Tulisan Terakhir

Ketika Anakku Bertanya tentang Pelangi

Hari libur telah tiba. Anak-anak pun meminta izin melakukan apa yang mereka sukai. Setelah puas bermain masak-masakan lengkap dengan rumahnya, anak-anak pun meminta izin memakai komputer untuk bermain. Abang mencoba satu permainan baru sedangkan Kakak ingin mengecek sosmednya dengan leluasa.

Saat itu saya tengah nonton Barbie bersama Ade… saya tahu sebentar lagi anak-anak akan bertanya tentang sesuatu. Karena itulah, tak seperti biasa saya nonton televisi sambil duduk mengawasi mereka berdua.

Mom, what is it? Why many friends of me using the rainbow for their photos? It looks so strange!” komen Abang yang selalu menggunakan bahasa Inggris tiap kali ia bertanya sesuatu yang aneh. 

“Iya tuh, teman-teman Kakak juga tuh!”

Saya tertawa dan berkata, “ya udah, kalian tanya aja sama teman kalian alasannya? sekalian ngelatih English kalian.”

“Hiiiiih… gak berani kali Mak!! Entar dia pakai bahasa yang babang gak ngerti bisa bahaya!!”

Anak-anak memang sering menambah teman, tapi tujuannya cuma satu… untuk main games. Itupun sangat jarang. Terakhir Abang masuk untuk main sekitar dua bulan yang lalu sebelum ulangan. Menurut sebagian orangtua, games memang tidak baik. Makanya saya membatasi. Tapi bermain games juga melatih bahasa mereka. Kakak jadi tahu proses lelang ketika bermain games lelang. Istilah-istilah dan singkatan dalam sapaan slang bahasa Inggris pun mereka dapatkan dari komunikasi saat bermain bersama teman-teman ‘bulenya’. Namun karena berbahaya itulah, tiap kali mereka main saya selalu duduk bersama menemani. Syukurnya, tiap kali main mereka selalu mengajak saya juga karena kalau tidak begitu pasti mereka kalah… hehe…

Kembali lagi ke pertanyaan anak saya tadi. Setelah itu, kami mulai meneliti satu persatu berapa banyak teman-temannya yang memasang rainbow di foto mereka. Ternyata beberapa teman-teman Kakak yang sudah remaja pun ikut memasang. Lalu kakakpun bertanya melalui bbm pada salah satu temannya. Jawabannya “Supaya keren aja!”

Benar-benar ya anak-anak ini… Saya pun tepok jidat.. Rupanya benar, tak semua dari mereka tahu artinya.

Melarang mereka dan meminta men-delete temannya jelas salah. Anak-anak itu pribadi yang bisa berpikir. Karenanya saya pun berpikir kalau ini justru kesempatan mengasah spiritual mereka dengan mengajak mereka memahami arti pelangi di medsos itu.

Beberapa kata saja langsung menjelaskan segalanya. Ingat cerita Nabi Luth? Kaum yang dilaknat Allah SWT? Itulah yang sedang didukung oleh mereka yang menggunakan pelangi di foto profilenya. Anak-anak tercengang. Mata polos mereka benar-benar terkejut. Bahkan lontaran kata Kakak juga mengejutkan “Berarti ini tanda-tanda hari kiamat dong, Mak!!”

Saya tak bisa mengangguk, karena anak-anak pasti sudah tahu jawabannya. Alhamdulillah, setiap hari Ayah mereka membekalkan cerita-cerita 25 Nabi bahkan berbagai cerita dalam hadits pada anak-anak. Tujuannya ya seperti sekarang, mengingatkan apa saja yang dilaknat oleh Allah. Menumpuk ilmu di hati mereka agar mudah menerima kalau seandainya dilarang atau diminta melakukan sesuatu karena keyakinan kami. Saat berbicara, saya juga mengingatkan bahwa teman yang bersama kita adalah mereka yang menjadi bagian dari diri kita. Karena itu jika tidak berhati-hati mereka bisa terpengaruh. Tapi saya juga yakin anak-anak punya benteng sendiri dalam hati mereka dan saya mengembalikan keputusan mereka untuk melakukan apa saat mengetahui temannya memasang pelangi itu.

