Tulisan Terakhir

Anak Yang Bahagia

Sebelum aku membuka pintu, aku sudah tahu pemandangan seperti apa yang akan kulihat di dalam kamar putriku. Pelan-pelan kubuka pintu berwarna krem itu.

Ia di sana. Duduk di atas kursi berwarna hitam, menulis sesuatu di meja belajarnya. Tumpukan buku tersusun rapi di sisi kanannya. Sementara tiga buah buku terbuka lebar di sebelah kirinya. Seperti yang kuduga, putriku sedang belajar.

Kamar Tiara selalu rapi. Tempat tidur tanpa kerutan sprai sama sekali, di atasnya berjajar rapi bantal dan guling ditambah boneka-boneka bantal yang berasal dari beberapa hadiah saat hari ulangtahunnya. Tiga buah rak buku setinggi tubuhku dipenuhi berbagai buku-buku yang tersusun sesuai dengan genrenya. Di dekat pintu, sebuah drum set berukuran besar terletak dalam posisi ditutupi sebuah kain berwarna hijau muda. Sementara di lantai, tergeletak tas sepatu yang tadi sore digunakannya untuk latihan choir. Di dalam kamarnya, tak ada piala atau medali bergelantungan. Tiara tak suka kamarnya dipenuhi hiasan. Entah apa itu benar atau sekedar alasan, agar aku dan Ayahnya bisa dengan bebas memamerkan prestasinya di ruang tamu, sudah lama sekali aku tak lagi peduli tentang hal itu. Apapun yang diinginkan Tiara, selalu kuberikan jika bisa.

Aku menghela napas dan masuk. Kuambil tas sepatunya dan meletakkannya di lemari bagian bawah. Tiara begitu asyik, hingga ia tak menoleh padaku. Setelah selesai, aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur bersprai warna pelangi di sisi meja belajar.

“Belajar, Neng?” tanyaku sambil meraih salah satu boneka bantal berwarna hijau miliknya.”Hmm…” Tiara hanya bergumam pelan.”Gak capek belajar terus, Neng?”Tiara hanya menoleh sebentar, tersenyum simpul dan melanjutkan tulisannya.

“Kamu pernah bolos gak sih Neng? Nyontek atau sesekali membantah gurumu barangkali?”

Tak ada jawaban. Hanya kepala Tiara yang menggeleng-geleng.

Seharusnya aku merasa beruntung. Putriku yang kini sudah remaja adalah gambaran jelas putri impian semua orangtua di dunia. Dalam bidang akademik, ia selalu bisa meraih peringkat pertama dan ia baru kembali dari Australia, setelah memenangkan medali perunggu untuk Kompetisi Matematika internasional. Di dunia musik, dia adalah penabuh drum sebuah band remaja yang kini mulai dikenal dan sebentar lagi dalam hitungan minggu, Tiara akan berangkat ke Swiss mengikuti sebuah lomba paduan suara tingkat dunia.

Dulu, seperti umumnya para orangtua, ketika Tiara baru masuk sekolah dasar, aku juga ingin sekali melihat putriku menjadi yang terbaik dalam segala hal. Kebanggaan itu tak langsung kudapatkan. Tapi melalui langkah-langkah ekstrim yang tak mudah.

Ingin rasanya aku meminta maaf padanya. Aku ingat tahun-tahun awal saat ia baru masuk sekolah. Saat itu Tiara yang seharusnya masih duduk di TK, kupaksa untuk belajar dengan keras. Tiara sedikit berbeda dengan teman-temannya. Dia pendiam, konsentrasinya pun pendek dan sedikit mudah takut. Ditambah lingkungan rumah dan sekolah yang baru, Tiara tumbuh menjadi anak yang sedikit introvert.

Karena egoku, ingin menjadi orangtua untuk anak yang sempurna, aku mendidik Tiara dengan keras. Setiap hari ia harus belajar dengan keras. Kungiang-ngiangkan berbagai doktrin yang membuatnya menjalani segala keinginanku.

Kau harus belajar dua kali lebih keras dari orang lain, Neng. Anak lain bisa berjalan, tapi kau harus berlari.

