Tulisan Terakhir

Saat Aku Kembali

Pepohonan yang tumbuh di depan halaman rumah mulai tampak di depanku. Pohon kelapa tua di ujung gang itu seperti menyambut kedatanganku. Aku mempercepat langkahku, setengah berlari dengan tak sabar, melewati jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh motor. Jalan setapak yang dulu berbatu kerikil itu kini telah disemen dengan rapi. Beberapa tanaman hias berjajar rapi di kedua sisi jalan setapak itu. Aku tak peduli, aku hanya ingin pulang.

google

I am home… I am home…

Aku menghela nafas lega. Akhirnya, setelah sekian lama, aku pulang ke rumah. Tempat aku dibesarkan, tempat aku belajar mengenal berbagai hal di dunia, dan akhirnya memutuskan untuk merantau.

Pagar berwarna putih itu masih berdiri kokoh. Warnanya yang mulai pudar dan memperlihatkan karat dimana-mana, seakan memberitahuku kalau aku pergi cukup lama. Cukup membuat cat yang dulu pernah aku goreskan untuk mewarnai pagar besi itu pun mulai terkikis oleh waktu.

Aku melangkah maju. Menekan bel yang dipasang di dekat pagar. Tak ada bunyi, tak ada jawaban. Mungkinkah bel ini rusak?

“Assalamualaikuuum!” Aku mulai berteriak.”Tiur! Andrea! Assalamualaikum!” Kali ini aku berteriak lebih kencang.

Drek! Dug, dug, dug! Suara langkah-langkah berlarian, lalu terdengar pekik-pekik tak sabar dari dalam rumah ‘Abang! Abang pulang!’ Dan kedua adik perempuanku pun muncul dari balik pintu. Mereka menjerit hampir bersamaan

“Abaaaaang!!!”Andrea membuka pagar dengan tak sabar, Tiur masih berteriak-teriak di depan pintu, memanggil Papa dan Mama. Belum lagi kakiku melangkah masuk, Andrea sudah menyongsong dan memelukku.

“Abang pulang! Abang pulang!”. Aku hampir kehilangan keseimbangan ketika Tiur pun ikut menyusul dan memelukku dengan kuat. Teriakan dan jeritan mereka memekakkan telinga, tapi aku bahagia. Aku benar-benar pulang.

Mereka nyaris tak mau melepaskanku, sampai Papa muncul dengan tergesa. Ia berdiri kaget melihatku, lalu tersenyum lebar. Di belakangnya, Mama juga terkejut namun ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua adikku. Dan melihat mereka berdua, hatiku langsung lega. Aku benar-benar sudah sampai di rumah.

***

Setelah serangkaian jeritan, teriakan dan cerita-cerita yang saling tumpang tindih antara Tiur dan Andrea, akhirnya aku bisa duduk dengan tenang di kamarku lagi. Koper-koper yang kubawa tadi tak satupun dibawa masuk oleh mereka, karena memang tak ada satupun isinya milikku. Semua berisi oleh-oleh untuk Papa, Mama dan kedua adikku itu. Aku hanya menyisakan satu tas punggung untuk keperluan pribadi selama berada di rumah Mama.

“Man, Mama boleh masuk?”Aku terlonjak dari tempat duduk dan langsung berdiri membuka pintu. Mama berdiri di sana, membawa segelas air jeruk segar.

“Looh, Mama… ngapain repot-repot! Iman bisa ambil sendiri.”

Mama tidak menjawab, ia malah masuk dan meletakkan gelas itu di atas meja kecil di sisi tempat tidur. Lalu ia duduk di kursi, aku membiarkannya memandangiku dan memilih untuk duduk di tepi tempat tidur. Lama Mama menatapku. Tatapan rindu yang hangat.

Dan mata Mama mulai berkaca-kaca.”Mama sangat rindu padamu, Iman. Kenapa lama sekali baru pulang?” tanyanya pelan.

