Tulisan Terakhir

Caesar, Pilihan atau Keterpaksaan

Semalam saya membaca artikel di yahoo.com tentang riset bayi yang dilahirkan secara caesar. Sebenarnya tak penting lagi isi artikelnya karena menurut saya hasil riset itu sama sekali bukan penelitian untuk semua bayi di seluruh dunia, hanya beberapa persen dari jumlah keseluruhan bayi yang dilahirkan caesar.

Tapi yang paling menarik justru komentar-komentar di bawahnya. Saya akhirnya terpancing untuk menuliskan beberapa pengetahuan mengenai C-Section atau operasi Caesar meskipun hanya sebatas pengalaman pribadi.

Ada seorang laki-laki, entah dia seorang Ayah atau hanya anak-anak yang hanya mendengar cerita tentang C-Section tapi dengan seenaknya menghakimi bahwa para ibu yang melahirkan dengan C-Section adalah perempuan yang hanya memikirkan diri sendiri, takut vagina melar, takut sakit bahkan hanya karena ingin membuktikan status ekonominya.Sedangkan seorang wanita yang mengatasnamakan hadist dan ayat suci Al Qur’an mengungkapkan bahwa hanya ibu yang melahirkan normal yang dihitung sebagai perjuangan jihad fi sabilillah.

Saya tak tahu apakah mereka sudah pernah melihat, mengetahui atau paling tidak mendengar cerita dari si ibu yang pernah merasakan C-Section. Tapi karena tak banyak informasi mengenai operasi caesar, saya pun tertarik menjelaskan apa yang saya pernah alami secara awam saja.

Operasi pertama berlangsung sekitar tahu 2001 saat saya melahirkan putri pertama saya. Tak ada rencana sama sekali, saya bahkan sangat rajin mengikuti senam hamil karena ingin sekali melahirkan normal. Tak ada keluhan apapun yang berarti selain keluhan-keluhan normal selayaknya orang hamil seperti morning sickness, mudah lelah, gampang lupa, dan lain-lain. Bahkan hingga masuk bulan ke-9, saya masih bisa bekerja dan naik kendaraan umum dari Kemayoran hingga Green Garden Jakbar. Saya pergi pukul 06 pagi dan pulang pukul 8 malam tiap hari, tak pernah sekalipun saya absen karena alasan kehamilan. Intinya selama kehamilan, saya dan jabang bayi sangat sehat. Saya sangat menikmati kehamilan kedua saya, setelah keguguran dan baru bisa hamil lagi setelah empat tahun. Baru setelah bulan ke-10, dokter menyadari sesuatu yang salah telah terjadi. Posisi bayi tidak turun-turun ke jalan lahir, padahal sudah melewati waktu melahirkan dan posisinya tidak sungsang. Ketika itu, saya dan suami sempat memikirkan induksi agar tetap melahirkan normal, tapi saat dokter menemukan fakta bahwa saya mengidap asma, ia langsung membatalkannya.

Berdasarkan pertimbangan berbagai hal, akhirnya diputuskan saya harus di caesar. Saat itu saya ketakutan, menangis dan tak bisa tidur saat melihat jadwal operasi yang semakin dekat. Suami, Mama dan Ibu Mertua saya membujuk saya agar berani. Mama bahkan sepanjang malam sibuk memberi saya jutaan alasan untuk berani melahirkan secara caesar. Singkat kata, meskipun sangat sangat takut saya pun memaksakan diri untuk melakukannya.

Saat operasi, di tengah-tengah operasi ketika putri saya telah berhasil dikeluarkan, Dokter menemukan banyak fakta menakutkan. Putri saya ternyata terlilit tali pusarnya sebanyak tiga lilitan di leher dan pundak sehingga posisinya menggantung. Dan yang lebih menakutkan, ada tumor sebesar telur angsa yang menemani bayi saya di dalam rahim. Dokter anestesi langsung membuat saya kehilangan kesadaran sepenuhnya dan waktu operasi menjadi lebih panjang. Itu belum seberapa, karena obat-obatan seluruh tubuh saya menjadi memerah dan wajah saya membengkak. Saya mulai dioperasi pukul 13.00 dan operasi selesai saat magrib menjelang, namun baru sadar setelah pagi menjelang di ruang ICCU. Saya juga tak bisa langsung menyusui putri saya setelah sadar, karena saat itu hb saya sempat menurun hingga dokter memutuskan lebih memusatkan perhatian hingga kondisi saya benar-benar stabil. Akibatnya putri saya sempat kuning.

