Tulisan Terakhir

Mulailah Menulis

Sudah lama tidak menulis, maka saya pun membuka Blogdetik. Kangen. Tapi malah setelah dua tiga baris mengetik, di delete lagi. Menulis lagi… didelete lagi. Blank. Bingung mau menulis apa? Tiga anak manis pun menggoda, “tulis saja, Ade cantik!” dan dua yang lain ikut-ikutan meminta “Tulis… ini kisah Kakak yang manis” serta “Abang keren 3x mom!!”

Dan… mereka membantu saya, tingkah konyol itu membuat saya berpikir untuk menulis tentang keisengan mereka. Tapi kali ini saya tidak ingin menulisnya di sini karena yang saya bahas justru hal lain.

Dari salah satu mata kuliah, saya diajari untuk menulis dengan apapun yang sedang dipikirkan. Tuliskan semuanya dan nanti dibaca kembali untuk disusun menjadi sebuah tulisan dengan tema tertentu. 

Selama ini cara itu memang efektif memancing ide agar keluar. Tak ada istilah batasan untuk berpikir, karena ide bisa datang dari manapun. Jadi kapanpun saat kangen menulis… menulis saja. Biarkan mengalir dan kemudian susun menjadi kata-kata.

Karena itu jangan bertanya mengapa saya selalu punya bahan untuk menulis. Simple, a human will never stop thinking. Jadi seharusnya ide tak perlu susah menemukannya. Saat ini saya sedang tergelitik membahas susahnya cari ide saat menulis. Seperti yang sepuluh menit lalu saya alami.

Menulis itu memang susah-susah gampang. Sebagian teman-teman di Sastra pun masih merasa sulit membangun cerita padahal stepnya sudah diajarkan sejak semester pertama.

Ada teman yang berkali-kali meminta saya mengajarinya menulis. Sebenarnya sudah sering, tapi anehnya masih ada saja yang terus bertanya-tanya. Kali ini saya langsung memberi contoh.

Jadi begini, misalkan kita sedang sendirian atau duduk di pinggir kali, merenung tanpa tahu juntrungannya. Tuliskan kata-kata yang sedang dipikirkan atau yang terjadi di sekitar kita. Misalkan

Langit warnanya biru, sungai mengalir, sampah banyak, orang hampir gak ada, gue bingung, Baunya bukan main, anak main bola. tukang es lewat, gak jelas sih esnya apa, tapi yg jualnya orangnya tua banget, gue kasihan, jadi gue beli aja tuh es, gue ngasih es ke anak main bola karena gue lagi batuk… dst dstnya.

Lama kelamaan tulisan itu akan bertambah panjang. Jenis tulisannya memang sepertinya bisa ditulis dengan naratif… tapi tidak menultup kemungkinan menjadi bentuk lain, seperti eksposisi, narasi, argumentasi dsbnya. 

Sekarang kita mulai menulis dengan hasil yang sebenarnya. dari catatan kecil di atas. Anggaplah kita menulis sudah sekitar setengah lembar ya…

Bentuk 1

Sore ini aku duduk merenung di pinggir kali. Aku menengadah menatap langit.  Langit begitu biru, indah sekali. Seperti nya aku sendirian menikmati keindahan itu. Tapi tidak… bukan itu penyebabnya. Hidungku mencium bau tak enak, entah apa ini. Aku melepaskan keindahan langit dan menunduk sedikit. Ternyata, tumpukan sampah yang mengalir di sungailah yang menjadi penyebabnya. Pantas saja tak ada orang yang mau berdiri lama di tepiannya. Namun, telingaku menangkap suara tawa anak-anak. Terlihat tiga bocah menenedang bola bergantian, sesekali tawa mereka meledak dan saling mengejek. Hanya ejekan bercanda, karena mereka tetap bermain bersama. ….

Bentuk 2

Kita tentu ingin tahu mengapa orang-orang tak mau duduk-duduk di tepi sungai lagi seperti di masa-masa akhir 90an. Penyebabnya ternyata mudah ditebak. Siapa sih yang mau duduk di tepi sungai yang baunya bukan main, dengan pemandangan tak enak dilihat seperti tumpukan sampah yang menggunung dengan lalat-lalat yang tidada henti beterbangan. Salah-salah satu dua lalat mungkin singgah di tubuh kita. Anehnya, untuk penduduk setempat, sampah itu sudah bukan masalah besar untuk mereka. Mereka terbiasa menjadi bagian dari bau yang sepertinya juga telah menjadi bagian dari hidup mereka. Anak-anak masih dengan santai bermain bola.

Mudah kan, padahal tadi hanya beberapa baris catatan kecil dan Anda bisa menghasilkan dua atau bahkan lima tulisan dengan tema sama namun berbentuk berbeda. Itulah sebabnya, kita juga butuh keluasan pemikiran dan kekayaan kosakata untuk bisa menulis. Untuk itu, tentu saja rajin membaca dan bergaul. Dengan banyak berinteraksi, kita bisa belajar dan menemukan banyak hal yang bisa dipelajari dari orang lain.

Oke, kangen saya sudah terpuaskan. Menulis yah… menulis saja. Tak usah terlalu berpikir berat. Apa yang dipikirkan, asal berpikirnya untuk kebaikan, pasti yang keluar juga hal-hal baik. Karena itu bebaskan pikiran dan biarkan jari-jemari menari di atas keyboard.

 

 

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.