Tulisan Terakhir

Haruskah Berhenti Bekerja Demi Keluarga?

Sudah lama ingin sekali mengangkat topik ini, karena selalu jadi perdebatan hangat antara yang pro maupun kontra. Dan saya memilih berdiri di tengah-tengah, karena saya pernah menjadi bagian dari kedua hal tersebut. Pernah bekerja dan hal itu saya lakukan ketika telah berkeluarga.

Sekali lagi, di sini saya tidak akan menghakimi ibu-ibu yang bekerja dan atau memilih usaha di rumah, juga tidak memandang sebelah mata ibu-ibu yang memilih mendedikasikan hidupnya untuk keluarga.

Pengalaman sendiri ketika bekerja, adalah bertemu orang-orang baru, makan berbagai makanan baru, berbicara dan berbagi ilmu dengan banyak orang bahkan saya akhirnya melanglang berbagai daerah dan kota karena bisa melakukan perjalanan gratis. Setiap hari selalu ada tantangan baru yang harus saya hadapi, membuat saya belajar banyak tentang hidup yang sesungguhnya. Pahit dan manis pengalaman yang didapatkan selama bekerja akan membawa efek besar sepanjang hidup.

Namun ketika berkeluarga, dilema pun dimulai. Kalau masih berdua, mungkin takkan masalah dan masih bisa saling pengertian. Tapi ketika anak-anak hadir satu persatu, banyak hal yang semakin sulit dikendalikan. Antara kebutuhan untuk terus beraktualisasi dan tanggung jawab pada perusahaan dengan rasa cinta terhadap keluarga seringkali jadi bertabrakan. Akhirnya bukan malah jadi menyenangkan lagi karena bisa memiliki dua dunia tapi malah terjebak dalam rasa bingung yang panjang.

Dan kemarin salah satu sahabat meminta pendapat saya. “Bun, salahkah saya memilih menjadi wanita karir dan meninggalkan putra-putri saya? Haruskah saya berhenti bekerja?”

Kalau saat ini pekerjaan dan rumah tangga masih bisa berjalan seimbang, seiring dan sejalan, kenapa harus berhenti? Beberapa hal di bawah ini mungkin bisa menjadi faktor yang patut dipertimbangkan untuk mengambil keputusan berhenti atau tidak :

  • Putra atau putri mulai menunjukkan ‘protes’ seperti nilai pelajaran yang turun, menunjukkan sifat-sifat yang negatif seperti cengeng, pemarah, dan menjauh dari orangtua.
  • Suami yang mulai sering menyindir bahkan memperingatkan secara langsung dan menunjukkan hubungan yang semakin menjauh.
  • Serta semakin banyak hal-hal di luar kendali dalam keluarga, membuat sering meninggalkan kantor untuk urusan keluarga.
  • Atau anda sendiri mulai tidak betah bekerja lagi dan bosan dengan kehidupan kantor.
  • Seringnya berganti pembantu atau tak ada lagi keluarga yang membantu mengerjakan tanggung jawab di rumah.

Tapi kalau semua hal itu tidak ada dan masih terkontrol dengan baik, terutama hubungan dengan suami dan anak berjalan baik maka berhenti bekerja tentu saja bukan pilihan yang tepat.

Jangan pernah mengambil keputusan karena pendapat atau opini orang lain yang bukan anggota keluarga.

Kalaupun akhirnya keputusan berhenti bekerja itu memang datang dari diri sendiri, lakukan dengan yakin dan tegas. Tidak bertindak setengah-setengah dan menyiapkan apa yang ingin dilakukan setelah tidak lagi bekerja. Isi hari-hari yang bakalan kosong itu dengan rencana yang bukan untuk satu atau dua minggu saja, tapi rencanakan untuk seumur hidup. Memecat semua para ‘punggawa’ yang selama ini membantu bahkan termasuk tidak lagi melibatkan orangtua atau keluarga di hari pertama tidak bekerja juga keputusan yang salah. Lakukan semua perpindahan tanggung jawab itu secara perlahan-lahan, apalagi orang-orang yang membantu selama ini mungkin bisa juga membantu mengenalkan kebiasaan-kebiasaan di rumah.

