Tulisan Terakhir

I Wanna Be Emak : Walau Hanya Hobi

Jemari Emak sibuk menggambar garis-garis simetris membentuk gambar infografis yang ia mau. Walaupun tampak jelek, Emak tak peduli. Ia hanya ingin memberi gambaran kepada Ningsih dan Fadil, dua karyawan baru di bagian creative yang sedang di-trainingnya.

“Nanti kamu kasih shadingnya di sini, di sini dan di sini,” kata Emak sambil terus menggambar.

“Terus gimana caranya saya buat kotak ini supaya ngelipat gitu, Bun?” tanya Fadil.

Kali ini Ningsih yang menjawab, “ya tinggal diwarp aja kan, Bun?”

Emak hanya mengangguk kecil. Lalu setelah selesai, Fadil mengambil alih tempat duduknya dan Emak berdiri di belakang. Sesekali ia memberi instruksi dengan menunjuk layar berukuran 14 inch itu. Sesekali Ningsih dan Fadil bertanya, terkadang Emak yang menjawab, lain kali mereka berdua sendiri yang saling menjawab.

Setelah melihat Fadil dan Ningsih mulai memahami maksudnya, Emak pun duduk di salah satu kursi karyawan yang kosong dan membiarkan keduanya menyelesaikan tugas latihan mereka. Ia memandangi jam dinding dengan gelisah. Ini jam pulang sekolah ketiga anaknya. Emak tak ingin berada di dalam kantor ini, ia ingin makan siang bersama Kakak, Abang dan Ade sebelum bercerita serta bermain dengan mereka di sisa hari siang yang panas ini. Berada di ruangan berair pendingin dengan dua karyawan baru jauh lebih membuat hatinya panas dibandingkan mengendarai motornya menjemput anak-anak.

Sekitar seminggu yang lalu, ketika tengah menyiapkan presentasi bersama tim kerjanya, kepala bagian HRD masuk dan meminta izin bicara pada Emak. Ada karyawan baru yang akan diperkenalkannya. Pak Subroto, si kepala bagian HRD itu memperkenalkan seorang pemuda berusia 30an, bernama Fadil seorang lulusan sarjana teknik informatika salah satu universitas swasta. Tidak hanya satu titel, pemuda berkulit terang itu juga lulusan dari akademi yang juga masih berhubungan dengan dunia multimedia. Walaupun begitu, Fadil belum pernah bekerja sebelumya.

Saat mendengar informasi itu, Emak senang sekali. Seorang lulusan yang mendapat pendidikan resmi tentu memiliki ilmu yang lebih dari Emak. Maka begitu ditawari untuk melatih Fadil, Emak langsung setuju meski itu artinya ia harus berada di kantor beberapa hari. Emak suka mempelajari hal-hal baru, dan ia berharap Fadil juga mengajarinya hal-hal yang baru.

“Sekarang kamu mungkin masih harus ngantor tiap hari. Nah, si BunBun ini jarang ngantor. Dia hanya datang kalau mau closing project atau meeting customer. Kalo engga, ya pasti karena ada yang lagi mau nraktir, hahaha… benar gak Bun?” canda Pak Broto sambil melemparkan tawa pada Emak. Emak hanya pura-pura mendelik.

Tapi kenyataan berkata lain. Tak seperti dugaan Emak, kemampuan Fadil jauh di bawah bayangannya. Emak harus berkali-kali menghela napas saat Fadil membuatnya memahami kalau pemuda itu ternyata hanya jago di atas kertas. Emak benar-benar harus melatihnya dari bawah. Perkiraannya meleset sama sekali.

Belum lagi selesai dengan Fadil, Pak Broto kembali menyodori Emak karyawan baru lainnya. Emak mulai protes. Tapi protes Emak tenggelam oleh kenyataan. Pak Broto terpaksa mencari karyawan baru karena Emak dan timnya akan mulai bekerja efektif dalam dua bulan untuk sebuah proyek besar yang tidak mungkin dilakukan bersama proyek-proyek lain. Ketidakseimbangan jumlah karyawan dengan permintaan, membuat perusahaan menerima beberapa karyawan baru sekaligus walau kemampuannya di bawah standar. Karyawan dengan standar tinggi terlalu sulit dicari dan kalaupun ada meminta gaji yang tinggi juga. Bukan hanya Emak yang harus melatih karyawan baru, hampir seluruh anggota tim kreatifnya harus melakukannya juga.

Emak hanya bisa menerima dan berusaha tatap sabar. Untunglah, Fadil punya keinginan besar untuk belajar dan kemajuannya cukup pesat. Begitupun Ningsih yang memiliki kemampuan yang jauh lebih baik.

“Maaaaak!!” pekikan melengking dengan oktaf tinggi itu terdengar sebelum pintu ruangan terbuka. Emak langsug berdiri. Itu suara Ade.

Benar saja, tak sampai sepuluh detik seorang anak perempuan berlari masuk menyongsong Emak. Di belakangnya, Abang dan Kakak juga menyusul masuk. Mereka mencium tangan Emak bergantian. 

“Tadi Ayah yang jemput, Mak. Katanya Emak di kantor. Jadi kami susul ke sini deh, Emak gak lupa kan kalau sore ini kita mau nengok mas Alif di rumah sakit?” tanya Kakak. Emak menepuk dahinya. Ah, dia lupa.

