Cerita Pendek, Fiksi

Irama Seorang Ibu

Suara kakinya menghentak-hentak saat memasuki dapur. Lalu terdengar suara kursi ditarik dan napas yang dihembus kuat. Tanpa menolehpun, aku tahu itu pasti Mira, adik iparku yang baru saja melahirkan.

“Kenapa lagi?” tanyaku tanpa berhenti mengaduk panci berisi sup ikan patin. Supnya baru saja mendidih dan aku baru selesai membumbuinya.

“Aku capek, Kak! Capeee,” keluh Mira. Aku menoleh dan terpaksa menahan senyum melihat tampangnya.

Rambutnya yang biasanya terurai indah dan rapi, diikat asal-asalan membentuk sanggul kecil hingga anak rambutnya berantakan di seputar wajahnya yang putih bersih itu. Tapi wajah sebersih susu itu tampak kusam dan penuh dengan rengutan. Baju kaos kebesaran yang dipakainya juga tampak sedikit basah di sana sini. Pundaknya turun sekali seperti orang yang kehilangan seluruh semangatnya.

“Semalam Dylan nangis terus, ayahnya cuek lagi. Boro-boro mo nemenin aku ngurusin si Dylan. Eh dia malah enak-enak tidur! Kalo tau ngurus anak susah begini, mending aku kb dulu kali. Uuggh, nyesel banget gak dengerin Kakak sama Mas waktu itu.”

Aku diam saja. Sambil mendengar keluhannya, aku mengambil gelas dan membuat segelas susu. Untuk Mira. Dia kelihatan lelah, dan meski sekarang sudah hampir jam sepuluh pagi, aku tahu dia pasti belum sarapan. Begitu kuletakkan, tanpa berkata apa-apa Mira langsung mereguknya hingga setengah gelas meluncur masuk melalui tenggorokannya.

Setelah itu, Mira masih mengeluh panjang lebar. Tapi aku tak terlalu memperhatikan. Putraku doyan sup ikan patin, tapi kalau sampai hancur dia kurang suka. Karenanya aku lebih suka memperhatikan supku dibandingkan menyahuti Mira. Nanti saja. Setelah ia puas berkeluh kesah.

“Jangan begitu, Ra. Mungkin Dino memang sedang kelelahan. Biasanya dia juga suka bantu-bantu kamu, kan?” kataku setelah mematikan kompor dan duduk di depannya menghadap meja makan. Sambil menuang teko berisi teh ke cangkir yang kosong untukku sendiri, aku memandangi Mira yang kusut masai.

“Iya sih, Kak. Tapi kan dia hanya duduk dan ngomong doang kalo kerja. Coba bandingin, begadang kayak aku ngurusin anak, ngurusin rumah sama dia yang cuma presentasi sana sini aja.”

Aku tersenyum, sambil membuka bungkusan kotak berisi wafer dan memasukkan ke dalam toples yang kosong. Lalu kudorong toples itu ke dekat gelas susu Mira. “Makanlah! Tadi pagi kamu pasti gak sempat sarapan lagi kan?”

Mira mengangguk cepat sebelum mencomot wafer. “Ya iyalah, Kak. Mana sempet aku sarapan! Si Dylan gak mau banget ditinggal makan biar sebentar aja. Ayahnya kabur pagi-pagi ke kantor. Aku jadi gak bisa bergerak.”

“Mira, Mira. Perusahaan Dino kan lagi banjir order. Dia juga sibuk begitu karena kalian kini hanya punya satu penghasilan. Kan kamu juga yang minta Dino ambil posisinya sebagai manajer marketing. Wajar kalo dia sibuk. Lagian kamu kan pernah kerja. Biarpun hanya sekedar duduk dan ngomong-ngomong doang, apa itu tidak melelahkan?”

Mulut Mira terkunci, jari telunjuknya bergerak-gerak menyentuh gelas susu. Ia tercenung. “Iya sih, Kak. Tapi Kakak sih enak, waktu zaman anak-anak masih bayi, Kakak selalu dibantu Mas. Anak-anak juga tidak cengeng. Andai aja si Dylan lahir langsung gede kayak anak-anak Kakak.”

“Kalau begitu tukaran saja! Dylan juga tidak minum ASI kan? Saya bisa menjaganya.”

“Maksud Kakak?”

