Tulisan Terakhir

Berbagi Ala Nina

google
google

Tangan Nina sibuk merobek-robek buku. Buku itu adalah salah satu dari semua buku bekas Nina di kelas sebelumnya. Setiap tahun, meski banyak lembaran tersisa aku mengganti semua buku putriku itu. Sedangkan buku yang telah tidak terpakai itu boleh digunakan Nina atau adik-adiknya bermain. Biasanya Nina atau adik-adiknya menggunakan kertas-kertas itu untuk bermain guru-guruan, atau menggambar dan membuat aneka bentuk kertas yang dipelajarinya dariku. Memang kelihatannya agak boros, tapi anak-anakku tergolong anak-anak yang suka sekali dengan menulis, menggambar dan kalau bermain selalu seperti sungguhan. Daripada mengorbankan buku tulis atau buku gambar baru, lebih baik mereka menggunakan buku-buku bekas itu saja. Aku juga sering ikut-ikutan menggunakan sisa buku bekas itu untuk menulis daftar belanjaan.

Tapi hari ini, buku itu bukan hanya satu. Nina mengeluarkan hampir semua buku bekas yang teronggok di gudang. Merobek-robek bagian yang sudah terisi dan menyusun buku yang sudah kosong itu dengan rapi. Hal itu membuatku penasaran, aku berjongkok di dekatnya.

“Untuk apa, Nin? Mau buat apa sih?” tanyaku ingin tahu. “Ada PR SBK ya?”    (SBK = Seni Budaya Keterampilan :Adm.)

“Bukan, Ma . Hanya mau dipilihin. Nina mau buang yang sudah ada tulisannya terus buku yang masih kosong ini mau Nina kumpulin,” jawab Nina, tanpa berhenti merobek.

Keningku berkerut. “Loh memangnya stok buku kosongmu sudah habis?”

Nina menggeleng. “Bukan buat Nina, Mama. Tapi buat teman-teman Nina yang tinggal di Aisyiyah,” jawabnya lagi. Aisyiyah itu adalah nama gedung panti asuhan yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan tempat Nina bersekolah. Beberapa teman-teman Nina adalah anak-anak yatim piatu yang bersekolah dan tinggal di bawah perlindungan Yayasan tersebut.

“Loh, kok buku bekas sih, Nak? Kenapa tidak minta sama Mama aja? Nanti Mama belikan deh untuk mereka. Kamu tidak usah cape-cape memilih buku bekas begitu.” Aku kembali berdiri dan mataku tertumbuk pada toples berisi penghapus koleksi Nina yang hampir penuh. “Nah, ini kok ada di sini? Kembalikan ke tempatnya, Nin. Nanti kalau dimainkan adikmu, pasti berantem lagi.”

“Ooh, koleksi itu mau Nina bagi-bagikan sama teman-teman Nina juga, Ma,” ucap Nina santai.

Aku terpana. Membaginya? Nina yang sangat pelit pada adik-adiknya itu mau membagi koleksi kesayangannya pada teman-temannya? Kok bisa sih? Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran anakku ini?

“Nin, sebenarnya ini ada apa? Mama jadi bingung sama kamu. Coba ceritain dulu sama Mama, siapa tahu Mama bisa bantu?” kataku sambil menepuk-nepuk paha, meminta Nina duduk di pangkuanku.

Setelah duduk berpangku dan bergelayut manja, Nina pun bercerita. “Mama ingat waktu Nina ngundang teman-teman Aisyiyah ke sini untuk buka puasa?” Aku mengangguk. Tentu saja aku ingat, karena saat itu aku kelabakan memesan makanan siap saji melalui pesan antar secara mendadak. Suamiku sampai ikut turun tangan  membantu.

“Naah, waktu itu kami main guru-guruan. Oleh Nina, ya biasa pakai buku-buku bekas untuk dimainkan sama pensil-pensil yang sudah setengah pendek. Teman-teman Nina bilang kalau mereka selalu memakai buku-buku itu sampai lembaran terakhir, juga pensil sampai pendeknya segini.” Tangan Nina menirukan gaya temannya saat menunjukkan ukuran tinggi pensil. Ukuran pensil yang kalau di rumah kami sudah pasti berakhir di tempat sampah, sangat pendek.

“Terus?”

“Terus, teman-teman Nina bilang kalau buku-buku Nina tidak dipakai lagi, mereka mau kalau dikasih. Katanya, sayang kalau dipakai untuk bermain padahal mereka sangat membutuhkan. Naah, Nina kan ingat kata Mama kalau memberi terutama barang-barang harus dalam keadaan baik dan siap digunakan. Itu sebabnya Nina bilang sama mereka, nanti kalau buku-bukunya sudah dirapikan baru Nina antar ke sana. Pensil-pensil bekas Nina dan adik-adik juga sudah Nina raut dengan rapi tadi,” tutur putriku.

“Terus kalau koleksimu itu kenapa ikut dibagikan? Apa Nina tak sedih kalau koleksi kesayangan Nina diambil orang? Padahal biasanya juga sama adik sendiri saja kamu tidak mau meminjamkan.”

Nina tersenyum malu. “Iya sih, Ma. Nina agak sedikit nggak rela ngasihnya. Tapi kata Bu Guru, mengoleksi itu sama dengan perbuatan mubazir kalau tidak digunakan.  Memang koleksi bisa bikin hati Nina senang, tapi kalau ngasih sama teman-teman yang akan senang bukan hanya Nina, semua teman-teman Nina juga senang. Lagian Mama sendiri pernah bilang, kalau berbagi itu harus sering latihan supaya terbiasa. Nanti juga lama-lama Nina bisa ikhlasin.”

Aku tersenyum bangga pada Nina. Tanpa sadar ketika aku memperkenalkannya pada lingkungan sederhana seperti di tempat kami tinggal, putriku belajar untuk berbagi. Tanpa disadari Nina, ia telah memberiku satu lagi pelajaran baru. Pemanfaatan yang kukira sudah maksimal, ternyata belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang dilakukan Nina.

“Kalau begitu, Mama bantu deh. Nanti kita tambahin yang baru juga ya. Anak-anak di Aisyiyah itu kan banyak sekali. Dan kertas-kertas ini juga jangan dibuang, antarkan saja ke warung tukang sayur depan aja. Lumayan kan buat bungkus-bungkus,” ajakku. Mata Nina berbinar dan ia mengangguk cepat.

“Ayo, Ma!” Nina melompat penuh semangat. Tangannya kembali merobek-robek lembaran-lembaran buku-buku bekas itu.

*****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.