Tulisan Terakhir

Kebiasaan Jujur

Meski sudah lama tak pernah lagi mengajar, saya tetap memaknai hari Pendidikan Nasional sebagai hari dimana saya harus kembali instropeksi diri sebagai pengajar dan pendidik anak-anak di rumah. Walaupun mereka menghabiskan 5-7 jam sehari untuk ke sekolah, tapi sebagai orangtua mereka, sayalah guru mereka yang sesungguhnya. Baik dari sisi bersikap maupun berpikir. Sekolah hanyalah sekian persen dari pembentukan karakter mereka.

Ada tiga hal utama di rumah yang selalu saya tekankan dan jika mereka melanggarnya maka saya mengenakan “hukuman” langsung pada mereka. Tidak berbohong, tidak memukul saudara dan tidak mencuri. Jika mereka melanggarnya, maka saya atau siapapun yang sedang menjaga mereka boleh langsung menjatuhkan hukuman tanpa harus dibicarakan lagi seperti kenakalan-kenakalan lainnya. Awalnya sangat sulit apalagi mungkin di sekolah hal-hal seperti itu sudah biasa mereka lakukan bersama teman-temannya. Bahkan mencuri itu termasuk ketika mereka mengambil uang dari dompet saya. Buat saya, apapun yang mereka ambil dan bukan hak milik mereka harus sepengetahuan pemiliknya jadi meski mereka melakukannya di depan mata pemiliknya namun jika tak memberitahu maka itu saya golongkan dengan tindakan pencurian. Berbohong, meski hanya sekedar bilang tak ada pekerjaan rumah dari sekolah tetap saya golongkan dengan kriteria itu. Memukul walaupun hanya sekedar main smackdown, tetap saya golongkan memukul saudara. Terapan disiplin untuk tiga aturan itu sempat menuai protes dari keluarga sendiri tapi saya tak peduli. Saya merasa perlu konsisten menjalankan aturan atau saya akan menuai masalah di kemudian hari.

Ternyata cara ini benar-benar sangat efektif dan mulai saya rasakan kurang lebih setahun setelah penerapannya. Kebiasaan bersikap jujur itu berbuah. Suatu ketika seorang Ibu teman kelas Kakak menuduh Kakak rangking karena mencontek saat ulangan. Saya tak terima tuduhan itu dan meminta semua ulangan diulang kembali untuk Kakak dan temannya itu. Guru setuju dan hasilnya Kakak tetap juara bahkan lebih baik dari sebelumnya. Di saat yang lain, saya pernah mendengar Abang melerai dua temannya yang berkelahi dan kata-kata yang disampaikannya saat itu benar-benar sama dengan kalimat saya saat menasehatinya. Mungkin karena saya mengulang-ulangnya setiap hari, hingga Abangpun mengingatnya di luar kepala. Pernah juga Kakak pergi ke sekolah langsung mengambil jatah jajan dari dompet saya karena saat itu saya sedang sholat dan langsung ke sekolah terburu-buru diantar oleh Ayahnya. Dia lupa memberi tahu dan sampai pulang sekolah Kakak tak menggunakan uangnya sama sekali karena takut dosa.

Kebiasaan. Yah itu dasar saya melakukan semua itu. Jika kita terbiasa melakukan dosa, maka saat melakukannya takkan ada rasa bersalah lagi. Karena terbiasa tidak melakukannya, maka saat melakukannya kitapun selalu dikejar-kejar rasa bersalah. Kebiasaan itu seperti mengenalkan kebiasaan menyikat gigi dan mandi. Bayangkan jika satu hari saja kita tak mandi atau tak sikat gigi. Pasti tak enak tidur dan tak enak mandi, bukan? Itulah kenapa saya begitu ngotot menjalankannya. Sangat mudah mengajar anak menjadi pintar, tapi mendidik mereka menjadi anak yang jujur dan berakhlak baik itulah bagian tersulitnya. Bahkan sampai sekarang walaupun jarang, anak-anak masih suka melanggarnya dengan alasan klasik “Sorry ma, lupa!”

Maka ketika di hari pendidikan nasional kemarin saya “dihadiahi” kenyataan bahwa satu tulisan dijiplak habis dan diterbitkan oleh sebuah Majalah berbasis keagamaan, saya menjadi termangu. Apalagi mendapat kenyataan penjiplak itu adalah seseorang dengan titel pendidikan yang lebih tinggi dari saya dan menampilkan keislaman lebih dari saya. Saya sungguh miris bukan hanya karena akhirnya saya mengalami kerugian materi dan immaterial. Saya heran bagaimana mungkin seseorang bisa begitu tenang melakukan hal tidak terpuji seperti itu tanpa memandang apa yang susah payah dibuatnya selama ini? Dimana rasa malu itu? Dimana rasa bersalah itu? Inikah gambaran orang-orang yang dihasilkan oleh dunia pendidikan zaman sekarang? Orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya, untuk mendapatkan popularitasnya tanpa memperdulikan lagi nilai-nilai pendidikan akhlak yang selama ini ia pelajari. Padahal menurut saya, dunia maya itu jauh lebih kejam dalam menghukum orang-orang yang melakukan kesalahan seperti itu. Lihat saja, setelah saya mengumumkan namanya di beberapa forum penulis, akun facebooknya langsung deactivated dalam semalam. Walaupun saya jadi iba juga, tapi melihat apa yang diperbuatnya pada anak-anak asuh saya yang kehilangan bonus membuat saya merasa ini bahkan “hukuman” yang tak berarti sama sekali.

Kebiasaan, sekali lagi ini kembali kepada hal itu. Ingat kan sebuah iklan korupsi? Akibat dari kebiasaan, akhirnya tak ada lagi rasa malu apalagi rasa bersalah. Awalnya hanya menyontek, akhirnya menjiplak. Awalnya hanya melirik jawaban teman, akhirnya mengambil semua milik orang.

Karena itu marilah kita membangun kejujuran sedini mungkin. Dan jika belum merasa memulai kebiasaan itu, tak ada kata terlambat untuk memulainya sekarang. Seperti belajar sikat gigi setiap hari, maka seperti itulah kita memulai kebiasaan baik, melakukannya setiap hari. Dalam hal apapun mengenalkan kebiasaan baik bukan hanya tugas para guru, tapi juga orangtua di rumah. Saling berkaitan satu sama lain, saling mendukung antara guru dan orangtua.

Semoga di Hari Pendidikan Nasional berikutnya, kita akan melihat peningkatan pendidikan anak dalam berbagai sektor, terutama dalam sisi pengembangan akhlak. Amin.

******

 

 

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.