Tulisan Terakhir

Cinta Untuk Cinta

“Kamu tahu kenapa diberi nama Cinta, Cin?”

Sepasang mata bening Cinta mendongak menatap Emak penuh tanya. Tapi yang ditatap justru sedang menatap ke arah ombak pantai yang bergulung-gulung di hadapan mereka dengan sorot menerawang. Lalu Emak menunduk, tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa, Nak?”

Cinta menggeleng.

“Karena cintalah yang membuatmu terlahir ke dunia ini, Anakku. Kupatrikan dalam namamu agar kau mengerti alasanmu terlahir ke dunia ini.” Kata-kata Emak begitu lirih, seakan ia sendiri tak yakin akan semua yang dikatakannya sendiri.
“Tapi kenapa hanya Emak yang cinta padaku? Kenapa tidak Ayah, Mak?” cecar Cinta dengan mata yang masih bersisa airmata.

Terbayang lagi peristiwa memilukan yang mereka baru saja berdua alami. Diusir dari rumah yang besar dan megah oleh Ayah, di antara tangisan seorang wanita dan tatapan bingung seorang anak perempuan yang lebih tua darinya.

Suara helaan nafas panjang Emak terdengar. Dua titik air jatuh ke jemari Cinta yang digenggam Emak. Titik-titik air itu berasal dari mata Emak, yang masih sarat beragam emosi bercampur aduk.

“Ayah mencintaimu, hanya saja cinta Ayah berbeda dengan cinta Emak yang bisa kamu rasakan langsung.”

“Cinta? Dengan menyuruh Emak dan aku untuk pergi begitu saja, Mak? Aku tak mengerti Emak. Aku tak mengerti cinta Ayah yang aneh itu.”

“Nanti, Cinta. Suatu hari nanti kau akan pahami itu, Cintaku sayang.” Emak tersenyum, tawar sekali. Tanpa suara setelah itu Emak merangkul Cinta lama sekali, diiringi debur ombak pantai yang mulai membasahi ujung kaki mereka berdua. Cinta merasakan guncangan pelan di dada Emak, Emak menangis.

***

Cinta masih bisa mengingat dengan jelas kata-kata Emak hari itu. Ketika ia baru berusia 9 tahun. Tapi sampai waktu berlalu berganti menjadi tahun-tahun yang berlari, Cinta masih tak bisa memahami makna di balik kata-kata Emak.

Ia makin tak memahami cinta seperti apa yang dimiliki Ayah ketika beliau memilih menceraikan Emak. Anehnya, Emak menerima dengan penuh pengertian dan membubuhkan tanda tangannya begitu ringan di atas kertas persetujuan, tanpa banyak persyaratan apalagi pertengkaran. Walaupun setelah itu, Cinta berulang kali menangkap basah Emak meneteskan airmata. Usia Cinta yang sudah menginjak remaja saat itu membuatnya belajar untuk membiarkan segalanya berlalu begitu saja tanpa perlu memberi komentar. Cinta sudah mengerti bahwa pernikahan Emak dan Ayah bukan menjadi urusannya. Dia mencoba menjadi seorang anak yang belajar memahami apa yang terbaik untuk kedua orangtuanya. Bagi Cinta, perceraian mungkin menjadi satu-satunya keputusan terbaik dalam hubungan dua orangtuanya.

