Tulisan Terakhir

Hidup Dalam Akuarium

Hidup Bagai Akuarium

Seperti ikan?

Ya… itulah kalau kita menjadi terkenal. Tanyalah para selebritis atau para politikus yang sedang terkenal saat ini. Mereka pasti setuju dengan kesimpulan saya di atas, bahwa orang yang dikenali banyak orang itu hidupnya bagai di akuarium. Hidup diperhatikan mulai dari makan, pipis sampai tidur. Tak ada sisi yang tertutupi karena hampir semuanya menjadi bahan tontonan.

Namun, seperti semua selebritis itu berkata bahwa tak semuanya menikmati. Tidak juga saya. Dan itulah penyebab saya menghilang, pelan-pelan. Dengan alasan kuliah yang memang makin menyita waktu, anak-anak yang mulai lebih sibuk dengan kegiatan sekolah dan luar sekolah (note” anak-anak bersekolah di tiga sekolah berbeda dan tiga les berbeda) dan suami yang juga mulai disibukkan dengan dua jabatan. Meski tak terlalu membantu secara langsung, tanpa bantuan asisten rumah tangga, saya mencoba berada di belakang anggota keluarga saya agar kebutuhan mereka di rumah bisa dipenuhi tanpa terganggu.

Menulis tak perlu waktu lama untuk saya. Dalam lima menit, kalau ide sedang mengalir lancar maka sekejap saja sebuah karya dilahirkan. Tapi itulah tadi kenapa saya memilih pelan-pelan mengurangi kegiatan. Hidup dalam akuarium ternyata tak cocok untuk saya. Saya manusia biasa yang punya batasan dimana kadang-kadang bersikap norak, mengambil keputusan yang tak selalu benar, bercanda berlebihan, cerewet bahkan saya suka bersikap seperti anak kecil dan manja.

Ketika mulai menjadi blogger, saat itu saya hanya ingin menulis dan menulis. Tak menyangka setelah itu tulisan saya menjadi bahan pembicaraan orang-orang bahkan sampai ke teman-teman lama, yang satu persatu justru kembali bertemu karena blog. Lalu ketika akhirnya saya mendapatkan keuntungan, saya mulai mengikuti arus itu. Dan siapa menyangka tak sampai setahun, saya sudah bisa kuliah lagi dengan biaya yang saya bayar sendiri dari hasil menulis. Hobi yang akhirnya mengantar saya kembali melanjutkan cita-cita.

Tapi…

Seiring kenikmatan itu, ada beban lain yang mengikutinya. Saya jadi harus pandai-pandai menulis status di Facebook agar tak terkesan childish atau menyinggung perasaan. Saya tak boleh marah, tak boleh galau, bahkan tak boleh salah. Suatu ketika saya menunjukkan kekesalan saya, banyak yang langsung menegur bahkan kemudian men-delete. So?

I am a mother. Kadang-kadang saya juga suka pamer kehebatan putra-putri saya (yang memang hebat-hebat!) dan seperti semua istri, sekali-sekali saya juga suka menunjukkan rasa cinta saya pada suami. Facebook adalah tempat saya membagi emosi dan foto-foto keluarga. Saya seorang perantau dari Kalimantan, dan dibesarkan di sana maka secara otomatis saya meninggalkan sebagian hidup saya, sebagian teman-teman terbaik di sana. Wajarlah ketika saya berbagi foto di Facebok, dimana teman-teman saya dari SD (Bahkan TK) berkumpul di sana. Sayang, sebagian orang yang tak mengenal saya secara pribadi bahkan bertatap muka secara langsung menganggapnya sebagai pamer. Even.. if that happen, what’s the matter? Kalau menurut saya itu patut dibagi, karena hidup dengan benar itu tak selalu bicara tentang kesempurnaan, tapi bagaimana memberitahu dunia bahwa kita bisa bahagia dengan cara-cara yang sederhana dan menginspirasi orang lain, Why not?

Dan saya mulai tak suka dikenali orang. Tidak ketika buku pertama yang saya tulis akhirnya diterbitkan dan justru memilih menggunakan nama lain. Tidak lagi terlalu aktif menulis di blog ini, dan mulai membuat blog-blog lain. Hasilnya, saya lebih nikmat. Meski tulisan jadi HL di media lain, saya tak punya beban.

Ekspresi yang saya gambarkan, emosi yang saya curahkan dan bahkan ketika itu adalah sesuatu yang negatif tak lagi menjadi masalah. Saya adalah saya, walaupun terbungkus oleh identitas lain. Saya keluar dari akuarium itu.

Sampai kemarin…

Orang-orang yang mencintai saya, suami dan keluarga yang paling dekat dengan saya, mencoba mengingatkan bahwa nama yang saya genggam selama ini bukanlah nama buruk. Tapi justru membuat saya akhirnya… selalu bersikap menjadi baik.

“Kau memang hidup seperti di akuarium, tapi bukankah itu bagus? Setidaknya dengan begitu, ada banyak orang yang berdiri mengawasimu agar tak berbuat kesalahan. Memang hidup tak selalu sempurna. Tapi itu akan mem-filter orang-orang yang benar-benar setia dan sayang padamu. Mereka yang tak bisa menerima ketidaksempurnaanmu dan memilih pergi, memang lebih baik begitu. Lebih baik mereka pergi karena itu bukan teman atau penggemar yang baik. Kalau perlu, hapus mereka dari Facebook bahkan mungkin hidupmu. Kamu adalah kamu. Jangan takut berekspresi!”

Saya masih belum mengambil keputusan, tapi mulai memberanikan diri untuk kembali menulis di blog utama ini. Juga masih belum berani memasang widget akun Facebook saya lagi. Nanti… ketika saya bisa berpikir jernih. Hari ini mencoba menjadi diri sendiri, mencurahkan apa yang menjadi penyebab saya sempat berpikir angkat koper dan sekarang mencoba untuk berbagi, semoga kopernya terlalu berat hingga saya tak jadi pindah..

Mudah-mudahan…

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.