Rencana yang ingin dilakukan jangan berencana untuk membuka usaha, kecuali usaha itu sudah berjalan sebelumnya dan anda berhenti karena ingin lebih berfokus pada hal itu. Membuka usaha baru setelah berhenti bekerja juga memerlukan komitmen yang sama seperti bekerja, bahkan lebih besar. Tiga bulan pertama adalah hal yang sangat berat untuk dilewati karena di masa-masa itu pengeluaran masih lebih besar dari pemasukan. Ini berlaku juga jika memutuskan untuk kuliah.

Siapkanlah rencana yang berhubungan dengan keluarga. Pertama tentu saja selesaikan dulu masalah utama yang menjadi penyebab keputusan berhenti itu diambil. Setelah itu ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah :

  1. Menyalurkan hobi yang selama ini jarang dilakukan seperti memasak, berkebun, crafting (like me 🙂 ), atau menulis.
  2. Lebih mendekatkan diri dengan anak-anak dengan mulai mengenal kebiasaan mereka yang lama lalu merencanakan kegiatan yang baru bersama, misalkan menggambar bersama, crafting bersama, memasak bersama. Tak perlu tiap hari, paling tidak sebulan dua atau tiga kali juga sudah bagus.
  3. ‘Family date’ atau kencan keluarga. Luangkan satu hari khusus untuk anak pertama, untuk anak kedua, atau kencan dengan suami. Jangan lupa! Kencan dengan keluarga lain, seperti bersama adik/kakak atau bersama orangtua. Percayalah! It’s amazing time.
  4. Kumpul-kumpul dengan teman. Tak selalu negatif loh, tapi di situ kita bisa memperoleh banyak ilmu tambahan juga. Masalah negatif atau tidak tergantung pada pribadi masing-masing. Jadi kalau masih bisa mengambil positifnya, why not? Dan bersikap tegas kalau sudah mengarah ke hal negatif (seperti bergosip) dengan mengingatkan sambil bercanda.
  5. Melakukan pekerjaan rumah sehari-hari. Karena pendapatan berkurang, tak ada salahnya berhemat dengan mengurangi salah satu item pengeluaran yaitu tenaga pembantu atau tukang kebun. Dan kegiatan inilah yang paling banyak menghabiskan waktu.

Cobalah menikmati hal-hal kecil agar bisa menghargai hal-hal besar

Kalau ingin tetap bekerja, bagaimana?

Maka aturlah waktu dengan baik agar bisa bersikap profesional di kantor dan tetap memenuhi tanggung jawab dengan baik di rumah. Saya banyak loh menerima keluhan dari teman-teman laki-laki yang kesal menghadapi para Ibu yang bekerja tidak profesional dengan secara mendadak pulang ke rumah karena urusan keluarga. Bahkan juga, ada yang datang ke kantor hanya sekedar clock-in absen.

Jika bisa memenuhi kebutuhan keluarga untuk kasih sayang dan cinta, maka lakukanlah dengan baik dan tepat waktu. Aturlah keperluan di rumah sebagai salah satu agenda pekerjaan yang juga harus anda selesaikan karena sebagai Ibu dan seorang istri, ada kewajiban yang harus dilakukan. Kalau perlu susun juga rencana yang sama seperti rencana-rencana pekerjaan seperti kegiatan bersama keluarga atau melakukan sesuatu yang spesial di hari-hari penting keluarga seperti ulang tahun, wedding anniversary, bahkan tanggal pertama kali nge‘date‘ dengan suami.

Kembali pada keputusan anda sendiri. Siapkah meninggalkan pekerjaan dan menjadi seorang ibu rumah tangga? Kalau jawabannya siap, lakukan segera. Jangan segan untuk kembali bekerja jika ternyata keputusan itu salah. Buatlah keputusan ini dengan membicarakannya dengan suami, atau keluarga yang selama ini terlibat mengurus tanggung jawab di rumah namun jangan menyalahkan mereka jika keputusan yang diambil ternyata salah. Seperti ketika pertama kali bekerja, rencanakanlah hidup dengan membuat beberapa pilihan. Kalau berhasil, bagaimana kelanjutannya? Dan kalau gagal, siapkanlah rencana selanjutnya.

Jadi selamat memilih, Para Bunda! Semoga itu pilihan yang menyenangkan, ya!

 

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.