Tulisan Terakhir

Penantian Annisa

/1.bp.blogspot.com
/1.bp.blogspot.com
Bola plastik berwarna terang itu mengapung di atas sungai, makin menjauh.“Abang, ambilkan bolaku!” rengek anak perempuan berambut ikal sambil menarik-narik baju anak laki-laki yang berdiri di sampingnya.

“Maaf, Dik. Tapi Abang kan gak bisa berenang.”

Satu demi satu air menetes dari mata gadis kecil itu. Ia mulai putus asa. Abangnya berdiri bingung penuh rasa bersalah. Kalau saja tadi ia tak menggoda adiknya hingga membuat bolanya terjatuh.

Di seberang sungai seorang remaja laki-laki yang sedang berenang memperhatikan kedua kakak beradik yang putus asa menatap bola terapung itu. Dengan tangkas ia berenang mendekati bola, lalu menggiringnya kembali. Anak laki-laki itu pun berlari mendekati remaja itu ketika ia telah sampai ke tepi. Adiknya juga ikut.

“Punyamu?” tanya remaja itu ketika ia keluar dari sungai.

Abang menggeleng. “Bukan, Mas. Punya adik saya.”

“Mainnya jangan di tepi sungai ya, Dik,” kata remaja itu sambil mengulurkan bola pada si gadis kecil. Gadis kecil itu mengangguk dan memeluk bolanya erat-erat. Tanpa berkata apapun dia berlari menuju jalan setapak.

“Terima kasih, Mas!” ucap Abang sebelum menyusul adiknya. Si remaja laki-laki itu tersenyum, menatap kedua anak itu berlari-lari menjauhi tepi sungai.

***

Annisa, gadis kecil berambut ikal itu kini tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, baru lulus SMP. Persahabatannya dengan remaja laki-laki bernama Amman itu berlanjut ketika orangtua Annisa berkenalan dengan Ibu Amman yang baru pindah.

Nisa duduk di atas pagar tembok depan rumahnya. Menendang angin sambil sesekali memanjangkan leher mencari seseorang. Berharap pemuda itu muncul dengan segera di ujung jalan kampung. Ketika melihat orang itu muncul, Nisa sudah benar-benar tak sabar. Gadis itu melompat turun, berlari-lari menyongsong Amman.

“Gimana? Diterima?” tanya Nisa dengan nafas tersengal-sengal.

Amman tertawa. “Kenapa harus lari?” Tangannya mengacak-acak rambut Nisa. “Nisa sendiri gimana? Diterima tidak?”

“Iyalah, Nisa kan juara umum. Sudah pasti diterima. Sekarang Mas sendiri gimana?” ulang Nisa tak sabar.

Amman berhenti melangkah. Menunduk sedikit agar bisa menatap wajah Nisa yang hanya setinggi bahunya, sorot mata Amman bersinar menggoda jenaka. “Mmm….”

“Maaas!” Nisa menghentak kakinya. Ia mulai kesal.

Tawa Amman pecah. Ia mengangguk kecil dan mata Nisa langsung membulat.

“Jadi Mas diterima kerja? Asik!” pekiknya tak percaya. “Terima kasih ya Allah, berarti nanti malam Mas Amman harus traktir aku ya?”

Amman pun kembali mengangguk. Nisa memekik girang. Tanpa malu-malu, seperti biasa ketika hatinya sedang gembira, Nisa menggandeng Amman. Amman pun merangkul bahu sahabat kecilnya itu.

***

“Kamu tak malu diantar sama orang jelek kayak Mas?” tanya Amman sedikit keras, melawan deru suara motor saat membonceng Nisa ke sekolahnya.

Nisa tertawa, suaranya sedikit tenggelam karena terpaan angin. “Biarin, yang penting gratis!” jawabnya nyaring. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke punggung Amman.

Amman diam. Ia berusaha berkonsentrasi menyetir motornya di tengah keramaian jalan yang padat. Kalau sedang sendirian, Amman tak mudah kehilangan fokus. Tapi saat dua tangan mungil melingkari pinggangnya, ia harus ekstra hati-hati. Ia takut menyia-nyiakan kepercayaan Papa Nisa yang menitipkan putri tunggalnya. Meskipun sulit karena ia juga harus menenangkan otaknya yang mendadak susah dikendalikan.