Tak ada orang yang pintar. Hanya ada orang yang malas belajar.

Hidup itu seperti arena balap, jika kamu berhenti maka orang lain yang akan menang.

Dalam usianya yang begitu muda, Tiara kecil dengan patuh mengikuti semua keinginanku. Ia tak pernah keluar rumah tanpa seizinku. Ia juga tak pernah melalaikan tugas-tugas sekolahnya. Aku menjadi gurunya, yang mengajari dengan seribu satu cara sampai ia bisa. Tak pernah kami berhenti, sampai ia bisa. Sesekali aku ingin menyerah. Tapi nyatanya aku terus melanjutkannya.

Aku selalu berpikir Tiara adalah diriku. Dia harus menjadi seperti diriku. Aku tahu rasanya meraih segalanya ketika dunia kugenggam dengan jari-jemariku. Semuanya terasa mudah. Itu pula yang kuinginkan untuknya. Aku ingin membuat dunia yang kejam ini bertekuk lutut di hadapan Tiara.

Itu sebelum aku menyadari sesuatu.

“Apa saat dulu dunia dalam genggamanmu, kau pernah merasa bahagia?”

Pertanyaan itu ditanyakan suamiku, Ayah Tiara pada suatu hari. Saat itu Tiara sudah masuk ke tahun keempat sekolah dasarnya dan ia selalu meraih juara pertama di kelasnya. Aku tak bisa menjawab dengan “ya”. Aku diam dan bertanya pada diriku sendiri. Jawaban apa yang harus kuberikan untuk pertanyaan itu?

Ketika dunia dalam genggamanku, aku memiliki segala hal yang diimpikan setiap perempuan. Aku memimpin ratusan orang, bertemu dengan banyak orang penting yang dulunya hanya bisa kulihat di televisi, turun naik mobil mewah berpendingin ruang, aku berolahraga kapanpun aku mau di fasilitas klub mewah yang hanya bisa digunakan jika membookingnya terlebih dahulu, tak terhitung berapa banyak makanan mewah melewati perutku yang kecil. Dalam hitungan jam, pesawat membawaku ke beberapa tempat sekaligus. Sarapan pagi di rumah, makan siang di kota A dan makan malam aku sudah berada di kota B. Tak ada jam kerja dalam kamusku, aku bisa ke kantor kapanpun aku mau dan pulang sesuka hatiku. Tiap kali berbelanjat, tak pernah sekalipun aku melirik tag harga yang tercantum dan semua yang kuinginkan akan kubeli jika aku mau.

Tapi aku meninggalkan semuanya. Untuk Tiara dan suamiku. Mengapa?

Karena saat itu, aku sama sekali tak merasa bahagia. Kemewahan, harta dan fasilitas itu, kehormatan dan semua kenyamanan itu tak membuatku merasa sayang meninggalkannya. Suatu ketika, saat Tiara menangis di rumah sakit, saat itulah kuputuskan segalanya. Duniaku adalah dunia dimana suami dan Tiara berada di sisiku. Tak ada harta manapun di dunia ini yang bisa sebanding dengan nilai anak dan suamiku.

“Mah… seharusnya Mama itu masuk Guiness Book of Record deh. Mana ada orangtua seaneh Mama.” Ujar Tiara. Lamunanku buyar seketika. Ia sudah selesai belajar. Satu persatu buku-buku di atas mejanya mulai dikembalikan ke rak bukunya. Sebagian lagi masuk dalam tasnya.

Aku tertawa kecil. “Lah kenapa?”

“Ya mana ada orangtua kayak Mama. Anaknya malah disuruh bolos, disuruh gak usah belajar dan malahan diajarin cara nyontek. Yang lebih aneh lagi, baru ini ada Mama yang nyuruh anaknya membantah gurunya sendiri. Duh Mama… untung Mama punya anak baik kayak Tia, kalau enggak… “

Senyum di wajahku lenyap. “Mama gak perlu anak baik, Tia. Mama hanya ingin punya anak yang bahagia. Anak yang menikmati masa remajanya dengan normal,” tukasku cepat.

