Tulisan Terakhir

Tradisi Yang Menyebalkan

google

“Tradisi yang menyebalkan” itu keluhan seorang teman saat memberitahu saya kalau ia belum terlepas dari macet total di Pantura.

Ah, siapa yang tak kesal berjam-jam di tengah kemacetan? Bukan lagi ramai lancar, atau padat merayap tapi sudah menjadi padat berhenti total, jelas memancing emosi dan kebosanan yang tiada habis.

Memang mudik sudah jadi tradisi, tapi kenapa masih saja menjadi agenda tetap jutaan orang. Bukan lagi milik muslim semata, tapi juga hampir semua rakyat Indonesia dari berbagai agama. Buat mereka, justru ramai-ramai berjuang untuk sampai ke kampung halaman itulah ‘nikmat’ mudik yang sesungguhnya.

Sekesal apapun, marilah kita berbesar hati untuk mengambil manfaat, apalagi ketika hal itu adalah untuk niat yang baik. Tradisi hanyalah tradisi, yang kalau tak ada manfaatnya pasti akan ditinggalkan begitu saja. Mudik tetaplah tradisi yang takkan mungkin hilang begitu saja, dilakukan oleh orang banyak berarti tradisi ini pasti bermanfaat.

Tradisi mudik membawa kita melakukan banyak hal yang menyenangkan pada akhirnya. Setahun sekali menyenangkan orang tua di kampung halaman, bercengkerama melepas kangen dan bertemu saudara-saudara yang mungkin sudah bertambah anggota baru karena melahirkan atau baru menikah. Setahun sekali kita pun menyenangkan diri sendiri, untuk berbagi dengan sesama, untuk melepas rindu pada masa kecil yang polos dan memperlihatkan pada anak serta istri atau suami, inilah sisi lain dari diri kita. Bukankah itu menyenangkan?

Macet dan lelah hanya segelintir masalah yang tak perlu dipersoalkan panjang-panjang. Jadikanlah pengalaman agar tahun depan tak sampai terjebak macet, dan kalaupun terjebak macet, kita tahu bagaimana mengatasi rasa bosan dan lelah itu. Ini zaman modern, di mana dengan duduk diam pun kita bisa searching internet, menjelajah dunia dengan membaca media online bahkan bertelepon ria dengan saudara sebelum tiba.

Terjebak dalam pemikiran yang sempit, membuat kita akhirnya berpikir bahwa tradisi bisa jadi menyebalkan. Bukalah pikiran dan persiapkan dengan matang, maka tradisi pun bisa jadi menyenangkan.

Dan karena saya belum ada posting beberapa hari (biasalah… suasana lebaran dan mudik ke rumah orangtua tersayang)

Maka saya ingin mengucapkan ” Mohon Maaf Lahir & Batin, Selamat Idul Fitri 1433 H”

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.