Buat Nisa, ini kesempatannya untuk bisa bersama Amman. Nisa suka Amman, ia sudah mengikrarkan kata-kata itu di tiap lembar buku hariannya. Nisa masih SMP ketika ia tahu kekagumannya pada Amman berubah menjadi cinta. Bagi Nisa, seperti ini sudah cukup.

Dari mengantar, Amman juga mulai rutin menjemput Nisa dari sekolah. Pertemuan tak berakhir sampai situ karena di malam hari pun, Amman sering mengajak Nisa keluar rumah dengan beragam alasan. Mulai menemani membeli buku, makan-makan di warung pinggir jalan sampai sekedar jalan-jalan di pusat pertokoan tanpa tujuan. Makin lama makin sering, hingga Nisa pun tak lagi tahan.

Suatu hari saat mereka menyusuri pantai, Nisa menulis di atas pasir. Lingkaran berbentuk hati dan di dalamnya nama Amman. Amman tercengang.

Amman mematung. Ini permainan atau ungkapan? Ia menatap Nisa.

“Mas? Kok diam sih?” Nisa berdiri di hadapan Amman, mendongak dengan mata bening dan bibir berkerut menanti jawaban. “Ayo jawab!” tantangnya.

“Maksudmu?” tanya Amman linglung.

“Aku… suka… Mas… Ammaaaan!” kata Nisa menekankan setiap kata dengan suara yang cukup keras, membuat beberapa orang menoleh pada mereka.

Amman sibuk menenangkan jantungnya yang mendadak berdetak cepat. Satu-satunya yang terpikir hanya memeluknya Nisa. “Saya juga, Nis. Saya cinta kamu.”

Mereka tertawa berbarengan sebelum saling membisikkan kata-kata penuh cinta. Cinta mereka bersatu, setelah sekian lama dipagari oleh keraguan. Yang ada di hati kini hanya satu, bahwa mereka sama-sama saling mencintai.

***

Satu tahun setelah hubungan mereka berjalan, Amman datang dan duduk menunggu di ruang tamu Nisa dengan wajah murung. Nisa sangat senang atas kedatangan Amman malam itu. Beberapa hari terakhir ini Amman melewatkan banyak kebersamaan. Setiap kali Nisa datang ke rumahnya, Amman selalu tak ada. Kata Ibu Amman, sekarang pria itu pulang kerja larut malam.

Nisa berharap alasan kesibukan itu karena sekarang Amman sedang menabung untuk rencana pernikahan mereka. Nisa memang ingin segera menikah setelah lulus SMU nanti. Nisa tak mau kuliah karena satu-satunya mimpi Nisa sekarang adalah menjadi istri Amman.

“Maafkan saya, Nisa. Saya rasa lebih baik sekarang kita menjadi teman saja.”

“Kenapa, Mas?” tanya Nisa bingung. Amman menunduk.

“De, kita ini terlalu berbeda. Banyak hal diantara kita tidak cocok. Kalau tetap dipaksakan, nanti pasti akan merugikan kita berdua. Terutama kamu sendiri.”

“Apa karena perbedaan usia kita?”

Amman mengangguk. “Ya, itu salah satunya.”

“Tapi Mas, kita hanya berbeda usia delapan tahun. Aku sering lihat banyak kok pasangan yang berbeda usia sangat jauh tapi bahagia. Kita juga pasti bisa. Selama ini kita kan tak pernah bertengkar.”

“Nisa….” Amman kehilangan kata-kata.

“Apa karena Mas sekarang mencintai gadis lain? Yang lebih cantik dari aku?”

“Bukan begitu, Nis.”

“Terus apa? Apa salahku, Mas?” cecar Nisa dengan mata yang mulai basah.

Senyuman tersungging di bibir Amman, tawar dan dipaksakan. “Nisa, maafkan saya. Ini untuk kebaikanmu. Kamu takkan memahami maksud saya. Tapi ini yang terbaik untuk kita. Mudah-mudahan nanti ada seseorang yang lebih baik dari saya. Assalamualaikum.”

