Sekolah, Umum

Jika Full Day School Dilaksanakan

Wacana Full Day School yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan yang baru cukup menghebohkan masyarakat umum. Memang masalah pendidikan hanyalah satu dari sekian banyak masalah penting lainnya yang harus dibenahi, tetapi karena wacana ini berarti mengubah sebuah budaya maka tak heran respon pro dan kontra bermunculan.

Untuk memutuskan opini pro atau kontra, kita harus melihat dari berbagai sudut pandang terlebih dahulu. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan Pemerintah ini sebelum memutuskan melakukan perubahan budaya dengan Full Day School.

Hal pertama dan utama yang dipertimbangkan adalah anak-anak itu sendiri. Sebagai pelajar dan siswa, anak-anaklah yang akan menjalani program tersebut apabila benar-benar  dilaksanakan.  Sayangnya, setahu saya sebagai pemerhati anak-anak, mereka semua mengatakan tidak setuju. Alasan sederhana mereka karena bosan dan lelah, tanpa mempedulikan apa yang ditawarkan oleh sekolah saat jam tambahan itu nanti ada. Kata mereka… mending sekalian pesantren aja deh!

Yang kedua, masih berhubungan dengan anak-anak, adalah infrastruktur pendukung. Mulai dari transportasi, fasilitas jalan umum, tempat makan, sampai dengan alat dan bahan pendukung pendidikan.

Negara kita adalah negara dengan infrastruktur yang masih sangat buruk. Peningkatannya amat sangat lambat dibandingkan negara-negara lain. Sementara anak-anak yang bersekolah, sudah bukan rahasia lagi, selalu mencari sekolah-sekolah terbaik saat mereka melanjutkan ke program yang lebih tinggi di SMP atau SMA. Nah… anak-anak ini bahkan rela memilih sekolah yang jauh dari rumah hanya untuk mendapatkan sekolah terbaik. Bisa dibayangkan kesulitan mereka jika harus pulang di malam hari menuju rumah. Pertimbangkan pula keamanan dan kenyamanan mereka bertransportasi menggunakan fasilitas umum di saat yang sama ketika para karyawan dan buruh kantor/pabrik pulang kerja.

Yang ketiga adalah fasilitas pendukung kebutuhan utama anak, yaitu makan dan minum, istirahat, berobat bila sakit dan beribadah sesuai keyakinannya. Seperti kita ketahui, tidak banyak sekolah umum yang memiliki fasilitas lengkap seperti tempat ibadah, cafetaria/kantin, ruang kesehatan dan sesuatu yang sederhana seperti air minum gratis.

Ada anak-anak yang memiliki tingkat kesehatan yang rendah, ada anak-anak yang minum lebih banyak dari orang dewasa karena sangat aktif, ada yang selalu menjalani ibadah dengan taat dan lain-lain. Kebutuhan pribadi ini pun terkadang hanya bisa dibaca orangtua, karena pengetahuan dan mental guru-guru belum semuanya benar-benar siap dan cukup untuk memahami anak. Apalagi budaya di Indonesia membuat anak-anak banyak yang cenderung pasif dalam mengekspresikan diri. Jika fasilitas sesederhana daftar di atas saja belum siap, dengan sumber daya guru yang juga belum siap, bagaimana menfasilitasi solusi lain dalam menyelesaikan kebutuhan paling utama tersebut?

Hal penting lainnya yang dilupakan adalah faktor cuaca dan lingkungan. Banyak yang pro mengatakan bahwa sistem Full Day School saja bisa dilaksanakan dengan baik di negara-negara lain. Oke… coba kita telisik cuaca dan lingkungan di sana.

Ini Indonesia… negara tropis dengan siklus cuaca yang kadang sulit diprediksi. Hawa panas dan dingin bisa terjadi dalam satu hari. Perubahan cuaca inilah yang seringkali menimbulkan masalah. Orang dewasa saja seringkali kesulitan menghadapinya, apalagi anak-anak. Kalau di luar negeri, musim panas justru dinikmati sebagai salah satu musim libur bagi anak-anak. Sementara di sini, anak-anak menghadapinya hampir setengah tahun di dalam ruangan yang belum tentu berpendingin ruangan.  

Sementara dari sudut pandang guru, kita harus angkat jempol bagi mereka. Tidak mudah bagi mereka menghadapi wacana tersebut. Tugas guru bukan lagi sekedar mendidik dan mengajar ilmu pengetahuan, tapi juga menjadi pengganti orangtua yang notabene berarti memahami seluruh kebutuhan anak. Sepengetahuan saya saat ini saja di salah satu sekolah dasar yang sudah menerapkan FDS sejak beberapa tahun yang lalu, guru di kelas ada 2 orang dengan saling berbagi tugas termasuk hal-hal sepele seperti memberi minum obat pada anak sesuai waktunya atau memastikan barang milik pribadi anak tidak tertukar bahkan mengurus saat anak muntah atau sakit mendadak. Kalau dari orangtua tidak aktif membantu kedua guru ini dengan komunikasi intens, pasti ada saja masalah yang terjadi. Meski kecil, tapi masalah itu terkadang cukup merepotkan dan bukan tidak mungkin mengganggu aktivitas KBM.

Lalu SMP? Ini adalah periode anak-anak menjadi remaja. Tingkat keaktifan yang meningkat inilah yang terkadang membahayakan mereka secara fisik dan mental. Kursi sekolah mendadak menjadi kuda-kudaan, tempat sampah bisa menjadi bola bahkan meja kelas bisa menjadi panggung aksi mereka. Coba bayangkan beratnya tugas guru kalau tidak mampu mewadahi tambahan jam sekolah yang belum tentu mampu mereka terima.

