Tulisan Terakhir

I Wanna Be Emak : Jadi Manajer

Suatu kali Emak menyindir Ayah “Ayah, teman Emak seangkatan zaman kerja sekarang jadi manajer, dandan cantik dan badannya oke-oke. Belum bawaannya yah… wuaah mobil mewah, cing.”

Dan Ayah mengabulkan permintaan Emak jadi manajer…

Bukan Manajer kantoran… Emak diperbolehkan bergabung dalam komite khusus Marching Band, yang pekerjaannya setara dengan Manajer alias Koordinator. Wuiih, title keren itu akhirnya disandang Emak dengan bangga.

Tapi, jauh dari kenyataannya. Boro-boro bisa dandan cantik, boro-boro bisa punya alasan untuk merampingkan badan, apalagi sampai bisa jjs sana sini naik mobil. Semuanya hanya mimpi.

Emak harus ekstra sabar menghadapi pekerjaan yang berbeda dengan bayangan Emak. Meskipun punya sejibun pengalaman kerja, semua tak ada yang berguna saat jadi Manajer dari sebuah organisasi non komersil seperti Marching Band. Karena menghadapi seribu karyawan bawahan, ternyata berbeda saat menghadapi para orangtua yang justru menjadi atasan.

Kejadian demi kejadian tak mengenakkan hati muncul tiba-tiba, berganti-ganti bikin jantung Emak olahraga.

“Ada insiden, Mak! Bass 1 rusak berat. Kudu diganti. Harganya sekitar xxxribu.”

Padahal seminggu lagi, sudah waktunya tampil. Emak pun sibuk mengaturnya dengan Pembina dan Pelatih. Alhamdulillah, selesai dalam hitungan hari.

“Sepatu belum siap, Tante. Kekecilan.” Dan Emak jumpalitan mencari sepatu di toko-toko sepatu khusus. Tak kurang akal, pilox pun jadi peralatan wajib menutupi sepatu-sepatu yang lecet.

Di lain waktu, “Gimana sih ngaturnya? Kok sampai membaginya makanan seperti begini? Anak saya kok tak diberi makan? Kan capek habis tampil,” keluh seorang Ibu, usai perform pada Emak yang hanya bisa diam memegang kotak nasi. Padahal, anaknya memilih untuk makan bakso yang ia sukai, dibandingkan makan nasi yang disediakan.

Kali lain. “Ya ampun, mobilnya jelek banget! Apa gak bahaya tuh sama anak-anak?” Tapi memang itulah yang disediakan panitia yang mengundang.

Anak-anak pun selalu merengek pada Emak. “Tan, jangan panggil Bundaku! Kalau aku tampil jelek, Bunda suka marah.”

“Tante… aku mau ngajak Mamaku besok saat tampil. Biar deh pangku-pangkuan di bis.”

Gosip tak mau kalah menghampiri. “Mak, denger-dengar situ untung besar ya kemarin waktu beli alat… “

Keluhan demi keluhan, masalah demi masalah dan gosip demi gosip menghantam. Emak berlatih tiap hari.

Ayah bilang, “Pengalaman itu bagus melatih kesabaranmu, Mak. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Emak hanya bisa tersenyum simpul. Yah, harus sabar, ekstra sabar, sangat sabar. Satu dua kali Emak harus terdiam seribu bahasa, membiarkan orang menganggap Emak terlalu banyak ikut campur urusan mereka. Tapi, Marching Band adalah pekerjaan tim. Satu orang yang tampil tidak baik, semuanya akan terlihat jelek. Karena itu, Emak berusaha agar setiap anggota mendapat perhatian yang sama dan mendapat kesempatan yang sama. Perhatian untuk membuat semua anggota memainkan alat mereka dengan hati, bukan sekedar bermain. Dengan hati, musik yang mereka hasilkan akan bersatu dalam harmoni yang indah.

Tapi… tak semua anggota Marching Band berbahagia dan menikmati kegiatannya. Mereka harus berjuang untuk bertahan. Sebagian harus menahan diri untuk tak menunjukkan kebingungannya mengatur waktu antara sekolah dan Marching Band. Yang lain memiliki masalah keluarga yang tak bisa ditutupi dengan menunjukkan performa yang buruk. Sementara ada pula yang hingga puluhan kali latihan, tak juga menguasai alatnya. Yang lebih menyedihkan, banyak diantara mereka menyerah tanpa perjuangan hanya karena banyak hal kecil.

Emak ingin memberitahu mereka, betapa beruntungnya anak-anak itu. Mereka punya kesempatan, punya masa depan yang masih panjang dan punya Emak yang akan selalu bersedia membantu mereka meski tak dibayar.

Emak juga ingin memberitahu orangtua mereka, betapa menyenangkan melihat wajah mereka yang tampak gembira, betapa menyentuhnya mendengar suara alat musik berpadu indah dengan harmonis, dan betapa ajaibnya saat menonton penampilan mereka secara utuh dalam sebuah pertunjukkan karena seluruh duka, beban, sedih dan lelah akan hilang bersama wajah-wajah serius yang begitu kompak menampilkan yang terbaik.

Ada satu kata yang Emak selalu ucapkan untuk mereka. “Nikmati permainan kalian, anak-anak. Tak usah pikirkan apa-apa! Nikmati saja.”

Karena musik adalah sesuatu yang indah, untuk didengarkan dan untuk dinikmati. Emak memang hanya Manajer, tapi buat Emak mereka juga putra-putri Emak. Walaupun sesaat, Emak ingin mereka menikmati salah satu bagian dari proses mereka mengenal dunia. Walaupun tak bisa melepas tanggung jawab dan kewajiban, tapi menjadi anggota Marching Band adalah pilihan kegiatan yang seharusnya dinikmati.

Emak memang hanya Manajer biasa, dengan pekerjaan yang tak ada beda sebagai asisten pribadi. Sebuah titel yang sebenarnya tak seindah namanya. Tapi menjadi Manajer Marching Band, membuat Emak merasakan banyak hal, merasakan kasih sayang anak-anak. Kasih sayang saat mereka memberikan penampilan terbaik bahwa apa yang Emak lakukan untuk mereka, terbayar dengan indah.

 

******

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.