Tulisan Terakhir

Dunia Remaja : Perhatian & Kasih Sayang

Saat anak menginjak remaja, masih perlukah ia akan kasih sayang dan perhatian??

Tan! Cek wattpadku yaa aku nulis tuh. Komen, komen pls

Bbm bernada manja itu dari salah satu sahabat kecil saya, salah satu teman Kakak (panggilan untuk putri saya) yang kemudian menjadi sahabat saya juga.

Tanpa menjawab bbm itu, saya langsung mengecek wattpad. Padahal posisi saat itu sedang berada di depan sekolah Ade, menanti jam sekolahnya usai.

Cerita fiksi karya sahabat kecil saya itu menarik, siapapun pasti tahu pengarangnya seorang remaja karena ceritanya yang jelas-jelas berbahasa remaja. Meski temanya tidak fokus dan ceritanya berkembang terlalu lebar, tapi yang menarik adalah ceritanya yang fantasi banget. Perlu imajinasi tinggi untuk bisa menulis cerita khayalan yang luar biasa itu. Dan saya membalas Luaar biasa, Kak A***. Great Story! Keep Writing, Luv!

Dulu saya kira, semua orang tua yang memiliki anak berusia remaja seperti Kakak atau sahabat kecil saya itu, akan merasa bahwa memiliki mereka berarti menyenangkan. Karena itulah yang saya dan Kakak rasakan. Sesekali kami berantem, sesekali saya marah pada Kakak dan sebaliknya, bahkan tak jarang kami saling membully. Tapi saya dan Kakakkompak dalam satu hal. Kami sama-sama ingin menjaga hubungan kami menjadi hubungan yang akan selalu menyenangkan.

Karenanya, Kakak begitu terbuka pada saya. Begitupun saya pada Kakak. Sesuatu yang tidak dipahami oleh ibu-ibu lain ketika saya bercerita. Mereka bingung, saya juga

Lalu saya menyadari sesuatu yang berbeda ketika saya dan Kakak bersama di depan teman-temannya. Kami bercanda seperti biasa. Kakak membully saya seperti ketika ia bercanda dengan temannya dan saya berpura-pura merengut marah. Lalu, kami tertawa sama-sama. Feeling fun membuat teman-teman Kakak yang tadinya kaku bersikap pada saya, mencair dengan sendirinya dan mulai berani ikut bercanda.

Tapi ini berbeda ketika Kakak memperlihatkan sesuatu. Tanpa sengaja saya melihat seorang teman Kakak sedang berdiri di samping Mamanya. Dari gesture tubuh, saya bisa melihat kekakuan di antara mereka. Pemandangan ini tak sekali dua kali saya lihat, bahkan terlalu sering dengan orang tua dan anak yang berbeda.

Sebagian besar teman-teman Kakak mengalaminya. Kesibukan orangtua, Ibu dan Ayah yang sibuk entah kemana bahkan di hari libur, atau Ayah Ibu yang hanya sibuk dengan adik-adiknya dsbnya. Tak jarang, mereka justru menyembunyikan hobi mereka yang positif dari orangtua sendiri. Dan yang selalu ingin pamer tulisannya pada saya itu, bukan hanya satu-dua orang, tapi juga tak cuma itu.

Habis kalau sama Mama atau Papa, nanti malah ditertawain, Tan Malu ah! Itu kata mereka, ketika saya minta untuk memberitahu orangtuanya. Bukankah orangtua seharusnya cheer leader buat bakat putra-putrinya, bukan sebaliknya?

Padahal, masa remaja adalah masa transisi. Masa perubahan yang seharusnya dipenuhi dengan keterbukaan dan keselarasan hubungan anak orangtua. Tanpa semua itu, masa remaja yang dipenuhi rasa ingin tahu, hal-hal baru yang mengejutkan dan masuknya berbagai pemahaman baru yang membingungkan akan semakin terasa berat buat si anak remaja.

