Cerita Pendek, Fiksi

Lelah menjadi ibu

Aku menatap putriku tak percaya setelah mendengar kata-katanya barusan.

“Apa maksud kakak?”tanyaku sekali lagi

“Maaf Ma, tapi Kakak putuskan untuk memilih SMK Pariwisata setelah lulus SMP nanti.” Katanya sekali lagi meyakinkan.

“Tapi kak, kakak itu terlalu pandai masuk SMK. Kakak lebih bagus masuk SMA dan setelah itu nerusin ke kedokteran.”

“Ngga Ma, Kakak gak mau jadi dokter. Kakak ingin kerja di perhotelan seperti tante wiwid. Enak bisa jalan-jalan ke sana kemari.” Kata putriku sambil menjauh dan duduk di kursi makan. Aku mengikutinya. Ingin bertanya lebih dalam mengenai alasannya. Putriku ini selalu juara kelas dan sangat berprestasi di sekolah, kenapa ia justru memilih sekolah seperti itu bukannya memikirkan jalur professional yang memang pantas untuk otaknya yang cerdas.

Tiba-tiba suara tangis Keke terdengar dari ruang atas. Aku mengeluh pelan dan langsung naik ke atas.

“Amar!! Kenapa Keke kamu tinggal sendirian sih?” teriakku sambil membuka pintu kamar Keke dan mataku menemukan mainan yang berserakan, “Keke! Aduuuuh, ini apa-apaan? Kenapa berantakan begini?” Aku mulai melemparkan mainan satu persatu masuk ke dalam kotaknya sambil mengomeli putriku yang masih menangis.

Gubrak! Gabruk! Aduh sekarang apalagi itu. Kugendong Keke dan menutup pintu tanpa mempedulikan kamarnya yang masih berantakan, kuturuni tangga dengan cepat menuju tempat dua anak laki-lakiku yang sedang bermain PS. Sudah bisa kuduga, keduanya sedang bergelut memperebutkan stick PS.

“Amar!!! Akbar!!” teriakku marah. Suaraku membuat Keke yang sudah diam kembali berteriak menangis. Meskipun cukup ampuh menghentikan kedua anak lelakiku, tapi Keke berteriak lebih kencang.

Oh Tuhan!!! Cukup sudah! Dari pagi aku bahkan belum sempat sarapan pagi. Aku lelah, lelah memikirkan anak-anak dan menghadapi kenakalan mereka setiap hari. Aku lelah harus bekerja dari mataku terbuka hingga punya kesempatan untuk tidurpun aku selalu paling akhir. Aku lelah memikirkan semuanya sendiri tapi tak punya kesempatan memikirkan diriku sendiri.

Masalah anak-anak membuatku ingin menangis setiap hari. Suamiku juga tak peduli padaku. Padahal aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri tanpa bantuan siapapun. Itu karena aku tak mau punya pembantu dan membuat anak-anak menjadi semakin malas. Tapi aku tidak menyangka akhirnya justru menjadi bumerang untukku sendiri.

Aku menurunkan Keke dengan kasar. Lalu dengan langkah cepat, aku naik ke kamarku dan menguncinya. Masih terdengar suara Keke yang menangis. Tapi aku sudah benar-benar kelelahan dan stress. Airmata dan keringat yang membasahi tubuhku membuatku benar-benar sedang tak ingin mengurus anak-anak. Aku ingin lari dari semua ini, aku ingin pergi dari tanggung jawabku ini, tanggung jawab yang seakan tak ada habisnya.

Suara Keke membuatku semakin marah. Aku putuskan pergi dari rumah untuk sementara. Entahlah ke mana, yang penting bisa sebentar menghalau rasa mumetku. Aku pun berganti pakaian dan berdandan seadanya.

doc corbis
doc corbis

Saat aku turun, Keke masih terisak di pangkuan kakaknya. Sementara Amar dan Akbar sudah duduk bermain kembali di depan PS mereka. Anakku yang tertua menatapku bingung.

“Mama jalan dulu, mama cape ngurusin kalian. Kalau kalian ada perlu apapun, telepon Papa sana. Mama cape.” Kataku sebelum bergegas mengambil kunci mobil, meninggalkan keempat anakku yang terbengong-bengong karena bingung.