Tetap saja airmata Emak tak pernah benar-benar berhenti. Ketika hari ulang tahun Ayah, ditemani frame foto Ayah dalam dekapannya, Emak meniup lilin kue ulangtahun sendirian di ruang makan. Ucapan selamat sayup-sayup bisa didengar Cinta yang bersembunyi di balik pintu kamar. Setelah itu, Emak lagi-lagi menangis lirih. Hampir tanpa suara. Pun ketika hari ulang tahun Cinta, dalam keadaan yang ramai penuh dengan hingar bingar pesta, Emak memilih menyudut di dapur berpura-pura menyiapkan makanan untuk sekedar menyembunyikan airmatanya dari Cinta. Juga saat bulan puasa lalu lebaran tiba, Emak dengan pandai menyembunyikan kesedihannya seperti Cinta yang juga sudah lihai membaca isi hati Emak. Tentang Ayah, bagi Cinta hanyalah airmata Emak. Tapi untuk Emak, perempuan setengah baya itu selalu berpikir Ayah adalah dunianya. Dan Cinta tak ingin mengubah pemikiran Emak. Biarlah, suatu hari nanti Emak akan sadari sendiri hal itu.

Ayah memang pernah datang. Tepatnya saat ia membawa kabar kematian istri yang lebih ia pilih dibandingkan Emak. Tapi tidak untuk membawa pulang Emak dan Cinta. Hanya sekedar memberitahu, sebelum berlalu begitu saja. Seperti burung yang terbang, singgah sesaat menyampaikan cerita lalu pergi dan menghilang.

Sampai suatu saat, sepulang kuliah, Cinta melihat Emak duduk tertunduk di depan rumah. Dalam sedetik Cinta tahu sesuatu telah terjadi dan ia melangkahkan kakinya selebar serta secepat mungkin untuk menyongsong Emak.

“Ada apa, Mak?” tanya Cinta tanpa mengucap salam.

Emak mengangkat wajah. Matanya sembab dan basah. “Ayah, Cin… Ayah!” jawab Emak di sela isaknya.

Cinta diam. Seharusnya ia ingat. Airmata Emak selalu tentang Ayah. Cinta berjongkok di depan Emak, menggenggam tangannya dan bertanya. “Ayah kenapa?”

“Ayahmu sakit, Cin. Kata anaknya, dia ingin kita menemuinya.” Emak menyusut airmatanya yang justru makin deras berjatuhan. “Untuk… untuk yang terakhir kali.”

Entah berapa lama Emak menahan tangisnya karena inilah pertama kalinya Cinta melihat wajah Emak yang berbeda dari biasa. Kali ini ia tak lagi menahannya. Tiada ketenangan lagi di wajah itu. Yang tersisa hanya airmata, kerut merut menahan kekalutan dan pucat pasi sarat emosi. Emak menumpahkan segalanya begitu saja. Tanpa peduli tanda tanya di hati Cinta. Untuk apa menangisi laki-laki yang tak pernah peduli akan keadaan mereka selama ini?

***

“Ayahmu hadir di saat terindah dalam hidup Emak, Cinta. Dia mengangkat Emak dari jurang hitam yang kelam. Seorang penjaja cinta jalanan yang hanya mengenal kasih sayang semalam, tanpa mengingat wajah, apalagi membaca hati. Yang Emak pedulikan saat itu hanya mendera nafsu orang lain agar kantong Emak berisi.”

Cinta terperangah. Hatinya mencelos turun hingga ke perut. Kaget, marah, kecewa dan bingung berkecamuk menjadi satu.

Emak menunduk. Sejurus kemudian kembali mengangkat wajah. Memejamkan mata untuk mengingat masa lalunya. “Dan Ayahmu, seorang suami dan Ayah seorang putri yang manis, dia hanya seorang pemilik toko buku yang setiap malam di depan tokonya itu menjadi tempat Emak mangkal. Setiap hari saat Emak mulai bekerja, Ayahmu baru akan pulang. Setiap hari pula, Ayahmu meminjamkan Emak buku-buku yang menurutnya cocok untuk Emak. Buku tentang bagaimana memahami kebahagiaan, buku tentang kesehatan dan bahaya pekerjaan yang Emak alami, buku tentang hidup yang bisa membuat seseorang merasakan ketenangan dan entah apalagi. Setiap hari kami hanya bersapa seadanya, karena Emak malu menggoda lelaki sebaik Ayah. Tapi itulah cinta itu, Cinta. Tak ada sentuhan, tak ada mata yang saling menggoda. Hanya hati yang bicara dan tersentuh kasih sayang. Emak jatuh cinta. Untuk pertama kalinya Emak merasakan cinta, dan untuk pertama kali pula Emak sadar rasanya ingin memiliki cinta itu sepenuhnya.” Senyum Emak membayang. Ia tak melihat getar tangan Cinta yang mulai mencari pegangan.

