Cerita Pendek, Fiksi

Melihat “Kebahagiaan” Sesungguhnya…

Sudah setengah jam aku menanti di salah satu restoran di BHG ini, tapi istri dan putra-putriku belum juga muncul. Daripada berada di kamar, aku lebih suka menunggu di sini. Sesekali menengok keluar, menyendok sesuap Salad, menikmati keramaian para wisatawan dari mancanegara. Apalagi di kawasan Bugis Junction ini, aku sering bertemu dengan sesama wisatawan Indonesia.

Restoran keluarga ini masih agak lengang ketika tadi aku masuk, baru menjelang makan siang tadi suasana mulai berubah. Campur aduk orang yang datang tetap tak mengurangi kenyamananku menunggu sambil makan ala kadarnya. Bukan karena kelezatan yang menjadi alasan datang ke tempat ini. Aku suka tempat ini karena sedikit lebih tenang dan tempat yang baik untuk menunggu.

Putra-putriku sudah dewasa. Jay, si sulung sekaligus putraku satu-satunya kini sudah bekerja sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan konstruksi, sedangkan Mandy memilih berkecimpung di dunia model sejak setahun silam. Ia bahkan dengan berani memutuskan cuti kuliah sementara. Mandy adalah putriku satu-satunya sekaligus si bungsu yang luar biasa keras kepalanya.

Ini liburan kami yang entah keberapa kalinya. Terkesan membosankan karena sudah terlalu sering. Tapi tidak bagi kedua anakku dan terutama Anita, istriku. Buat mereka, Singapura adalah tempat yang takkan pernah habis diekplorasi. Meski sepulang dari sini, seringkali mereka kecele. Menemukan barang-barang yang mereka buru susah payah di Singapura, yang ternyata terpajang di kawasan Tanah Abang atau Glodok dengan harga yang lebih murah.

Seorang ibu berjilbab masuk sambil menggendong seorang anak balita, di belakangnya membuntuti seorang remaja perempuan berjilbab dan seorang pria yang segera kutebak adalah si suami yang sedang menggandeng seorang anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun. Mereka memeriksa sekeliling ruangan sebelum duduk di salah satu sudut ruangan. Suasana agak berisik ketika mereka bercakap-cakap dalam bahasa campur aduk antara si Ibu yang berlogat jawa medok dan Ayahnya yang berlogat Sunda, sementara anak-anak mereka justru lebih kental dengan logat betawi. Dengan sekali tebak, aku sudah tahu mereka pasti orang-orang Indonesia yang baru pertama kali menginjak kaki di Singapura. Kehebohan ditingkahi kebingungan dan sikap canggung itu sudah bukan hal yang asing yang sering kusaksikan di sini. Meski aku tak melihat mereka secara langsung karena posisiku memunggungi meja mereka, tapi aku bisa mendengar dengan jelas setiap percakapan di meja mereka.

Seorang pelayan mendekat, memberi mereka daftar menu dan suara si Ayah dalam bahasa Inggris yang lumayan baik memesan menu untuk keluarganya.

“Wis, Ayah dah pesen sesuai keinginan kalian? Tunggu yo, Kiddos!” ujar si Ibu dengan logat jawa medoknya.

Aku tersenyum. Baru juga sekali datang, sudah sok memanggil anak-anaknya dengan bahasa Inggris Amerika.

“Yah, Yah, entar ke Cinatown dong! Aku pengen beli oleh-oleh buat sobat-sobatku nih.” Suara anak perempuan. Tanpa melihat, aku tahu ini pasti si remaja perempuan itu. Anak perempuan di mana-mana sama saja. Putriku juga seperti itu. Yang dipikirkan pertama hanyalah oleh-oleh.

“Ho oh! Sabar ya, Neng! Makan dulu. Nanti saja kalau kita sudah mau pulang baru ke sana.” jawab si Ayah sabar.

Percakapan mereka ternyata seputar pengalaman mereka selama berada di Singapura. Ternyata mereka sudah mengunjungi Merlion Park, Esplanade, dan Marina Bay Sands. Anak laki-laki itu terdengar paling antusias saat menceritakan saat-saat ia melewati jembatan DNA, yang seperti DNA string itu. Aku jadi ingat betapa kesalnya Mandy ketika aku mengajaknya berjalan kaki melalui jembatan itu. Capek katanya. Rasanya sudah lama sejak peristiwa itu aku tak pernah lagi jalan-jalan bersama keluargaku sekedar menikmati pemandangan Singapura yang menjadi kawasan Asia yang maju pesat. Setiap kali datang, jadwal yang disusun keluargaku hanyalah belanja dan belanja.