Aku sempat mendengar suara Keke yang kembali menangis karena kutinggal jalan. Maklumlah, dia memang paling manja padaku walaupun umurnya hampir empat tahun. Keke selalu kubawa kemanapun. Tapi cengengnya yang akhir-akhir ini makin parah, membuatku tak ingin membawanya kali ini.

Aku merasa suamiku tak adil karena meninggalkanku dengan empat orang anak di rumah seperti itu. Dia sih enak di kantor, karena begini-begini aku juga tahu pekerjaan di kantor gak ada seujungkukunya dengan pekerjaan di rumah. Mana pernah suamiku tahu bagaimana beratnya berhadapan dengan anak-anak dan kemauan mereka yang kadang-kadang bikin repot.

Sudah seminggu ini aku harus berhadapan dengan keinginan putri tertuaku yang tak mau meneruskan sekolahnya di sekolah pilihanku, sekarang malah aku tahu ternyata dia sudah mendaftar di sekolah pilihannya. Belum lagi dua anak laki-lakiku yang selalu menghabiskan waktu di depan PS, berkelahi, berdebat dan lalu berteriak-teriak seakan-akan rumah adalah milik mereka. Apalagi Keke, nyaris selalu bergantung di leherku. Sesibuk apapun aku di rumah, Keke selalu minta digendong dan dimanjakan. Aku sudah tak tahan. Kali ini benar-benar tak tahan.

Aku berkeliling tak tentu arah menyetir mobilku. Sudah lama sekali tak keluar sendiri, aku jadi bingung juga. Akhirnya kuputuskan ke tempat paling damai dan sepi tapi menyenangkan, yaitu toko buku. Mungkin aku bisa menemukan buku yang mengatasi kebosananku menjadi ibu.

Handphoneku menyala ketika aku berada di toko buku, aku putuskan untuk mematikannya ketika melihat suamiku yang menelepon. Biarin! Biar dia tahu rasa. Pasti anak-anak memintanya pulang. Sesekali berpikir egois bolehkan. Aku sudah cape mengerti suamiku, mengerti dengan kesibukannya tapi dia sendiri tak mau mengerti diriku. Hari libur sekolah bukannya menawarkan liburan untuk anak-anak, dia malah membuatku berkutat karena stress mengurus anak-anak di rumah. Ini bukan pertama kalinya dia tidak memperdulikan bahwa liburan itu penting buat anak-anak dan terutama aku, ibu mereka. Masa bodohlah!

Aku baru pulang menjelang sore. Rumah tampak sepi dan tak ada suara-suara dari dalam. Kulirik jam, sudah hampir pukul tiga sore. Tak mungkin kalau anak-anak tidur siang. Cuma aku yang bisa menyuruh mereka melakukannya. Aku mengambil kunci cadangan yang kutaruh dalam tas setelah berkali-kali mengetuk pintu, namun tak ada jawaban.

“Mamanya Keke!” Sebuah suara memanggilku. Tampak Bu Darma, tetangga sebelah datang tergopoh-gopoh mendekatiku. Aku tersenyum melihat kedatangannya.

“Ada apa, Bu?” tanyaku ramah.

“Tadi si Keke jatuh, terus dibawa ke rumah sakit. Baru saja kok. Anak-anak sama suami ibu sekarang semua di rumah sakit.” Jawabnya sambil terengah-engah.

Tanganku yang menggenggam buku belanjaan langsung terlepas. Jantungku terasa bagai ditusuk mendengar kalimat pemberitahuan itu. Tanganku gemetar dan segera aku bertanya nama rumah sakit tempat putriku dirawat.

Aku bergegas menyetir kembali mobilku secepat aku bisa. Airmataku jatuh mengingat apa yang telah kulakukan pada anak-anak tadi pagi. Tak seharusnya aku meninggalkan anak-anak begitu saja terutama Keke. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang parah pada Keke? Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri kalau itu sampai terjadi.