Operasi kedua juga tidak direncanakan, meskipun Reza terlahir sehari setelah ulangtahun kakaknya yang ke-3. Saat itu saya ditangani dua dokter, karena pengalaman menakutkan yang pertama. Saya diyakini bahwa setelah tiga tahun, saya bisa melahirkan normal dan kehamilan saya sangat normal. Bahkan kedua dokter membolehkan saya keluar kota. Namun, yang terjadi di luar dugaan, saya mengalami blooding di hari kedua lebaran, sehari setelah lelah karena sibuk menyiapkan ulangtahun kakak. Padahal saat itu baru masuk 8 bulan lebih dan kami sedang berkunjung ke kampung mertua saya yang rumah sakitnya lumayan jauh. Pendarahan di ruang perawatan, dibarengi pembukaan 2. Saya meminta sang Bidan dan Dokter mau bersabar karena saya sangat ingin melahirkan normal. Tapi pagi itu, ketika pemeriksaan darah keluar hasilnya buruk. Saya tak tahu apa, karena saat itu saya sudah kehilangan kesadaran. Berdasarkan cerita dari suami, dokter memintanya mencari donor darah tambahan karena golongan darah saya ternyata tak ada stok dan agak sulit dicari. Dan sayapun kembali digiring ke ruang operasi. Meski hanya sekitar dua jam, tetap saja saya tidak sadarkan diri.

Dua pengalaman itu membuat saya kapok melahirkan secara caesar. Apalagi setelah melahirkan, saya sangat sering merasa ngilu di bagian perut yang dioperasi kalau mengangkat barang yang lumayan berat, atau menggendong anak saya terlalu lama. Ketika keluhan ini saya sampaikan, dokter baru menjelaskan bahwa kekuatan otot perut saya ikut berkurang karena proses kelahiran caesar. Itu pula yang menyebabkan saya akhirnya berhenti kerja secara total karena tak tahan mengangkat beban atau duduk terlalu lama, rasa ngilu itu jadi menyakitkan.

Maka ketika saya dinyatakan hamil putri ketiga empat tahun setelah abang, saya memaksa suami untuk membiarkan saya merasakan satu kali saja melahirkan secara normal. Suami tak bisa menjanjikan apapun, karena saat itu untuk pertama kalinya dia melihat saya mengalami kehamilan yang sulit. Selama lima bulan saya tak bisa makan nasi dan selalu muntah-muntah dengan hebat, hingga dirawat di rumah sakit dua kali. Saya tak pernah keluar rumah sendirian atau lebih dari dua jam, karena sering sekali pusing. Inilah kehamilan terberat yang pernah saya jalani. Membandingkan tiga kehamilan sebelumnya, saya jadi bingung sendiri. Padahal saya ingin sekali melahirkan anak yang sehat dengan kondisi yang sehat. Sebelumnya saya hamil selalu tetap bisa lincah dan bekerja bagai kijang. Itulah sebabnya melihat saya begitu lemah, suami saya sempat ragu apakah saya mampu melahirkan normal.

Yang menyebabkan saya akhirnya kembali dioperasi karena saya tak tahu kalau air ketuban sudah merembes selama empat hari dan saat saya datang ke rumah sakit, rahim saya nyaris kering. Dalam waktu lima belas menit, dokter langsung memutuskan untuk operasi. Sempat terjadi perdebatan kecil antara suami dan dokter karena dokter ingin mengangkat rahim saya sekalian agar saya tidak mengandung lagi. Resiko kematian adalah yang terburuk kalau saya hamil lagi. Suami saya sibuk mencari tahu dan mengingat kembali hadits-hadits dan surah Al Qur’an apakah dibolehkan melakukan sterilisasi dalam hukum Islam. Akhirnya disepakati kalau rahim saya hanya “diikat” dan suami saya diberitahu oleh seorang Kyainya bahwa mencegah kelahiran demi menyelamatkan jiwa itu dibolehkan, tapi membuang sesuatu yang tidak rusak atau cacat dari tubuh itu hukumnya masih meragukan karena perbedaan pandangan (jadi bertanya-tanya, kalau sedot lemak itu halal gak ya?). Karena rahim saya sebenarnya baik-baik saja, maka keputusan untuk mengikat jalan lahir adalah keputusan bersama antara suami, dokter dan Kyai pembimbingnya.

Baru inilah saya merasakan kesadaran full sepanjang operasi. Airmata saya tak berhenti mengalir dari awal hingga akhir, saya bahkan tak bisa bicara ketika inisiasi dini dilangsungkan karena perasaan terharu luar biasa. Dokter sekaligus sahabat saya menyanyikan lagu ulang tahun untuk saya, dibarengi hujan doa dan zikir yang begitu luar biasa. Pengalaman ini benar-benar pantas menutup semua rasa sakit dan keinginan untuk melahirkan normal.

