Tulisan Terakhir

Light It Up Blue Today!!

Sepuluh tahun silam saat dokter mengumumkan vonisnya terhadap hasil pemeriksaan putri saya, saya hanya bisa melongok tak percaya mendengarnya.

Autis? Anak saya autis? Cindy saya yang ceria dan periang itu Autis? Berkali-kali pertanyaan itu muncul di benak saya bahkan setelah berhari-hari. Tapi mau bagaimanapun saya tak percaya, dokter telah memberikan beberapa alasan yang semuanya memang terjadi pada Cindy. Dia tak dapat bicara hingga usianya 2,2 tahun, sering duduk menatap dinding dan menggoyang-goyangkan tangannya tak berhenti. Juga masih banyak kondisi lain yang menguatkan vonis tersebut.

Rasa bersalah muncul di hati saya. Apa karena saya tak tahu kalau sedang hamil muda dan tetap bekerja di laboratorium Oil & Gas yang pasti terkena paparan gas-gas yang bermacam-macam? Atau karena kurang mengkonsumsi makanan sehat? Entah berapa kali saya berusaha keras mencari alasan kenapa ini terjadi. Tangis dan penyesalan sudah tak terhitung lagi saat hari-hari kelabu itu.

Tapi, suamilah yang memberi saya semangat. Kami sepakat untuk sesegera mungkin menjalankan pengobatan medis dan terapi pada Cindy. Saya menolak untuk melakukan pengobatan medis dan lebih mengutamakan terapi karena terus terang saya masih tak yakin akan vonis tersebut. Sambil menunggu kesanggupan biaya untuk mencari dokter yang lebih berpengalaman di bidang autism, saya pun mengikutsertakan Cindy dalam dua terapi untuk sementara. Yaitu terapi okupasi dan terapi wicara.

Saat mengikuti terapi itulah, saya bertemu ibu-ibu lain yang juga mengantar anak mereka untuk mengikuti terapi. Tak semuanya autism. Beberapa anak mereka menghadapi masalah konsentrasi, gangguan pendengaran atau penglihatan, dsbnya. Tapi tak ada satupun yang bersedih. Mereka membuat saya merasa tidak sendiri menghadapi masalah anak. Satu sama lain saling memberikan solusi seperti saat berbicara dengan anak. Seminggu dua kali saya harus mengikutsertakan Cindy dalam dua terapi sekaligus dan dalam masa-masa itu, saya menjalani ‘pendidikan’ sebagai orangtua dua kali lebih intensif. Saya belajar melatih motorik halus dan kasar, belajar berbicara pada anak, belajar memahami kebutuhan anak dan belajar sabar. Sabar adalah keharusan saat menghadapi anak yang bermasalah dan itu sangat sangat penting.

Selama lebih dari tiga bulan, saya yang dalam keadaan hamil tua selalu menemani Cindy. Tak ada lagi air mata setelah saya bertemu ibu-ibu hebat itu. Selama itu pula, saya dan suami menjalankan terapi pengobatan alternatif dengan menggunakan media Al Qur’an, yaiut membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an setiap hari pada Cindy. Ya, saya mengganti musik dengan ayat suci karena saya lebih percaya keajaiban Al Qur’an.

Tak perlu diceritakan bagaimana perjuangan saya sampai tahun-tahun berlalu, karena jelas tidak mudah. Yang ingin saya beritahukan hanyalah hasilnya. Cindy yang divonis autism, ternyata salah diagnosa dokter. Cindya hanya mengalami gangguan konsentrasi akibat penyakit demam yang ia alami saat berusia satu tahun. Setelah didiagnosa oleh lebih dari tiga dokter dan dua ahli yang mengecek mentalnya, saya baru yakin.

Cindy saya sekarang justru anak yang berprestasi di sekolahnya. Dia penghafal Al Qur’an dan juara kelas. Sesuatu yang tak pernah saya sangka-sangka sebelumnya. Dia bisa naik kelas saja saya sangat bersyukur, tapi dia memberi saya begitu banyak kebanggaan yang tiada habis. Saya bangga padanya makanya tiap kali dia berprestasi, saya tak bisa tidak pamer di wall facebook. Karena tidak seperti orangtua lain, saya harus berjuang dua kali lebih keras bersama Cindy untuk belajar. Jika orangtua lain cukup menyuruh anaknya belajar kalau ulangan, sementara saya harus duduk bersama cindy untuk belajar bersama. Berkali-kali ketika Cindy malas atau menyerah, saat itu pula saya mengingatkan padanya kalau dia harus selalu berlari dua kali lebih keras dari orang lain untuk bisa menyamakan kedudukannya.

Kemarin, kami mengunjungi salah satu ibu yang dulu saya kenal saat Cindy terapi. Saat itulah Cindy melihat temannya yang autis. Setelah pulang, ia begitu terharu melihat kesabaran si ibu yang dengan telaten mengurus putrinya. Saat pulang, saya bilang pada Cindy, begitu pula yang terjadi pada saya. Bahwa saya belajar sabar karena melihat kesabaran ibu itu dan ibu-ibu lain yang juga memiliki anak yang seperti Syifa.

Saya tak menyalahkan dokter yang salah mendiagnosa Cindy, sampai sekarang. Karenanya, saya bertemu dan mengetahui arti seorang ibu yang sesungguhnya. Tak mudah menjadi ibu dari seorang anak autis karena itu artinya kita harus bersabar menghadapi tingkah laku anak, harus menahan diri untuk tidak selalu kuatir akan keselamatan mereka, berusaha untuk tidak mempedulikan wajah-wajah ingin tahu atau tatapan menghina dari orang-orang sekitar, harus belajar untuk meminta maaf untuk kesalahan yang dilakukan anak-anak yang mereka sendiri tak tahu salah atau benar, harus mengingat setiap jenis makanan dan minuman yang boleh atau tidak atau… terpaksa menahan emosi ketika melihat orang lain justru menjadikan autis sebagai bahan candaan dan guyonan, yang sayangnya justru keluar dari mulut orang-orang yang berpendidikan baik, dan masih banyak usaha lain yang jelas tidak terbayangkan bagi orangtua normal lainnya.

Hari ini tanggal dua April diperingati oleh dunia internasional sebagai AutismAwareness World Day. Ada gerakan Lighting Up Blue untuk meningkatkan kesadaran kita terhadap Autism, memahami dan bersama-sama mendukung para orangtua atau keluarga pengidap Autis. Mari tingkatkan kewaspadaan kita terhadap Autis, karena Autis menyerang 1 dari 54 anak laki-laki, 1 dari 88 anak-anak, pelajari tanda-tandanya agar tidak salah dalam menanganinya.

Dan untuk para orangtua hebat di luar sana, mereka yang menangis dan tertawa bersama anak-anak mereka para pengidap Autis. Semoga Tuhan selalu memberi kalian kekuatan dan kesabaran.

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.