Tulisan Terakhir

Anak Untuk Sementara, Ibu Untuk Selamanya

Kakiku terlalu lelah untuk terus melangkah. Bangku panjang di selasar gedung Bandara Soekarno Hatta seakan memanggilku untuk beristirahat di situ. Aku menghela nafas lega. Kupercepat langkah untuk segera duduk. Kukunci troli barang sebelum menghenyakkan tubuhku segera di atas papan coklat itu.

Arloji kecil yang kukenakan menunjukkan pukul 14.20, masih sepuluh menit lagi sebelum waktu check-in. Untunglah, aku datang lebih cepat dari perkiraan sehingga bisa menyempatkan diri untuk duduk beristirahat sejenak.

Ah, rupanya usia yang semakin bertambah telah mulai menggerogoti kemampuanku berjalan. Bertahun-tahun lalu, aku bahkan bisa berlari-lari di selasar Bandara hanya untuk mengejar waktu agar tiba tepat saat suamiku muncul dari pintu kedatangan.

Setiap kali mengenang lelaki yang kini telah berpulang ke pangkuan Illahi itu aku tak pernah bisa menghentikan kerinduan yang semakin lama semakin menggigit di hatiku ini. Entah kapan Sang Maha Kuasa memberikan izin agar aku bisa menyusul suamiku tercinta itu.

Getar ponsel di tas yang kupangku membuat aku terlonjak. Dengan cepat aku mengambilnya. Layar ponsel menampilkan foto Tiara dan cucuku, Cecilia. Anakku menelpon.

“Ma, sudah dimana sekarang?”

“Di Bandara, Sayang. Jangan kuatir, baru sepuluh menit lagi baru waktunya check-in.”

“Ya bagus deh. Tapi Ma, nanti sebelum mematikan ponsel, hubungi Tiar sekali lagi ya!”

Aku tersenyum. “Ya sayang, nanti Mama telepon lagi.”

“I love you, Ma! Take care!”

“You too, Honey! I love you!”

Aku menekan tombol bergambar gagang telepon berwarna merahuntuk menutup telepon dan kembali menaruh ponsel ke dalam tas. Lalu menegakkan punggungku kembali. Aku baru sadar ada sepasang mata indah di wajah yang mungil sedang menatapku. Ada rasa ingin tahu terlihat di sorot mata anak kecil itu. Aku tersenyum padanya.

Anak itu sedang duduk di sampingku. Ibunya, wanita yang sedang duduk di sisinya nampak sibuk menimang-nimang seorang bayi yang sedang merengek. Tanpa peduli pada ibunya, gadis kecil berkepang pita pink itu terus menatapku.

Aku membuka tas, mencari-cari makanan atau permen yang bisa kutawarkan pada anak yang seumur dengan salah satu cucuku itu. Jemariku menemukan permen lolipop yang memang selalu ada di dalam tas. Maklum saja, untuk Nenek yang memiliki lebih dari lima cucu, aku selalu memiliki banyak permen atau makanan kecil yang sengaja kusiapkan. Setiap kali berbelanja, aku selalu meluangkan waktu mencari-cari snack kesukaan cucu-cucuku.

“Mau?” tanyaku sambil menyodorkan lolipop kecil itu padanya.

Mata anak kecil itu jelas langsung bersinar cerah. Dia pasti menginginkannya. Tapi entah kenapa, ia hanya diam sambil meneguk liur.

“Ambillah! Nenek punya banyak di rumah. Ini untukmu!” bisikku. Kali ini aku makin mendekatkan lolipop itu pada gadis kecil itu.

Meski aku melihat keraguan di matanya, namun akhirnya ia mengulurkan tangan dan mengambil permen itu dariku. Aku senang sekali. Anak itu juga tampak gembira. Jari-jari mungilnya mulai mengoyak plastik pembungkus itu dari permen yang ia pegang.

“Arnella!” panggilan keras itu membuat aku dan anak itu sama-sama kaget. Kami menengok ke arah asal suara. Ibu anak kecil itu melotot padanya sambil merampas lolipop itu dari tangannya.

“Kamu ini susah ya kalau dikasih tahu. Kan sudah Mama bilang, tidak boleh makan permen. Ini apa? Hah! Makan permen terus, habis nanti gigimu baru tahu rasa!” omel wanita itu. Tangannya yang satu membuang permen pemberianku ke lantai begitu saja, sementara tangan yang lain tetap sibuk menggendong bayinya.

Anak kecil yang bernama Arnella itu mengkerut ketakutan. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Selesai marah, si Ibu itu kembali sibuk menenangkan bayinya lagi. Rupanya ia tak menyadari kehadiranku.

