Tulisan Terakhir

10. Menjalani Dengan Ikhlas, Menikmati Dengan Gembira

Ikhlas itu sulit diukur. Meskipun menjadi Ibu adalah kodrat, tak semua menjalaninya dengan ikhlas. Karena tidak ikhlas, maka segala hal akan terasa berat untuk dijalani. Meski mulut berkata ikhlas, kalau di hati masih merasa terbebani maka itu artinya masih ada ketidakikhlasan di hati.

Ikhlas pula yang akan mengukur ringan atau beratnya seorang Ibu dalam menjalani perannya. Semakin ikhlas, maka ia akan merasa semakin ringan menjalaninya. Bahkan suara tangisan, rengekan dan permintaan anak yang terkadang aneh akan dianggap sebagai seni yang suatu hari akan dirindukan bagi setiap ibu.

Siapa yang takkan lelah memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga sendirian? Karenanya berpikir cerdas, cermat dan lincah dalam mengatur rumah tangga harus menjadi syarat utama agar bisa mengurangi kelelahan itu sendiri.

Seperti wanita karir yang bisa menikmati kesibukannya yang super duper dengan hati gembira, maka seharusnya setiap Ibu yang memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk bisa menikmati kesibukannya pula. Apalagi jika pilihan itu adalah anugerah. Karena menjadi Ibu, itu bukan pilihan tapi anugerah yang diberikan Allah SWT. Banyak yang memilih jadi Ibu, tapi tak semuanya kebagian rezeki anugerah itu. Maka kita yang diberikan anugerah itu, seharusnya berterima kasih dengan menjalani peran Ibu dengan hati ikhlas dan gembira.

Setiap saat, setiap merasa lelah maka tataplah wajah anak-anak yang tertidur, itu akan sanggup mengembalikan semangat seorang Ibu. Suatu saat ketika sibuk bekerja, anak-anak biasanya datang mengganggu. Ingatlah suatu hari, ketika kita melakukan hal yang sama, mereka mungkin takkan datang meski kita mengharapkan. Tak usah jauh-jauh membayangkan, saat nanti anak-anak bersekolah saja, kesepian pasti akan melanda seorang Ibu.

Maksimalkanlah waktu bersama mereka. Peluk dan cium mereka sampai umur berapapun, ketika dibutuhkan. Bermain dan merespon spontan secara positif semua imajinasi mereka adalah bagian dari kenikmatan menjadi Ibu.

Ada satu pengalaman saya baru-baru ini. Hari itu saya kencan dengan anak-anak perempuan. Saat itu anak-anak ber-dance di sebuah mesin permainan dance. Karena Ade baru lima tahun, bisa dibayangkan kebingungannya. Saya membantunya untuk mendapat nilai yang bagus dalam permainan itu. Sampai kami kehabisan koin. Koinnya hanya cukup untuk 1 pemain. Apa permainan berhenti? Tidak sama sekali. Karena kami bertiga akhirnya bermain jadi satu. Dan bukannya menang, kami malah saling menginjak satu sama lain, tertawa dan akhirnya jatuh tumpang tindih. Tentu sayalah yang jadi korban karena keduanya menjatuhkan diri ke saya. Saat saya sadar, ternyata ada banyak orang memperhatikan kami bertiga. Mereka semua tersenyum. Lalu sambil keluar karena malu, seorang Bapak bicara di dekat kami menyenggol istrinya. “Coba Mama seperti itu, main sama anak-anak sesenang itu pasti jarang marah-marah sama anak.

Sebagian Ibu mungkin malu kalau bertingkah seperti itu. Tapi itu hanya awalnya. Kalau dipikir-pikir, anak-anak saya seringkali bersikap ‘memalukan’. Di dalam supermarket, mereka bermain dengan troli belanja, membuat patung-patung hiasan ketakutan akan kehadiran mereka, mengeksplore semua benda yang terpajang. Sesekali saya bahkan harus menepuk tangan mereka agar berhenti. Tapi jika saya anggap itu hal biasa, saya biarkan saja. Wajar mereka seperti itu. Namanya juga anak-anak. Sesekali mereka ditegur karena tingkahnya, kalau sudah begitu saya pun ikut menegur mengapa orang tak suka pada sikap mereka dan tak lupa meminta maaf pada orang yang bersangkutan karena tingkah mereka. Tapi tentu biasa saja, tak perlu malu apalagi kapok.

 

Anak-anak saat di mall
Anak-anak saat di mall

Cerita saya di atas hanyalah contoh mengapa menikmati peran menjadi Ibu itu sangat penting. Karena hidup dengan beban akan membuat kita sulit melakukan banyak hal baik. Hidup dengan menikmati peran Ibu, membuat seorang perempuan akan selalu memandang perannya dengan positif dan akan menemukan banyak hal-hal menarik dalam hidupnya. Anak bukan hanya seseorang yang diajarkan tetapi juga memberi banyak pelajaran buat Ibunya.

Satu lagi, ajari putra-putri untuk belajar mengekspresikan cinta dan kasih sayang mereka. Ini yang paling sering dilupakan para Ibu. Dengan mudah, banyak Ibu yang begitu pandai mengekspresikan kemarahan mereka, tapi sulit mengekspresikan kasih sayang dan cinta mereka. Saat anak-anak masih kecil, mungkin masih bisa, tapi semakin anak-anak besar, ekspresi cinta itu makin jarang dilakukan. Karena itu, sedari anak-anak kecil hingga mereka dewasa, biasakanlah mengekspresikan cinta dan kasih sayang sebagai ibu.

Tak ada salahnya menyelipkan lembaran notes di kotak pensilnya, sekedar memberi semangat saat mereka akan ujian. Atau memeluk mereka secara spontan saat anak-anak melakukan sesuatu yang menyenangkan. Meminta maaf dengan gambar-gambar emoticon melalui pesan singkat di ponsel walaupun sedang berada dalam satu ruangan. Menghadiahkan coklat kesukaannya di dalam tas diam-diam. Dan kalau perlu gambarlah sesuatu untuk mereka, jika menuliskan kata-kata adalah sesuatu yang sulit untuk anda. Setidaknya buatlah satu atau dua kejutan manis untuk anak-anak dan suami dalam sebulan. Sesuaikan dengan kemampuan atau kepandaian Anda yang spesial.

Kelak suatu hari, ekspresi cinta dan kasih sayang itu akan berbalas dengan manis. Hari ini, saya menerima hadiah kecil dari Ade, sebuah bunga dari kertas yang disembunyikannya dalam tas sekolahnya yang tak boleh saya sentuh selama tiga hari terakhir. Kejutan lain saya terima dari Kakak berupa kalender bergambar aktor kesayangan saya. Sedangkan Abang menghadiahkan gambar helikopter. Inilah alasan mengapa saya menganggap bahwa Be A Mom is the best title in the world.

Jadi para Ibu… nikmatilah peran ini dengan gembira dan jalani dengan ikhlas.

Selamat menjalani peran terbaik di dunia dan

Selamat Hari Ibu 2014!!

 

Sebelumnya

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.