“Tuh, kan! Emak pasti lupa, Kak!” tuding Abang dengan bibir melengkung kesal.

“Maaf, maaf. Tapi sebentar lagi juga selesai kok,” kilah Emak sambil bergerak menuju mendekati kedua karyawan yang kini sedang memandanginya, lalu menatap ketiga putra-putrinya bergantian.

Sadar kalau mereka pasti bingung, Emak mulai memperkenalkan mereka. Dengan hormat, anak-anak menyalami kedua kakak itu. Setelah itu mereka kecuali Ade duduk dengan rapi di sofa sambil membaca majalah yang tergeletak di atas meja. Sedangkan Ade selalu berada di belakang Emak, memperhatikan ibunya yang sibuk memberi instruksi dan menjelaskan berbagai fitur pada kedua karyawan yang baru itu. 

Setelah memberikan serangkaian instruksi panjang yang harus dilakukan keduanya. Emak pun meninggalkan kantor bersama ketiga anaknya.

Dalam taksi yang membawa mereka pulang, Kakak bertanya dengan santai. “Karyawan barunya bukan lulusan komputer ya Mak?”

“Komputer? Informatika ya maksudmu?” ralat Emak. Kakak hanya mengangguk kecil.

“Nyarinya yang bisa kerja sih, Kak. Mau lulusan apa saja gak masalah. Tapi biasanya yang lulusan informatika atau desain grafis sih bisa. Hmmfffh…. tapi mereka lulusan ilmu komputer semua kok, ya informatika ya desain grafis.”

“Tapi kok masih diajari sama Emak, sih?” Lagi-lagi pertanyaan Kakak membuat Emak terdam. “Emak kan kuliahnya bahasa. Malah gak nyambung kan?” sambungnya.

Emak menghela napas. “Itu karena hobi.”

“Hobi?” ulang Kakak.

“Ya, hanya hobi. Walaupun hanya hobi, kerjakanlah segalanya dengan sungguh-sungguh.” 

Kakak menggeleng-geleng. “Gak ngerti ah, Mak. Maksudnya apa sih?”

“Banyak orang yang bilang hobi membaca, tapi buku yang dibacanya tak sampai seratus judul dan kebanyakan buku pelajaran. Atau mereka yang suka travelling, tapi tak pernah kemana-mana.  Atau hobi menulis tapi tak pernah menulis apa-apa. Katanya hobi mendengarkan musik, tapi tak paham jenis-jenis musik. Katanya hobi main basket, tapi men-dribble aja gak bisa.”

“Ah Emak nyindir Kakak nih…”

Emak tersenyum, “Bukan Kak, Emak sedang memberi contoh saja. Kalau kita mengatakan sesuatu sebagai hobi. Lakukan saja dengan sungguh-sungguh. Walau hanya hobi, mungkin saja bisa jadi sesuatu yang menghasilkan di masa depan. Tak ada yang lebih menyenangkan selain melakukan apa yang menjadi hobimu untuk bekerja.”

“Kalau kita tak punya modal buat melakukannya. Misalnya beli buku, atau tiket untuk travelling gimana, Mak?”

“Mulailah dengan meminjam buku, atau googling mencari tahu judul-judul buku yang bagus dan terbaik. Atau jadi anggota perpustakaan, atau mungkin baca buku di e-book gratisan. Kalau masih belum bisa beli tiket pesawat, cobalah eksplore tempat-tempat yang ingin kamu kunjungi dengan membaca, menonton televisi atau bahkan mencari tahu dari informasi orang-orang yang pernah ke sana. Setidaknya kamu sudah punya bayangan tetang tempat itu kan?”

“Maksud Emak, hobi itu bukanlah impian, tetapi sesuatu yang seharusnya dilakukan sesering mungkin dengan baik dibandingkan hal lain?”

“Ade hobinya main!” celetuk Ade.

Emak tertawa. “Tapi main apa? Ade kan sukanya hanya main jualan, gak suka main bola atau main perang-perangan kan? Hahaha…  lakukan saja Nak. Siapa tahu nanti anak Emak jadi pengusaha hebat. Ya kan?”

“Iiih kok bisa hobi main jualan bisa jadi pengusaha?” kali ini giliran Abang bersuara dengan skeptis dari kursi penumpang bagian depan.

“Kan kalau sedang main, Ade suka menyusun barang dulu. Secara tak langsung, Ade kan belajar cara men-display. Lalu kalau lagi bicara, Ade juga berbeda kan dengan cara ngomongnya yang biasa. Nah itu, Ade sedang belajar etika berdagang. Belum kalau ia sedang memaksa teman mainnya untuk membeli. Itu Ade lagi belajar cara menjual loh!”

Emak teringat sesuatu. “Hobi itu sama dengan pacar, Kak. Kalau sedang berusaha mendapatkannya pasti didekati dengan berbagai cara kan? Nah lakukan hal yang sama seperti itu.”

“Mulai… mulai… ” mata Kakak mulai membesar.

Emak tertawa kecil. Kakak langsung pasang muka cemberut. Biarlah, yang penting anak-anak memahaminya dengan baik. Emak tak ingin anak-anak melakukan sesuatu dengan separuh hati. Mereka harus belajar melakukan segala hal walaupun pun hanya hobi dengan sungguh-sungguh. Karena mereka yang sukses adalah mereka yang selalu bersungguh-sungguh.

 

****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.