Tulisan Terakhir

Bu, Izinkan Saya Menikah! (1)

Jemari Farid mengetuk meja berkali-kali, ketukan dengan nada yang sama juga terdengar dari bawah meja. Itu suara kakinya yang bergerak-gerak tak sadar. Wajahnya sedikit pucat, meski ada senyum tipis tersungging di bibirnya. Walaupun Farid berusaha menutupinya, Lestari tahu ada sesuatu yang membuat pemuda duapuluh lima tahun itu gelisah. Untuk menenangkan pemuda di depannya, Lestari tersenyum padanya.

“Ada apa sih, Aa?” tanya Lestari tenang. Jari-jarinya tetap sibuk menekan keyboard. Ada dokumen yang harus ia selesaikan malam ini juga. Itu juga yang membuatnya tahu kalau Farid sedang ingin bicara padanya. Tiap kali ia bekerja, Farid tak pernah mau mengganggunya kecuali ia sedang benar-benar perlu.

Wajah Farid jelas masih menyiratkan keraguan. Matanya bergerak-gerak gelisah. Lalu terdengar suara tarikan napas panjang sekaligus kata-kata yang meluncur cepat.

“Saya mau menikah, Bu.”

Ruang kerja Lestari langsung hening. Hanya sayup-sayup terdengar suara televisi dari ruang keluarga, tempat ketiga adik tiri Farid duduk menonton film kartun. Jemari Farid berhenti mengetuk, sementara tubuh Lestari membeku. Telinganya tak yakin mendengar kalimat yang barusan keluar dari bibir Farid. Lestari memutar tubuhnya. Kali ini ia menatap Farid untuk memastikan.

Jakun Farid bergerak, meneguk liur dengan kuatir. Ia tahu berita itu mengejutkan ibu tirinya. Tapi ia sudah tak bisa mundur lagi. Waktunya sempit dan ia sudah telanjur melamar Intan pada keluarga gadis itu.

Untuk sesaat Lestari tak tahu harus berbuat apa, lidahnya seperti tersiram air es. Dingin dan membeku. Akhirnya ia bangkit dari kursinya sembari menutup laptop. Ia tak bisa berkonsentrasi lagi. Pemberitahuan Farid telah mengambil alih semuanya. Ia berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menanggapi pemberitahuan ini. Dan satu-satunya cara adalah memanfaatkan waktu berjalan menuju sofa yang ada tepat di depan meja kerjanya. Jari telunjuknya menunjuk pada sofa, meminta Farid pindah ke sana. Pemuda ini harus menjawab semua pertanyaan yang kini berseliweran di kepala Lestari.

“Katakan pada Ibu, apa alasanmu menikah? Dan dengan siapa? Dengan gadis yang waktu itu kau kenalkan pada kami? Apa yang terjadi? Bagaimana rencanamu untuk meneruskan mastermu? Apa kau yakin bisa menghidupi perempuan itu tanpa membebani orangtuanya?” Rentetan pertanyaan menyambut Farid begitu ia menghempaskan tubuhnya di sofa.

Uuuggh… kalau dari Ibu saja saya sudah ditanya seperti ini, gimana nanti sama Ayah?” keluh Farid setengah putus asa dan bingung, sembari duduk di sofa tanpa sandaran berhadapan dengan Lestari.

Lestari berusaha melemparkan senyum. Ia tak mau membuat Farid bingung. Rasanya baru kemarin ia bertemu anak laki-laki berumur delapan tahun itu. Anak yang sangat pemalu dan selalu menyembunyikan wajah tiap kali bicara. Perlu waktu lebih dari setahun agar Farid mau menatap wajah Lestari dengan senyuman. Mereka memang tak pernah tinggal bersama, tapi hubungan mereka sebagai Ibu dan anak tiri selalu baik. Bahkan selama lima tahun terakhir, sejak Farid memilih bidang kerja yang sempat tak disetujui Ayahnya, Lestari-lah yang menjadi media komunikasi di antara mereka berdua. Perbedaan usia mereka yang hanya terpaut 11 tahun membuat Lestari memahami keinginan Farid. Tapi ketimbang menganggap Farid sebagai putra tirinya, Lestari selalu menganggap Farid sudah seperti adiknya sendiri.

“Wajar, Rid. Baru tahun kemarin kau bilang mau mengambil S2 tahun ini. Tiga bulan lalu waktu acara ulang tahun adikmu pun kau masih membahas soal itu. Sekarang, tiba-tiba ingin menikah. Kecuali Ibu tak mengenalmu dengan baik, mungkin Ibu kira kau telah melakukan hubungan yang tidak benar. Atau…“

“Ibu!” sergah Farid cepat. “Tidak mungkin saya melakukan itu, Bu! Kami benar-benar murni bersahabat saja. Dekat, tapi tidak pernah pacaran,” lanjutnya cepat.

