Tulisan Terakhir

(I Wanna Be Emak) Sindiran Lima Ciri-Ciri

Suatu hari, Emak dan Kakak mengobrol di balkon rumah… sambil jemuran pakaian. Emak melirik Kakak yang tiap beberapa menit mengambil hapenya, tersenyum dan lalu mengetik beberapa kata sebelum memasukkan lagi ke dalam kantung celana trainingnya. Emak pun mulai melancarkan taktik. “Kata temen Emak, lima ciri-ciri anak perempuan sedang dekat sama seseorang itu adalah….

  1. Mendadak yang doyan makan 2-3 piring, sekarang jadi lebih sering bilang ‘kenyang Mak, tadi udah makan di sekolah’
  2. Sering minta izin pulang telat, izin konsul ke tempat les dan izin main ke rumah teman.
  3. Izin sampai jam tiga sore, sampai di rumah jam lima sore
  4. Mendadak jadi wangi, rapi dan bahkan mencuci sepatu tanpa diomeli dulu
  5. Handphone adalah benda wajib yang dibawa kemana, dikunci dengan password yang bahkan agen rahasia Emak (Ade) gak boleh tahu.

Menurut Kakak gimana?” tanya Emak ingin tahu. Kakak melirik Emak dengan sudut matanya yang sedikit menyipit. “Maksud Emak apa nih? Itu nyindir Kakak kan?” Tangan Emak melambai-lambai di depan wajahnya, “Ah, enggak. Kan Emak bilang… temannya Emak yang bilang. Emangnya Kakak ngerasa ya?” Bibir Kakak melengkung, matanya jelas menunjukkan kalau ia tahu Emaknya sedang ingin tahu dan melancarkan taktik gerilya. “Aah Emak nih… curigaan amat sih. Kakak juga punya nih. lima ciri-ciri Emak yang mulai curigaan…

  1. Mendadak rajin nyuruh makan dan gak kira-kira pula, dikira kita karung beras apa?
  2. Kalau kita lagi jalan, tiap setengah jam telp dan bbm… ‘dimana, ngapain, sudah selesai belom?’ begitu gak dibalas karena baterai habis langsung atau paket kuota habis, pulang ditanya deeh… padahal salahnya siapa ya, dimintain pulsa aja susahnya minta ampun
  3. Mendadak rajin beresin meja belajar kita tanpa ngomel-ngomel
  4. Kalau kita bantuin kerjaannya, langsung nanya ’emangnya kamu salah apa kok sampe ngambil hati Emak? Giliran kita gak bantuin, eh ditanya juga… ‘tadi habis ngapain aja, kok jadi males gitu?’
  5. Ayah yang biasanya anteng dan gak banyak bicara, akan mendadak jadi sok dekat dan sok nasehatin. Pasti deh… karena capek diteror Emak ‘Hayo Yah, nasehatin Kakak dong! Nasehat Ayah pasti didengar’

Emak tersenyum-senyum. Hebat euy! Inilah yang namanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kakak ternyata mempelajari taktik gerilya dengan baik dan berhasil menundukkan Emak. Aah, Kakak… Emak pun bingung harus bicara apa. Punggung Emak ditepuk Kakak. “Mak, kita impas ya. Kakak tuh kan lagi sibuk-sibuknya sekarang. Mau UTS, mau ulangan… jadi Kakak perlu sedikit refreshing makanya main ke rumah teman. Nah, teman-teman Kakak juga sama, bedanya mereka refreshingnya jadi suka nraktir makan. Itu sebabnya Kakak kenyang melulu.” Ah ya, Kakak memang si juara kelas. Kalau lagi musim ulangan, temannya mendadak bertambah berkali lipat. Semuanya jadi baik hati, tak heran hampir tiap hari dia ditraktir. Emak tersenyum mengerti dan mengangguk. “Lagian, kenapa sih Mak curigaan banget kalau Kakak pacaran? Jangan kuatir, Mak! Kakak tahu pacaran itu haram.” Emak terdiam, tangannya yang sedang sibuk memasukkan baju ke dalam gantungan baju langsung berhenti bergerak. “Kakak salah, bukan itu yang bikin Emak kuatir.” Kakak juga ikut berhenti bergerak, menatap Emak bingung. “Emak tuh takut, di saat nanti ada seseorang yang membuat hati Kakak ser-seran, Emak gak tahu. Emak kan pengen jadi bagian dari hidup Kakak, termasuk tahu kapan putri Emak tercinta menyukai seseorang dan Emak ingin ngajarin dia bagaimana memanage perasaannya agar tidak menjadi dosa. Gituuu….” “Duh, Emakku sayang… Jangan kuatir! Kalau Kakak jatuh cinta, Kakak pasti bilang sama Emak.” “Bilang apa?” “Bilang kalau siapapun nanti yang Kakak suka, Emak tetap nomor satu di hati Kakak. Kakak pasti minta bantuan Emak gimana caranya biar bisa taaruf kayak Emak. Tapi Mak…. itu kan masih lama…. masih sangaaaat lama..” jawab Kakak sambil tersenyum, dan memberi pelukan sekilas pada Emak. Tiba-tiba sebuah kepala muncul dari balik seprai yang sedang dijemur. “Ngerumpiin siapa?” Emak dan Kakak “Ayah!!!” jawab mereka berbarengan, lalu tertawa juga berbarengan. Ayah langsung merengut. Sayup-sayup saat Ayah menjauh, suaranya masih terdengar. “Lima ciri-ciri ketika Ibu dan anak lagi kompak.

  1. Membully pria terganteng di rumah
  2. Ditanya, jawabannya malah balik nanya
  3. ………………”

Emak dan Kakak saling berpandangan, lalu sama-sama tersenyum sebelum kembali menjemur pakaian bersama.

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.