Jadi sungguh tuduhan-tuduhan keji karena pilihan C-Section itu sama sekali tak ada dalam pikiran saya. Saya bahkan sering merasa iri melihat adik perempuan dan ipar perempuan saya yang bisa melahirkan normal, karena setengah jam setelah melahirkan sudah bisa duduk dan bercanda dengan suami-suami mereka dengan bahagia. Sementara setiap kali saya melahirkan, suami saya selalu panik dan bahkan berdasarkan cerita keluarga, ia selalu diam-diam meneteskan airmata.

Melahirkan apapun caranya, menurut saya tak ada yang mudah. Semuanya tetap saja ada rasa sakit yang mengiringinya. Saya juga tak tahu apakah melahirkan caesar itu tergolong syahid atau tidak, karena dalam pikiran saya setiap kali hamil dan melahirkan hanyalah bagaimana bisa melahirkan anak dengan sehat, sempurna dan tak kurang sesuatu apapun. Saya samasekali tak berharap balasan apapun untuk semua itu. Lagi pula sampai sekarang, saya belum menemukan aturan dalam hukum Islam yang mengharamkan operasi caesar atau mengatakan bahwa hanya melahirkan normal yang tergolong jihad fi sabillillah. Jelas-jelas setiap ayat di Al Qur’an tentang ibu selalu mengatakan “ibu” bukan “ibu yang melahirkan dengan cara normal”. Tolong kalau ada yang lebih tahu, mungkin bisa mengajari saya soal itu. Meskipun kalau dinyatakan memang bukan, saya tetap tak peduli.

Dengan cara apapun, saya merelakan seluruh jiwa raga saya demi memperjuangkan sebuah jiwa kecil untuk lahir ke dunia. Saya tak peduli pandangan orang-orang berpikiran dangkal soal C-Section, karena saya tetap melahirkan karena Allah. Perjuangan saya itu bukan untuk dipandang orang atau karena ingin mendapatkan gelar syahid. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anak, suami dan keluarga. Saya membuktikan diri sebagai seorang ibu karena bisa merasakan kehamilan dan melahirkan meski dengan cara yang berbeda. Apapun itu bagi saya, tak penting lagi hal-hal yang menyebabkan seseorang memilih C-Section, normal, water birth, atau apapun caranya. Semuanya pasti mempertimbangkan si bayi sebagai pertimbangan utama. Tak mungkin seorang ibu memilih hamil dan melahirkan kalau memikirkan diri sendiri. Dalam setiap kesadaran yang saya peroleh setelah operasi hanya satu pertanyaan saya, “dimana bayiku? bagaimana dia?” dan bukan “apakah saya masih cantik?”

Ketika C-Section dijadikan sebagai pilihan karena alasan kemudahan, itu adalah hak setiap ibu. Sekarang hampir semua Rumah Sakit mengupayakan untuk meminimalisir rasa sakit karena melahirkan dengan berbagai cara seperti water birth bahkan C-Section. Melahirkan dijadikan cara menghadirkan seorang anak dengan kebahagiaan bukan karena trauma, karena faktor yang paling penting adalah perasaan si ibu saat melahirkan, juga kepentingan si anak nantinya. Saya tak tahu apa sebenarnya motivasi orang yang berpendapat bahwa seorang ibu harus melahirkan dengan rasa sakit luar biasa baru dikatakan sebagai seorang ibu. Toh, apapun cara kelahirannya… sekali lagi semuanya tetap terasa sakit. Kalau ada yang melahirkan dengan water birth, lalu bilang tak sakit bukan karena ia tak merasa sakit, tapi karena rasa sakitnya sudah berkurang dibandingkan persalinan biasa.

Saya pernah bertanya, bagaimana mengetahui apakah yang kita lakukan itu diridhoi Allah atau tidak? Jawabannya adalah ketika kita merasakan kebahagiaan dan menghasilkan sesuatu yang baik, maka itulah ridho dari Allah. Dan saya hanya merasakan kebahagiaan tiada tara memiliki tiga orang anak yang sehat, santun dan ketiganya pun mudah diajari beribadah.

Jadi, C-Section pilihan atau keterpaksaan itu bukanlah masalah. Yang penting, bagaimana hamil dan melahirkan anak yang sehat, lalu mendidik mereka menjadi orang-orang yang berguna.

*****

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.