Tulisan Terakhir

Wakil Rakyat Atau…

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang. Dengan tergesa, aku mengeluarkan uang dari dompet dan menyodorkannya pada si penjual sayur yang sibuk memasukkan sayur-mayur yang telah kupilih. Saat hitungan si penjual sayur berhenti melewati angka lima puluh ribu lebih, aku ternganga.

“Mahal banget sih, Bang! Baru kemarin saya beli gak segitu deh,” protesku.
Si Abang tertawa miris. “Kan BBM udah mau naek, Bu!”
“Yaah, kan naeknya masih belom tentu, kok ngefeknya langsung sih?”
“Harga barang udeh naek sejak kenaikan BBM baru desas desus, Bu. Udeh, Ibu mau beli kagak sih?” Wajah si Abang kelihatan mulai tampak kesal. Aku menghela nafas dan kembali membuka dompetku, menambah jumlah uang sesuai dengan hitungan si Abang tadi.
Setelah mengambil tas plastik yang telah berisi sebagian dari isi catatan belanjaku, aku memilih berdiri di pinggir toko sambil membaca catatanku sebentar. Masih panjang daftar bahan makanan yang harus kubeli, tapi aku tahu ada beberapa bahan yang takkan bisa kubeli hari ini. Anggaran belanja melebihi perkiraanku dan sekarang aku berpikir keras bagaimana mengantisipasi kenaikan harga yang tiba-tiba ini. Mungkin aku harus mengurangi sedikit jumlah bahan makanan yang harus kubeli agar aku masih bisa membeli semuanya.
Aku masih berpikir menyiasati kenaikan harga ketika dari ujung los bagian penjual ikan terdengar suara seseorang sedang marah. Rasa ingin tahu membawaku mendekat. Seorang nenek tua tampak tertunduk di hadapan abang penjual ikan yang menenteng sebuah plastik berwarna hitam. Wajah si penjual ikan tampak merah padam. Menahan marah.
“Pokoknya Ibu harus bayar! Tadi Ibu kan sudah pesan! Ini sudah terlanjur saya potong-potong eh Ibu bilang gak jadi,” kata si Penjual ikan menyodorkan plastik itu dengan suara keras.
“Tapi uang saya gak cukup, Mas!” Nenek tua itu menatap uang yang bergulung-gulung di tangannya.
“Yah, kalau gak cukup kenapa harus pesen? Ini siapa yang mau beli sekarang?” bentak si Penjual itu lagi.
“Lagian harganya mahal banget sih, Mas?” bisik si Nenek itu lagi.
“Loh, kok ibu protesnya sama saya? Protes tuh sama Pemerintah. Saya ini juga korban, Bu. Saya mana mau naikin harga, sekarang aja dagangan saya sepi! Tapi kalau gak naikin, saya mau nutupi rugi dari mana?”
“Kasian Bang, kasih murah aja, Bang! Nenek-nenek begitu.” Seorang Bapak berusaha menengahi.
Si Penjual menatap tajam pada si Bapak. “Enak saja! Kasian, kasian, terus siapa yang kasianin saya?”
“Sudah, sudah… ini buat gantiin pesanan ibu itu deh. Sudah jangan ribut!” Kali ini seorang Ibu muda mendekat dan membayar dengan uangnya sendiri. Si penjual ikan itu mengangguk, menyodorkan plastik itu pada si Ibu muda. Ibu muda itu mengambil lalu menyerahkan pada si Nenek. Terdengar ucapan terima kasih berulang kali dari bibir si Nenek. Aku tersenyum lega melihat penyelesaian yang berakhir baik itu.
Dua orang Ibu berkerudung berdiri di dekatku, salah satunya berbisik. “Yah, yang salah bukan siapa-siapa. Tapi Pemerintah!”
“Pemerintah iku sopo toh?” tanya Ibu yang lain, setengah menahan tawa.
“Tau deh! Ngakunya sih wakil rakyat kalo lagi pemilu, tapi kalo sudah jadi eh malah lebih mirip penjajah!”
“Hahaha… Nah loh situ ikut milih juga kan?”
“Iya ya, berarti kita ini bego ya, memilih penjajah untuk diri kita sendiri.”
Tawa mereka berdua terdengar saat melewati diriku. Aku juga tersenyum mendengar lelucon mereka. Bukan karena merasa lucu, tapi karena merasa miris. Sama seperti mereka, aku juga memilih. Tapi justru pilihanku itu kini menjebakku dalam jurang kesulitan keuangan.
***
“Mamaaaah! Ini ayam goreng apa? Kok kecil amat sih?” tanya putriku sambil mengangkat daging ayam goreng yang baru saja dipindahkannya ke piring. si Abang, adiknya juga nampak bingung memandangi bagian daging ayam gorengnya sendiri.
