Tulisan Terakhir

Bidadari Dalam Diam

google
google

Gadis itu melangkah dalam gang kecil sempit yang ramai, ada beberapa ibu-ibu sedang mengerubuti gerobak si tukang sayur, ada anak kecil berpakaian seragam sedang tertawa-tawa, bercanda sambil berjalan beriringan di depannya. Tampak sesekali motor melintas dan melewati gadis itu dipacu hati-hati oleh pengemudi yang berjuang menstabilkan kendaraannya di jalanan yang berbatu dan berlubang di mana-mana.

Gadis bernama Larasati itu tetap berusaha berjalan di tepi meski tubuhnya hampir bersentuhan dengan dinding tembok tinggi gedung besar yang berada di sebelah gang itu. Ia takut menghalangi jalan motor-motor yang mau lewat, ia kuatir tubuhnya tersenggol ibu-ibu yang berbelanja sambil mengobrol dengan asyik, ia takut kalau semua itu benar-benar terjadi dan terpaksa bersuara, anak-anak yang tertawa gembira di depannya akan ketakutan mendengarnya dan berlari di atas batu-batu tajam itu.

Bajunya terkena noda air AC yang jatuh menetes dari dinding gedung. Laras hanya tersenyum, menepuk sedikit untuk mencegah tetesan lain singgah ke pundaknya sambil bergegas melanjutkan langkah. Tak apalah, yang penting ia kini hampir sampai di depan gang.

Tepukan di bahu Laras membuatnya menoleh. Gadis manis itu tersenyum pada seorang ibu tua. Ibu penjaja nasi uduk keliling. Laras mengangguk hormat.

“Sudah sarapan? Mau beli?” Bibir si ibu bergerak-gerak bertanya sambil menunjukkan keranjang besar yang ditentengnya.

Laras kembali mengangguk. Tangannya mengambil uang dari dalam kantung seragam kerjanya. Lembaran lima ribuan pun berpindah ke tangan si ibu, yang menggantinya dengan salah satu bungkusan nasi uduk dalam kantung plastik kecil. Laras memasukkan plastik berisi bungkusan nasi uduk ke dalam tas ranselnya.

Dengan senyum tak lepas dari wajahnya, Laras kembali berjalan lebih ke tepi. Tepat saat itu melintas bis kota yang ia tunggu. Tangannya berayun-ayun menyetop dan dengan tergesa ia melompat naik. Belum lagi ia duduk, bis sudah kembali berjalan membuat tubuh Laras bergoyang. Tangannya mencengkeram kuat sandaran kursi penumpang sebelum menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi yang kosong. Bis bergerak pelan, sesekali berhenti ketika penumpang naik dan turun. Berganti-ganti. Tapi karena hari baru dimulai, lebih banyak yang naik daripada turun. Tak heran, tak sampai beberapa menit, bis kosong itu kini mulai disesaki penumpang.

Laras yang sedari tadi menatap keluar jendela, pun menoleh meliriki para penumpang yang berdiri. Seorang ibu hamil berdiri dekat pintu bis, tampak susah payah berpegangan dengan kedua tangannya. Wajah perempuan itu memerah. Sesekali ia memegangi perutnya seakan melindungi agar tak terjepit oleh tubuh-tubuh yang berdiri di belakangnya karena terdorong oleh gerakan bis yang kadang-kadang mengejutkan.

Seperti sadar sedang diperhatikan, tatapan Laras bertemu dengan si ibu hamil yang menoleh padanya. Laras tersenyum padanya dan memberi isyarat ‘mau duduk di sini?’ dengan gerakan tangan menunjuk ke kursi dan ibu muda itu pun mengangguk. Laras pun berdiri dan bergerak maju. Tapi seorang pemuda tanggung langsung menempati kursi kosong itu tanpa bertanya-tanya.

“Haaai!! Peegiii!!!! Iiittuuu!” Suara lantang Laras mengejutkan semua orang tak terkecuali si ibu hamil yang kelihatan shock. Laras tak peduli. Tangannya bergerak-gerak memberi isyarat menunjuk ke arah si ibu hamil dengan mata melotot pada pemuda itu. Tatapan terkejut orang-orang mendengar suara aneh keras yang dikeluarkan Laras pun beralih pada si pemuda. Pemuda itu tampak malu dan kembali berdiri. Lalu si ibu hamil pun duduk.