Sampai di rumah sakit, aku langsung menuju ruang UGD. Ternyata benar, putri kecilku sedang menangis dalam pelukan Papanya. Tangannya tampak terbalut gifts putih, sementara ketiga kakaknya sibuk membujuknya agar Keke tenang. Hatiku langsung menciut mendengar putriku memanggil-manggilku dalam isak tangisnya.

“Keke!” panggilku sambil berlari menuju anakku. Tangan Keke langsung membentang meminta perhatianku. Suamiku langsung menyerahkan Keke ke dalam gendonganku. Keke langsung memeluk leherku dan merebahkan kepalanya di bahuku. “Mama.” Bisiknya pelan.

Aku mengelus-elus kepala Keke pelan. Mungkin dia sudah menangis cukup lama karena begitu kugendong, ia langsung tertidur. Kulihat wajah suamiku tampak lega meskipun masih ada gurat kelelahan di sana. Putriku juga nampak berantakan dan aku melihat tangannya masih gemetaran. Ia memandangku dengan takut, mungkin kuatir aku akan memarahinya.

Kutanya suamiku apakah Keke harus dirawat atau bisa langsung pulang. Ketika dia bilang bisa pulang, aku memintanya agar langsung mengurus semuanya. Betapa kagetnya aku ketika suamiku bilang tadi sudah selesai diurus semua karena bantuan Putriku dan adik-adiknya. Suamiku bilang sedari tadi Keke tak mau digendong sama siapapun kecuali dia, sehingga membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. Untung ada anak-anak kami, meskipun repot memberi instruksi tetapi mereka membantu Papanya dengan baik. Aku menatap ketiga anakku dengan rasa haru dan terima kasih.

Sesampainya di rumah, aku langsung membawa Keke ke kamarnya. Menungguinya sebentar sebelum meninggalkannya. Terdengar suara anak-anak di dapur bersama Papanya sedang menyiapkan makan malam yang tadi sempat kami beli di jalan. Kuputuskan untuk ke kamarku dulu, sekedar mandi dan berganti baju karena terkena airmata dan ingus Keke tadi.

Ketika menuju kamarku yang terletak di lantai 1, tak sengaja aku melirik ruang tamu. Ruang tamu tampak bersih dan rapi. Aah, rupanya tadi anak-anak membereskannya. Aku tersenyum, tapi senyumku lenyap ketika tak melihat PS player anak-anak yang biasa tersimpan di bagian bawah Televisi. Lho?? Mereka taruh di mana mesin itu. Aku bergegas ke dapur.

Pertanyaanku dijawab anak-anak dalam diam. Hanya Papanya yang tersenyum simpul dan berkata, “Sudah, Mama ganti baju saja dulu. Soal itu nanti kita bicarakan setelah makan malam.”

Makan malam siap ketika aku turun setelah mandi dan berganti baju. Anak-anak juga sudah rapi dan bersih. Aku segera menyantap makanan sambil sesekali memperingati Amar dan Akbar yang saling menggoda.

Lalu suamiku pun bercerita, tadi siang setelah aku pergi, Keke terus menangis. Karena takut dimarahi juga oleh Papa, kakak hanya mengirim SMS memberitahu soal kepergianku. Tapi suamiku tak marah dan malah meminta anak-anak agar memikirkan bagaimana caranya supaya mama mau memaafkan mereka kalau pulang nanti. Papa pun akan langsung pulang. Anak-anak memutuskan membersihkan rumah supaya mendapat maaf dari Mama. Kakak juga yang menyuruh PS player disimpan saja supaya Amar dan Akbar gak bertengkar terus. Anak-anak sedang membersihkan rumah termasuk si kecil Keke. Mereka menyapu dan mengepel lantai. Tapi sayang, ketika lantai belum kering benar, Keke malah berlari mengira mobil Papa yang datang adalah mobil Mama. Keke terjatuh dan tangannya terkilir.

Aku terdiam, lalu anakku yang tertua meminta maaf padaku dengan suara lirih, “Maafin kakak ya Ma, ga bisa jaga ade dengan baik. Kakak salah sudah gak ngerti sama keadaan Mama. Kakak juga minta maaf karena sudah maksain masuk sekolah yang kakak mau.” Lalu kedua anak lelakiku juga saling bersahutan meminta maaf padaku.” Iya ma, kami juga minta maaf.”