“Udah makan saja. Kan lebih enak, makin kecil makin cepat dikunyahnya. Gak cape!” jawabku berusaha tersenyum menenangkan sambil tetap menyuapi adik mereka yang terkecil. Juga tampak bingung melihat kecilnya potongan daging yang kuberikan di genggamannya.
“Yee, ini sih sekali telen. Mana berasa? Boleh nambah kan, Ma?”
Aku mengangguk. Tapi tatapan putriku malah tampak makin kesal, ketika melihat piring ayam goreng yang berada di tengah-tengah meja makan. “Mau nambah juga gak cukup, Ma. Kecil-kecil semua!”
“Kalian ini, makan saja dulu. Belum tentu juga kalian bisa menghabiskan semuanya. Nanti kalau masih ada, yah habiskan saja. Jangan protes terus! Ingat, masih banyak yang lebih susah daripada kita. Harusnya kalian bersyukur, masih bisa makan enak hari ini.” Ayah yang dari tadi diam saja akhirnya buka suara. Kalau Ayah sudah bicara, kami semua pun diam.
Tentu saja, ada perasaan bersalah saat mendengar protes anak-anak. Tapi apa mau dikata. Meski sudah mencoba berpikir, memutar otak untuk menyiasati kenaikan harga bahan makanan agar tidak mengganggu kebutuhan rumah tangga, tetap saja aku terpaksa melakukan pengurangan di sana-sini, termasuk mengurangi besar daging ayam goreng yang dikonsumsi anak-anak.
“Kalian ingat Kakek pernah cerita bagaimana dulu waktu zaman Indonesia baru merdeka?” tanya si Ayah, saat kami telah selesai makan dan aku sedang mencuci piring. Anak-anak yang juga masih duduk bersama Ayah mereka di meja makan langsung mengangguk.
“Beras sangat jarang, kalaupun ada juga mutunya jelek dan tak sebagus beras yang ada sekarang. Sebagian orang malah makan singkong atau jagung sebagai pengganti beras. Roti itu adalah barang mahal dan hanya orang yang benar-benar kaya yang makan. Jadi harusnya kalian tidak boleh protes hanya karena jatah makan yang berkurang sedikit.”
“Tapi itu kan zaman dulu, Yah. Waktu Indonesia baru merdeka. Sekarang kan kita sudah merdeka lama banget. Masak masih disamain seperti dulu? Terus buat apa bangun ini itu? Uang yang dihasilkan negara ini di kemanain? Anak-anak yang disekolahin selama ini ke mana semua? Kok mereka tidak bisa mikirin gimana caranya supaya kita gak seperti zaman dulu?”
Suamiku terdiam. Senyumku membayang. Kata-kata Kakak benar. Rasanya kok ya tak pantas negara yang sudah merdeka puluhan tahun masih berkutat pada masalah yang sama dan tak pernah selesai. Tapi seperti anak-anakku, aku juga hanya bisa bertanya dan tak pernah bertemu jawabannya.
***
“Lama-lama aku mau deh jadi wakil rakyat. Capek milih wakil rakyat, tapi mereka sendiri hanya mikirin diri sendiri kalau sudah benar-benar jadi wakil rakyat,” keluh Ayah ketika kami hanya tinggal berdua. Di depan kami, televisi menayangkan perdebatan panjang mengenai kenaikan BBM.
“Memangnya Ayah sudah bisa nyetor 25 juta untuk partai?” sindirku.
“Yaaah… “Ayah hendak menjawab tapi ia malah terlihat bingung.
“Lagian ya, Yah. Mama lebih suka begini, pusing ngurusin dapur dan rumah dibandingkan nanti pusing ngurusin pashtun-nya Ayah.”
“Itu kan gak semua orang, Mah.”
Aku menoleh, menatap suamiku. Lebih tegas dengan sorot mata tajam. “Pokoknya tidak boleh! Jadi rakyat yang baik saja. Pilih wakil rakyat yang tidak bikin anak-anak kita kelaparan. Pilih yang tidak mengedepankan pashtun dibandingkan perut rakyatnya. Sudah! Selesai!” kataku sambil mengibaskan kedua tanganku di dada, menandakan bahwa pembicaraan kami tentang wakil rakyat sudah selesai termasuk mimpi suamiku mengecap dunia politik. Aku berjalan menuju dapur, sementara terdengar tawa suamiku mengiringi langkahku.
*****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.