Tulisan Terakhir

Janji dan Amanah

“Kalau Ade tampil dengan baik dan menang, hadiahnya main di F*******”

“Kalau kalah?”

“Asal Ade tampilnya tetap baik dan sesuai latihan, walaupun kalah Mama bakal kasih… coklat.”

“Bener ya Mak? Janji loh?”

“Janji!” Dan tandatangan pinky promise pun disegel Ade.

Itu cara saya ketika membujuk Ade untuk melakukan sesuatu dengan benar. Karena dia sering ikut lomba, seringkali hal-hal terjadi tidak terduga. Entah karena terlalu lama menunggu giliran tampil, atau karena terlalu banyak orang. Seperti Emak, Ade juga kurang nyaman berada di keramaian. Akhirnya kalau tidak ngambek tampil, ya marah-marah gak karuan.

Wajar kalau anak-anak seusia Ade bertingkah sedikit, seperti ngambek atau marah. Bahkan pernah ia menangis hanya lima menit sebelum glirannya. Bedanya Ade sangat mudah dibujuk. Peluk, maaf dan… janji. Itu penyelesaian akhir tiap kali dia marah atau ngambek. Pelukan untuk menenangkannya, maaf untuk kelalaian yang mungkin tak sengaja saya lakukan atau karena saya tak memahaminya sehingga ia merasa tidak nyaman dan janji kecil untuk membuatnya termotivasi kembali.

Pertanyaan muncul ketika teman-teman sesama Ibu ternyata punya masalah yang sama. Five minutes before performance, their kid became a cow in traffic jam. Walaupun mereka melakukan teknik yang sama dengan saya, ternyata tidak berhasil. Mengapa?

Mungkin kita berpikir karena anak saya memang lebih mudah dibujuk atau anak mereka yang lebih sulit dibujuk. Mungkin ada benarnya. Tapi, setelah saya tanya-tanya sedikit, jadi mengerti alasan sebenarnya.

Sadar atau tidak, sebagai seorang Ibu kita seringkali terlalu obral janji pada anak. ‘Nanti kalau Ade mau makan, Mama beliin pesawat mainan’ atau ‘Nanti kalau Ade mau mandi, boleh main di luar’ tapi yang terjadi setelah mereka menuruti kemauan kita, kita malah melarang atau mengingkari janji itu sendiri. Padahal, justru dengan janji-janji yang sepertinya tidak penting itulah, kita sedang mengajari anak-anak makna ‘amanah’

Jangan bermimpi punya anak yang amanah, yang mau belajar, yang mau mengerjakan kewajibannya demi menunaikan janji pada orangtuanya. Kalau sebagai orangtua, kita justru tidak pernah bisa menjadi orangtua yang amanah.

Sebuah hubungan itu akan terjalin dengan baik kalau kedua pihak memikirkan kepentingan keduanya bukan hanya satu pihak. Hanya karena kita ingin cepat selesai, kita melupakan kepentingan dan keinginan anak. Sembarangan berjanji untuk mempercepat proses negosiasi. Memang kelihatannya tidak ada yang salah, tapi masalah akan bertumpuk dan akhirnya cara membujuk dengan sistem obral janji pun lama-lama tidak berlaku lagi.

Saya masih menggunakan cara itu pada anak remaja saya. Dan selalu berhasil. Satu dua kali dia meragukannya. Tapi ketika saya tantang “Hayo, kapan Emak ingkar janji?” maka dia pun tersenyum malu. Negosiasi selesai tanpa banyak keributan. Empat belas tahun mempertahankan cara yang sama dan kuncinya cuma satu. AMANAH.

Kadangkala kita lupa akan janji itu. Maka minta maaflah. Anak-anak paling mudah memaafkan orangtuanya. Lalu kalau tertunda, jelaskan masalahnya. Anak-anak itu sangat pengertian, apalagi pada orangtuanya. Karena yang paling penting adalah kita berjanji sesuai kemampuan dan berusaha memenuhi sesuai yang kita janjikan.

Hari ini, sebenarnya ada sedikit masalah yang membuat weekend saya yang seharusnya kosong malah dipenuhi pekerjaan. Tapi janji pada Abang dan Ade, juga Ayah, membuat saya mengucap ‘Bismillah’ saat harus meninggalkan masalah itu dan memenuhi janji-janji pada keluarga.

Ternyata, saat sedang memenuhi janji, saya mendapat kemudahan dengan ide-ide dan solusi baru untuk pekerjaan. Ketika pulang, tak sampai dua jam semua selesai dan dibonusi tulisan ini karena mengingat lagi soal amanah. Jadi, jangan takut berjanji, selama kita terbiasa memenuhinya. Jangan takut memegang amanah, selama kita tahu kemampuan kita untuk menunaikannya.

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.