Aku menatap suamiku dan anak-anakku dengan malu, “seharusnya malah mama yang minta maaf karena tidak seharusnya mama meninggalkan kalian seperti itu. Apalagi sama kamu, kak. Soal sekolah nanti saja kita bicarakan lagi yang jelas sekarang mama minta maaf karena merepotkanmu seharian ini. Mama juga minta maaf ya sama kalian, ya boys! ” kataku sambil menoleh pada kedua putraku. Putriku mengangguk lalu turun dari kursinya, memelukku dengan hangat. Dua anakku yang lain juga ikut memelukku.

Suamiku hanya tersenyum kecil. Lalu ia meminta anak-anak untuk ke kamar mereka masing-masing, menunaikan sholat Ashar yang hampir habis. Dengan patuh, anak-anak mengambil piring makan mereka, mencucinya sebelum masuk ke kamar mereka sambil bercanda.

“Papa juga minta maaf kalau melupakan mama. Papa terlalu sibuk di kantor sampai lupa kalau Mama juga perlu perhatian.” Kata suamiku ketika kami tinggal berdua. Aku tersenyum, kutepuk-tepuk punggung tangannya mengisyaratkan kalau aku sudah memaafkannya.

“Ma, Mama itu sudah sangat sempurna menjadi ibu untuk anak-anak dan istri untukku. Mama gak perlu merasa semuanya harus berjalan sempurna dan sesuai rencana. Kalau Mama merasa lelah, Mama beristirahat saja. Papa gak mau anak-anak jadi merasa sebagai penyebab kemarahan Mama. Ini salah kita berdua karena selama beberapa waktu ini kita jarang berkomunikasi. Papa lupa bertanya, Mama lupa bercerita. Kita hanya harus menjalani sesuai kemampuan kita karena hasilnya bagaimana itu hanya soal berhasil atau tidak. Mama gak perlu sampai stress mikirin kegagalan.” Kata suamiku panjang lebar, “kalau Mama cape ngurus rumah sendirian, itu berarti sudah saatnya kita melibatkan dan mengajari anak-anak. Mereka juga sudah cukup besar untuk terus dilayani. Buktinya tadi waktu Papa ajarin anak-anak di rumah sakit, mereka bisa melakukannya dengan baik. Mama mau kan membagi sedikit pekerjaan mama pada Papa dan anak-anak?”

Aku langsung mengangguk setuju, suamiku dan akupun berbicara tentang beberapa tugas kecil yang bisa dikerjakan anak-anak. Memang sebelumnya anak-anak sudah kuajari, tetapi mereka melakukannya hanya kalau mereka mau. Tapi kali ini suamiku bilang, sudah waktu kami menetapkan waktu dan tugas masing-masing agar adil.

Perasaanku jauh lebih lega setelah berbagi bersama suamiku. Setelah selesai, kami sepakat akan memberitahu anak-anak nanti malam. Lalu suamiku mengajakku sholat bersama. Akupun mengangguk setuju.

Aku belajar banyak hari ini, belajar bahwa menjadi Mama yang ingin sempurna justru menjadikanku kelelahan. Bukan salah siapapun ketika aku gagal atau ketika aku merasa lelah. Tapi bagaimana menyikapi agar kegagalan dan kelelahan itu tidak mempengaruhi tanggung jawabku yang tak kenal istirahat itu yang lebih penting. Menjadi Mama tak perlu sempurna, tapi yang penting aku menikmati peran itu. Jika aku menikmatinya, anak-anakku akan bahagia. Mudah-mudahan ini yang terakhir aku merasa lelah menjadi ibu.

Untuk seorang sahabat : Manusiawi ketika kita merasa lelah menjadi ibu, tapi berbicara dengan pasangan secara jujur akan membuka banyak jalan. Aku tak pandai memberi nasehat, hanya berharap kau bisa mengambil hikmah cerita ini.

Terima kasih telah berkunjung ya. Tinggalkan komentar yang positif dan membangun.