“Iya, maksud saya. Kamu saja yang urus anak-anak Kakak dan Kakak yang akan urus Dylan. Gimana?”

Mata Mira menatapku lurus datar tanpa ekspresi. Aku tahu ia sedang merolling daftar hal-hal yang biasa kulakukan setiap hari dalam kepalanya. Bangun pukul empat pagi, membuat sarapan sekaligus makan siang, berangkat kerja pukul delapan dan tepat jam dua belas, saat jam istirahat pulang ke rumah untuk mengantar makan siang sambil beristirahat, satu jam kemudian kembali ke kantor selama dua jam dan saat menuju ke rumah harus singgah ke tiga sekolah untuk menjemput anak-anak. Sore hari masih harus mengantar salah satu anakku ke tempat les, kegiatan atau sanggar mereka. Tepat sepuluh menit sebelum magrib, barulah aku benar-benar beristirahat. Aku melakukannya lima hari dalam seminggu. Sementara di akhir pekan, aku tetap harus mengantar anak-anak mengaji dan berlatih musik. Itu hanya untuk mengurus anak-anak. Kalau kutambah dengan kegiatanku yang lain, Mira pasti langsung semaput mendengarnya.

“Kakak gitu deh… daftar kerjaan Kakak kan lebih mengerikan daripada ngurusin Dylan,” kata Mira pelan. Ia menunduk.

Aku hanya bisa tersenyum, “Naaah, itu paham. Mengurusi Dylan sekarang itu sangat jauh lebih ringan, Ra. Nanti makin dia besar, baru deh terasa. Hmm… kalau kamu lihat kakak sekarang santai-santai begini. Itu bukan karena kakak wanita super. Tapi… “ Aku menatap adikku itu dengan serius. “Karena kakak sudah menemukan irama yang paling tepat untuk kakak.”

“Irama?” Mata Mira membulat. Ingin tahu.

Aku mengangguk. “Setiap ibu pasti merasakan yang kamu rasakan sekarang, Ra. Dari seorang diri, lalu ada orang yang peduli dan mau ngurusin kita eh tiba-tiba harus bertanggung jawab pada sesuatu yang rapuh seperti bayi. Tentu saja perlu waktu untuk beradaptasi. Kamu beruntung punya Dylan yang mirip si Abang waktu masih kecil. Yang penting kenyang, bisa ditinggal-tinggal. Kalau punya bayi seperti si Mbak dulu… pasti pingsan deh kamu, hahaha…”

Mira ikut tertawa. Dia pasti ingat bagaimana putri pertamaku itu saat masih bayi dulu. Mbak Kanaya, putri pertamaku memang cengeng waktu bayi dan dia benar-benar tak mau orang lain selain aku. ASI eksklusif yang kupilih ternyata membuatnya sangat bergantung padaku. Tapi kalau bukan karena itu, tak mungkin putriku sesehat dan seaktif sekarang.

“Maksud Kakak, aku hanya perlu beradaptasi? Sampai kapan Kak?”

“Itu tergantung kamulah… kalau kamu sudah ikhlas, itu tandanya proses adaptasi udah selesai.”
“Aku ikhlas kok, Kak. Kan aku ibu, harus ikhlas dong. Kalau endak mana mau aku ninggalin kerjaanku demi si Dylan,” sergah Mira.

Aku tertawa kecil. “Ra, kalau ikhlas itu dijalanin dengan tulus, gak pake ngeluh, gak pake kesel-kesel bahkan gak ngerasa cape tiap jam.”

“Iiih, aku bukannya gak ikhlas, Kak. Suer! Aku ikhlas. Tapi jujur… aku emang capek,” ujarnya sambil mengacungkan dua jari kepadaku. Aku hanya terkekeh.

“Iya, Kakak mengerti. Tapi ikhlasnya kamu belum cukup, De. Kalau Kakak hanya punya satu saran. Jalanin saja, sambil menumpuk ikhlasmu sampai benar-benar cukup. Cukup untuk mengatakan kalau kamu gak ngerasa capek, tapi justru malah ngerasa senang ngejalaninnya.”

“Tapi sampai kapan Kak? Apa aku nyari baby sitter aja ya?”

Kepalaku secara otomatis menggeleng. Ini yang paling aku tentang sejak dulu. Ini pula yang menyebabkan aku sempat meminta Mira dan suaminya menunda memiliki momongan. Sayang mereka tidak mendengarku. Aku tak suka melihat pasangan yang punya anak hanya untuk membuktikan kalau mereka bisa punya anak, tapi lepas tangan secara tidak langsung untuk mengasuh dan mendidik anaknya dengan menitipkan pada orang lain.