Si Ibu hamil menghela nafas lega sambil mengelus perutnya. “Amit amit jabang bayi,” bisiknya sambil menoleh ke arah lain. Tak sedikitpun si ibu hamil itu menatap ke arah Laras lagi. Mungkin dia takut anak yang dikandungnya akan seperti Laras hingga tak berani melihat ke arah Laras, meski sekedar mengucapkan terima kasih.

Laras hanya tersenyum. Kembali berkonsentrasi menatap jalan raya yang mulai macet. Ia sudah terbiasa. Ditatap dengan aneh bahkan terkesan jijik. Bahkan terkadang berusaha dihindari. Laras sudah tahu, inilah yang terjadi kalau mereka mendengar suaranya yang lebih terdengar seperti lenguhan.

Satu dua penumpang mulai turun. Laras mulai bersiap-siap dan memperhatikan halte yang telah dilewati. Dua halte lagi, ia akan sampai ke tujuannya dan Laras mengeluarkan uang koin dari sakunya.

Tepat ketika bis hampir sampai, Laras mengetuk-ngetuk koin ke salah satu besi sandaran kursi. Bis berhenti dan Laras pun turun dengan langkah cepat. Ia tak mau terjatuh lagi karena ketidaksabaran si sopir yang sedang mengejar setoran. Dulu ia pernah mengalaminya dan lama sekali luka karena kakinya yang patah bisa sembuh. Sekarang sesekali rasa ngilu selalu datang kalau ia terlalu banyak berjalan.

Di depan gedung kantor tempatnya bekerja, Laras berhenti dan matanya beredar mencari-cari. Seseorang yang dicarinya sedang duduk sambil berkipas, bersandarkan pagar tembok batu yang bertuliskan nama gedung di belakangnya. Laras mendekati lelaki berseragam oranye itu. Ketika sampai, Bapak itu menyadari kedatangan Laras dan tersenyum lebar. Laras membalasnya sambil mengeluarkan kantung plastik berisi nasi bungkus. Bapak itu menerimanya dan berterima kasih. Laras hanya tersenyum lalu kembali menuju gedung kantornya lagi.

Laras masuk melalui pintu pejalan kaki. Ada pos keamanan yang ia lewati sambil menunjukkan badge karyawan, seorang petugas mengangguk padanya sementara dua petugas lain sibuk memeriksa salah satu mobil yang sedang masuk.

Dekat pintu masuk, Laras berbelok. Memasuki sebuah pintu yang membawanya turun ke bagian parkir bawah tanah. Suasana masih sedikit gelap dan sepi. Hanya terlihat beberapa karyawan lain juga memasuki pintu yang sama. Tapi tidak seperti yang lain, Laras tidak langsung memasuki ruangan kecil tetap para petugas cleaning service berganti pakaian. Ia menuju ruang mushola kecil yang tampak berantakan. Tangannya yang mungil sibuk mengumpulkan mukena yang teronggok di sudut ruangan dan memasukkannya dalam plastik, merapikan buku-buku tuntunan sholat dan Al Qur’an yang dimasukkan dalam lemari terbuka secara asal-asalan. Setelah itu, ia mengambil bungkusan plastik dari dalam tas ranselnya yang berisi mukena yang baru dicuci dan digantungnya dengan rapi di sudut shaf wanita. Dirapikannya letak karpet bergambar sajadah berjajar itu. Ia juga menyemprot dan menyikat tempat air wudhu yang lantainya kecoklatan karena bekas jejak-jejak kaki, mengganti plastik tempat sampah depan mushola yang sudah penuh dengan yang baru. Senyumnya mengembang puas melihat hasil kerjanya sebelum kembali menuju ruangan tempat para petugas cleaning service.

Kepala Laras menunduk sedikit. Hanya satu dua kali senyum tipisnya terlihat ketika berpapasan dengan rekan kerjanya. Seperti biasa, ia selalu menghindari meeting pagi. Meeting yang membahas pembagian tugas. Seperti biasa pula, ia selalu mendapatkan tugas terberat. Tapi Laras lebih suka seperti itu. Karena tugas berat akan membuatnya sibuk seharian, tidak sempat disuruh-suruh oleh para karyawan gedung kantor yang suka marah padanya karena ketidakmampuannya. Meski bukan rahasia lagi, sebagian petugas cleaning service lebih suka melayani perintah para karyawan itu dibandingkan mengerjakan pekerjaan utama mereka.