“Gayung bersambut karena ternyata Ayahmu pun merasakan hal yang sama. Gelora asmara yang menggebu itu, menutup mata Ayah dan Emak saat itu. Kami menikah secara diam-diam tanpa diketahui oleh istri Ayahmu. Ayah bahkan menghilang sesaat, lari bersama Emak ke kampungnya di desa. Dia meninggalkan kewajibannya untuk mengurus anak dan istrinya karena Emak.”

Pelan-pelan dua butir airmata jatuh lagi di pelupuk mata Emak. Cinta tak berani memotong kata-katanya, meski ingin sekali ia menutup telinganya. Rasanya ia tak percaya mendengar semua pengakuan Emak.

“Pernikahan kami ditentang. Juga oleh orangtua Ayahmu, oleh Kakekmu terutama. Ayah bahkan diminta memilih, antara Emak atau keluarga besarnya. Ayahmu tak bergeming. Dia tetap ingin di samping Emak, dan kami pun menyewa sebuah rumah kecil di desa Ayahmu. Sampai nenekmu datang bersama putri Ayah, memohon agar Ayah kembali pada keluarganya. Emak tak tega, Cinta. Emak merasa sangat egois jika membiarkan lelaki sebaik Ayah kehilangan begitu banyak dan melakukan banyak dosa terutama dosa karena melawan keinginan ibu kandungnya. Dan Emak meminta Ayah untuk kembali pada keluarganya. Saat itu, Ayahmu masih mencoba untuk tetap mempertahankan Emak dengan berjanji kalau ia akan meminta izin pada istrinya. Emak bersedia menunggu.”

Hening. Cinta mengingat rumah kecil di desa itu. Tak jauh dari rumah sepasang kakek nenek yang selalu rajin menyapa Cinta tiap pulang sekolah. Mereka juga sering menyelipkan uang jajan ke tangan Cinta dan setiap kali Cinta bercerita pada Emak tentang kebaikan hati mereka, Emak hanya tersenyum. Tak pernah ada penjelasan siapa mereka. Bahkan sampai mereka pindah ke kota. Hanya yang diingat Cinta, Nenek itu sempat mengejar mobil yang mereka tumpangi untuk pergi, Emak meminta supir berhenti dan si Nenek memeluk Cinta begitu erat. Seperti seorang Nenek yang berat melepas cucunya. Mata Cinta terasa berat dengan kaca-kaca bening yang menutupinya.

“Tapi meski hari-hari berlalu, Ayahmu tak pernah datang. Sampai Emak mengandung dirimu. Emak takut. Emak bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Emak tak mau mengotori cinta Emak lagi dengan pekerjaan hina. Karena itulah Emak mencoba menemui Ayah. Emak diterima dengan baik, hanya saja istri Ayahmu tidak mau kami meneruskan hubungan dan meminta Ayahmu menceraikan Emak. Karena kalut, Emak marah dan mengancam akan membuka semuanya termasuk kehamilan Emak di hadapan semua orang. Istri Ayahmu terkejut dan akhirnya mengizinkan walaupun kelihatan sekali dia tidak rela. Itulah mengapa, kami tetap menjadi suami istri tapi tak pernah bersama hingga usiamu remaja meskipun Emak harus tetap tinggal di desa.”