Tangan Tiara berhenti memasukkan buku dan melepaskan tas sekolahnya, ia menoleh padaku. “Mama sayang… Tiara sangat bahagia. Sangat, sangat, sangat bahagia.” Ia menjulurkan kepalanya, menatapku dekat-dekat. “Dan Tiara sangat, sangat normal.”

Bagaimana bisa Tiara-ku disebut dengan normal? Normal dalam definisiku sekarang adalah anak yang sesekali berbuat kesalahan dan melakukan apapun sesuka hatinya. Aku sudah lama mengubah definisi itu kembali sejak aku menyadari kesalahan. Tapi Tiara tak lagi bisa kembali menjadi Tiara kecil yang dulu berbuat semaunya dan menangis jika keinginannya tak dituruti. Tiara sudah terlanjur menjadi putri kecil dengan gaya hidup sempurna, seperti yang kuinginkan. Ia menjadi anak yang menurutku sudah seperti robot, pelajar terbaik di sekolah dan anak yang teramat penurut di rumah.

“Mama… Tiara bukan Mama dan Mama bukan Tiara. Tia sudah tahu itu. Jadi Mama jangan menyimpulkan kalau Tiara tidak bahagia atau tidak normal. Buat Tia, belajar bukan lagi hal tidak menyenangkan. Tia hanya menyukainya, seperti Mama. Kalau anak lain suka menyelesaikan misi di game yang mereka mainkan, maka Tia suka menyelesaikan PR yang jadi tugas Tia. Tia melakukannya bukan karena Tia terpaksa. Tia hanya ingin membalas kebaikan hati Mama.”

Aku menatap Tiara, bingung.

“Mama sudah memberikan semua yang Tia mau. Tia bisa jalan dengan bebas, membaca dan menonton yang Tia mau. Yaah… Mama masih membatasi uang jajan. Tapi Mama tak pernah melarang Tia melakukan apapun yang Tia pilih. Mama ingat waktu Tia mau ikut band? Justru Mama yang meminta pada Ayah untuk mengizinkan. Bahkan menemani Tia nge-band sampai Mama sakit. Apa Mama lupa, dulu waktu Tia pengen ikut choir, terus Ayah bilang itu bakal bikin pelajaran Tia tertinggal. Justru Mama yang diam-diam mengantarkan Tia latihan dan meminta izin pada guru Tia. Tia gak bakal bisa bayar semua kebaikan Mama. Jadi hanya ini yang bisa Tia lakukan buat Mama. Tia pengen melihat Mama selalu bisa nge-banggain Tia di hadapan teman-teman Mama.”

“Tiaaa… Itu kewajiban Mama.”

“Nah, ini juga kewajiban Tia, Ma. Kewajiban untuk membuat Mama merasa beruntung menjadi Mamanya Tiara. Kata Ayah nih ya Ma… Selalu ada harga untuk sebuah kebebasan. Dan inilah cara Tia membayar kebebasan yang Mama berikan buat Tia. Jadi apa Mama sekarang masih ingin Tia membolos, mencontek dan melawan guru padahal Tia gak mau melakukannya?”

Duh, mataku berair… Tiara selalu tahu betapa mudahnya hatiku tersentuh dengan kata-katanya. Siapa suruh punya anak secerdas Tiara? Pasti itu yang akan dikatakan Ayah kalau melihat airmataku yang menetes hari ini.

“Lakukan apapun yang membuatmu bahagia, Neng. Asal itu tak menyakiti dirimu atau orang lain.”

Tiara mendekapku. Oh, hangatnya pelukan putriku tersayang. “Tiara ingin membuat Mama selalu seperti ini, merasa bahagia punya Tia. Itu kebahagiaan Tiara.”

Mataku mengerjap. Dua butir airmata mengalir. Bukan kesedihan. Ini kebahagiaan. Ya Tiara, lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku sadari mengapa dulu Ayah Tiara melontarkan pertanyaan itu. Ia tahu, aku sendiri belum mengetahui arti kebahagiaan itu apa sampai ia membuka mataku melalui Tiara.

Tiara dan Ayahnya telah membantuku memahaminya sekarang. Bahagia itu adalah ketika kita bisa membuat orang-orang yang kita cintai berbahagia.

*****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.