Sedangkan SMA… mungkin dianggap lebih mudah dalam menghadapinya. Salah besar! Justru ini yang harus kita perhatikan dengan baik. Remaja dalam periode ini sudah mulai mengeksplorasi hubungan dengan lawan jenis. Kalau tidak diawasi dengan baik, bukan tidak mungkin munculnya kekuatiran baru terhadap pelecehan atau tindakan asusila yang tidak diharapkan. Dengan jam sekolah yang maksimal dan pertemuan yang intens, akan semakin membuka peluang besar hal-hal tersebut terjadi.

Dengan sekian banyak tugas berat menanti, apakah para guru bersedia dan siap menghadapinya? Padahal ada banyak guru-guru yang sejujurnya belum mendapat bayaran ataupun mendapatkan fasilitas pendukung kegiatan yang layak dan tepat.

Simple minded deh… jadi orangtua untuk satu anak saja belum tentu semua orang bisa, apalagi jadi orangtua ‘sementara’ untuk 25-36 anak. Baby sitter saja dibayar sampai jutaan untuk mengurus satu atau dua anak, bisa dibayangkan gaji pantas untuk seseorang yang ‘mengasuh’ anak sebanyak itu.

Ini baru pandangan saya berdasarkan sekolah negeri yang ada di kota besar seperti Jakarta, belum yang di daerah seperti tempat saya bersekolah dulu. Tak usah berpandangan jauhlah… cukup melihat infrastruktur pendukungnya saja. Kita sudah sama-sama tahu transportasi di daerah terkadang sangat sulit. Letak sekolahpun kadang sulit dicapai. Sambil menutup mata, saya membayangkan belasan tahun lalu seandainya saya harus bersepeda sendirian melewati pinggiran hutan Kalimantan saat petang. Uuggh! Begitu mau FDS…

Tapi,  memang dengan FDS, ada banyak sisi positifnya. Kalau melihat secara pribadi, saya sangat mendukungnya asalkan tidak ada lagi tugas atau PR yang harus dikerjakan anak di rumah. Secara pribadi, anak-anak saya bersekolah dekat dengan rumah dan ‘program’ kami di rumah kurang lebih sama dengan yang akan mereka dapatkan kalau FDS dilaksanakan. Pembentukan karakter yang menjadi tujuan utama Pak Menteri akan berjalan seiring sejalan dengan keinginan saya secara pribadi. Anak-anak yang tak hanya memiliki pengetahuan umum, tapi keahlian khusus yang mereka sukai dan akhlak yang baik sebagai pendukung.

Paling-paling yang harus saya hadapi adalah perubahan kebiasaan. Kalau biasanya saya makan siang dengan anak termuda yang sekolahnya sudah menjalani FDS, nantinya yah harus bergantian dengan kedua kakaknya yang secara otomatis makan siang di sekolah masing-masing. Makan siangpun tak perlu kuatir, karena biasanya ketika ada program tambahan jam sekolah, ada saja tawaran katering atau antaran makan siang yang bisa menjadi solusi untuk anak-anak. Lagi-lagi mengingatkan bahwa ini Indonesia… negara dengan 1001 ide bisnis ala Abunawas. Kesulitan seseorang bisa menjadi kesempatan ladang bisnis bagi orang lain.

Secara pribadi pun, saya juga lebih dimudahkan dalam mengatur jadwal. Tidak mudah loh menyeimbangkan antara pekerjaan dan kewajiban sebagai orangtua. Jadwal pulang anak-anak yang sama dengan usainya jam kerja tentu membuat saya lebih bebas dalam bekerja dan mengekpresikan diri sebagai seorang perempuan.

Walaupun saya berharap, ketika diberlakukan berarti ada penambahan masa liburan untuk anak-anak agar kami bisa mengajak mereka mengekplorasi dunia di luar sekolah jauh lebih lama dan lebih jauh dari lingkungannya.

Jadi, kedua pendapat inilah yang menjadi bahan pertimbangan menentukan pro dan kontra. Tapi mempertimbangkan kebiasaan lama, yang biasanya “jalani saja deh, urusan lain belakangan”. Biasanya sebuah program tetap akan dijalankan walaupun belum benar-benar siap, lihat saja kurtilas, kurnas, PPDB, UN, penerimaan mahasiswa dan lain-lain, tapi kemudian setelah ‘korban’ berjatuhan baru deh direvisi atau diganti. Yah… siap-siap saja menjadi orangtua dari anak-anak yang menjadi korban dari program baru itu nantinya.

Skeptis, itulah perasaan pribadi saya mendengar rencana pelaksanaan FDS.
Halo, Pak Menteri! Bagaimana program Kurikulum Nasional yang katanya perbaikan dari Kurikulum 2013, apakah buku-bukunya sudah ada? Lalu rencana perbaikan infrastruktur untuk PPDB tahun depan, apa sudah siap menghadapi para hacker dan tidak akan ada lagi pembatalan atau pengunduran tanggal? Dan bagaimana soal penerimaan calon mahasiswa baru, apa sudah siap menerima dan menjawab protes lagi mengenai tata cara penerimaan yang dianggap tidak fair?

Ayo Pak, kerjakan dulu PR pak Menteri sebelumnya yang belum selesai!

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.