Nisa tak sempat membantah atau mencegah Amman pergi. Gadis itu terpaku di sofa, menatap punggung Amman. Laki-laki itu seakan berlari, ingin segera menjauh dari Nisa. Tanpa alasan yang jelas, hubungan mereka berakhir. Tanpa tangisan, tanpa jerit kemarahan, hanya tanda tanya memenuhi benak Nisa.

***

Masih lima belas menit lagi sebelum pukul lima, tapi beberapa karyawan telah berdiri di lobby. Berbagi penat setelah seharian bekerja, tertawa bercanda mengusir kejenuhan sambil menunggu waktu kerja usai. Dengung suara mereka mengobrol terdengar hingga ke ruangan Nisa yang masih sibuk. Beberapa rekan kerjanya lewat, menyapa dan salah satunya mengajak Nisa pulang bersama. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. Sama seperti biasanya, ia menolak.

Ada seseorang yang selalu ditemui Nisa setiap pulang kerja. Seseorang yang tinggal di rumah dimana ia telah menitipkan sebagian harapan dan mimpinya selama ini. Ibu Amman. Amman telah pergi jauh sekali dari Nisa. Sejak putus dari Nisa, Amman memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di Amerika. Lelaki itu tak pernah pamit pada Nisa, atau sekedar menulis surat untuk memberitahu.

Satu-satunya penyejuk hati Nisa kala itu hanyalah Ibu Amman, yang tetap ramah menyambut kedatangannya bahkan membiarkan Nisa menangisi kepergian Amman yang tiba-tiba di pangkuannya. Di tengah derai airmata, Nisa menyesal selama ini tak pernah mengabadikan kebersamaan mereka melalui foto. Dulu, Amman selalu beralasan karena ia malu terlihat jauh lebih tua dari Nisa. Nisa benar-benar menyesal tak pernah memaksa Amman untuk melakukannya.

“Sekarang kau punya foto Amman, Nis. Ambillah sebanyak yang kau mau!” Ibu menyerahkan beberapa album foto padanya. “Pilih saja, ibu mau sholat dulu.”

Keadaan rumah begitu hening, saat Nisa tenggelam dalam kenangan demi kenangan yang terukir dalam album foto itu. Foto Amman saat ia mengenakan toga, ada pula foto-foto saat bersama teman-teman atau orangtuanya.

Gadis itu duduk di kursi, seolah ingin merekam setiap peristiwa yang terekam dalam foto-foto itu. Foto-foto itu diambil beberapa tahun sebelum Amman pergi, jauh sebelum ayahnya meninggal dunia. Setelah Ayahnya tiada, Ibu dan Amman jarang mengabadikan gambar karena mereka sibuk bertahan hidup.

Lama sekali, sampai malam hampir tiba. Nisa masih saja duduk memandangi foto-foto itu. Hanya seorang wanita yang benar-benar mencintai seorang pria sepenuh hatinya, yang mau memandangi foto-foto tua yang mungkin tak terlalu sama lagi dengan orangnya yang telah dewasa. Bahkan Ibu Amman pun tak tega. Ia meminta Nisa sering datang ke rumah untuk menemaninya atau setidaknya bicara tentang Amman agar bisa mengurangi kesedihan Nisa. Karena Ibu Amman, Nisa mampu melewati masa-masa keterpurukannya itu.

“Dia sekarang kuliah, Nis. Ambil S2 Engineering, sibuk katanya,” jawab Ibu beralasan ketika Nisa bertanya kenapa Amman tak kunjung pulang di tahun kedua.

Namun tahun-tahun selanjutnya berlalu dengan cepat. Alasan Amman selalu sama. Sibuk bekerja dan kuliah. Hingga Nisa selesai kuliah dan mendapat pekerjaan. Amman tak kunjung pulang.

Kini, Mama Nisa telah tiada dan Ibu Amman ditemani seorang perawat pribadi. Paman Amman membantu pemuda itu memastikan Ibunya tetap terurus dengan baik. Walaupun sudah ada perawat bernama Melati, Nisa tak pernah menghentikan kunjungannya.

Seperti biasa, Ibu duduk menanti di atas kursi roda. Wanita itu tersenyum saat melihat Nisa memasuki pagar rumah. Suaranya yang lirih meminta Melati mendorong kursi roda mendekati Nisa. Nisa membungkuk, mencium tangan wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri itu lalu bersimpuh di hadapannya.

