Cerita Pendek, Fiksi

Melepas Pahlawan Hatiku

Perlahan mataku menelusuri satu persatu daftar dalam lembaran kertas yang mulai terlihat lusuh itu. Beberapa hari ini, aku sibuk melengkapi isi dalam daftar itu sembari menyelipkan kertas itu di dompet. Entah berapa kali sudah lembaran itu keluar masuk dompet sampai hari ini, ketika aku berhasil menandai seluruhnya.

Tapi tetap saja ada kekuatiran muncul kalau aku membuat kesalahan. Barangkali ada yang tertinggal, barangkali ada yang terlupa. Hanya itu yang berulangkali kupikirkan.

“Hati-hati loh Ma, nanti kalau kebanyakan jadinya malah over bagasi. Lagian itu Amerika Ma, gak boleh sembarangan bawa barang masuk,” tegur suamiku ketika melihatku sibuk memeriksa jejeran barang-barang di atas tempat tidur dan sebagian di lantai itu.

“Iih, Ayah. Ini juga udah sesuai dengan request coachnya anak-anak. Mama gak nambahin kok.”

“Lah ini apa?” tanya suamiku seraya mengangkat boneka kecil berbentuk monyet dari atas tempat tidur. “Emang coachnya nyuruh bawa ginian?” ada senyum tipis terlihat di bibirnya saat bertanya.

Aku merebutnya dan meletakkannya di salah satu sudut tas yang masih kosong. “Mana bisa dia tidur kalo gak ada itu, Ayah!” jawabku sedikit merengut. Di mana-mana pasti begitu, mana ada Ayah yang paham kebutuhan putranya sampai ke masalah begitu.

Suamiku tertawa kecil. “Bang! Hebat bener tuh monyet dekil! Bisa sampe Amerika juga dia, hahaha…” ledeknya.

Yang diajak bicara langsung muncul dari balik pintu kamar, memasang wajah masam. “Maaah, please, tinggal aja. Aku bisa tidur kok tanpa dia. Malu tau Mah!! Kemarin waktu di Bangkok, aku sampe gak berani buka tas di depan teman-teman.”

Aku melotot pada suamiku, yang langsung ngacir keluar kamar meski masih tertawa-tawa. Tapi akhirnya kukeluarkan juga si Moni, boneka monyet kecil yang selalu tidur bersama Abang selama ini. Anakku itu mulai menelusuri juga barang-barang yanng mulai kumasukkan satu persatu. Lalu ia tercengang.

“Mah, ngapain bawa selimut segala?“

“Tapi Abang kan asma, di sana lagi musim dingin.”

“Mah, semua coach-ku dan manajerku udah tahu. Mereka juga sudah mintain surat izin buat obat-obatku, tapi ini… emang di  sana gak ada selimut?”

Tanganku terpaksa meminggirkan selimut itu. Tapi putraku tak berhenti.

“Ini lagi! Mamah, ini untuk apa? Makanan kan udah dibilang gak boleh bawa.”

“Tapi kan kalo habis latihan, Abang suka makan keripik singkong pedes. Di sana… “

“Haduuh, ya Allah, Mamaku sayang… di sana itu makanan dan minuman udah disediain. Kalo di sini habis latihan kan aku pulangnya ke rumah, kalo di sana kan ke hotel. Pasti disediain makan juga kayak di rumah. Mama tenang aja deh…”

Satu persatu barang-barang yang sudah kujejer rapi, disingkirkan oleh si Abang sambil memberikan berbagai alasan. Akhirnya, dari dua tas yang kusiapkan, ia hanya membawa satu tas saja. Itupun hanya berisi perlengkapan pakaian, sepatu, topi, baju hangat, jaket dan kamera. Tidak ada yang lain, tidak juga ponsel.

Alasannya, Abang merasa latihannya terganggu dengan teleponku yang katanya hampir tiap jam selalu menelpon. Ayahnya setuju, karena terakhir saat ia menjalani ‘tugas negara’ itu, tagihan teleponku membengkak hampir 300%. Mereka membuat aturan, aku hanya boleh menelpon ponsel manajer atau kamar hotel tempatnya menginap, yang artinya aku hanya bisa menelpon pada malam hari dan itu kalau ponsel si manajer tak lagi dihubungi oleh orangtua anak yang lain.

Sebenarnya, aku kuatir bukan main. Tak ingin rasanya membiarkan putraku satu-satunya meninggalkanku walaupun demi kepentingan dan tanggung jawab sebesar itu. Tapi, aku juga yang memperkenalkan dunia musik padanya. Dunia yang akhirnya membuka jalan untuknya melangkah lebih luas dariku. Aku tak pernah menyangka, karena alasanku saat itu hanya agar ia bisa mengeksplore kemampuannya. Tapi tak sampai setahun, ia sudah sering meninggalkanku.

Kadang-kadang ada keinginan mencegahnya pergi. Aku tahu, putraku pasti takkan melawan keinginanku. Tapi suatu kali saat ia akan ke Thailand, ia membuatku tak berani lagi mengatakan isi hatiku.

“Mamah, jangan nangis! Malu-maluin aja. Kan cuma lima hari!”

