Fiksi, I Wanna Be Emak, Serial

GANTI NAMA

Emak selalu kuatir. Memiliki dua anak perempuan yang manis dan lucu, selalu membuatnya berpikir dua kali lebih waspada dibandingkan memikirkan Abang. Zaman di mana kini kebebasan bergaul sering jadi masalah, bahkan berakibat fatal hingga anak akhirnya terjebak dalam kesalahan. Emak tak mau membayangkan kedua anak perempuannya nanti akhirnya malah menjadi istri-istri dari lelaki tak baik atau kehilangan masa depan mereka yang cerah karena pergaulan bebas dan tak mengenal etika pergaulan yang benar.

Sedari dini, Emak pun mencoba mengenalkan metode pengamanan diri sendiri pada anak-anak. Terutama anak perempuan. Seperti mengajarkan bahwa hak mereka untuk melindungi diri sendiri dengan tidak membiarkan orang lain menyentuh bagian tubuh mereka, jika mereka tak menyukai atau merasa nyaman.

“Itu tubuh kalian, kalian boleh marah atau menolak kalau ada orang yang tidak kalian sukai menyentuh, memegang tubuh kalian. Semua tentang tubuh dan bagian dari pribadi kalian, adalah hak kalian masing-masing,” kata Emak pada anak-anak.

Ternyata suatu hari,

“Mak, kata Emak semua yang menyangkut tubuh atau diri Kakak adalah hak kakak untuk melindunginya?” tanya Kakak tiba-tiba.

Emak hanya mengangguk, tanpa memindahkan konsentrasinya dari majalah yang sedang asyik dibaca.

“Kalau begitu, termasuk memilih nama untuk kakak dong? Harusnya hak kakak kan punya nama yang kakak suka?” sergah Kakak lagi, menatap Emak dengan sungguh-sungguh.

Emak terdiam. Bingung harus menjawab apa. Majalahnya tak lagi menarik untuk dibaca dan Emakpun melemparkan majalah itu ke meja pelan, sambil memikirkan jawaban untuk pertanyaan Kakak.

“Eh, iya sih… Benar juga. Tapi kan waktu itu Kakak masih bayi, belum bisa bicara. Jadi daripada dipanggil ade bayi, yah Mak dan Ayah sepakat untuk memilih nama Kakak sekarang,”kata Emak mencoba mencari-cari alasan yang kira-kira tidak membuat Kakak kecewa.

“Tapi kan sekarang Kakak sudah bisa ngomong, Mak. Boleh dong Kakak ganti nama?”

Lagi-lagi Emak hanya bisa terdiam. Dua anak lain yang tadinya duduk bermain peran di lantai, kini ikut mengelilingi Emak. Ternyata pertanyaan Kakak juga mengundang rasa ingin tahu mereka.

“Memangnya kakak mau ganti nama apa?” Akhirnya Emak menyerah dan bertanya pasrah.

“Naaah, gitu dong Mak,” Kakak tersenyum lebar, matanya berbinar gembira dan lalu menjawab, “Kakak mau ganti nama Ji Hyun, Kim Ji Hyun.”

Hah? Emak melongo. Apa tidak salah? Kim Ji Hyun kan nama orang Korea.

“Soalnya Kakak suka banget sama Band Korea, jadi Kakak pengen banget punya nama Korea. Boleh ya Mak?” sambung Kakak lagi.

Belum lagi Emak menjawab. Ade dan Abang sudah ribut ikut bicara.

“Ade juga mau ganti namanya!”

“Abang juga! Abang juga mau!”

Sekali lagi Emak menatap anak-anak dengan pasrah. “Kalian mau ganti nama apa?”

Abang melonjak-lonjak. “Optimus! Abang mau Optimus!”

Mulut Emak menganga. Belum lagi selesai, Ade juga ikut melompat-lompat gembira. “Kalau Ade Belbi, Ade Belbi!”

Dan tiga anak itu saling memanggil nama mereka dengan ‘nama-nama’ barunya. Kim Ji Hyun, Optimus dan Belbi sekarang, tanpa peduli pada Emak yang masih melongok bingung. Tapi sesaat kemudian, senyum Emak mengembang lagi.

