Tulisan Terakhir

I Wanna Be Emak : Duka Emak

Ramadhan baru berjalan empat hari. Tapi empat hari ini selalu ada berita duka yang sampai pada Emak. Airmata Emak seperti dilarang berhenti. Walaupun anak-anak dan Ayah begitu berusaha menceriakan kembali hati Emak, tetap saja airmata jatuh lagi.

Siapa tak sedih ketika teman-temannya berduka? Apalagi buat Emak, teman-teman Emak lebih seperti saudari-saudari Emak. Ketika mereka gembira, hati Emak juga gembira, dan ketika mereka sedih, Emak juga sedih.

Setiap hari ada banyak yang datang dan pergi, banyak yang lahir tapi banyak juga yang meninggalkan dunia. Tapi tiap kali ada teman Emak yang hamil, Emak selalu merasa seperti Emaklah yang sedang hamil. Ketidakmampuan Emak beranak sepuluh membuat Emak selalu ingin menganggap setiap anak adalah anak Emak. Karenanya, Emak selalu berusaha menyenangkan hati teman-teman sesama Emak, apalagi kalau mereka sedang hamil.

Ini kisah tentang sahabat Emak. Tidak terlalu akrab memang, karena pembicaraan tak pernah serius. Emak lebih sering bercanda, melemparkan joke-joke yang membuatnya tertawa. Emak ingat saat mengandung Ade, setiap hari Ayah dan anak-anak selalu membuat Emak tertawa. Hasilnya, Ade terlahir sebagai putri kecil lucu yang humoris banget. Emak kira itulah yang bisa Emak lakukan buat sahabat Emak, selain tentu saja bertanya tentang kesehatan dan kesiapannya.

“Apapun jenis kelaminnya, itulah yang terbaik buat kami. Saya dan Ayahnya akan menerimanya dengan syukur.”

“Tapi USGnya bilang cewek, kan?” tanya Emak lagi.

Dengan wajah sumringah, sahabat Emak mengelus perutnya. “Aaamiiin, Mak. Doain ya segalanya lancar. Tapi cowok atau cewek buat saya tetap rezeki.”

Emak tersenyum jenaka. “Tenaaaang, saya punya stok anak perempuan dua kalau Mak Dyah masih pengen anak perempuan. Kita tinggal besanan aja deh. Insya Allah soal mas kawin saya permudah.”

Tawa sahabat Emak pun pecah. Emak dan Mak Dyah masih terus melempar candaan. Begitulah, tak ada yang perlu dirisaukan ketika segalanya berjalan lancar. Buat seorang ibu yang berputra dua jelas memiliki anak perempuan adalah keinginan yang paling tidak dapat disembunyikan. Emak sering sok-sokan mengajari cara ‘membuat’ anak cewek tapi ujung-ujungnya hanya jadi bahan candaan. Semuanya untuk menghibur, menghibur dan menyenangkan hatinya.

Hanya tawa sahabat Emak berhenti di awal Ramadan. Tangisnya tak bisa dibendung ketika putri cantik yang ia nanti selama sembilan bulan ternyata berpulang setelah berjuang hidup selama tiga jam. Bahkan Emak kehilangan semangat untuk menghibur dan bercanda dengannya. Emak tahu apa yang baru saja diambil darinya. Kehilangan anak perempuan berarti kehilangan sahabat sejati seorang Ibu. Emak makin sedih ketika dengan mata basah ia berbisik bahwa “Ia sedang menunggu saya di sana. Bayi kami telah dan akan selalu jadi bidadari cantik di surga.”

Satu-satunya rasa syukur Emak, sahabat Emak bisa melalui rasa dukanya lebih cepat. Ia tak bisa lama-lama berduka karena kedua putranya juga seperti kehilangan sayap. Dengan penuh semangat ia berjuang untuk sehat lagi. Ia akan berjuang untuk kembali sehat, bila dibolehkan mengandung lagi maka ia akan berusaha untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Dan jika tidak, sahabat Emak akan mendidik putra-putranya menjadi orang-orang hebat yang kelak dipasangkan dengan istri-istri yang baik. Anak-anak perempuan yang diharapkannya.

