Tulisan Terakhir

IBU PELIT

Gadis remaja itu memandangi sepasang sepatu berpola merah tua dan krem melingkar. Sebuah tulisan terlihat di bagian samping. Nama merek sepatu itu. Gadis itu menghela napas tapi ia tetap memandanginya. Ia sudah berdiri hampir lima menit di depan etalase tempat sepatu itu terpajang, dan belum bergeming.

Ibunya mendekat. Tapi si gadis remaja itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Melihat tingkah putrinya, ibu mendekatkan wajahnya. Lalu ikut memandang ke arah asal tatapan putrinya terfokus. Ia tersenyum saat menyadarinya.

“Kamu mau sepatu itu ya, Neng?” bisiknya di telinga si remaja putri itu.

Gadis itu terkejut sedikit, tapi ia hanya tertawa kecil. “Iiih, Ibu! Ngagetin aja!”

“Ayo kita tanya harganya!” ajak Ibu sambil menggamit lengan putrinya.

“Tapi pasti mahal, Bu. Itu mereknya kan…” Walaupun Neng berusaha memperingatkan, ibunya sudah telanjur menariknya masuk ke dalam toko sepatu itu.

Benar saja, ketika si penjaga toko menyebutkan harganya, Ibu tampak terkejut. Tanpa sadar ia berdesis pelan. “Mahal sekali.”

Neng jadi tak tega melihat ekspresi Ibu yang kecewa. Jauh melebihi kekecewaannya karena tak bisa mendapatkan sepatu yang bagus. Matanya beredar ke pojokan toko yang tertulis “Diskon up to 50%”. Dengan langkah cepat, gadis itu mendekat box besar yang berisi tumpukan sepatu. Setidaknya ia harus punya sepatu baru, walaupun dengan harga yang jauh murah.

“Bu, ini aja. Murah nih. Tak sampai separuh harga sepatu itu. Ini aja ya Bu!” katanya sambil tersenyum.

Tapi wajah ibu tidak berubah. Ibu terlihat masih sangat kecewa. Ia hanya menghela napas dan memandang Neng dari jauh. Nengpun mendekati Ibu lagi.

“Kita beli sepatunya nanti saja ya, Neng. Sepatumu masih bisa dipakai, kan?” bisik Ibu.

Kali ini hati Neng yang benar-benar kecewa. Sepatunya memang hanya sobek sedikit. Tapi membayangkan harus berjalan ke sekolah, berlari saat latihan dan bahkan berolahraga nanti membuatnya kuatir. Bukan tidak mungkin, besok pagi adalah saat terakhir sepatunya masih dalam keadaan utuh.

“Bu… “

“Ayo pulang! Sebentar lagi Ibu harus menjemput adikmu,” kata Ibu terburu-buru.

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Ibu melangkah pergi meninggalkan Neng. Neng berjalan, menghentak-hentakkan langkahnya agar Ibu menyadari kekesalannya. Tapi Ibu tetap melangkah tanpa peduli.

Beberapa hari kemudian Ibu bertingkah makin menjengkelkan. Sejak ia batal membelikan sepatu untuk Neng, Ibu menjadi semakin ketat saat mengeluarkan uang.

Seminggu sekali biasanya Ibu membelikan pizza besar untuk seluruh keluarga. Tapi bulan ini tidak pernah sama sekali. Biasanya Ibu juga memberikan uang jajan lebih saat Neng memperoleh nilai sempurna di ulangan hariannya. Tapi kemarin saat Neng memberitahu, Ibu hanya mengelus kepalanya, mengucapkan selamat dan langsung sibuk memasak lagi.

Tak hanya itu, setiap hari biasanya Ibu selalu menyediakan aneka kue-kue enak di atas meja ketika pulang les di sore hari. Tapi sekarang, hanya seteko teh manis saja. Neng juga terpaksa tidak mengaktifkan data seluler ponselnya, karena Ibu bilang bulan ini uang pulsa ditiadakan.

Neng jadi geram. Kenapa Ibu jadi sepelit ini sih? Bukankah Ibu tahu betapa pentingnya seorang remaja mengalami hal-hal terbaik dalam hidupnya? Neng ingin makan enak walaupun hanya sebulan sekali, dia juga harus sesekali menghubungi temannya kalau ingin bertanya tentang tugas atau PR sekolah melalui ponsel. Ia juga harus mencari berbagai informasi dari internet saat mengerjakan tugas sekolah. Karena Ibu yang semakin pelit, hidupnya mulai terasa semakin sulit. Ia bahkan sempat dihukum karena tidak tahu ada PR dan Ketua kelasnya membagi informasi itu melalui broadcast bbm saja.

Ketika membahasnya dengan adik dan kedua kakaknya, mereka juga tampak kesal. Bukan apa-apa. Efek Ibu jadi pelit ternyata juga dialami mereka. Bedanya, mereka masih menerima uang hadiah kalau dapat nilai sempurna dan uang pulsa seperti biasa. Membuat Neng jadi iri mendengarnya.