Aku menunduk. Rasa bersalah karena meninggalkan Mama begitu lama. Empat kali aku melewatkan lebaran, empat kali pula aku melewatkan ulang tahun seluruh anggota keluarga, dan telah empat tahun aku melewatkan banyak kenangan bersejarah dalam keluargaku. Aku hanya mengirimkan hadiah saat Tiur lulus SMA, dua tahun kemudian aku kembali mengirimkan hadiah pula untuk Andrea saat ia selesai diwisuda.

Jika ingin memberi alasan, bisa saja aku memakai pekerjaan sebagai alasan. Mama akan selalu mengerti, Papa apalagi. Mereka selalu mendukungku, berusaha memahami dan menerima keadaan meski harus mengalahkan keinginan untuk melihatku. Andaikan saja itu benar, andaikan saja aku memang sibuk bekerja.

“Ada apa, Iman?”

Kepalaku terangkat. Tatapan teduh di mata Mama seakan-akan menjadi hukuman yang membuat hatiku makin tersayat. Hidupku selama ini dijaga oleh perempuan ini, di luar dua perempuan lain selalu mengisi hari-hariku dengan tawa dan senyum bahagia. Merekalah yang membuatku memaksakan diri untuk merantau, karena aku ingin mewujudkan impian mereka. Namun aku melupakan tujuan itu.

Karena seorang perempuan…Cathleen. Perempuan cantik yang kukenal di tempat kerja. Perempuan yang kuanggap sebagai reinkarnasi kedua adikku yang menjadi satu. Ia sosok mandiri, pintar, cantik dan sangat tegas. Tak butuh lama untuk jatuh cinta dengannya. Juga tak perlu waktu lama untuk meyakinkan dia untuk menjadi kekasih hatiku. Karena melihatnya aku seperti pulang ke rumah.

“Iman, Mama tidak tahu ada apa denganmu. Mama juga tahu kamu mungkin tak mau bercerita. Tapi jangan pikirkan hal-hal lain saat kau berada disini. Bergembira saja. Nikmati saja waktumu di sini. Nanti malam kita bakar ikan di kebun belakang ya. Istirahatlah, kamu kelihatan lelah.” Perempuan setengah abad itu berdiri. Menepuk bahuku, lalu keluar dari kamar.

Begitulah Mama. Ia tak pernah mendesak, tak pernah ingin tahu sampai aku memberitahu. Dia tidak akan berkata apapun, sampai aku bertanya padanya. Ia juga takkan mengusik hatiku, sampai aku mengungkapkan segalanya. Tapi, Mama adalah pembaca pikiran terbaik di dunia. Dia tahu, aku pulang karena sesuatu. Dia juga pasti sudah tahu, ada masalah yang sedang menggelayuti hatiku. Namun, Mama dengan segala pengertiannya, hanya tersenyum tanpa banyak bicara.

***

Kukira Cathleen adalah seorang gadis yang kelak akan membahagiakan diriku. Aku mengira ujung penantianku adalah pelaminan bersama gadis bermata coklat sendu itu. Ternyata dugaan salah.

Gadis itu jahat. Jahat sekali. Ia menggunakan kebodohanku, menggunakan tabungan yang kusiapkan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku berkeluarga dengannya. Dalam hitungan hari, aku sadar kalau aku telah ditipu wajah cantik yang selama ini telah membuaiku dengan cinta palsunya.

Ketika aku menceritakan segalanya. Mama menangis. Papa juga. Kedua adikku yang duduk di lantai dekat televisi juga kulihat diam-diam menghapus linangan air di mata mereka. Hatiku makin pedih. Kepulanganku sama sekali tidak membuat mereka bahagia. Aku malah membuat mereka sedih. Semua karena aku lupa diri, bodoh dan tolol.

“Jangan menyalahkan dirimu, Man. Mama menangis bukan karena kehilangan kesempatan itu. Mama sedih, karena kamu sedih. Jadi jangan salahkan dirimu, ya Nak. Anggap saja ini adalah peringatan dari Tuhan, sebagai pelajaran kalau kamu berhati-hati dalam bergaul.”