Tapi itu tak lama, selang dua hari kabar lain datang. Salah satu teman Emak masuk rumah sakit karena stroke. Emak bingung saat siang hari menerima berita itu melalui bbm. Bagaimana mungkin? Mereka tinggal di RW yang sama, kemarin masih bertemu. Saat itu, mereka yang tinggal sangat dekat dengan PRJ, sama-sama belum berkunjung ke sana. Janji pun dibuat, bersama putra-putranya, hari minggu sore mereka akan berkunjung ke PRJ. Ada teman lain yang buka stand produk di sana, kalau beruntung Emak dan Eha, sahabatnya berharap mendapat diskon khusus saat berbelanja di situ. Namanya juga Emak-Emak, selalu pengen belanja banyak dapat banyak tapi dananya seminim mungkin.

Mereka bersahabat sejak anak-anak masih di TK. Abang dan Azka, putra Eha selalu satu sekolah, satu kelas bahkan kemudian duduk berdampingan di tahun kelima di SD. Sesekali mereka pernah marahan, tapi Eha dan Emak terlalu saling sayang untuk marah lama-lama.

Siapa sangka itu berita nyata. Setelah sholat magrib, Emak mendengar suara ambulans. Sangat tidak percaya rasanya melhat sahabat yang kemarin masih bercanda-canda kini telah terbujur kaku. Emak tak menangis saat itu. Karena jujur rasanya masih seperti mimpi. Tidak mungkin, itu pasti bukan Eha.

Saat Emak membaca doa, Emak melihat orang-orang jatuh pingsan karena shock, Emak juga memeluk adik dan tantenya yang terus menerus menangis. Tapi Emak tetap merasa biasa saja. Walaupun Emak menolak untuk melihat wajah Eha. Emak tak ingin mengantar sahabat Emak dengan tangisan berlebihan.

Tapi ketika ingin berpamitan pulang, Abang keluar diiringi sahabatnya, putra Eha. Emak berusaha tersenyum. Menguatkan hati Emak untuk Azka. Abang juga, melihat Emak kuat, ia pun tak menangis. Sampai Azka berkata pelan.

“Bunda, Bunda, bangun Bunda! Ada Eza datang sama Mommynya. Kita besok jadi kan ke PRJnya?”

Dan airmata Emak tumpah. Abang juga. Tanpa sadar, Abang memeluk sahabatnya yang sama sekali tak menangis.

Saat berjalan pulang dengan airmata yang tak berhenti mengalir, Abang memegang tangan Emak dan berkata dengan yakin. “I’ll do my best to be a good friend for him, Mom. I will!” Ya Bang, you must do it! 

Kehilangan mengajarkan Emak untuk lebih dewasa dalam hidup. Emak miris, mendengar berita ibu yang tega membunuh putri yang ia asuh selama delapan tahun dan melupakan segalanya hanya karena emosi sesaat, sementara ada seorang Ibu yang ‘hanya’ bisa mengasuh tiga jam begitu bersyukur walaupun diberi kesempatan sesingkat itu.

Ayah selalu bilang seseorang akan dilihat dari sahabat-sahabatnya. Walaupun ia tak pernah melarang Emak bersahabat dengan siapapun. Ucapan Ayah terbukti karena Emak akhirnya memfilter beberapa teman yang benar-benar jadi sahabat baik. Maka ketika sahabat Emak berpulang, itu seperti mencabut sebagian hati Emak.

Ramadan ini hati Emak dirundung duka. Tapi doa terdengar nyaring di bulan ini. Karenanya, Emak hanya ingin berdoa untuk mereka yang kehilangan, untuk mereka yang telah pergi. Sahabat-sahabat Emak.

****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.