Tulisan Terakhir

Tips Agar Si Kecil Tak Menghilang

Minggu ini bisa dipastikan seluruh mal di Jakarta penuh sesak dengan orang-orang yang berbelanja. Saya memilih hari selasa kemarin sebagai hari berbelanja karena takut mal terlalu sesak di akhir pekan. Kebetulan sedang tak berpuasa dan kebutuhan dapur telah menipis, kami pun pergi ke mal di bilangan Jakarta Pusat.

Meskipun sudah memperhitungkan keramaian, tetap saja saya dan dua anak terkecil sedikit surprise melihat betapa padatnya mall di jam-jam kerja. Lirik-lirik mata ini menemukan banyak sekali Ibu-ibu dan Bapak-bapak berpakaian kerja sedang berburu baju lebaran. Rupanya mereka pun tak mau kalah dari putra-putrinya ya…

Tapi ketika kami sudah selesai berbelanja dan sedang memilih-milih buku untuk Ade juga Abang, tiba-tiba ada jeritan suara anak bertopi pink dengan baju ungu yang manis. Anak itu mencari-cari Mamanya berkeliling ke sana ke mari. Gelagat anak hilang. Dengan cepat, saya meraih tangan anak itu ke pinggir karena beberapa kali dia ditabrak orang-orang yang lalu lalang. Anak itu malah makin menjerit dan membuat Fira, putri saya yang ada dalam troli ikut menangis ketakutan.

Berkat pengalaman mengasuh anak (hehe… selalu ampuh meminta anak dengan menatap matanya langsung sambil mengusap-usap tubuhnya, touching is key to the heart) anak itu bisa lebih tenang meskipun tangisnya masih terdengar. Saya membawa ke petugas keamanan mall di pintu utama. Uugh bisa dibayangkan repotnya menggandeng satu anak yang masih terus menangis, yang satunya mendekap saya ketakutan dan yang lain kebingungan melihat Emaknya menenteng anak orang ditambah sekeranjang belanjaan. Secara singkat saya beritahu soal anak hilang itu pada petugas yang saya lihat di pintu utama, eh… begitu saya tinggalkan anak itu menjerit lagi. Ketakutan lagi! Aduuh… capee deh! Saya pun terpaksa ikut berdiri menemaninya. Mungkin karena petugasnya masih sangat muda, jadi belum berpengalaman menghadapi anak mengamuk itu.

Tak sampai sepuluh menit, Ibu anak itu datang. Dan sumpah… saya kaget luar biasa karena hal pertama yang dilakukan si Ibu bukannya memeluk anak yang ketakutan itu, malah ‘bak, bik, buk!’ dan ‘Kamu ke mana aja? Kok meleng sih?’ … Hah!?!? Kok anak yang disalahkan?

“Bu, kok dipukul sih anaknya? Dia kan lagi ketakutan!” sela saya sengit. Saya paling tidak bisa mentolerir Ibu yang menyakiti anaknya kaya’ gitu.

Bukannya berhenti, si Ibu malah menyalahkan anaknya yang menurut dia bandel-lah, gak patuhlah, gak mau diam-lah dan serangkaian labelling buruk lain yang jelas-jelas disebutkannya di depan si anak. Anak itu yang tadinya ketakutan, masih terisak-isak meskipun sudah agak tenang walaupun si Ibu kelihatan sekali begitu ‘ringan’ tangan.

Saya membalas kata-kata ibu dengan satu kalimat “Yang namanya anak terpisah dari orangtuanya, bukan salah anak tapi salah orangtuanya, Bu. Untung Ibu ketemu sama anaknya, kalau nggak gimana?”

Dan hasilnya… saya dipelototin dengan sukses. Ibu itu meninggalkan saya dengan kemarahan jelas tergambar di wajahnya, tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpun.

