Tulisan Terakhir

Chika Yang Hebat

Undangan berwarna-warni yang dicetak sendiri oleh putriku bertebaran di atas meja belajarnya. Dengan riang sambil mendendangkan lagu One Direction terbaru, ia menuliskan nama-nama teman-temannya yang akan ia undang. Pesta ulang tahunnya yang ke sebelas akan diselenggarakan akhir minggu ini dan ia mengundang beberapa teman perempuannya ke rumah.

“Perlu dibantu?” tanyaku.
Putriku mengangkat wajahnya dan menggeleng. “Gak usah Ma, ini juga udah mau selesai.”
Selembar kertas yang bertuliskan nama-nama teman-teman Chiara menarik perhatianku. “Ini daftar yang diundang?” tanyaku sambil membacanya.
 
Chiara mengangguk, “iya Mah, hanya lima belas saja. Chichi ngundang teman-teman yang akrab saja. Terlalu banyak malah bikin bingung.”
 
Aku hanya diam. Satu persatu nama teman-teman Chiara kuteliti, satu nama yang kuharapkan ada di sana tak tertulis. Padahal aku suka pada teman Chiara yang satu itu. Chika namanya.
 
“Chika kok gak diundang, Chi? Dia kan rumahnya dekat sini.” Aku tak tahan lagi dan bertanya.
 
Tangan putriku berhenti menulis. Untuk sesaat ia terlihat bingung, sebelum akhirnya menjawah dengan nada ragu. “Hmmm… gini Mah, kalau Chichi undang Chika, Chichi takut yang lain gak mau datang ke pesta Chichi.”
 
“Loh kenapa?”
 
“Mmm… Itu loh Ma, Mamanya Chika kan sekarang… ” Chiara menatapku, matanya terlihat merasa bersalah. “Mamanya Chika sekarang jualan kue, Ma. Teman-teman Chichi pada malu berteman sama Chika.”
 
Aku terdiam. Memang bukan rahasia lagi keluarga Chika mengalami masalah ekonomi. Papa Chika meninggal dunia beberapa bulan lalu dan untuk menghidupi keluarganya, Mama Chika berjualan kue. Tadinya hanya menerima permintaan dari kami, ibu-ibu dari teman-teman Chika. Tapi belakangan, Mama Chika juga berkeliling mengedarkan kue-kue dagangannya seperti pedagang keliling. Malah tadi pagi, Mama Chika menawarkan dagangannya di depan rumah kami.
 
“Chi, Chika itu anak yang hebat. Mama malah pengen Chika jadi tamu istimewamu nanti. Teman sehebat Chika itu yang seharusnya kamu jadikan teman.”
 
Anakku melongok. “Hebat? Maksud Mama apa sih?” tanya Chiara bingung.
 
Aku tersenyum. “Coba kalau misalnya Mama Chichi yang jualan kue kayak Mama Chika, kira-kira Chichi gimana?”
 
“Iiih Mama. Jangan deh! Jangan sampai ah! Chichi malu banget! Gak kebayang deh ngeliatin Mama Chichi teriak-teriak nawarin kue. Nggak! Nggak deh!”
 
“Naah, berarti Chika hebat dong! Dia bisa nahan malu, dia tetap semangat sekolah bahkan mau membantu Mamanya. Mama sih mau banget punya anak sehebat Chika,” sergahku dengan senyum lebar.
 
Kali ini Chiara terdiam. Ia merenungi kata-kataku barusan. Semburat merah di pipinya sudah cukup memberitahu kalau ia memahami maksud kata-kataku.
 
“Teman yang baik itu tidak memilih teman karena pekerjaan orangtuanya, Nak. Malu bukan karena kita punya teman yang miskin, tapi malu karena kita tak bisa membantu teman yang sedang kesusahan. Toh, Mama Chika tidak melakukan apa-apa yang merugikan Chichi, kan? Malah Chika sering membagi kue untuk Chichi kan? Satu hal yang Mama senengin dari Chika adalah dia anak yang sangat ringan tangan. kalau sedang main di sini, Chika satu-satunya temanmu yang mau membantu Mama menyiapkan makanan atau minuman ringan meski sudah Mama larang.” Chiara tertunduk. Ia tampak malu.
 
“Mama tidak marah sama Chichi. Hak Chichi untuk memilih teman dan Mama hanya memberitahu teman seperti apa Chika itu. Kalau Chichi dijauhi oleh teman-teman yang lain gara-gara Chika, berarti teman-teman Chichi yang lain perlu diyakinkan soal kebaikan Chika. Bukankah Chichi pengen jadi lawyer seperti Om Ridwan? Chichi bisa belajar meyakinkan teman-teman Chichi. Beritahu mereka, apa yang seharusnya seorang teman lakukan untuk teman mereka yang sedang kesulitan. Seperti meminta Mama-mama mereka memesan kue dari Mamanya Chichi atau membantu Chika dengan menghibur hatinya yang sedih, mengajaknya bermain…. atau… ” aku menatap undangan yang berserakan, “mengundangnya ke pesta ulang tahun dan berbagi kebahagiaan bersamanya,” sambungku.
 
Kusentuh bahu putriku dengan sayang. “Bayangkan dirimu sendiri ya Nak. Bagaimana kalau kondisi Chika saat ini dialami olehmu? Apa rasanya dan bagaimana kalau teman-temanmu yang ada sekarang juga menjauhimu? Itu pasti bisa membantumu memahami perasaan Chika. Sekarang Chichi kan sudah besar, sudah sebelas tahun. Pasti bisa mengerti maksud Mama. Sekarang semua terserah Chichi, keputusan Chichi dan Mama percaya Chichi bisa memilih mana hal baik dan mana yang buruk,” ujarku panjang lebar. Lalu dengan senyum dikulum, aku meninggalkan Chiara sendirian untuk merenungi kata-kataku.
 
Baru beberapa menit aku di dapur ketika kepala Chiara melongok dari balik pintu dapur.
 
“Ma, Chichi jalan dulu sebentar. Nganter undangan!”
 
“Rumahnya siapa?” teriakku tanpa melepaskan tatapan dari kompor. Aku tengah menumis sayur untuk makan malam nanti.
 
“Rumahnya Chika!!” pekiknya sebelum pergi.
 
Helaan nafas lega tersembur dari dadaku. Chiaraku, Chichi kecilku kini sudah kembali.

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.