Tulisan Terakhir

Resep Awetnya Pernikahan

Seringnya saya dan suami ditanya mengenai resep agar pernikahan tetap awet membuat saya akhirnya menuliskannya di sini. Padahal seperti sebutannya resep itu tak selalu harus seperti si pemberi resep. Resep masakan Farah Quinn belum tentu sesuai dengan selera saya, karena lidah dan selera orang kan berbeda-beda. Meski kelihatan enak, belum tentu rasanya cocok dengan saya.

 

Seperti itulah gambaran resep sebuah pernikahan. Ada yang lebih suka banyak “gula”nya, ada pula yang lebih mengutamakan “garam”nya, tapi banyak juga yang lebih suka rasa yang netral. Itu semua tergantung orang-orang yang menjalaninya masing-masing.

Kalau boleh berbagi sedikit resep, mungkin inilah yang bisa saya bagi. Karena pasti sudah banyak sekali yang membahas agar bisa bertahan (duh, kenapa mesti menggunakan kata bertahan ya?) dalam sebuah pernikahan, maka saya mengambilnya dari berbagai catatan harian saya selama lima belas tahun menikah.

1. Menikahlah saat siap dan usia sudah benar-benar matang.

Walaupun saya salah satu pelaku nikah muda (ngaku >_<) tapi kalau ada yang bertanya maka hal pertama yang saya sampaikan adalah, jangan pernah menikah di usia muda, karena menikah di usia itu sama saja dengan mencoba mendaki gunung tanpa alat pengaman. Jangan pernah menganggap sebuah pernikahan sebagai alat pelengkap status, apalagi hanya sekedar memenuhi harapan orangtua. Nikah muda itu benar-benar berat, beraaaaaat sekali.

2. Dia dan dunianya bukanlah milikmu

Bukan berarti setelah menikah maka dia dan dunianya adalah milikmu. Pasangan suami atau istri tetap punya hak memelihara privasi sendiri. Hormatilah privasinya. Jangan mentang-mentang karena dia suami atau istri lantas menjadikan hapenya adalah hapemu tanpa seijinnya. Atau semua temannya secara otomatis adalah temanmu. Kita tetap harus usaha memahami dunianya yang mungkin asing buat kita, berusaha mengenal sahabatnya dan secara alamiah menerima kondisi dimana kadang-kadang si dia ingin sendiri. Nantipun kita pasti ingin sekali-sekali menyendiri, jadi belajarlah membicarakan mana saat-saat ingin bersama, dan kapan harus “me time”

3. Menjaga cinta dengan komunikasi

Dulu saya menganggap punya suami berbeda usia lebih dari 10 tahun dengan wajah standar dan pendiam, pastilah aman dari godaan perempuan lain. Toh dulu dia yang mengejar-ngejar saya kok, jadi buat apa cemburu? Uhuk, ternyata salah besar, salah besaaar banget. Saya bodoh menganggap kalau kelebihan dia hanya saya yang melihat dan memahaminya.

Jadi jangan karena si dia dulu yang memulai segalanya lebih dahulu lalu kita menganggap bahwa hubungan akan selalu save. Tak ada salahnya sesekali bertanya, apa yang dia tak sukai dan berusaha melakukan apa yang pasangan sukai sebagai penjaga hubungan agar cinta selalu terjaga. Menunjukkan cemburu “kecil” dengan nada menggoda juga sesekali bolehlah sebagai penanda kalau kita masih sangat sayang padanya.

Tapi yang paling penting, jangan pernah menganggap bahwa cinta itu takkan hilang karena seperti tanaman kalau tidak disiram dan dijaga maka cintapun bisa mati dan layu. Satu yang paling penting dalam menjaga kesuburan cinta, tentu saja berkomunikasi. Mengusahakan dalam satu hari, buatlah satu jam spesial buat sang belahan hati. Berbicara, bercanda atau sekedar bertukar cerita tentang tingkah anak-anak saja bisa menjadi saat-saat yang indah.

4. Dua jiwa satu hati

Biar bagaimanapun pernikahan terdiri dari dua orang yang mungkin berbeda dalam banyak hal. Menyatukannya secara keseluruhan jelas tak mungkin sama sekali. Tapi jika kita mau belajar memahami pasangan, maka jangan heran kalau suatu hari nanti hanya dengan menatap matanya kita akan tahu isi hatinya. Perlu waktu dan keinginan besar untuk itu, percayalah ketika itu menjadi kenyataan maka kita takkan lagi merasakan perasaan yang penuh gelora atau menggebu-gebu, tapi akhirnya satu perasaan yang muncul “dia adalah jiwa dan hatiku”

5. Hari ini adalah Hari Terakhir

Terus terang konsep ini muncul setelah saya pernah hampir kehilangan suami tercinta. Saya berubah banyak ketika menyadari bahwa sewaktu-waktu suami bisa saja pergi meninggalkan saya. Mungkin kalau hanya sekedar selingkuh atau karena perempuan lain, saya yang malah akan pergi. Tapi saya takkan pernah lupa perasaan ketika mendapatkan berita tentang kecelakaannya, perasaan seperti dunia runtuh seluruhnya. Di saat itulah saya menyadari betapa besarnya rasa cinta saya pada lelaki ini.

Begitupun suami saya ketika melihat saya meregang nyawa beberapa kali. Ia tak menyangka kalau ada rasa sakit luar biasa di dadanya melihat penderitaan saya dan itu diakuinya dengan meminta saya cukup menyudahi penderitaannya sampai anak ketiga kami lahir. Ia tak tahan membayangkan rasa kehilangan itu.

Dan ternyata, hal itu benar-benar membuka mata kami berdua. Jadi, inilah resep saya, bangunlah pagi setiap hari dan buatlah seakan-akan itulah hari terakhir kita bersama pasangan. Karena itulah yang akan membuat setiap hari-hari yang kita lewati selalu diusahakan agar menjadi hari yang indah untuk berdua.

6. Semua karena Allah

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada pernikahan yang sempurna. Takkan mungkin ada sebuah pernikahan, tanpa masalah. Itu benar sekali. Dua kepala, dua pikiran dan dua sifat berbeda takkan mungkin menjadi satu pikiran terus menerus. Maka ketika masalah itu datang, jadikanlah kitab suci yang berisi banyaaaak sekali tuntunan pernikahan dan hadits Rasul sebagai pemecah masalah.

Cinta yang terbesar seorang manusia adalah mencintai Tuhannya, Allah yang menciptakannya. Maka ketika seseorang mencintai Allah daripada istrinya atau suaminya, ia pasti akan semakin baik dalam menunjukkan rasa cintanya pada istri/suami. Tak paham soal itu? karena ia pasti takut berbuat dosa dan pasti ingin selalu membahagiakan pasangannya agar kelak Allah menjadikannya sebagai bagian dari orang-orang yang dekat denganNya.

Allah juga satu-satunya tempat kita mengadu saat badai menerpa rumah tangga, padaNyalah kita berserah diri dan memohon bantuan. Jadikanlah rumah tangga kita agar selalu dekat dalam lindungan Allah SWT.

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.