“Apa kabar Mbak? Ibu gimana hari ini? Beliau sudah makan?” Nisa mendongak, menatap Melati yang menjawab dengan gelengan.

Tak sampai lima menit, Nisa sudah duduk sambil menyuapi Ibu. Sesekali tangan Nisa merapikan anak rambut Ibu yang berjatuhan di pipinya agar tidak termakan. Tanpa banyak lagi kata-kata yang mengalir seperti dulu. Usia memakan kekuatan Ibu untuk bicara dan bergerak, tapi tak sedikitpun mengurangi sinar kasih sayang dalam sorot matanya. Gadis kecil itu kini telah menjadi perempuan dewasa. Ibu sayang padanya dan mulai membangun harapan agar kelak saat Amman pulang, anaknya mau melamar gadis itu sebagai menantunya.

“Am..man a..kan pu..lang, Nis,” gumam Ibu terbata-bata.

Tangan Nisa berhenti di udara. Ia termangu. Berita itu bagai gong yang tiba-tiba berbunyi menggema di tiap sudut hatinya. Nisa tak tahu harus bagaimana bersikap. Antara bingung, shock dan senang. Ia hanya menunduk diam.

Tapi ketika melangkah pulang, tangan Nisa tak bisa berhenti gemetar. Ia masih tak percaya dan terus berdoa semoga ini bukan mimpi. Tanpa peduli tatapan heran Papa, Nisa berlari masuk ke kamarnya.

Foto Amman terpajang rapi di atas meja. Pemuda itu sedang berdiri dengan gagah memakai toganya. Nisa memeluk foto itu penuh sukacita. Ya Allah, terima kasih. Bawalah dia pulang dalam keadaan sehat.

Malam itu, Nisa bahkan tersenyum dalam tidurnya. Ia senang, penantiannya akan segera berakhir.

***

Hampir saja dada Nisa meledak. Sepanjang hari ia duduk gelisah di depan rumah. Harap-harap cemas menatap ke ujung jalan kampung, menunggu. Bertahun-tahun lalu, ia pernah seperti ini. Nisa hampir melupakan rasanya sampai hari ini.

Dari ujung jalan, muncul sebuah sedan berwarna putih. Nisa berdiri, melongok mencari tahu. Salah satu tetangga Nisa, Pak Soleh yang sedang lewat depan rumahnya juga ikut berhenti untuk melihat. Mereka sama-sama menatap bingung pada sedan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya itu.

Sedan itu berhenti tepat di sisi Pak Soleh yang masih berdiri. Pintu mobil di bagian depan terbuka, seorang pria berjaket coklat dan bercelana hitam keluar. Ia mengangguk lalu tersenyum pada Pak Soleh. Seorang wanita berjilbab hitam juga muncul dari balik pintu penumpang. Juga mengangguk hormat pada pria tua itu.

Assalamualaikum, Pak Soleh. Apa kabar”? sapa si pria berjaket coklat itu sopan sebelum menyalami Pak Soleh. “Masih ingat saya, Pak? Saya Amman.”

Mulut Pak Soleh menganga tak percaya. “Wa allaikum salam, Amman? Anaknya Bu Dirman? Oaaalaah, sampai pangling saya. Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga. Sudah berapa putramu sekarang, Nak?”

Amman tersipu. “Belum, Pak. Saya belum berkeluarga. Saya baru mau bertemu ibu, membicarakan soal itu. Doakan saja tahun ini saya bisa segera menikah. Oh ya Pak, kenalkan ini teman saya.” Ia menoleh pada gadis berjilbab hitam itu.

Gadis berjilbab itu mengenalkan diri. NurAini namanya. Sahabat Amman ketika mereka kuliah di Amerika. Dengan tutur bahasa halus, NurAini menyapa Pak Soleh yang tak bisa menyembunyikan kekaguman melihat wanita cantik dan anggun itu. Tanpa perlu disebutkan, siapapun tahu bahwa gadis ini pasti calon istri yang akan diperkenalkan Amman pada Ibunya.

Mereka tak menyadari kehadiran Nisa, yang perlahan-lahan mundur dan bersembunyi di balik tembok pagar. Ia tak bisa bertemu Amman saat ini. Tidak ketika seluruh hatinya sedang remuk, mendengar kabar yang tak sengaja ia dengar. Nisa hanya ingin berlari masuk ke kamarnya yang sunyi, menangisi kehilangannya.