“Tapi kamarnya sempit banget ya Bu.” Tiba-tiba si anak laki-laki mengeluarkan protes.

“Eeh, gak boleh gitu toh Mas. Sudah syukur kita punya tempat menginap yang bagus dan bersih. Murah lagi! Mas harus ingat loh, kita bisa sampai ke sini itu karena dari Allah, jadi setiap yang kita terima harus disyukuri. Ngerti, Mas?” Suara si Ibu dengan bijak mengingatkan

“Hehehe… Iya, Ibu bener.”

“Kalau tak ada rasa syukur…” ucap si Ibu dan berhenti.

“Maka tak ada kata cukup,” sambung kedua anak dan sang suami bersamaan. Derai tawa mereka pun pecah. Suasana meja makan itu terdengar makin meriah.

Aku tertegun. Kata-kata itu seperti menohok diriku.

“Yaaah, Bu. Ini Nasi gorengnya pedas. Angga gak bisa makan.”

“Mmm… Gimana nih, Mas? Tukar menu saja deh. Ayah, bisa minta tolong panggilin pelayan yang itu?”

Aku memutar tubuh, ingin membantu mereka. Siapa tahu mereka tak bisa menyampaikan keinginan mereka pada si pelayan. Ternyata kali ini justru si Ibu berlogat jawa itulah yang berbicara.

“I am sorry, but could you please pack this food? I will bring it to our hotel. This food is delicious, but please make new one without chili. My son cant eat the spicy food. Could you do it for us?”

“Yes, Mam. I will. I am sorry for your inconvenience.”

“No, no. That’s OK. This is our fault,” jawab si Ibu lagi sambil tersenyum dan si pelayan pun berlalu.

Masih dengan senyuman, Si Ibu pun kembali menoleh pada putranya. “Tunggu ya Nak. Sabar!”

“Ibu ini, bukannya dimarahi malah nyalahin diri sendiri. Jelas-jelas tadi Ayah mesennya yang gak pedas.”

“Sayang, kita ini kan gak terlalu pandai bahasa Inggris. Siapa tahu, tadi Ayah keselip Inggrisnya. Yaaah, sudah diterima saja. Toh gak seberapa. Kasihan kan orang sudah capek-capek masakin buat kita.” Kali ini si Ayah yang memberikan alasan.

Anak-anaknya hanya menghela nafas. Mereka pun melanjutkan makan sementara aku kembali duduk dengan tenang. Kembali melanjutkan suapan saladku yang tertunda.

Tak lama si Pelayan datang. Ia ternyata tak datang sendirian. Ada seorang lelaki berpakaian putih bercelemek khas seorang Chef di belakangnya. Pria bertubuh tinggi besar itu datang membawa sepiring cake.

Mam, our Chef want to say sorry personally to you,” ucap sang Pelayan.

Sure.” Aku kembali mencuri pandang ke arah mereka. Jelas-jelas menggelitik melihat pemandangan tak biasa seperti itu.

Thank you so much for understand our mistake. I just check to your family’s order and we find out the mistake come from us. I am sorry, Mam,” kata si Chef setelah maju sedikit mendekat ke meja mereka.

Aaah, no problem. Please do not take to your heart. My family love our lunch today. Very good experience for us to have delicious food and nice place here. And… ” Si Ibu menatap penuh terima kasih pada si Pelayan dan Chef. “very nice service and comfortable. Thank you.

Aku bisa melihat betapa senangnya si Chef saat mendengar kata-kata si Ibu. Dengan gembira, ia mengungkapkannya sambil memberikan sepiring cake yang kelihatan lezat dan mengatakan itu sebagai tanda permintaan maafnya. Cake itu gratis. Wow! Berkali-kali aku dan keluargaku makan di restoran ini, belum pernah kami mendapatkan makanan gratis.

Kegembiraan keluarga kecil itu tampak terasa saat mereka menyantap kue itu beramai-ramai. Si Ibu membelah kue itu agar semuanya kebagian. Saat mataku tak sengaja bertemu dengan tatapan si Ibu (saking ingin tahunya, aku jadi tertangkap basah), si Ibu tersenyum ramah. Aku sedikit malu karena ketahuan dan memilih pura-pura menunduk menghabiskan salad.

