Tulisan Terakhir

Cerita Anak SMA – The Diary

Cerita Anak SMA. Mengingat masa-masa SMA… bukan, salah besar. Saya sebenarnya bukan lulusan SMA, saya ini lulusan SMEA. Dulu sebutannya begitu, sekarang lebih terkenal dengan kata SMK. Ah peduli apa soal sebutan, yang jelas masa-masa itu adalah masa-masa remaja yang indah. Dan saya menulis ini demi sebuah misi agar bisa menyebar isi konten yang positif tentang cerita anak SMA.

Cerita anak SMA ala saya, saya tiga kali pindah sekolah. Dari sekolah yang difavoritkan karena prestasinya yang bagus di Samarinda, lalu pindah ke SMA di mana gedungnya benar-benar mirip cerita Laskar Pelangi di Bontang malah lantainya pun masih pasir biasa, sampai akhirnya saya menyelesaikan sekolah di Balikpapan. Alasannya karena Papa seorang polisi yang setiap saat harus siap dimutasi kemanapun dan sebagai anaknya, ya saya sudah terbiasa pindah-pindah sekolah. Kalau tak salah totalnya sekitar 12 kali saya pindah sekolah.

Yang berkesan adalah kenangan saya saat duduk di bangku terakhir masa-masa itu.

Pasti membayangkannya pacaran, cinta-cintaan, galau, ngambek-ngambekan dsbnya dsbnya. Lupakan saja kalau itu tentang sekolah saya. Ada 40 lebih murid, hanya dua lelaki di kelas saya. Ada 6 kelas tiap-tiap tingkatan, dan rata-rata hanya diisi 2-4 orang siswa. Sekolah saya lebih mirip sekolah putri, malah dua anak cowok di kelas saya sudah seperti cewek karena seringkali tasnya dijejali make-up dan peralatan wanita. Maksudnya? Setiap kali razia peralatan non sekolah, dua anak cowok itu menjadi dewa pelindung anak-anak perempuan sekelas. Jadi semua make-up dan peralatan kosmetik, sampai majalah-majalah remaja saat itu sudah pasti berpindah sementara dalam tas mereka berdua. Mereka dengan gagah berani, bagai seorang ksatria jagoan membawa barang-barang ‘berharga’ itu keluar ruang kelas dan melindunginya sampai para putri yang cantik itu terbebas dari razia. walaupun kadang-kadang masih dimarahi, karena sembarangan melipat majalah yang didalamnya ada tokoh idola yang wajahnya ikut terlipat, atau kosmetik yang kuasnya bengkok dan cermin yang pecah. Maklum saja, terkadang mereka harus melemparkan tas-tas itu melalui jendela.Kalau sedang pelajaran berolahraga, bukannya kami yang harus mencari tempat ganti baju, tapi malah dua teman cowok itulah yang diusir keluar karena kelas mendadak menjadi ruang ganti perempuan.

Dan jangan tanya seberapa nakal kami dulu di sekolah. Saya sebenarnya juga bingung kalau dipaksa bolos, tapi demi solidaritas akhirnya saya pun bersedia ikut serta bersama mereka kalau sesekali ‘diwajibkan’ bolos. Saya tidak tahu suatu ketika kenangan membolos dengan berbagai cara itu menjadi cerita anak sma yang menarik saat berkumpul dengan mereka. Lucu mengingat saya yang penakut, bisa juga memanjat pohon hingga rok robek hampir terbagi dua agar bisa turun dari lantai 2. Saat itu solidaritas terhadap teman-teman jauh lebih tinggi daripada pada guru, apalagi pada orangtua.

Saya tak pernah mengikuti pelajaran olahraga atau kegiatan di luar ruangan di bawah matahari saat itu. Setiap kali jam pelajaran itu berlangsung, saya menekuni hobi saya. Menulis Diary. Dulu isinya kebanyakan adalah puisi-puisi yang tidak jelas, terkadang pantun-pantun lucu yang kemudian dijadikan teman-teman sebagai bahan becanda di kelas. Kadang juga saya menggambar bahkan kalau lagi rajin, saya menempel guntingan-guntingan gambar yang saya suka. Makanya tidak heran kalau teman-teman dulu selalu memberi hadiah diary kosong setiap kali saya ulang tahun.

