Psikologi, Sosial Budaya, Umum

Demi Hak Pribadi atau Serakah Belaka?

Tak ada yang tahu artinya berbahagia memiliki sesuatu, sampai ia memiliki sesuatu itu. Rasa senang dan bahagia itu seperti permen manis yang terus-menerus ingin dirasakan. Tentu dengan mempertahankan kepemilikan, maka diharapkan rasa itu takkan pernah hilang.

Tapi ada banyak sekali manusia yang ingin memiliki sesuatu bukan karena sekadar ingin merasakan kebahagiaan belaka. Buat mereka, memiliki tanah atau properti adalah bagian dari kebutuhan yang wajib dipenuhi untuk melindungi keluarganya. Kebahagiaan bukan karena memilikinya, tapi karena fungsinya membuat sumber kebahagiaan mereka terlindungi dengan baik dan sumber kebahagiaan itu adalah keluarga.

Sayangnya, akibat ketidakmampuan mengendalikan nafsu membuat seseorang akhirnya menjadi serakah dengan rasa bahagia yang ia rasakan saat memiliki sesuatu itu. Tanpa kendali, hawa nafsu membawa seseorang menghalalkan segala cara, membenarkan segala yang salah dan menutup mata hati sekuat tenaganya untuk mengambil hak orang lain dengan mengatasnamakan hak pribadinya. Inilah yang membuat orang tak bisa berhenti dan terus berusaha untuk mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya.

Andai keserakahan itu tak mengganggu hak orang lain tentu tak masalah. Tapi serakah itu sifat yang tak baik, karena ia tak hanya akan merusak diri sendiri tapi juga orang lain. Walaupun mungkin tak ingin mengambil hak orang lain, serakah membuat orang lupa waktu dan lupa memikirkan kepentingan orang lain bahkan diri sendiri. Karena ingin cepat kaya dan meraih uang sebanyak mungkin untuk memiliki harta lebih banyak,  seseorang akan terus bekerja siang dan malam hingga tanpa sadar menyakiti diri sendiri.

Apalagi ketika serakah itu mulai berimbas pada orang lain. Peraturan dijadikan alasan untuk mengambil hak, kesabaran dan kebaikan orang dijadikan tameng menggeser batasan kepemilikan. Akhirnya serakahlah yabg memusnahkan silaturahim antar manusia.

Apalah arti memiliki ketika kita tak bisa tidur karena rasa bersalah atau karena kuatir hak dirampas orang lain yang lebih serakah? Apalah arti memiliki ketika kita punya lebih banyak musuh dibandingkan sahabat?

Kebahagiaan sesungguhnya adalah kebahagiaan yang dirasakan tak hanya oleh diri sendiri tapi orang-orang di sekitar kita. Bukan hanya mereka yang berada di dalam rumah yang sama, tapi mereka yang berada di sekitar kita.

Marilah menjaga hak orang lain sama seperti kita menjaga hak kita sendiri. Jangan mengambil sedikitpun hak orang lain. Sesenti buat kita mungkin satu kilometer buat orang lain. Ketika memiliki sesuatu itu ternyata mengandung airmata dan derita orang lain, maka selamanya airmata dan derita mereka menjadi bercak hitam dalam hati. Hak kita mungkin semakin luas, tapi hati kita semakin sempit.

 

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.