“Lebih enak disuruh beli sarapan atau makan siang daripada kerja. Bisa dapet tambahan uang lagi.” Begitu alasan mereka. Alasan yang tak pernah didengar Laras, namun dipahaminya berkat pengalamannya selama ini.

Tapi itu berbeda untuk Laras. Dia lebih sering dimarahi karena para karyawan itu tak suka mendengar suaranya, tak suka karena proses komunikasi sepuluh kali lebih berat dibandingkan petugas yang lain. Karena itulah, Laras selalu menerima saja apapun tugas yang tersisa untuknya.

Tanpa melihat papan pembagian tugas pun Laras tahu apa yang harus ia kerjakan. Dengan santai, ia berganti pakaian dan mengambil peralatannya.

Hujan rintik membasahi sebagian teras gedung ketika Laras pulang kerja. Sebagian karyawan kantor masih terlihat duduk-duduk di lobi, yang lain menunggu di depan teras sambil merokok menghangatkan tubuh. Untunglah, Laras selalu membawa payung kecil. Dan ia pun menoleh pada teman-temannya yang berdiri berjajar berteduh di bawah kanopi parkiran.

Um…” bisiknya sambil menunjuk pada payungnya.

Temannya menggeleng, yang lain juga. Salah satu menjawab, “Udah, gak usah!”

Laras hanya tersenyum. Dan membuka payungnya. Ia melangkah menuruni tangga teras gedung ketika seseorang menepuk bahunya.

“Hei! Aku ikut sampe halte!” kata pria itu sambil menerobos ke sebelah Laras, melindungi kepalanya dari rintik hujan.

Tubuh Laras menegang. Ia tak biasa berdiri begitu dekat dengan pria selain berhimpitan dalam bis. Tapi pria itu sudah melangkah dan Laras harus berjuang keras mengikuti langkahnya yang cepat dan tergesa-gesa. Akibatnya justru sebagian pundak dan celana panjang Laras tersiram air hujan.

Begitu sampai di halte, si pria berlari melompat menghindari genangan air namun memercikkan air hujan ke wajah Laras, sebelum akhirnya menghilang di antara kerumunan orang-orang yang berteduh di halte. Tanpa terima kasih atau setidaknya senyuman yang ramah.

Laras tak sempat mencarinya karena tepat saat itu bisnya lewat. Ia pun segera berlari berusaha cepat untuk bisa masuk ke pintu bis. Meski kali ini ia harus berdiri, Laras bersyukur ia masih bisa ikut menumpang.

Hujan membuat jalanan makin macet. Seliweran motor-motor yang tak lagi peduli guna trotoar sesungguhnya, semakin menambah semrawut suasanan jalanan. Keluhan, makian dan sumpah serapah saling berpacu di antara deru gas kendaraan. Suara hujan yang khas dan udara dingin yang menyertainya tak lagi terdengar atau terasa, karena di dalam bis yang padat penumpang, justru terasa menyesakkan dan panas.

Laras memilih turun dekat rel kereta api ketika bis terhenti karena papan rintang. Ia tak tahan lagi dan lebih memilih turun walaupun harus berjalan kaki sedikit. Dadanya terasa sesak menghirup udara penuh asap rokok dari seorang Bapak yang tak peduli kehadiran orang lain di dalam bis. Tapi tangannya tak sempat membuka payung karena bis sudah hampir melaju lagi ketika ia turun. Ia pun berlari kecil menuju sebuah warung. Warung yang juga dipenuhi orang-orang berteduh. Suara sirene peringatan kereta lewat masih mengaung nyaring.

Laras berdiri di antara kerumunan sambil melirik ke dalam warung nasi tegal yang juga penuh di bagian dalam. Ia ingin membeli makanan untuk makan malam tapi suasana di dalam kelihatannya tak mengizinkan karena penuh sesak. Laras pun tetap berdiri di luar, memperhatikan hujan sambil menunggunya reda.

Apa kabar Ibu dan adik-adikku di panti sekarang?

Apa mereka masih suka bermain hujan? Dahlia yang manis, sudah seperti apa dia sekarang? Atau Elok yang bandel, masihkah dia suka menjahili Sandra dan Risma yang cengeng?