Memang anak-anak tak langsung men-delete teman-temannya. Pertama, mereka menjelaskan makna pelangi itu pada teman-teman dekatnya. Sementara orang-orang yang diadd hanya karena games, langsung mereka delete. Sedikit terbersit rasa haru saat saya bertanya apakah Abang tidak menyesal. “Never mind, Mom. It is only a games, Allah is the most important for me.

Jatah waktu bermain malah digunakan anak-anak untuk menghapus satu persatu teman-temannya yang ber-pelangi. Tak ada keributan, tak ada sengketa apalagi marah-marah. Saya juga tak perlu curi-curi men-delete teman-teman anak-anak di medsos mereka karena mereka melakukannya dengan suka rela. Saya juga tak perlu mengancam teman-teman online saya sendiri yang memasang pelangi karena kuatir dilihat anak-anak saya. Mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Mengenal bahaya bukan berarti memaksa untuk menghindar. Memang sebisa mungkin kita menghindari bahaya itu pada mereka. Tapi jika bahaya itu datang saat kita tak di sana, bagaimana mereka akan melindungi diri jika kita tak mengajari? Itulah konsep yang saya dan suami sepakati di rumah. Anak-anak harus belajar melindungi diri mereka sendiri, mereka juga harus tahu mana prinsip yang sesuai dengan keyakinan kami dan mana yang tidak, mereka harus berpikir untuk mengetahui, memahami dan akhirnya memutuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan. Karena bahaya di sekitar mereka akan selalu ada, bentuknya pun semakin beragam. 

Bahaya seks bebas, sama seperti bahaya bermain games tadi. Orientasi seks yang abnormal, pun tidak bisa dijelaskan dengan mudah. Namun, ini era di mana anak-anak akan tahu dengan sendirinya. Kita mungkin bisa melindungi mereka di rumah, tapi di luar…. who knows? Karenanya lebih mudah memulainya dari rumah sendiri, menjelaskan efek buruknya dan alasannya mengapa dilarang oleh agama. Anak-anak pun sempat menjawab dengan alasan-alasan yang sekarang digunakan oleh mereka yang menggagas pelangi foto bahwa itu hak asasi manusia. Tapi Ayah menjelaskan dengan sudut pandang seseorang yang beragama. Kami bahkan sempat membahas soal hak asasi dengan anak-anak dan alhamdulillah anak-anak memahaminya.

Tidak mudah memang… anak-anak sekarang kritisnya bukan main, kalau tak pandai-pandai mencari ilmu untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Makanya ketika saya melihat beberapa teman Mama yang nyap-nyap tak karuan di statusnya memperingatkan teman-teman facebooknya, saya hanya bisa tersenyum sendiri. Tak semudah itu melindungi anak-anak mereka, kecuali… mereka tinggal di dalam hutan tanpa ponsel atau gadget sama sekali. Bukankah itu sangat tidak mungkin di zaman sekarang? Lebih baik pelajari cara-cara menghindarkan anak dari perilaku seksual yang tidak wajar dengan berbagai informasi dari sumber-sumber terpercaya, dibandingkan menghabiskan waktu dengan marah-marah tak karuan.

Sebenarnya, saat ini kita sedang mempelajari salah satu cara mengajari anak untuk memiliki kemampuan bertahan hidup alias life skills, yaitu cara melindungi diri mereka dari bahaya ‘prinsip’ yang melenceng. Karena hal ini penting untuk membangun karakter anak, maka jangan membuat mereka menjadi seseorang berkarakter mudah terpengaruh apalagi pengecut dan cengeng karena terlalu sering dilindungi. Bangunlah karakter anak berkarakter kuat yang tahu bahaya, mengerti cara menghadapinya dan tahu apa yang harus ia lakukan. Jangan membuat mereka takut pada pelangi, apalagi hanya pelangi di foto… 

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.