anak-anak SMA zaman sekarang saja sudah mulai melakukan kelas-kelas diskusi yang seperti di kampus. Mereka sangat terbuka dan kritis dalam membahas permasalahan sosial di sekitarnya.

Kehidupan diskusi dengan debat berkualitas seperti ini seharusnya tetap dipertahankan dalam masyarakat. Pendidikan mental dalam beropini harus dipraktekkan secara langsung untuk mempengaruhi dan memperbaiki kualitas diskusi di kalangan umum. Saat ada batas-batas yang dilanggar, sudah merupakan kewajiban bagi insan terdidik untuk memberi kritik yang membangun. 

Saya mulai kuatir dengan kualitas debat akhir-akhir ini. Banyak sekali para eksekutif muda, pengusaha bertitel, pemimpin bahkan enterpreneur yang terkenal mulai kehilangan batasan dalam berpendapat. Unsur SARA, penampilan fisik dan kehidupan pribadi seseorang dijadikan sasaran tembak saat debat. Padahal ketiga hal ini adalah persoalan sensitif yang sudah menjadi standar umum untuk tidak dijadikan sebagai pembahasan. Kalau hal ini terus dibiarkan, sebenarnya bukan pihak lawan debat yang menjadi masalah, justru akan menjadi senjata makan tuan. 

Seseorang yang menggunakan senjata tiga unsur terlarang itu telah memperlihatkan dirinya hanya mampu memandang segala hal secara mendasar, tidak sampai ke bagian dalam. Ia hanya mampu menilai bagian luar, bukan bagian dalam. Ia tidak bisa memahami pemikiran jauh ke depan, mengingat kesalahan dan kebaikan masa lalu jauh ke belakang dan pasti tidak akan mampu mengingat tujuan dari debat itu sendiri. Secara singkat, mereka justru memperlihatkan pemikiran yang dangkal. Padahal sudah sangat jelas dalam quote “Do not judge a book by its cover!

Maka tinggalkanlah debat seperti itu…

Lalu mengapa saya membandingkannya dengan debat ibu-ibu? Karena saya ibu-ibu, saya paham benar kapan saya berubah menjadi seseorang yang mendebatkan harga dengan si penjual sayur yang semena-mena menaikkan eh mengubah harga, itulah mengapa tak ada seorangpun bisa mengalahkan debat gaya ibu-ibu . Mungkin terdengar kejam, tapi seorang ibu akan berdebat memaparkan seluruh isi dunia, asalkan bisa memenangkan pertarungan harga demi kebaikan keluarganya. Jadi tak ada yang bisa mengalahkan mereka. 

Beberapa bulan terakhir, kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia dipenuhi dengan perdebatan. Bagi kita para pemerhati dan mungkin juga menjadi bagian dari diskusi tersebut, ini adalah kesempatan untuk menilai kualitas mereka yang terlibat dalam diskusi atau debat yang berseliweran di berbagai media sosial. Apa yang mereka serang? Apa yang mereka bicarakan? Berkualitas atau hanya sekedar kuantitas tak bermutu? Kita akan belajar memahami dan kemudian memilah sebelum akhirnya memutuskan sebuah kesimpulan sendiri.

Seperti debat di kampus, semua kembali lagi kepada kesimpulan masing-masing karena itulah tujuan sebenarnya. Menjadikan seseorang dengan pemikiran yang mandiri dan dapat dpertanggungjawabkan setidaknya untuk diri sendiri.

 

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.