Tulisan Terakhir

Persiapan Hari Pertama Masuk Sekolah

Besok hari pertama masuk sekolah. Tapi tidak buat dua anak saya karena hari Sabtu kemarin mereka telah masuk sekolah. Tepatnya untuk memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah mereka yang baru.

Di hari pertama itu, saya dan suami harus berbagi tugas. Saya mengawal si putra dan suami mengantar si putri. Sebenarnya bukan kebiasaan kami berdua ikut-ikutan menunggui anak-anak di sekolah. Tapi karena hari Sabtu, dan ada saran dari pihak sekolah untuk mendampingi mereka serta melengkapi beberapa berkas, maka kami melakukannya.

Tapi, karena si putri sudah masuk sekolah menengah dan diantar oleh Ayahnya, saya mewanti-wanti sang Ayah untuk hanya mendampingi dari jauh.

“Biarkan dia masuk sendiri! Biarkan dia menemukan kelompok kelasnya sendiri! Biarkan dia yang mendekati Ayah kalau dia yang perlu dan hanya tahu Ayah ada, tanpa perlu berinteraksi terlalu sering! Ayah cukup fotoin ruang-ruang di sekolahnya, supaya tahu nanti kalau kita dipanggil harus kemana.”

Dan si Ayah, tentu saja senang sekali. Ia juga tak terlalu suka memperlakukan putri kami seperti anak kecil dan kebetulan pula putri kami tak suka diperlakukan seperti itu.

Setelah beberapa jam masuk dan diberi pengarahan untuk MPLS yang akan dimulai Senin berikutnya, anak-anak pun kembali ke rumah. Mereka mulai penuh semangat bercerita tentang sekolah barunya.

Untuk si putra yang baru masuk SMP, karena saya yang mendampingi, tentu saja tak perlu dipertanyakan. Tapi sejujurnya saya sempat tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah laku para siswa baru dan orangtua mereka. Yaah… ternyata masih sama saja seperti di zaman kakaknya dulu. Ketika si putri bercerita, ternyata saya mendapatkan pemandangan yang kurang lebih sama dengan situasi adiknya.

Kata putri saya, masih ada teman-temannya yang tak hanya diantar, ikut mencari kelas mereka sampai mengantarnya masuk ke kelas, bahkan ikut berbaris bersama putra-putrinya. Tak hanya ibu atau ayahnya, tapi kedua-duanya. Yang lebih parah, mereka bahkan memeriksa sampai ujung sepatu anaknya dan tak segan berteriak dari kejauhan mengingatkan hal-hal sepele seperti tali sepatu yang lepas, tas yang harus diletakkan di sebelah kanan, hingga mengantarkan sebotol air di tengah-tengah pengarahan yang diadakan di lapangan itu kepada mereka.

Saya hanya bisa tersenyum-senyum mendengar cerita si putri yang hampir sama dengan adiknya. Dengan setengah memohon, anak-anak saya juga meminta untuk tidak melakukan hal tersebut di depan teman-teman. Bahkan mereka akan mengurus sendiri keperluannya untuk melengkapi seragam sekolah. Mereka malu kalau saya atau ayahnya menganggap mereka masih terlalu kecil.

Buat orangtua, anak-anak akan selalu menjadi anak-anak. Mereka tidak akan pernah dewasa di hadapan mereka. Tapi sebagai anggota masyarakat sosial, kita juga harus sadar bahwa anak-anak bertumbuh dan kelak harus menjadi salah satu bagian dari komunitas. Kebutuhan untuk diakui sebagai masyarakat ini hanya bisa dipenuhi kalau kita, orangtuanya, menganggapnya mereka sudah waktunya belajar untuk melakukan segala hal secara mandiri.

Mengantar putra-putri ke sekolah sungguh baik. Tapi tidak untuk memperlakukan mereka seperti anak kecil terus menerus. Mereka harus belajar untuk memulai sekolah barunya sebagai pribadi yang baru.

Perlu diketahui kalau memasuki SMP, anak-anak memulai masa pendisiplinan dan bukan sekedar belajar. Mereka tidak lagi belajar untuk cara bertingkah laku sebagai anggota masyarakat, tapi untuk mempraktekkan hasil pendidikan di Sekolah Dasar. Sementara memasuki SMA, anak-anak memulai masa belajar untuk mengambil keputusan dan memanajemen diri sendiri.

Selain itu, anak-anak yang diperlakukan manja atau dilindungi secara berlebihan, biasanya akan sulit beradaptasi di lingkungan sekolah barunya. Mereka juga akan kesulitan mendapat teman yang baru dan cenderung tidak percaya diri.

Jadi daripada memperlakukan anak seperti anak kecil di sekolah, dan mungkin saja membuat mereka malu, alangkah baiknya mengajari mereka cara beradaptasi dengan lingkungan barunya saat berada di rumah. Buat mereka mengenal sekolahnya, prestasi alumninya, cara berkenalan dengan teman (cewek/cowok) baru, cara berbicara dengan guru-gurunya atau cara mengatur waktu sekolah dan istirahat di rumah yang pasti berubah.

Lalu, tunggulah setiap hari di rumah! Dengarkan cerita tentang kehidupan baru mereka di sekolah! Dan biarkan mereka menikmati masa-masa remaja, dengan kebebasan yang sewajarnya. Lagipula… Moms and Dads, Let them enjoy the best time in their life!

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.