Sampai suatu hari, saya meninggalkan diary tanpa sengaja di laci meja. Dulu sekolah saya itu digunakan untuk dua sekolah berbeda, pagi digunakan untuk SMEA (atau SMK) dan siang digunakan oleh SMA (atau SMU). Diary itu masih baru, hadiah dari seorang teman. Karena saya waktu itu lagi keranjingan bahasa inggris, saya menulis diary dalam bahasa Inggris.

Diary yang saat itu dikunci, terselip sebuah kertas putih. Intinya seorang murid SMA yang duduk di bangku saya saat siang ingin berkenalan. Namanya mmm… lebih bagus saya sebut Leo Neutral, nama yang dipilihnya seandainya saat dia lahir bisa memilih nama (itu katanya loh) dan ia menulisnya dalam bahasa Inggris yang lebih bagus dari saya. Waah tentu saja ini langsung memancing rasa ingin tahu. Saya membalas permintaannya itu dengan meninggalkan diary itu, beserta kuncinya yang lain (ada dua kunci). Saya tak berpikir itu surat cinta, dalam pikiran saat itu, waaah ketemu teman belajar bahasa nih… Walaupun dulu pacaran selalu identik dengan surat-suratan.

Kami mulai saling bertukar diary hampir setiap hari. Berbagi cerita, berbagi suka dan duka bahkan berbagi gosip terbaru, dan semuanya dalam bahasa Inggris ala anak SMA yang standar banget. Tapi terus terang, itu membuat kami berlatih secara tak langsung. Persahabatan ‘pena’ itu menjadi semakin menarik ketika teman-teman akhirnya tahu dan ikut-ikutan memberi support. Mereka sering mengira kami pacaran, padahal tidak pernah sama sekali. Persahabatan itu terus terjalin hingga lembaran terakhir diary kami. Setelah sekian lama, saya dan dia akhirnya bertemu dalam sebuah acara yang diadakan sekolah secara gabungan, kalau tak salah namanya Porseni.

Sayang, namanya juga remaja ya. Setiap kali ada dua orang perempuan dan laki-laki dekat, pasti dianggap sebagai pacaran. Padahal itu tidak pernah. Kami mulai sering diganggu saat sedang menulis, digoda bahkan akhirnya sampai ke telinga para guru. Terus terang hal terakhir inilah yang mengganggu, bagaimana mungkin persahabatan dua anak paling beda bisa mungkin terjadi. Saat itu juga, saya merasa sudah waktunya mengakhiri diary kami itu, karena harus berkonsentrasi pada EBTANAS (dulu namanya ini kan?) dan komunikasi kami putus begitu saja.

Saya tak pernah lagi sempat berpamitan pada sahabat ‘diary’ saya itu lagi karena saya langsung pindah lagi begitu ujian berakhir, bahkan sebelum ijazah diterima. Saya tak pernah menghadiri prom night yang ketika itu diadakan secara ilegal oleh teman-teman. Kisah persahabatan itu berakhir begitu saja, tapi kenangan persahabatan yang lucu dan nyata itu masih ada sampai sekarang, karena sahabat saya yang kata para guru dikenal sebagai murid paling bandel di kelasnya itu sesungguhnya pandai memberi nasehat dan sangat dewasa dalam berpikir. Ia menyemangati saya saat saya sedang ‘melawan’ rasa rendah diri. Ia bahkan memandang saya seperti sudah kenal lama, tidak canggung dan bisa mengimbangi saya yang pemalu (saat itu)

Diary itu masih ada sampai sekarang. Sayang kalau dibuang karena di dalamnya ada banyak sekali quote-quote indah buatan sahabat itu. Cerita Anak SMA yang takkan terlupakan.

 

The Diary
The Diary

*****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.