Tahukah para orangtua? Ada saat di mana seorang anak remaja tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba dijauhi teman-temannya, ada saat dimana ia merasa benar-benar kebingungan karena perubahan bentuk tubuhnya, ada saat dimana ia bingung harus bertanya pada siapa tentang masalah di sekelilingnya, dan bahwa belajar bergaul itu tidak berhenti di usia tertentu tapi justru harus terus dikembangkan terutama di masa-masa remaja. Apalagi sekarang pengaruh teknologi dan sinetron televisi telah memberi efek negatif terhadap pergaulan remaja.

Alasan karena sibuk, rasanya sudah basi di zaman teknologi secanggih sekarang. Perhatian terhadap anak tak boleh renggang apalagi berkurang. Tapi mendidik anak itu seperti bermain layang-layang, kadang diulur dan kadang ditarik. Artinya sesekali bebaskan langkahnya, namun di kali lain awasi tingkah lakunya. Semua tergantung keadaan masing-masing.

Caranya bagaimana? Setiap hubungan selalu memiliki keunikan masing-masing. Setiap anak-orangtua pasti punya rahasia untuk menjaga hubungan mereka dengan cara masing-masing.

Saya dan Kakak meluangkan minimal setengah jam setiap hari untuk mengobrol. Walaupun yang kami obrolkan kebanyakan hanya bercanda. Tapi tak jarang, kami juga membahas pelajaran sekolah, bahkan meski saya tak pernah bisa menghafal nama-nama anggota grup musik Korea favoritnya, kami sering mengobrol soal gosip terbaru dari grup musik itu. Buat Kakak, saat itu saya bukan lagi Emak, tapi sahabatnya

Tak perlu harus memaksa anak remaja bicara, cukup dekati dan duduk di sebelahnya. Mulai dengan menceritakan kisah humor atau sesuatu yang kita tahu pasti menarik perhatiannya, maka biasanya semua mengalir dengan lancar.

Remaja itu identik dengan menganggap segalanya itu santai. Jadi bersikaplah santai menghadapi mereka. Jangan cepat emosi hanya ketika anak lupa untuk salim atau bercanda sedikit kelewatan. Tegurlah melalui candaan juga. Tapi biasanya anak yang kalau bercanda kelewatan itu karena melihat orangtuanya yang suka bercanda juga kelewatan. Tetap ajari mereka batas-batas bercanda, agar cara bercanda mereka tidak membuat mereka justru kehilangan teman.

Hubungan yang baik dan komunikasi yang terpelihara, akan menanamkan rasa tanggung jawab pada anak dan menumbuhkan kepercayaan orangtua pada anak. Ketika jalinan itu dijaga bersama-sama, maka hubungan antara anak dan orangtua pun akan melewati batas normal. Indera keenam atau intuisi seorang ibu akan terlatih khusus untuk membaca kebutuhan anak. Percayalah ini sulit sekali dilakukan kalau tidak dilatih. Tapi ketika sudah muncul, kebanyakan inilah yang akan membantu orangtua membantu anak nantinya.

Berkali-kali perasaan tidak enak saya terjawab dan berkali-kali pula saya berhasil membantu Kakak melalui masa sulitnya, hanya dengan mengandalkan intuisi seorang ibu. Intuisi yang dianugerahi Tuhan, diasah oleh pengalaman dan kasih sayang untuk kebaikan anak dan orangtuanya sendiri.

Karena itu, jangan pernah biarkan anak remaja Anda merasa sendiri. Penuhi seluruh kebutuhan kasih sayang dan perhatian untuknya, bahkan ketika ia merasa sudah dewasa. Anak-anak akan selalu jadi anak-anak. Tapi jadilah Ibu sekaligus sahabatnya, jadilah Ayah sekaligus teman baiknya. Karena anak adalah amanah dari Tuhan, maka jalanilah amanah itu sebaik mungkin.

****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.