Tulisan Terakhir

Pengabdian (1)

jurnalismedakwah.blogspot.com[/caption]

Sapaan seorang satpam menyambutku saat motor yang kukendarai berbelok memasuki gerbang coklat besar itu. Aku menekan jempolku pada absen yang terletak di dekat si satpam. Dari balik helm, aku mengangguk dan langsung mengarahkan motorku menuju tempat parkir beratap merah marun. Sudah banyak motor yang terparkir rapi di situ, walaupun spot yang memang diperuntukkan untuk motorku masih kosong. Semua motor memang didaftarkan secara khusus dengan spot masing-masing. Tak sembarang orang bisa bekerja di tempat ini. Semuanya harus terdaftar dan memiliki izin termasuk kendaraan yang digunakan untuk bekerja.

Siapa yang tak bangga bekerja di tempat ini? Begitu aku menyebut nama perusahaan ini, maka semua orang yang bertanya akan segera mengatakan betapa beruntungnya diriku. Gaji dalam hitungan mata uang asing, berbagai fasilitas penunjang karyawan, bekerja dalam lingkungan yang sebagian besar dipenuhi orang-orang asing dan dikelilingi oleh fasilitas-fasilitas modern serta canggih menjadi ukuran keberuntungan itu.

Aku masih ingat saat sebuah surat kuterima beberapa bulan lalu. Hari-hari tanpa kepastian pekerjaan mendadak melayang pergi seketika. Kutempelkan dahi ke lantai bersujud penuh syukur sebelum memberitahu Ibu yang langsung menangis terharu. Tak sia-sia aku berjuang mengalahkan ribuan pelamar, melewati berbagai ujian dan tes yang tidak mudah. Semua seperti tak berujung sampai kemudian aku berpikir, bahwa perjuanganku mungkin sia-sia.

Pekerjaan inilah harapanku mewujudkan cita-cita Ibu, memberinya kesenangan dunia yang tak pernah dirasakannya sejak Ayah meninggalkan kami berdua. Aku ingin memberinya sepatu menggantikan sandal butut yang dikenakannya bekerja, aku ingin membelikannya rumah bagus menggantikan rumah tua kami yang selalu bocor saat hujan turun, aku ingin membelikan mobil untuk Ibu agar kaki tuanya tak perlu berlelah-lelah menginjak pedal sepeda dan aku ingin membawa Ibu menginjak tanah Haram yang selalu dirindukannya.

Di tiga bulan pertamaku bekerja, aku mewujudkan banyak hal untuk Ibu. Ibu tak lagi bekerja dan sekarang ia mulai bisa berkonsentrasi mengikuti berbagai pengajian yang dulu seringkali ditinggalkannya. Aku juga sudah mendaftarkan Ibu untuk bersiap-siap berangkat haji, walaupun masih beberapa tahun lagi. Selebihnya, keinginanku yang lain tinggal menunggu waktu.

Tapi ada hal yang mengganggu diriku…

***

“Maaf, Pak. Kalau mau sholat dimana ya?’ tanyaku. Pertanyaan itu membuat kening Pak Denny berkerut.

“Wah, kamu sholat ya?’ Jawaban dalam bentuk pertanyaan kembali itu kini ganti membuat keningku berkerut dan mengangguk pelan, bingung.

Pak Denny berdiri, memandang berkeliling dan matanya tertuju pada Pak Kasim. Pesuruh kantor yang sedang berjalan membawa setumpuk dokumen. Ia memanggilnya. Dengan cepat Pak Kasim mendekati kami.

“Sim, kamu sering sholat kan? Nih antarin Pak Malik ke tempat sholat. Dia mau sholat katanya.”

Aku menoleh pada Pak Kasim yang langsung mengangguk hormat padaku. Lalu tanpa banyak berkata, kami berjalan bersisian. Sebelum keluar dari ruangan, ia memberikan tumpukan dokumen itu pada Rini, sekretaris departemen logistik.

“Mbak, sudah dhuhur. Saya mau ke mushola sama Pak Malik.”

Gadis bernama Rini itu mengangguk. “Iya, Pak Kasim. Duluan saja. Saya mau rapat dulu sebentar.”

Aku mengangguk pada Rini. Ia tersenyum padaku sebelum aku dan Pak Kasim meneruskan langkah keluar dari ruangan menuju tangga.

“Jangan kaget ya Pak kalau lihat musholanya. Maklum kecil.”