Aku mengangguk. Penuh penyesalan. Kilasan-kilasan peristiwa seakan dikembalikan dalam kepalaku. Saat Mama menelepon dan meminjam uang untuk membayar uang ujian akhir Tiur, aku malah berdusta. Saat itu aku pikir kalau kuserahkan, uangnya pasti takkan kembali. Tak lama kemudian, ganti Andrea yang menelepon meminta bantuan untuk membiayai semester akhir kuliahnya dulu sampai Papa memperoleh pinjaman. Lagi-lagi aku menolaknya. Satu kali, Tiur juga menceritakan bagaimana Papa sering sekali terlihat sakit namun tak punya biaya untuk memeriksakan diri. Aku hampir tak pernah menggubris permintaan-permintan mereka, karena di kepalaku hanya agar bisa segera menikahi Cathleen.

Aku takut pulang. Takut Mama mengetahui kalau aku punya simpanan. Aku tak mau pulang. Karena kuatir tabunganku akan dipakai untuk keperluan keluarga. Aku begitu egois, mempertahankannya sampai bencana itu datang.

Dan kini…Saat aku tak tahu lagi harus ke mana, mengadukan masalahku ketika polisi bahkan menertawaiku kebodohanku. Bagaimana bisa digolongkan penipuan, kalau aku menyimpan semua uangku di dalam tabungan yang diatasnamakan dengan nama perempuan itu?

Tak ada seorangpun dari keluargaku yang menyalahkan. Mereka menangis karena aku menangis. Itu saja. Bukan karena uang itu. Bukan karena menyesali apa yang terjadi, hanya sedih melihatku mengalami semua ini.

“Sudahlah, Man. Ikhlaskan saja, Nak. Itu sudah gak penting lagi sekarang. Yang penting kamu pulang dengan sehat dan selamat. Buat kami itu sudah cukup.” Papa berkata dengan bijaksana.

“Iya Bang, jangan murung begitu! Andrea juga sudah bekerja dan udah bisa nyimpen dikit-dikit. Kalau Abang perlu, Abang bisa pakai uang Andrea dulu. Uang bisa dicari, Bang. Masih untung pacar Abang melakukannya sebelum nikah, coba gimana kalau sudah nikah dan punya anak?”

Aku menunduk makin dalam. Malu.

“Tiur juga mau bantu Abang. Kalau memang gak ada biaya untuk kuliah, ya sudah Tiur kerja juga gak apa-apa. Nanti kalau dapet kerja, Tiur juga mau bantuin Abang.”

Dan bibirku bergetar hebat. Hatiku makin perih. Ya Allah, begitu tulusnya keluarga ini menerima dan memaafkan kesalahanku. Tanpa menghakimi, tanpa ada kemarahan. Sedikitpun, membuat hatiku semakin merasa bersalah.

***

Keluarga….

Senandung bisik-bisik sang dedaunan saat kau berjalan sendirian.

Wangi yang kau ingat saat kau mencuci pakaianmu.

Obat yang kau perlukan ketika sedang merasa sakit

Dalam tawamu dan berkumpul dalam setiap tetes airmatamu yang jatuh

Mereka ada di tempat kau berasal, rumah pertamamu.

Peta yang akan kau ikuti untuk setiap langkah yang kau ambil.

Cinta pertamamu dan mereka pula nanti yang akan membuat hatimu patah untuk pertama kali

Ketika mereka pergi…

Tak ada satupun hal di dunia ini yang bisa memisahkan kamu dengan mereka.

Bukan waktu, bukan jarak… bahkan juga bukan pula kematian

Takkan ada siapapun yang bisa memisahkanmu dengan mereka

Orang-orang yang kau panggil… Keluarga

Selamanya mereka akan selalu berada dalam hatimu….

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.