Untung… untung saya tidak puasa. Terus terang saya juga sudah terpancing emosi. Tapi anak-anak yang saya bawa menghibur dengan mengajak saya bercanda-canda sambil menunggu supir datang menjemput.

Ketika itulah saya terpikir untuk menulis sedikit bagaimana cara menghindari kemungkinan anak hilang.

  1. Kalau bisa tempat yang didatangi itu adalah tempat yang sudah dikenal oleh si kecil, dan anda mengenal baik di mana posisi keamanan, pintu darurat, toilet dan sebagainya.
  2. Berbelanjalah bersama anak berarti berbelanja sambil bermain, jadi nikmatilah waktu berbelanja sambil mengajak anak untuk ikut menikmati saat-saat itu dengan mengobrol tentang benda-benda yang dijumpai, kegunaan barang yang terpajang atau model baju terbaru. Jangan anggap anak sebagai barang bawaan, tapi anggap dia teman belanja yang asyik.
  3. Libatkanlah anak-anak untuk ikut membantu jika memungkinkan, kalau usianya lebih kecil jangan lupa bawa barang-barang yang bisa membuatnya betah duduk diam dalam troli.
  4. Ajarkan sedini mungkin kemungkinan ia tersesat atau hilang kalau ia sengaja jauh-jauh dari kita dan bagaimana jika itu terjadi.
  5. Semarah apapun anak, kalau kehendaknya tak dituruti. Jangan pernah mengancam untuk ditinggal atau dicuekin begitu saja. Anak-anak yang terbiasa dengan kata-kata lembut dan santun, biasanya lebih mudah dibujuk dibandingkan anak-anak yang suka dibentak-bentak.
  6. Negosiasi adalah jalan terbaik menyelesaikan masalah. Gunakan kemampuan itu, Bun!
  7. Jangan asyik sendiri dengan menuruti nafsu belanja anda! Perhatikan situasi dan kondisi anak. Apakah dia lapar, mengantuk atau bosan?
  8. Janjikan hadiah jika ia bersikap baik atau paling tidak pujian yang melimpah padanya.
  9. Maksimal masa toleransi anak di bawah lima tahun itu adalah 15 menit tanpa diajak bicara, jadi jangan berharap lebih dari itu hanya untuk mempertimbangkan membeli sepasang sepatu atau tidak.
  10. Kalau tak mau repot, ya jangan bawa anak.

Kalaupun si kecil hilang… jangan panik dulu!

  • Datangi langsung ke petugas keamanan agar mereka langsung mengontak petugas lainnya untuk membantu, jelaskan rupa dan pakaian yang anak kenakan dan tinggalkan segera nomor handphone.Petugas juga lebih tahu apa yang harus dilakukan karena mereka telah dilatih untuk itu.
  • Datangi lagi tempat-tempat yang sudah didatangi karena mungkin anak kembali lagi ke tempat itu untuk mencari anda.
  • Jika menemukan anak, please peluk dia dulu dan tenangkan hatinya. Salah besar jika langsung mengomeli dan memarahinya karena takkan ada yang diperhatikan olehnya. Apalagi sampai memberinya label cap anak nakal, anak bandel dan lain-lain. Ingat loh Bun! Kata-kata orangtua itu adalah doa untuk anaknya, bagaimana kalau benar-benar terjadi?
  • Dan jangan lupa, berterimakasihlah pada orang yang menemukannya. Paling tidak sebagai pertanda silaturahmi.

Siapapun bisa kehilangan anaknya di manapun, bukan berarti dia ibu atau ayah yang buruk tapi karena memang terkadang sulit dihindari karena sebagai manusia siapapun bisa lupa sesekali. Tapi jangan sampai pengalaman itu membekas sebagai trauma luka di hati anak, bukan sebagai pengalaman yang akan mengajari dia dan kita untuk lebih berhati-hati di masa depan. Mari lebih waspada dalam mengasuh anak, agar ia menjadi sosok yang merasa aman dan percaya diri.

 

*****

google
google

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.