Tetap saja, Cinta tak bisa melupakan hari-hari sepanjang masa kecilnya. Tak sekali pun Ayah datang menjenguk mereka. Bahkan ketika suatu hari, Cinta memaksa untuk menemui Ayah di hari lebaran malah Ayah sendiri yang mengusir mereka berdua. Hari di mana Emak menjelaskan makna cinta yang dimiliki Ayah.

“Lama sekali baru Emak tahu, istri Ayahmu sakit parah. Kanker hati. Dan ia sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang suaminya secara utuh. Saat itulah Emak memutuskan menerima permintaan cerai Ayahmu. Ayahmu sempat menolak saat itu karena istrinya sudah tak lagi meminta. Tapi Emaklah yang memaksa, agar Ayahmu tak pusing memikirkan kita berdua dan menambah bebannya. Walaupun ternyata setelah kami bercerai, tak seharipun Ayahmu membiarkan kita kelaparan terutama dirimu, Cinta. Dulu Ayahmu pernah datang setelah istrinya tiada, ingin kembali menjadi keluarga yang seutuhnya setelah putrinya pun telah menerima kehadiran kita. Tapi rasa bersalah di hati Emak tak pernah berhenti pada almarhumah istri Ayahmu, untuk merampas kebahagiaan singkatnya dan untuk mengacaukan kehidupannya. Hanya saja, Emak tetap tak bisa berhenti mencintai Ayahmu, sedikitpun tak pernah,” Tangan Emak bergerak menyentuh kaca jendela di hadapan mereka berdua. Melihat ke dalamnya dengan mata penuh kerinduan.

Airmata Cinta yang tak pernah jatuh untuk Ayah, kini mulai membasahi kedua pipinya. Ia menatap melalui jendela kaca bening yang memperlihatkan seorang laki-laki tua terbaring dalam balutan selimut putih, bernafas dengan selang di mulut dan hidungnya, sementara beragam peralatan bantuan kesehatan menyala di sekitar tempat tidurnya. Dia Ayahnya. Lelaki yang mencintai dirinya di kejauhan dalam keheningan bahkan hingga di saat terakhirnya. Cinta mulai mengingat kado-kado misterius tanpa ucapan yang berserak di mejanya, tiap kali ia juara kelas, tiap kali ia ulangtahun, saat ia lulus SMA dan saat ia mendapat beasiswa untuk kuliah. Tanpa pengakuan dari Emak, Cinta tahu itu pasti dari Ayah.

Cinta menoleh, tampak seorang gadis berdiri tak jauh dari mereka. Juga sedang menangis diam-diam. Sekali lihat Cinta bisa menebak, itulah saudari tirinya. Rambut panjang lurus hitamnya sama seperti Cinta, kulit mereka pun sama warnanya meski ada tambahan kacamata di wajah tirusnya tapi jika Cinta dan saudarinya itu berdiri bersisian pasti akan banyak orang yang mengira mereka saudara kembar. Nyatanya, mereka hanyalah dua anak berayah sama yang dilahirkan dari ibu berbeda.

Seperti merasakan tatapan padanya, saudari tiri Cinta menoleh. Awalnya ia melihat Emak, lalu berpindah menatap Cinta. Mereka saling bertatapan. Bukan untuk memamerkan kemarahan atau kemenangan, hanya ingin tahu, mencari kesamaan dan perbedaan sebelum akhirnya menyadari satu hal. Siapapun, mereka bersaudari dan itu tak bisa diganggu gugat. Darah yang mengalir di tubuh mereka berasal dari satu Ayah yang sama, Ayah yang kini terbaring sekarat di dalam ruang berkaca jendela bening itu. Saudari tiri Cinta mendekat. Suara kakinya yang berbalut sepatu tinggi delapan senti mengetuk pelan di lantai dingin rumah sakit.

“Emak?” tanya gadis berbaju biru muda itu ramah sambil tersenyum.

Emak mengangguk. Juga tersenyum. Tulus.