Sir, this is from my mother. We hope you like it.” Tiba-tiba si anak perempuan datang dan menyodoriku piring kecil berisi kue. Aku menoleh pada si Ibu lagi, kali ini ia mengangguk dan aku pun berkata pada si anak perempuan itu.

“Sampaikan terima kasih saya, ya De. Kalian baik sekali,” ucapku tulus. Mereka memang benar-benar baik. Si anak perempuan tampak terkejut mendengar kata-kataku dalam Bahasa Indonesia. Ia mengangguk cepat dan kembali ke meja keluarganya. Saat ia bercerita kalau aku ternyata orang Indonesia, si Ibu dan Ayah juga terkejut. Tepat ketika aku menoleh lagi, mereka kembali melemparkan senyum.

Saat mereka telah selesai makan, aku memutuskan untuk berkenalan dengan keluarga itu. Aku langsung menyukai mereka sekeluarga. Memang benar, ini pengalaman pertama mereka jalan-jalan ke Singapura dan mereka cukup senang karena mendapat banyak pengalaman yang menyenangkan.

Sudah lama sekali, aku tidak berjumpa dengan orang-orang yang begitu bersyukur. Mereka menikmati jalan kaki yang menurut anak-anakku membuat lelah dan pegal sebagai sebuah perjalanan wisata yang takkan terlupakan. Mereka menikmati kamar hotel yang mungil yang disebut lemari oleh istriku sebagai sebuah kemewahan. Bahkan petualangan mereka mencari restoran halal menjadi terdengar menyenangkan bagiku.

Aku menawarkan diri mengantarkan mereka ke Chinatown, salah satu tempat terkenal di Singapura yang belum sempat mereka kunjungi. Mendengar itu, si anak perempuan tampak tertarik. Tapi sungguh mengagetkanku ketika mendengar apa yang ia maksud dengan teman-temannya. Bukan seperti teman-teman putriku yang notabene juga orang-orang yang mampu dan mereka memang sengaja menitip selusin barang untuk menambah koleksi yang mungkin sudah mereka miliki, tapi teman-teman yang dimaksud anak perempuan ini adalah anak-anak panti asuhan yang sering ia kunjungi bersama sang Ibu.

“Kan mereka pasti seneng tuh Om kalau dibawa-bawain kaos bergambar Merlion. Pasti heboh deh!! Walaupun gak bisa bawa mereka ke sini, tapi kalau bisa ngasih oleh-oleh paling nggak aku gak ngerasa bersalah udah ninggalin mereka.”

Aku tersenyum masam. Entah apa yang dipikirkan Jay, Mandy dan istriku kalau mendengar kata-kata mereka. Rasa bersalah takkan singgah kepala mereka, bahkan ketika membiarkan aku menunggu berjam-jam saat mereka berbelanja dengan asyik.

Melihat keluarga ini, aku jadi merindukan saat-saat anak-anakku masih balita. Ketika Anita baru punya satu toko kelontong kecil di dekat sebuah SD dan aku masih menggunakan vespa tua untuk mengantarkan barang-barang pesanan pelanggan di kantor tempatku bekerja. Kalau bukan karena warisan Papa, takkan mungkin aku bisa membangun usaha hingga bisa membawa keluargaku mendapatkan taraf hidup yang lebih baik. Kesibukan ternyata ikut merampas kesempatanku mengajarkan tentang nilai-nilai yang baik dalam keluarga.

Besok jadwal keluargaku ke Chinatown dan aku akan menyertakan keluarga ini bersama kami. Agar istri dan putra-putriku melihat, keindahan rasa syukur itu dan kebahagiaan sesungguhnya itu seperti apa. Melihat orang-orang yang bersedekah dengan tawa dan terima kasih yang tiada habis pada orang-orang di sekeliling mereka, lalu melihat bagaimana Allah membalas sedekah itu dengan begitu cepat. Sudah lama aku lupa mengingatkan keluargaku sendiri apa artinya sebuah liburan, artinya keindahan kebersamaan. Semua terhapus karena nafsu berbelanja dan semoga besok aku bisa memberikan setitik embun untuk hati keluargaku. Setitik harapan agar tawa tulus yang kudengar hari ini bisa kudengar dalam keluargaku lagi. Kebahagiaan sederhana yang mereka cari di antara belanjaan itu, ternyata dengan mudah didapat ketika setiap hal selalu dijalani dengan terima kasih pada Allah Maha Kaya.

Juga agar kami sekeluarga bisa memiliki dan menjalani motto yang sama seperti keluarga sederhana ini… Tak ada rasa syukur, maka tak ada kata cukup.

***

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.