“Temukan iramamu sendiri, De. Temukan tanpa memerlukan orang lain. Kalau Kakak saja bisa mengurus tiga anak kakak, kamu juga bisa. Kamu bisa bicara dengan Dino, agar ia mau membantumu sekali-sekali. Tapi jangan pernah berpikir menitip anak ke orang lain. Itu benar-benar… “ kataku dengan wajah serius. Kuhela napas mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat aku menemukan kenyataan salah satu keponakanku meninggal dunia di tangan pengasuhnya akibat kelalaiannya.

“Enggak, Kak. Aku hanya… aku hanya… mungkin karena aku lelah.” Mungkin Mira tahu emosiku mulai bangkit, ia cepat-cepat menenangkanku.

Dulu, aku juga merasa seperti itu. Jumpalitan mengurus anak, sampai tak tahu lagi harus bagaimana untuk mengatasinya. Aku paham perasaannya, yang ingin segalanya tampak sempurna namun hal itu tak semudah melakukannya. Takkan ada yang bisa memahami kesulitan itu sampai mereka berada pada posisi yang sama.

“Mira, sesuaikan jadwalmu dengan jadwalnya. Bukan dia yang menyesuaikan. Tapi kamu. Bermainlah ketika ia bangun, tapi tidurlah bersamanya kalau kau lelah dan mengantuk. Soal pekerjaan rumah, kerjakan semampumu saja, biar saja kalau rumahmu sedikit berantakan. Siapapun pasti mengerti bahwa seorang ibu baru pasti seperti itu. Tak perlu merasa malu apalagi sampai tertekan karenanya. Kamu bisa bicara pada Dino dan minta tolong agar ia membantu pekerjaan yang mudah. Punya bayi memang sulit diduga. Tapi bukan berarti tak bisa diatur. Pelan-pelan, kau akan temukan waktu tepat kapan harus memasak, kapan harus mencuci dan membersihkan rumah,” kataku meyakinkan Mira.

“Kalau bisa, saat kau memberinya susu, saat bermain, atau kapanpun ketika bersama Dylan sering-seringlah memandangi wajah dan memperhatikan tubuh mungil Dylan itu. Itu satu-satunya cara membangun kasih sayang di antara kalian. Semakin kamu sayang sama Dylan, semakin besar pula ikhlas dalam hatimu. Bahkan sejujurnya mungkin nanti kamu seperti Kakak, mau ditukar dengan apapun, kamu takkan mau tugasmu diambil alih siapapun kecuali… untuk membuat adik yang tak tahu betapa beruntungnya dia menyadari bahwa tugasnya tak sulit,“ tuturku menutup obrolan kami.

Mira masih diam. Ia mengambil gelas susunya dan meminumnya hingga habis. Aku juga diam, menyeruput teh sambil mengenang belasan tahun lalu saat aku berjuang sebagai ibu baru. Tak ada yang mudah, meski bukan berarti tak menyenangkan.

Beberapa hari selanjutnya, Mira masih selalu datang dalam keadaan berantakan. Ia juga masih sering lupa sarapan. Tapi ia tak pernah mengeluh cape lagi. Ia sibuk bercerita tentang Dylan yang kini sudah mulai tengkurap, Dylan yang mulai sering menatapnya, Dylan yang tampan tapi menurut Mira, terlalu murah senyum seperti ayahnya, “Maklum anaknya sales, jadi belum apa-apa udah bakat ngambil hati orang, ya Kak. hahaha… “ Adikku masih sering terlihat lelah, tapi matanya bersinar cerah. Ia seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Karena cintanya, lelahnya pun mulai tak lagi terasa berat.

Mira mulai menemukan iramanya. Irama sepertiku. Suatu hari ia akan benar-benar menemukan irama yang paling sesuai untuknya. Irama yang membuatnya mengerti betapa indah dunia seorang ibu ketika hati ikhlas menjalaninya, walaupun dengan setumpuk tugas dan kewajiban yang padat. Irama yang lebih indah dari sebuah lagu, irama kehidupan yang memberi arti sangat tinggi bagi sebuah tanggung jawab menjadi ibu. Irama seorang Ibu…

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.