“Aku Kiara, Mak. Yang kemarin menelepon Emak. Dan ini… ” Ia mendongak menatap Cinta. “Pasti Cinta adikku, bukan?” tebaknya. Kaki Cinta terdorong mundur mendengar kata-kata yang begitu lembut, tapi tajam menohoknya hingga ke relung hatinya yang terdalam.

Ia memanggilku adik? Dengan suara yang lembut? Dengan mata yang menahan rindu? Mana kemarahan dan penghinaan yang seharusnya kudapatkan?

Jawabannya tertahan karena tiba-tiba serombongan perawat berlari masuk bersama dokter menuju ruang ICU tempat Ayah dirawat. Senyum Kiara lenyap seketika dan seperti Emak, ia langsung menempelkan wajah di depan kaca dan sibuk memperhatikan apa yang terjadi di dalam.

Tubuh Ayah yang bergelung selimut putih itu nampak bergoyang kejang-kejang, dokter mengeluarkan beberapa alat dan mulai memeriksa tubuh Ayah, para perawat sibuk mengecek semua peralatan bantuan yang mengelilingi Ayah. Suara-suara mereka silih berganti saling melaporkan, ditingkahi berbagai perintah sang dokter. Dua tiga kali tubuh Ayah bergoyang, diperiksa, disuntik sampai kemudian dokter nampak berdiri kaku, menggelengkan kepala. Para perawat mulai melepas semua alat bantu dan terakhir mereka menutupi tubuh Ayah dengan selimut putih hingga ke kepala.

Teriakan menyayat hati dari suara Emak yang selalu bersuara lembut itu terdengar, bersama jerit Kiara yang hampir tersuruk jatuh. Tapi keduanya seperti dikomando, berlari masuk ke ruangan itu dan memeluk jasad Ayah yang kini diam tak bergerak.

Tidak untuk Cinta… Ia tak punya tenaga untuk melangkah. Ayah.

***

pelangi
pelangi

Belasan tahun sebelumnya, di jalan setapak di desa kecil yang indah, saat hujan baru saja usai.

Emak dan Cinta berjalan bergandengan tangan menikmati suasana sore yang cerah, dengan sisa-sisa air hujan yang masih menggenang di mana-mana. Saat itu tanpa sengaja mereka melihat pelangi di langit yang biru. Besar dan indah.

“Pelangi itu indah, kan? Seperti itulah cinta, Nak. Ada warna biru, seperti langit yang menenangkan hatimu. Ada warna merah seperti bara api yang membakar, ada warna hijau yang menyejukkan, ada warna putih yang sangat terasa ketulusannya, ada warna kuning yang membuat kita gembira. Atau warna ungu yang penuh misteri, tak bisa diduga.”

“Banyak sekali warnanya, Mak. Cinta jadi tak bisa menghafalnya nih! Ulangi dong! Ulangi sekali lagi!” Cinta melompat-lompat kecil dengan riang.

Emak menunduk, tersenyum manis. “Tidak perlu, Cinta. Hanya perlu hati yang sangat luas untuk memahami warna cinta, tak perlu dihafal. Hati yang luas itulah yang akan memberitahumu. Cinta punya banyak warna, nikmati saja dan syukuri semua warna yang mengiringi semua cinta yang kau akan dapatkan. Hati yang luas itu akan memiliki banyak ruang untuk menyimpan dan memahaminya satu demi satu, dan karena perbedaan warna itulah maka nanti kau akan merasakan keindahannya. Keindahan pelangi cinta.”

“Cinta sebesar ini ya Mak?” Cinta membuat lingkaran bayangan dengan tangan kanannya. Emak menggeleng.

“Tidak bukan sebesar itu.” Lalu Emak membuat lingkaran lebih besar dengan kedua tangannya. “Sebesar ini!”

Mata Cinta membulat, sebelum tawanya pecah mengiringi tawa Emak.

*****

455bcd2f270301e27c60a42c1a6c4ffe999614aa5eaee33760

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.