“Aaah, iya deh. Emak juga mau ganti nama sekarang.” Tiga pasang mata menatap Emak. Menunggu. Emak tersenyum lalu meletakkan kedua tangannya membentuk kelopak menirukan gaya girl band ternama. “Kenalin, saya Emak Chibi!”

Tawa ketiga anak Emak pun pecah seketika.

 ***

Tawa kecil Ayah beberapa kali terdengar saat Emak menceritakan proses ganti nama anak-anak. Bahkan ketika makan malam bersama, sesekali tawa Ayah masih tak bisa ditahan.

“Bang, habiskan nasinya!” perintah Emak ketika melihat si Abang malah memangku wajah di atas meja makan, memandangi nasi di piring.

Abang tak menjawab, hanya menatap acuh tak acuh. Lalu kembali diam dengan bibir melengkung.

Sebuah ide melintas di pikiran Emak.

“Optimus! Cepat kau habiskan bensinmu! Kita harus segera menyelesaikan misi penting. Kalau terlambat, nanti para alien akan menguasai bumi! Cepatlah!” kata Emak sambil menirukan suara robot.

Secara refleks, Abang menegakkan punggung. Dan seperti Emak, ia juga menjawab dengan suara ala robot. “Baiklah, Bubblemak. Aku… akan… menghabiskannya!” Kemudian, ia melahap makanannya dengan lahap.

Eitss! Kening Emak mengerut, Bubblemak?  Jelek banget sih kedengarannya.

Ayah menatap Emak sambil menahan senyum.  Sementara Emak menatap Abang dengan senyum kemenangan. Apapun itu. Yang penting ia berhasil membuat anaknya yang paling susah makan itu untuk menghabiskan makannya. Apapun halal, selama si abang eh… Optimus mau makan.

Ganti nama ternyata membuat Emak justru jadi mudah untuk meminta anak-anak mengerjakan tugas mereka.

Kala Kakak malas disuruh membantu Emak cuci piring. Emak malah menirukan gaya dance slow motion untuk meminta si Kim Ji Hyun alias Kakak untuk membantunya. Cara Emak berhasil dengan telak. Malah akhirnya Kakak juga mau membereskan meja belajarnya yang selalu berantakan karena Emak memintanya dengan memanggil nama baru.

Apalagi si Belbi, alias Ade. Emak juga menggunakan nama barunya untuk membujuk Ade mau tidur siang seperti boneka, dan Ade benar-benar tertidur saat Emak memperlakukannya seperti boneka Barbie. Siapa sangka permainan ganti nama ini ternyata sangat membantu Emak meminta anak-anaknya patuh.

***

Seperti biasa, rumah ramai dikunjungi para sahabat Emak dan Ayah setiap jumat sore minggu pertama. Emak pun sudah menyiapkan segalanya sendiri seperti biasa. Selain Ayah, anak-anak pun ikut membantu Emak.

Ketika pengajian telah selesai, biasanya Emak mengobrol ringan bersama para tamu yang masih belum pulang. Sekedar berbagi cerita tentang anak-anak, tentang keluarga bahkan sampai membantu menyelesaikan masalah dengan memberikan nasihat-nasihat.

“Emak Chibiiiii! Optimus manjatin pintuuu!” Suara jeritan Kakak dari kamar di lantai atas kontan membuat suara-suara orang-orang yang mengobrol di ruang tamu terdiam. Wajah Emak langsung merah, menahan malu sambil tergopoh-gopoh menuju ke atas berusaha keras menampilkan senyum meminta maaf. Beberapa saat kemudian, beberapa orang terlihat menahan tawa geli bahkan beberapa sahabat akrab Emak sampai terbahak-bahak.

“Iih Kakak, kok manggil Emak begitu? Pakai teriak-teriak lagi,” protes Emak setengah berbisik begitu sampai di atas, pada Kakak yang berdiri menunggu.

“Loh Emak bilang Emak sudah ganti nama kan. Kok Emak marah sih?” tanya Kakak sambil menatap bingung. Sekali lagi Emak pun terdiam.

***

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.