Aku jelas bisa melihat kekecewaan di mata Arnella. Ketika ia mencuri pandang padaku, seakan meminta maaf karena tidak bisa menikmati permen pemberianku tadi. Kulemparkan senyum agar ia merasa lebih tenang. Meski tak suka dengan cara ibunya tadi, aku tak bisa ikut campur.

***

Setelah selesai check-in, aku kembali bertemu Arnella dan Ibunya. Arnella sedang duduk di kursi. Ia begitu tenang, tidak seperti beberapa anak yang juga ada di ruang itu. Sementara adiknya yang tadi menangis terus, sudah tertidur dalam kereta dorong. Ibu Arnella sedang berbicara dengan seorang ibu lain.

Aku sengaja memilih duduk di depan kursi Ibu Arnella. Kulemparkan senyum penuh arti pada Arnella. Arnella menatapku lagi.

“…… Mana mau suami kita ngerti kalau kita ini capek? Coba ibu bayangkan! Saya harus membawa dua anak ini sendirian. Uuggh, repot dah bu punya anak banyak begini…” Samar aku mendengarkan keluhan ibu Arnella yang terus menyerocos pada wanita di sisinya. Nampaknya wanita itu juga baru ditemuinya. Terlihat sekali wanita di sebelahnya itu memasang raut wajah bosan. Mungkin karena itulah tak sampai lima menit kemudian, wanita itu berdiri dan pindah ke kursi lain.

Kali ini aku langsung berdiri dan duduk di tempat bekas wanita tadi. Ibu Arnella tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya. Kulirik bayinya yang tertidur pulas.

“Manisnya…” bisikku.

Ibu Arnella tertawa kecil. “Iya, kalau lagi tidur. Kalau nggak, huuuh…..” Matanya berputar-putar menyiratkan kesusahannya kalau si bayi sedang bangun.

“Dulu saya punya tujuh bayi semanis ini,” ucapku pelan.

“Hah?” Ibu Arnella memutar tubuhnya memandangku tak percaya kaget mendengar kata-kata itu.

“Tapi sekarang tujuh bayi itu semuanya pergi dengan urusan mereka masing-masing.”

“Maksud Ibu? Ibu punya tujuh anak?”

Aku mengangguk. Dengan mata menerawang aku mengenang saat-saat itu. Saat di mana aku harus mengurus anak-anakku sendirian. “Suami saya seorang tentara, dan sering kali harus meninggalkan saya sendirian. Ada tujuh anak yang menemani saya saat itu, jadi saya tak pernah kesepian.”

Ibu Arnella terdiam.

“Kadang, kita tak pernah tahu betapa berharganya waktu kita bersama anak-anak sampai mereka semua pergi satu persatu dari sisi kita. Saat mereka masih kecil, kita selalu menganggap kalau mengurus mereka adalah beban. Tapi sebenarnya, saat itu Tuhan sedang memberi kita kesempatan yang sangat indah. Kesempatan yang mungkin hanya beberapa tahun. Berapa lama sih seorang anak bersama orangtuanya? Dua puluh atau tujuh belas tahun? Tak ada yang tahu. Dulu saya merasa tujuh anak itu sangat banyak dan berlebihan, tapi ketika umur mulai bertambah saya malah menyesal karena hanya punya tujuh orang. Seandainya saya punya banyak, mungkin saya takkan kesepian sendirian di hari tua begini.”

“Anak-anak ibu ke mana?” tanya Ibu Arnella ingin tahu.

“Tentu saja mereka sudah membangun keluarga mereka masing-masing. Sayangnya, tak ada yang mau tinggal dengan saya. Alasannya yaitu tadi mereka tak mau merepotkan saya karena merasa selama ini merasa sudah banyak menyusahkan saya. Saya menyesal dulu sering mengatakan kalau saya lelah mengurus mereka. Kalau mereka tak tahu kesulitan itu, pasti sekarang mereka masih mau tinggal bersama saya.”

Pikiranku melayang ke masa-masa di mana anak-anak di bawah asuhanku. Saat itu, dengan ketujuh anak yang berbeda karakter, aku benar-benar sangat sibuk. Apalagi suamiku seringkali bertugas ke luar kota. Tanpa aku sadari, aku justru terbiasa dengan kesibukanku sebagai orangtua tunggal untuk anak-anakku. Ketika usia makin bertambah dan anak-anak pergi, aku mulai merasakan kesepian itu.

“Nikmatilah saat-saat ini, Mba. Anak-anak itu cepat sekali tumbuh. Kemarin mungkin putri ibu itu masih tertidur seperti adiknya ini, tapi dalam sekejap ia akan segera meminta izin untuk tinggal di tempat lain. Waktu kita sebagai ibu memang sampai maut memisahkan. Tapi waktu mereka menjadi anak kita sangatlah singkat, sebelum akhirnya mereka menjadi suami atau istri orang lain. Suatu hari nanti Mbak akan merindukan rengekan dan tangisan mereka. Suatu hari nanti Mbak akan menyesal karena pernah membuat hati mereka kecewa. Biarkanlah mereka sesekali menikmati kesenangan agar kalau dewasa nanti mereka akan mengingat bahwa kita adalah ibu yang menyenangkan bagi mereka.”