Neng merasa sudah saatnya Ayah tahu hal ini. Tapi Ayah malah tersenyum-senyum biasa saja. Ia hanya bilang dengan singkat, “iya nanti Ayah sampaikan ke Ibu. Jangan pelit-pelit ke Neng yang manis. Sabar ya Nak, mungkin lagi banyak kebutuhan yang harganya naik makanya Ibu terpaksa pelit. Jangan marah ya, Neng.”

Dan begitulah, tetap saja semua masih tetap terjadi. Tidak ada pizza, tidak ada uang hadiah, tidak ada jajanan kue atau bonus pulsa untuk telepon seluler Neng. Neng juga tidak tahu lagi harus bicara apa, karena semua anggota keluarganya justru bersikap menerima. Sampai Neng tak tahan lagi. Ia harus bicara dengan Ibu.

Neng menunggu saat Ibu terlihat bahagia. Ia tak ingin negosiasinya gagal total. Mood Ibu harus dipastikan dalam kondisi sangat baik, agar ia mau menerima keinginan Neng. Mengembalikan semuanya kembali.

Hari itu, Ibu baru pulang dari mal. Ia pergi berdua dengan adik Neng. Menurut adiknya, Ibu sedang banyak uang dan sedang sangat senang. Nah, inilah saat yang paling tepat.

Saat itu, Ibu sedang mengelap tangannya usai mencuci piring. Nengpun mendekatinya.

“Bu, Neng mo ngomong sesuatu sama Ibu,” kata Neng. Ibu hanya mengangguk.

“Apa, Neng?” tanya Ibu. Tiba-tiba mulut ibu terbuka, matanya bersinar lalu tersenyum pada Neng. “Ibu baru inget sesuatu. Kamu tunggu di meja makan sana, tunggu Ibu ya!”

Neng termangu melihat Ibu malah meninggalkannya menuju kamar tidurnya. Tapi ia yakin, ia tetap bisa bicara dengan Ibu nanti. Karena itulah, iapun duduk di kursi ruang makan menunggu sesuai perintah Ibu.

Tak lama Ibu muncul, dengan seringai lebar di wajahnya. Ia membawa kantong plastik hitam besar dan meletakkannya di atas meja makan. Mata Neng membulat, penuh tanda tanya.

“Bukalah! Ayo!” perintah Ibu lagi. Tanpa berkata apa-apa lagi, Nengpun membuka plastik itu dan di dalam ada kotak sepatu.

Sepatu itu! Sepasang sepatu berpola merah tua dan krem melingkar yang dilihatnya beberapa minggu lalu. Sepatu mahal bermerek yang harganya tiga kali lipat dari sepatunya yang sekarang. Sepatu yang kata Ibu terlalu mahal untuknya, sepatu yang batal dibelikannya hari itu.

Hati Neng benar-benar merasa tidak enak. Jadi inikah penyebab Ibu begitu pelit akhir-akhir ini? Itukah sebabnya tak ada Pizza, tak ada uang jajan lebih atau uang pulsa sementara? Neng mendongak dan melihat senyum Ibu yang begitu lebar.

“Itu sepatu yang kamu mau kan, Neng?” tanya Ibu begitu gembira.

Neng hanya mengangguk sambil menunduk. Matanya terasa basah. Terharu karena hadiah Ibu benar-benar di luar dugaannya.

“Ayo kamu coba, Neng! Kalau kekecilan atau kebesaran, kata mbak penjaga tokonya bisa ditukar kok,” ujar Ibu. Neng terus mengangguk-angguk.

Sepatu itu kini melekat di sepasang kaki Neng. Pas sekali. Neng menghentak-hentakkan kakinya, mencoba merasakan sepatu itu. Ah, ternyata memang beda rasanya. Sepatu itu terasa nyaman tapi tidak panas. Neng merasa begitu gembira. Tapi saat Neng melirik Ibu, wajah Ibu jauh lebih sumringah dari sebelumnya. Ibu tampak begitu bahagia. Jantung Neng berdegup lebih keras saat teringat kalau beberapa saat yang lalu ia hampir mengatakan sesuatu yang akan membuat senyum Ibu mungkin lenyap seketika.

“Tadi katanya Neng mo ngomong sesuatu. Saking senengnya bisa ngebeliin sepatu, ibu sampe gak sabar. Tadi Neng mo ngomong apa sih?” tanya Ibu sambil duduk di kursi.

Neng, yang masih mengenakan sepatu barunya, menatap Ibu dengan senyum manis. Lalu ia memeluk Ibu yang sedang duduk dari belakang.

“Neng mo bilang kalau Neng sayaaaaaaaaaang banget sama Ibu!” ucapnya pelan. Sebuah kecupan ringan didaratkan Neng ke pipi Ibu.

Maafkan Neng, Bu. Neng akan selalu ingat hari ini. Hari di mana Neng tahu kalau kebahagiaan Ibu adalah kebahagiaan Neng. Bahwa Ibu tidak pelit, Ibu hanya hemat… untuk Neng, untuk kepentingan Neng. Terima kasih ya Bu…

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.