Bibir Laras bergerak tersenyum. Mengingat adik-adiknya di panti asuhan yang menjadi tempat tinggalnya dulu sejak dibuang orangtuanya. Mereka selalu bisa membuatnya tersenyum. Adik-adik yang terpaksa ia tinggali untuk bisa bekerja. Merekalah keluarganya, orang-orang yang selalu mengingatkannya kalau Laras tak pernah hidup sendiri di dunia ini. Dalam dunianya yang hening dan sepi, dalam kebisuan yang takkan pernah berujung.

Mata Laras menangkap sesuatu yang ganjil. Sebuah batang besi tampak tergeletak melintang di salah satu rel. Tak terlihat karena rintik hujan dan posisinya sedikit terlindung. Laras terkesiap. Sebentar lagi kereta akan melewati rel itu dan letak batangan besi lumayan besar yang tampak sedikit menancap itu bisa membahayakan kereta.

Tanpa peduli rinai hujan yang makin deras, Laras berlari menerobos hujan. Ia berlari mendekati batang besi besar itu dan berusaha mengangkatnya. Berat. Laras berdiri. Berteriak-teriak meminta bantuan. Tak ada seorang pun yang datang karena mereka malah menatapnya kaget mendengar suaranya yang aneh. Laras berusaha lagi. Rupanya kali ini beberapa pria melihat yang ia lakukan dan mereka mulai berlarian mendekati Laras. Sekuat tenaga Laras tetap memeluk batang besi itu dan berhasil. Meski hanya menggeser beberapa senti, tapi besi itu tak lagi berada di dalam rel.

Tapi Laras tak mendengar suara teriakan orang-orang yang memperingatkannya kalau kereta akan lewat. Laras tak mendengar apapun, bahkan suara sirene yang meraung-raung, suara petugas yang terus berteriak memperingatinya. Ketika kereta sudah begitu dekat, Laras baru menyadari kehadirannya. Kakinya spontan melompat menghindar. Ia bergerak menuju rel kosong di sebelah rel yang akan dilewati kereta. Berhasil.

Sayangnya, kaki Laras terpeleset saat menjajaki batu-batu yang basah di sekeliling rel. Tubuhnya terhempas, dan kepalanya membentur keras rel kereta. Darah mengalir deras keluar dari bagian belakang kepala Laras.

Laras masih berkedip ketika tetes-tetes air hujan mulai membasahi wajahnya. Ia masih bisa merasakan dinginnya air segar, rezeki Allah SWT yang mengiringi nafasnya yang mulai berat. Tiba-tiba Laras merasa lelah. Ia ingin tidur, tenggelam abadi dalam dunia yang hening, terbaring dalam diam. Ia ingin kembali, ingin ke tempat di mana ia tak perlu lagi melihat tatapan mengejek, ingin tahu atau menghina. Ia tak perlu takut lagi, karena di sana ia tahu surga sesungguhnya sedang menunggu.

Laras tahu, di balik ketidaksempurnaannya sebagai manusia, Allah sedang melindunginya dari kejahatan karena kedua panca inderanya yang tak pernah ia ketahui.

Laras bersyukur di sela nafas terakhirnya. Karena ia tak mendengar teriakan panik orang-orang yang ingin menolongnya. Laras bersyukur ia tidak bisa mendengar sejak lahir dan menjadi bisu karena tak tahu apa itu suara. Laras bersyukur karena ketika malaikat kematian itu mulai menutup bayang-bayang penglihatannya, ia sama sekali tidak takut. Kematian itu menyakitkan, namun tak menggentarkan hati Laras yang pasrah.

Ia benar-benar diam ketika bayang-bayang gelap sempurna menutupi pandangannya lalu nafasnya yang menderu pun berhenti. Esok pagi, si ibu penjaja nasi uduk akan kehilangan pelanggan setianya yang sebenarnya selalu sarapan pagi setiap hari dan Bapak penyapu jalan tak lagi kebagian jatah sarapannya, musholla akan berantakan dan entah siapa lagi yang akan mau membersihkannya dengan ikhlas. Mereka yang selama ini selalu berharap pada bantuan Laras, esok akan sadar kalau ia sudah tak ada. Ia telah pergi, di tengah rinai hujan yang menangisi kepergian si bidadari baik hati.

 

*****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.