***

“Maafkan Papa, Nisa,” bisik Papa saat Nisa sedang berjongkok membersihkan mawar-mawarnya dari rumput liar. Hanya hembusan nafas Nisa yang terdengar. Ia tetap diam. Tangannya tetap bergerak bekerja tanpa mempedulikan kehadiran Papa.

Berkali-kali kata-kata itu keluar dari mulut Papa. Nisa benar-benar tak bisa percaya ketika Papa menceritakan masa lalu yang selama ini ditutupinya.

Putusnya hubungan antara Nisa dan Amman, karena Papa yang meminta. Pria paruh baya itu menganggap hubungan Amman dan Nisa hanya cinta monyet biasa. Usia mereka terpaut terlalu jauh. Keputusan Nisa untuk tidak kuliah sungguh mengecewakan Papa. Papa yakin, suatu hari nanti Nisa akan menyesali keputusannya sendiri kalau tetap dibiarkan. Karena itulah, Papa meminta Amman memutuskan hubungan mereka.

Nisa ingin marah. Ingin menyalahkan Papa untuk semua tangis dan kesedihannya. Tapi untuk apa. Papa tak sepenuhnya bersalah. Sejak hubungannya berakhir, Nisa mengubah keputusannya. Ia bisa hidup mandiri. Satu hal yang selalu ia syukuri adalah kehadiran Ibu Amman, yang sedikit demi sedikit berhasil mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Mama. Meskipun cintanya tak berakhir bahagia, Nisa ikhlas.

Tapi, tiap kali Papa meminta maaf itu seperti membuka luka lama. Tiap kali ingat, kesedihan selalu menggelayuti hati Nisa. Yang ia lakukan hanya diam, menyibukkan diri dengan pekerjaan. Tak ada gunanya menangisi kegagalan cinta.

Nisa beranjak dari bunga-bunganya. Tanpa sadar ia berjalan sampai di depan rumah Amman. Sama seperti hari sebelumnya, ia selalu bersembunyi di balik pohon sambil memperhatikan Amman dari jauh diam-diam.

Sudah saatnya untuk melepaskan semuanya sekarang. Amman adalah masa lalu, mantan kekasih yang harusnya dilupakan. Nisa pun berbalik. Melangkah pulang sambil menghitung waktu yang ia habiskan selama ini untuk menunggu.

“Nisa!” Tubuh Nisa membeku. Suara itu, suara Amman. Suara langkah kaki Amman mendekat terdengar.

“Kok tidak pernah ke rumah lagi? Bukannya setiap hari kamu biasa ke rumah?” Nisa tak menjawab. Ia tak berani menatap wajah Amman yang berdiri di hadapannya.

“Apa foto-foto tua saya lebih menarik dibandingkan orangnya yang asli?” Kepala Nisa terangkat. “Apa sekarang kamu sudah mulai menyesal menunggu saya? Jadi lamaran saya nanti malam sudah pasti ditolak?” tanya Amman sambil membungkuk sedikit agar wajahnya sejajar dengan wajah Nisa.

Bibir Nisa bergetar. Ia menutupi mulutnya dengan tangan. Tanpa suara, satu persatu airmatanya berjatuhan. Amman kembali. Untuk dirinya.

NurAini yang menyadarkan Amman bahwa cinta tak perlu memandang perbedaan. Dalam cinta, yang sama tak selalu berhasil, yang berbeda pun tak selalu gagal. Bahkan sahabat Amman itu pula yang ingin membantu menjelaskan pada Papa Nisa, meski ternyata itu tak lagi perlu.

Tak ada kata-kata yang bisa Annisa ucapkan, selain membiarkan Amman memeluknya sambil meminta maaf, untuk penantiannya, untuk segalanya.

 

 

Note : Di balik cerita

Tadinya pengen diikutsertakan dalam sebuah lomba menulis dengan mengirimkan maks. 5 karya, tapi itu artinya saya harus membuat sad ending. Bikin dua yang sad ending aja udah cape jadi ikut sedih, jadi ini saya batalin dan mengakhiri dengan happy aja… So Happy Weekend!!!

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.