Aku berhenti bicara dan menoleh pada Ibu Arnella. Kulihat ia tercenung mendengarkan kata-kataku. Aku berharap, kali ini ia mau mendengarkan.

Tiba-tiba ponselku kembali bergetar. Dengan segera aku mengambilnya.

“Halo?”

“Ya sayang. Mama sudah di ruang tunggu. Mmm…” Aku melirik angka di jam digital dekat pintu ruang tunggu. “Lima menit lagi Mama take off. Ini sudah ada panggilan. Iya Iya Oke ponsel Mama matikan ya sayang Iya, Mama juga. I love you, Nak!”

Aku berdiri sambil mematikan ponsel. Ibu Arnella juga berdiri. Kami berjalan bersamaan dan aku membantunya menggandeng Arnella yang begitu patuh dan manis. Ibu Arnella tak lagi banyak bicara atau mengomel. Sesekali ia memeriksa keadaan bayinya dan Arnella.

Sampai di dalam pesawat, kami berpisah tempat duduk. Tapi dari tempatku duduk, aku bisa melihat mereka bertiga dengan jelas. Aku melihat Ibu Arnella memperlakukan anak-anaknya lebih lembut. Ia membantu Arnella duduk, memakaikannya seatbelt sebelum memeriksa bayinya lagi. Seorang pramugari memberikannya seatbelt tambahan untuk bayinya dan ia melakukannya sambil berbisik lembut menenangkan bayinya yang terbangun. Tak ada lagi omelan, atau cercaan seperti sebelumnya. Aku menghela nafas lega.

Sepanjang perjalanan, aku melihat beberapa kali Ibu Arnella mengelus dan mencium si bayi dan Arnella bergantian. Ia bahkan membiarkan kedua anaknya tidur bertumpu pada tubuhnya, hingga ketika kereta makan lewat, ia memilih tetap diam dan hanya meminta si pramugari meletakkannya di meja kecil yang tersedia. Ia tak tidur, hanya menatap jajaran awan-awan di luar melalui jendela. Ibu Arnella tampak memikirkan sesuatu. Baru ketika Arnella dan bayinya terbangun, ia makan bersama mereka. Sesekali mereka bercanda dan tertawa. Tangan Ibu Arnella menggelitik perut si bayi. Kali ini aku jelas melihat Arnella tertawa geli.

Ketika landing, aku lupa pada mereka. Otakku terlalu sibuk menyusun rencana menghabiskan waktu liburan bersama ketiga cucuku nanti. Berenang, ke mall, makan di restoran, main ular tangga dan masih banyak seribu rencana yang ingin kulakukan bersama mereka. Kakiku yang tadinya terasa sakit, mendadak lenyap dan terasa ringan. Aku ingin segera memeluk mereka setelah beberapa bulan tidak bertemu. Andaikan saja aku bisa mengumpulkan semua cucuku, tentu liburan ini akan makin menyenangkan.

“Ibu! Ibu!” Seseorang memanggil. Aku menoleh dan melihat Ibu Arnella tampak terburu-buru menyusulku. Arnella berlari-lari kecil di sebelah Ibunya yang mendorong kereta bayi.

“Bu, maaf. Hah hah hah!” Ibu Arnella sibuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. “Ter.. terima kasih ya bu. Terima kasih sudah menasehati saya tadi. Insya Allah, semua pesan ibu akan saya ingat selamanya.”

Aku mengangguk. “Ada satu yang belum saya beritahu lagi.”

“Apa itu, Bu?””

“Kalau Mbak merasa senang bersama anak-anak, anak-anak juga akan merasa senang bersama Ibu. Mereka tidak akan nakal atau cerewet. Kalaupun cerewet, mereka lebih mudah dibujuk. Dan ibu yang bahagia, selalu menemukan jalan yang menyenangkan untuk membujuk anaknya.”

“Benarkah?” Ibu Arnella melirik putrinya yang tersenyum padaku. Ia mengangguk dan memelukku. Lalu menyuruh Arnella berpamitan padaku. Setelah itu, mereka bertiga berlalu. Aku mendengarkan senandung lagu ‘balonku’ terdengar saat mereka menjauh. Arnella yang selalu diam membisu, sayup-sayup kudengar ikut bernyanyi bersama ibunya.

Ah…. Aku jadi benar-benar ingin segera bertemu anak-anak dan cucu-cucuku.

*****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.