“Iih Abang, lima hari itu lama, kamu seneng apa jauh dari Mama? Mama mau mati rasanya tau, anak masih kecil aja udah ditinggal terus.”

Abang menatapku lama. Saat itu ia berpaling dan melihat ke arah lain, “tas Abang belum masuk Ma. Mama mau aku batalin?” katanya pelan.

Ayahnya menoleh pada Abang, demikian juga aku. Menatapnya tak percaya.

Putraku menunduk, memainkan kakinya seperti sedang mengukir sesuatu di lantai bandara. “Aku pergi supaya Mama bangga, tapi kalo Mama nangis begitu, aku gak tenang. Aku sayang Mama lebih dari aku sayang band-ku, jadi mending aku batalin kalo Mama gak suka.”

Saat itu airmataku justru makin kencang meluncur jatuh. Terisak-isak hingga akhirnya suamiku memelukku agar tak terdengar oleh orang lain. Walaupun tak melihatnya sendiri, suamiku bilang saat itu putra kami juga menahan air mata dan hampir benar-benar membatalkan kepergiannya. Untung saja, kebiasaan humoris suami dan anak-anak perempuanku berhasil menenangkanku. Airmataku berhenti meluncur seketika saat putriku berkata, “baru ke Thailand doang, De, Mama nangisnya udah kayak gitu. Gimana kalo kamu bener-bener jadi astronot? Bisa banjir Jakarta kegenang airmata Mama, haha….” Dan meski masih menahan tangis, aku berhasil mengangguk, mengiyakan agar ia tetap berangkat hari itu.

Saat itu, aku terus menangis, bahkan ketika pesawat yang membawa putraku meninggalkan daratan, bahkan setelah ia menelepon mengatakan ia tiba dengan selamat dan cuaca di sana sedang panas terik hingga ia sulit konsentrasi saat latihan, bahkan selama empat malam berturut-turut saat ia terus menghubungiku melaporkan kegiatannya. Tangisku baru benar-benar berganti menjadi tawa lebar, ketika ia bercerita di depan mataku tentang kemenangan band-nya, tentang pengalaman barunya di negeri orang, terutama culture shock yang dialaminya bersama teman-temannya melihat perbedaan budaya. Saat itulah, aku sadar, aku tak perlu berlebihan. Aku dan putraku sedang sama-sama belajar. Belajar mengelola hati kami berdua agar bisa terus bersama meskipun berjauhan. Meskipun sulit, meskipun sangat berat, kami berdua harus belajar berpisah sesekali. Semua agar ia bisa mendapatkan pengalaman, mengenal dunia yang luas dan tentu saja berprestasi.

Dia memang sedikit berubah sejak saat itu. Aku juga. Kami lebih menghargai kebersamaan. Tiap ada waktu, kami lebih sering mengobrol sambil makan makanan kesukaan kami berdua. Entah kapan, setiap saat, bisa saja ia pergi lagi dan aku sadar, semakin umurnya bertambah dan ia menjadi dewasa, aku takkan bisa mencegahnya pergi. Ia harus punya kehidupan sendiri, dan aku mendidiknya untuk itu.

Maka ketika hari ini ia berdiri lagi di depanku dengan tubuh tinggi menjulang membuatku harus mendongak saat berbicara padanya untuk berpamitan, aku memasang senyuman terbaik.

“Mah, aku berangkat! Doain band kami main bagus ya, Ma. Aku janji bakal telepon Mama tiap malem, Aku juga janji gak bakal macam-macam di sana. Aku janji bakal beliin Mama oleh-oleh yang bagus,” ucapnya sambil mencium tanganku. Matanya tampak murung, sedih.

“Gak papa, Nak. Pergilah! Main yang bagus, gak telepon gak papa, yang penting sms Mama kalo kamu baik-baik saja. Ponselmu sudah dibawain sama manajermu tadi. Tetap harus kamu bawa. Jangan lupa anggap manajer dan coachmu sebagai pengganti Mama dan Ayah ya,” kataku sambil memeluk erat putraku dengan sayang.

Abang memperbaiki posisi ranselnya, ia tersenyum dan mencium pipiku sebelum berbalik menuju pintu otomatis bersama teman-temannya yang lain. Tidak hanya aku yang berdiri di situ, ada banyak orangtua lain yang juga melepas putra-putri mereka. Sepertiku, wajah mereka juga dipenuhi emosi yang beragam. Tatapanku bertemu dengan para Mama yang lain. Mereka tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Kami saling mengangguk. Sama-sama saling memahami. Inilah saatnya kami melepas pahlawan hati kami.

Pergilah, Nak! Meskipun berat, meski ribuan doa sudah kupanjatkan sejak mendengarmu akan pergi, meski kekuatiran seperti sulit kulepaskan dari hatiku… tapi kami membiarkanmu… demi pahlawan hatiku, demi kebanggaanku, demi rasa cinta padamu, demi keinginan menjadi orangtua yang benar-benar ingin putranya menjadi seseorang yang berguna tak hanya untuk orangtuanya, tapi untuk dirinya dan untuk negara ini.

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.