Lestari tertawa kecil. Mengangguk-angguk. Khas Farid. Tiap kali ia merasa benar, pemuda itu takkan menunggu waktu untuk langsung mengatakannya.

“Farid menyayangi Intan, Bu. Sebagai teman, sebagai perempuan yang ingin Farid jadikan ibu dari putra-putri Farid.” Ucapannya mengalir dengan lancar dan sarat nada tegas. Lestari teringat suaminya, mereka memang benar-benar sangat mirip.

“Perasaan sayang tidak cukup untuk menikah, Rid. Memang itu bibit yang bagus. Tapi apa kau sudah mengenalnya dengan baik?” tanya Lestari lembut.

Farid menatap Lestari, tersenyum tipis. “Ibu menikahi Ayah hanya setelah dua kali bertemu. Ayah bilang Ayah hanya tahu bahwa Ibu adalah teman mengobrol yang baik dan perempuan yang harus dlindungi.”

“Beda, Rid. Ayahmu sudah pernah menikah dan pernah bercerai. Usianya pun sudah lewat tiga puluh tahun dan berputra. Sedangkan kamu baru dua puluh lima, belum pernah pacaran apalagi menikah dan ini di luar rencanamu.”

“Bu, perceraian Ayah dan Ummi, tinggal di pesantren selama sembilan tahun dan mengajar sejak kuliah tingkat tiga membuat saya dewasa sebelum waktunya. Seperti kata Ayah, ada hal-hal yang direncanakan tapi lebih banyak yang terjadi dengan spontan. Saya rasa, menikah itu seperti itu. Buktinya pernikahan Ayah dan Ummi yang direncanakan dengan baik bisa berakhir dalam hitungan seumur jagung, sementara pernikahan Ayah dan Ibu yang spontan justru bertahan hingga belasan tahun.”

Lestari menghela napas. “Rid, kalau Ibu boleh membalik waktu dan walaupun Ibu sangat mencintai Ayahmu, Ibu akan berpikir ribuan kali menikah di usia semuda Ibu dulu. Ibu ingin kalian tak mengalaminya, tidak kamu atau adik-adikmu nanti. Ibu ingin kau meraih apapun yang kau inginkan sebelum menikah. Pernikahan itu bukan sekedar menyatukan komitmen. Pernikahan melibatkan semuanya. Perlu kerja keras untuk semua itu, dan tidak jarang karena kerja keras itu kau harus mengorbankan sesuatu.”

Farid terdiam. Ia tampak berpikir. Tapi sorot matanya masih begitu yakin. Bahkan kata-kata Lestari justru membuat tekadnya semakin kuat.

“Itu karena Ibu perempuan, buktinya Ayah tak pernah mengorbankan apapun,” tangkis Farid.

Senyum miris tersungging di bibir Lestari. “Ia mengorbankanmu, Farid. Ia merahasiakan kehadiranmu dari seluruh keluarga Ibu demi pernikahan kami. Dan jangan lupa… kau tak pernah tinggal seatap dengan ayahmu karena Ibu.” Lalu Lestari menunduk, berusaha keras menahan air mata penyesalannya.

“Tidak apa-apa, Bu. Tidak perlu menyesali hal itu lagi. Saya tak pernah marah. Kan sudah saya bilang, Ayah minta izin sebelum melakukannya dan itu hanya sementara. Saya tak pernah merasa disia-siakan. Memilih hidup di pesantren pun adalah pilihan saya, bukan pilihan Ayah. Itu hanya bagian kecil. Saya juga akan melakukannya kalau perlu. Lagipula tak ada anak di antara saya dan Intan. Intan juga mengenal seluruh keluarga kita, dia tahu semua tentang saya, Bu. Tak ada rahasia.”

“Apa hanya alasan itu yang membuatmu ingin menikahinya, Rid? Hanya karena ingin seperti Ayah dan Ibu? Sepenting itukah bagimu melakukannya secepat ini, sampai kau rela mengesampingkan seluruh rencanamu?” Tangan Lestari mulai berkeringat. Baru kali ini Farid begitu yakin dan sulit digoyahkan. Belum pernah Lestari melihatnya seperti ini.

Farid menunduk. Sesaat ia diam lalu menghembuskan napas panjang kuat-kuat sambil menggeleng. “Tidak, Bu. Ada yang lain,” jawabnya pelan dan lirih. Ada kesedihan di sorot matanya yang penuh keyakinan.