Aku hanya tersenyum. Pak Kasim mengajakku menuruni tangga hingga kami sampai di lantai dasar. Dari lantai dasar ia menuju pintu samping gedung kantor dan keluar menuju tempat parkir. Aku sedikit terkejut mengetahui kalau mushola berada di luar gedung. Belum hilang keterkejutanku, tiba-tiba langkah Pak Kasim berhenti.

“Nah ini Pak, di sini musholanya.”

Ternyata letak mushola, kalau bisa disebut mushola, berada tepat di sebelah toilet karyawan. Di depan toilet itu, terletak kafetaria terbuka yang justru luasnya empat kali lipat dari mushola itu sendiri. Bahkan toiletpun lebih besar dari mushola itu sendiri. Aku makin miris saat melihat tempat wudhu seadanya yang dibuat secara darurat. Hanya ada dua buah, satu untuk pria dan satu lagi untuk wanita.

Suara helaan napasku terdengar oleh Pak Kasim.

“Ya beginilah Pak kondisinya. Yang pakai mushola ini kebanyakan hanya yang karyawan outsourcing kayak saya, jadi ya seadanya. Ini juga hasil sumbangan dari teman-teman.”

Aku masih termangu. Lalu bertanya pelan. “Apa ada mushola lain selain ini, Pak?”

Pak Kasim menggeleng. “Hanya ini, Pak. Hanya mushola ini yang digunakan untuk sholat.”

“Tapi kan karyawan di gedung ini banyak sekali. Mana cukup kalau saat sholat dhuhur tiba, jadi harus bergantian kan?”

Senyum pahit di wajah Pak Kasim membuat aku kembali menghela napas. “Tidak banyak karyawan yang sholat teratur, Pak. Paling-paling dalam satu departemen hanya satu atau dua orang. Ada yang awalnya rajin sholat, tapi lama kelamaan ya akhirnya entah sholat atau tidak.”

Pak Kasim mengambil wudhu, mendahuluiku. Sementara aku memandang berkeliling. Memperhatikan sekitar mushola yang sebenarnya sangat ramai.

Sekarang tepat jam sholat dhuhur. Suara adzan yang terdengar dari dalam mushola, kalah oleh suara-suara karyawan dan karyawati yang sedang mengobrol di kafetaria. Bahkan nyaris tak berarti. Antrian yang sedang mengambil makanan justru berkali lipat lebih panjang daripada antrian yang mengambil air wudhu. Aku menghela napas lagi.

Pak Kasim menjadi imam dadakan. Tak banyak makmumnya karena ruangan itu hanya muat untuk tiga baris makmum, itupun kami harus berpadat-padat. Dalam suasana seperti itu, aku justru merasa bersyukur. Dalam sekejap, aku segera mendapat rekan-rekan baru. Walaupun mereka hanya karyawan yang berada di posisi paling bawah. Tapi setidaknya aku merasa tidak sendiri.

***

“Mau ke mana, Lik?” tanya Pak Denny. Aku berhenti dan menoleh padanya.

“Mau sholat ashar, Pak.”

Mata Pak Denny bergerak, bibirnya membentuk senyum. Tampak sinis. “Jangan terlalu lama. Jam segini ini lagi jam sibuk. Jangan selalu nyari alasan sholat buat menghindari kesibukan, ya!”

Aku hanya diam. Astaghfirullah. Tuduhan yang kudengar selentingan beberapa hari terakhir ini akhirnya terdengar juga secara langsung. Ingin sekali hatiku menyanggah. Bukannya aku bermaksud berlama-lama, tapi buatku sholat bukanlah sekedar menjalankan kewajiban.

Aku selalu bersyukur untuk semua kenikmatan yang diberikanNya. Sholat memang tak lama, tapi aku juga tak ingin melakukannya dengan terburu-buru. Untuk Dia yang Maha Penyayang, aku ingin menunjukkan rasa syukur itu dengan cara yang terbaik.

Aku yang terbiasa sholat Dhuha, harus mengorbankan Coffee Break untuk bisa melakukannya. Untunglah jam istirahat bertepatan dengan sholat Dhuhur, hingga aku tak perlu memburu waktu. Meskipun seringkali harus memasang muka setebal mungkin saat diberi senyum tak enak ketika meminta izin untuk sholat ashar.

Beberapa kali rapat kerja berlangsung hingga waktu sholat magrib tiba. Tapi saat diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah, sebagian besar rekan-rekan kerjaku justru memilih merokok atau bersantai di kafetaria. Sesekali ada satu dua rekan yang kuajak sholat dan alhamdulillah mereka mau ikut bersamaku, tapi lebih banyak yang menggeleng dan memilih aktivitas yang lebih mereka sukai. Aku hanya bisa mengurut dada, bersabar.

 

***

Bersambung…

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.