“Apa itu?” tanya Lestari penuh kekuatiran.

Kembali pemuda itu mengangkat wajahnya, tangannya saling menggenggam. Ia memang tampak yakin, tapi Lestari menangkap kegetiran dan kesedihan berseliweran di wajah putra tirinya itu. Apa ini? Dada Lestari bergetar takut.

“Ibu sering bilang, pernikahan bukan sekedar berbagi senang semata, tapi juga duka dan kesedihan. Saya melihat bagaimana Ibu menangis seperti anak kecil saat Ayah sakit. Tapi saat itu juga saya melihat Ibu yang langsung menghapus airmata dan merawat Ayah dengan sabar. Saya juga lihat bagaimana Ibu marah-marah pada saya atau adik-adik kalau melanggar batas, tapi ketika kami terluka atau sakit, Ibu selalu ada di situ bersama kami. Itulah yang jadi alasan saya menikahi Intan. Alasan utama,” tutur Farid.

Kening Lestari berkerut, ia bingung mendengar penuturan panjang Farid. “Aneh, Ibu tak mengerti, Rid.”

Tiba-tiba pintu terbuka, seorang anak kecil berumur enam tahun masuk. Gadis kecil itu tak berkata apa-apa, tapi langsung mendekati Lestari. Ia naik ke sofa, dan merebahkan kepalanya ke pangkuan Lestari. Sambil tersenyum malu-malu, ia berkata, “Aa, Teh Ferin sama Aa Farhan boleh ikut masuk tidak?”

Farid tertawa mendengar permintaan itu. Itulah yang membuatnya selalu menyayangi sekaligus menghormati Ibu. Ibu selalu melibatkan seluruh keluarga dalam urusan keluarga. Tak ada rahasia di antara keluarga, begitu kata Ibu. Meski tetap harus minta izin. Farah memang adik tirinya yang paling kecil tapi sekaligus paling pemberani. Dialah yang selalu menjadi corong dalam keluarga, termasuk menyuarakan keinginan ketiga kakaknya. Kepala Lestari dan Farid mengangguk berbarengan. Belum sempat Farah berteriak memanggil, Ferina dan Farhan sudah menyerbu masuk.

“Aa mau nikah ya? Dengan siapa? Dengan mbak Intan?” Ferina yang baru duduk di kelas 3 SMP itu langsung duduk di samping Farid. Sedangkan Farhan memilih duduk di sisi lain Lestari.

“Belum pasti, Rin. Ini Aa lagi minta izin sama Ibu dulu. Kalian tadi Aa minta ditemani bicara sama Ibu tidak ada yang mau. Malah asyik nonton tivi terus.”

Ferina tertawa kecil. “Hehehe… kan sedikit lagi ceritanya habis, A. Daripada penasaran. Lagipula tadi Aa tidak bilang kalau Aa mau menikah. Aa-ku sayang mau jadi pangeran sehari, bakal banyak makanan enak dong. Jadi putri Ferina kudu hadir buat diskusi menunya.”

Farid ikut tertawa. Tangannya bergerak mengacak rambut Ferina. Adiknya yang tomboy itu memang selalu punya selera humor yang tak pernah habis. “Kamu ini… Aa kan baru minta izin. Harus diperjuangkan dulu dong pada Ratu supaya mau bantu pangeran tampannya memberitahu Raja. Kan percuma kalau Raja tidak mengizinkan. Jangankan makanan, minuman enak pun tak bakalan mungkin ada. Bantu dong!”

Kali ini Ferina menoleh pada Ibunya. “Oke, Ratu Agung. Bolehkah keinginan Aa Pangeran dikabulkan?”

Lestari hanya tersenyum. Obrolannya tadi terputus karena kehadiran tiga putra-putrinya. Ia sedang tak ingin bercanda, karena sekarang otaknya dipenuhi berbagai pikiran. Tentang Farid, Intan, pengalaman pernikahannya selama belasan tahun, kegagalan yang dialami sahabat-sahabatnya dan tentu saja, respon suaminya saat nanti mendengar permintaan Farid. Ini tidak akan mudah, tidak kalau alasan Farid tidak cukup kuat. Apapun itu, Lestari akan tetap mendukung keputusan suaminya walaupun itu artinya harus mengatakan tidak pada permintaan Farid. Jelas itu juga membuatnya kuatir, hubungan baik antara dirinya dan Farid mungkin akan segera berakhir karena inilah pertama kalinya Lestari meragukan keputusan Farid.

 

BERSAMBUNG

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.